
Joy mengemudikan mobil, sementara Nadia duduk di sampingnya dengan tenang. Mereka mengobrol sedikit di dalam perjalanan, tetapi Joy tidak terlalu banyak bicara karena ia takut salah menyampaikan informasi. Joy juga tidak mau Nadia khawatir karena berita di media menyudutkan Chandra. Sebelum Nadia tiba di Bandung, Chandra sudah lebih dulu menghubungi keluarganya untuk tidak membahas tuduhan skandal yang menyeret namanya pada Nadia. Joy rasa itu adalah keputusan yang baik daripada harus membuat Nadia khawatir di tengah keadaannya yang masih rentan.
Jakarta, Kantor Pusat TNI AD - Dewan Komisi Disipliner.
Chandra membalas hormat beberapa anggota TNI AD yang menyambutnya di kantor pusat. Beberapa di antaranya mungkin cukup kaget dengan kedatangan Chandra di kantor setelah skandal kekerasan yang membawa-bawa namanya. Chandra tahu kini dia menjadi pusat perhatian hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang stereotip terhadap pria berseragam seperti dirinya.
Namun, Chandra tidak akan ambil pusing, dia juga tidak pernah berurusan dengan hal seperti ini sebelumnya. Dia juga tidak dapat melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
"Belakangan ini, kekuatan media sosial tidak bisa dianggap sepele, Pak. Kita tidak bisa mengatur opini dan perspektif orang apalagi masyarakat secara luas."
Chandra mengangguk setuju pada ucapan komisi Disipliner yang ada di hadapannya, ada lima orang sekaligus yang menginterogasi Chandra sore itu.
"Saya memang sempat menegur wartawan itu, tetapi saya tidak melakukan kekerasan fisik apa pun."
"Saya tahu, Pak. Tapi apa masyarakat percaya? Apa mereka akan peduli?" ucap salah satunya ngotot, membantah penjelasan Chandra.
"Iya, betul. Saya juga tidak mengerti mengapa wartawan itu membuat berita seperti demikian."
"Ya, karena istri Anda orang yang sangat terkenal. Berita yang menyangkut istri Anda pasti sangat laris. Semuanya demi bisnis."
Chandra tersenyum kecut mendengar pernyataan anggota disipliner padanya. "Iya, saya memahami itu. Tapi untuk alasan yang paling mendasar saya yakin ada sebab lain. Saya ingin komisi disipliner turut serta dalam penyelidikan lebih lanjut."
Ketua komisi mengiyakan permintaan Chandra. "Tapi karena citra TNI semakin buruk akibat tuduhan ini. Tetap saja, Anda harus melakukan skorsing sesuai aturan dan kebijakan."
"Saya bersedia melakukan skorsing tersebut, jika itu bisa memperbaiki keadaan dengan segera."
***
__ADS_1
Kedatangan Liza malam itu membuat Nadia semakin merasakan perasaan tidak enak. Sejak sampai di Bandung, Nadia sama sekali tidak tenang, pikirannya masih bercabang dan banyak kejanggalan yang dirasakan olehnya. Rumah yang biasanya tidak pernah mendapatkan penjagaan ketat, justru harus dijaga oleh dua orang anggota TNI. Dan sekarang, Liza ada di hadapannya dengan wajah yang terlihat bingung dan khawatir.
"Nad, sabar ya," ucap Liza tiba-tiba saat ia menjatuhkan elusan lembut di bahu Nadia.
"Liz, ada apa sih? Semua orang jadi aneh hari ini."
"Suami lu, Nad. Chandra difitnah sama wartawan berita gosip. Gue nggak bisa sembunyiin ini dari lu, karena gue marah banget. Wartawan itu bilang, kalau Chandra udah melakukan penganiayaan berat sampai wartawan itu cedera parah."
"Gue udah sewa lawyer untuk atasi semua itu. Pokoknya, lu tenang aja. Karena suami lu sama sekali nggak salah. Gue bisa jadi saksi di pengadilan nanti."
"Liz, bentar ...." Nadia berusaha mencerna penjelasan Liza. Dengan tubuh yang gemetar, Nadia menguasai dirinya yang benar-benar linglung.
Liza dengan sigap merangkul tubuh Nadia dan menatapnya dengan tatapan waspada. Nadia kembali menangis, wajahnya tadi merasa begitu panas dan Nadia merasa sangat terpukul dengan semua alur yang Chandra berikan untuknya hari ini. Apa mungkin Chandra akan melakukan hal lain untuk memperbaiki fitnah yang menimpanya?
Nadia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, menangis dengan kuat di hadapan Liza yang kini semakin merasa bersalah.
"Nad, maaf. Meskipun gue tahu lu bakal sedih, tapi gue rasa lu perlu tahu tentang ini. Lu harus sabar, lu bisa ngelewatin ini kok. Gue udah bikin pernyataan sama agensi, suami lu tadi hubungi gue. Nad, maafin gue."
Joy yang mendengar suara tangisan Nadia pun buru-buru menghampiri Nadia dan Liza yang ada di dalam kamar. Nadia dengan kuat melepas rangkulan tangan Joy dan Liza, gadis itu meraih jaket yang sejak tadi tersimpan di hanger.
"Kak, mau ke mana? Udah di sini Kak, tenang dulu," ucap Joy sembari menahan tubuh Nadia agar tidak keluar dari dalam kamar dan melakukan hal di luar nalar. Liza melakukan hal yang sama, keadaan kamar malam itu menjadi sangat kacau. Nadia terus menangis dan dua orang perempuan yang ada di sana pun ikut merasakan apa yang tengah Nadia rasakan.
Pasti sangat berat bagi Nadia mengalami hal mengejutkan berturut-turut di hari yang sama seperti ini. Liza memberanikan Nadia air putih dan obat penenang sesuai dosis yang sudah lama tidak Nadia konsumsi.
Nadia menolak obatnya, tetapi ia menerima segelas air dan meneguknya sedikit. Nadia berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak, Joy yang ada di sisinya terus memberikan elusan lembut pada lengan Nadia yang gemetar.
"Joy, kamu bisa hubungi Chandra nggak?" pinta Nadia dengan suaranya yang nyaris habis malam itu. Joy langsung mengangguk dan meraih handphone yang ia simpan di sakunya.
__ADS_1
"Bisa, Kak. Tapi ...."
"Aku mau tanya kabar dia aja. Dia pasti nggak akan angkat teleponnya kalau aku yang hubungi langsung."
Joy pun menyerahkan handphone-nya pada Nadia. Setelah mendapatkan handphone, Nadia pergi dari kamar menuju balkon agar ia bisa bicara berdua saja dengan suaminya.
Liza dan Joy menunggu dengan waswas. Sejak kedatangan Liza ke tempat itu, entah bagaimana ia bisa akrab dengan Joy seperti sekarang ini.
"Halo, Joy. Ada apa?"
Terdengar suara lelah milik suaminya itu menyapa di seberang sana, Nadia menutup bibirnya dengan tangan kiri sembari mendengar suara Chandra yang terasa begitu jauh dari jangkauannya malam itu.
"Joy, Nadia sudah tidur?" tanya Chandra lagi lembut. Chandra yang baru saja mendapatkan arahan untuk beristirahat tampaknya belum bisa tertidur malam itu, untuk sementara ia menginap di camp militer pusat yang ada di Jakarta.
"Joy?"
Nadia menggigit bibir bawahnya. "Belum, Nadia belum tidur," jawab Nadia sambil terisak.
Chandra yang semula menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, sangat terkejut hingga pria itu duduk siap di atas tempat tidur. Suara Nadia yang berebut dengan isakan terdengar sangat jelas memasuki gendang telinganya.
"Sayang ...," panggil Chandra lembut, agak merayu. Namun, tangisan Nadia justru terdengar semakin menjadi-jadi di seberang sana.
Chandra dengan sabar menunggu isakan itu terhenti, hampir sepuluh menit keduanya terdiam dalam posisi masing-masing. Chandra tidak tahu harus berbicara apa setelah dia berbohong pada Nadia tentang persoalan yang menimpa mereka berdua hari ini.
Faktanya, Nadia tidak sanggup bicara sama sekali, ia ingin menemui Chandra secara langsung dan mendengar semua penjelasan dari mulut suaminya saat ini juga. Maka, Nadia memutuskan untuk menutup panggilan telepon sebelah pihak. Mendengar suara Chandra tanpa melihat wajahnya membuat Nadia merasa sakit hati.
Nadia pun tidak dapat memahami dirinya sendiri, mengapa ia bisa bersikap seperti ini terhadap Chandra. Namun, ada rasa takut yang sangat besar telah menguasai dirinya. Jatuh cinta pada seorang jenderal ternyata begitu sulit, tidak seperti yang ia bayangkan.
__ADS_1
Bersambung ....
Hari Senin nih gaes, yuk tunjukkan vote kalian (berharap)