
"Ke mana lagi dia?"
"Mungkin dia sedang membuat Baby dengan tunangannya yang Hot itu!" jawab Anin.
"Vulgar sekali perkataanmu," oceh Flora kesal.
"C'mon Flo, ini New York, Bukan Indonesia! Itu bukan suatu hal yang tabu di sini. Berapa tahun kau tinggal di sini?" kekeh Anin.
Flora memutar bola matanya. "Tetap saja aku belum terbiasa dengan semua hal itu, rasanya menjijikkan!"
Flora memang bukan warga berkebangsaan Amerika, dia pun tidak memiliki keturunan barat sama sekali. Flora seorang warga berkebangsaan Indonesia yang terlahir pintar, oleh karena itu ia bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri, lebih tepatnya di New York University.
Berbeda dengan Anindya yang memang memiliki keturunan barat dari sang ayah. Namun dia tinggal di indonesia, negara tempat kelahirannya dengan sang ibu.
"Flo, tapi aku yakin jika kau telah bertemu secara langsung dengan tunangannya, maka kau akan dengan senang hati memberikan tubuhmu untuknya." Anin menatap Flora, menggoda.
Flora memang belum pernah bertemu secara langsung dengan tunangan Renatta, karena beberapa bulan yang lalu ketika temannya mengadakan pesta pertunangan, Flora tidak bisa menghadiri pesta tersebut karena ia sedang pulang ke negara asalnya, Indonesia. Pria tersebut terkenal sangat sibuk. Oleh karenanya, ia jarang sekali menjemput atau mengantar tunangannya ke kampus.
"Oh no! Aku menjungjung tinggi kehormatanku. Tidak akan aku melakukan hal serendah itu, kecuali dengan suamiku kelak!” ucap Flora.
"Oh my God, Flo. Jika kau selalu mengikuti egomu seperti itu, yang ada kau akan terus menerus dikhianati oleh kekasihmu! Seperti-" Secara spontan Anin segera membungkam mulutnya. Menyadari kesalahan atas ucapannya.
Flora menatap wajah Anin dengan tajam, seakan-akan memberi peringatan kepada temannya itu.
"I'm sorry, aku menyesal!" lirih Anin, sebelum menundukkan kepalanya.
Flora hanya bisa menghela napasnya dengan berat seraya memijat pelipisnya yang tidak pening.
"SHITTT!' umpat seseorang yang baru saja memasuki kelas. Orang itu menarik kursi yang berada di hadapan Flora dan Anin dengan kasar, sebelum ia duduk.
"Bukankah kau sudah bersenang-senang? Mengapa wajahmu terlihat murung seperti itu?" tanya Flora kepada Renatta, yang baru saja datang dengan wajah yang ditekuk.
"Bagaimana Re? Pasti dia sangat hebat di ranjang, kan?" tanya Anin penasaran. Ia selalu antusias untuk mendengarkan atau bercerita tentang apa pun yang berbau mature.
__ADS_1
"Shut up!" Flora membentak temannya. Yang lagi-lagi berhasil membuat Anin bungkam.
"Berengsek! Dia mengabaikanku! Dia lebih memilih pekerjaannya, dibandingkan melakukan hal yang bergairah bersamaku." Renatta berdecak kesal, mengingat penolakkan yang dilakukan oleh Charles. Tentu saja itu bukanlah yang pertama kalinya ia menerima penolakan dari Charles.
Berbeda dengan Anin yang kini sedang mentertawakan Renatta dengan begitu puas. Tanpa mempedulikan tatapan tajam dari temannya itu.
"Sialan kau, Anindya!" teriak Renatta, sebelum melempar tas kecil miliknya, kepada Anin. Namun dengan secara cepat, Anin menangkap tas tersebut, hingga tidak mengenai wajahnya.
Flora hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah kedua temannya yang sudah berteman dengannya dari awal mereka masuk kuliah.
***
Flora sedang berjalan kaki menuju asramanya yang tidak terlalu jauh dari kampus. Berbeda dengan Renatta dan Anindya yang memilih untuk tinggal di apartement mewah, walaupun tidak jarang Anindya meminta Flora agar tinggal bersamanya, tetapi selalu wanita itu tolak karena dia lebih memilih tinggal di asrama kecilnya.
"Flora!" teriak seseorang yang familiar.
Flora pun menghentikan langkah kakinya, sebelum mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara.
Flora pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Renatta yang sedang bersandar di badan mobil sport mewah berwarna merah.
"Bagaimana jika aku mengantarmu pulang?" tawar Renatta. Tersenyum.
"Tidak perlu, aku bisa jalan kaki, Re.“
Renatta memutar kedua bola matanya. "Kau selalu saja menolak tawaranku. Apakah kau tidak bosan?"
Flora hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya tanpa beban.
"Re, ini pesananmu. Ayo, kita harus segera pergi dari sini! Aku memiliki janji lain," ucap seorang pria, mengulurkan Ice Cream kepada Renatta.
"Thanks Babe!" Renatta segera mengecup pipi kanan pria itu.
La Charles Alamo. Ya. Sudah dipastikan jika dia adalah tunangan Renatta sekaligus calon suami dari wanita itu.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan oleh Anin, pria itu sangat tampan dengan jambang tipis yang menghiasi wajahnya, sehingga menambah kesan manly pada dirinya. Selain itu ia memiliki mata yang tajam seperti elang, alis yang tebal, rahang yang tegas, dengan otot-otot di tubuhnya yang terlihat kokoh. Dia sangat sempurna.
"Oh ya, Flora perkenalkan ini Charles tunanganku. Kau belum sempat bertemu dengannya, kan?" tanya Renatta, dengan sesekali menjilat ice cream miliknya.
"Oh hallo, senang bertemu denganmu. Saya Flora Ruby Negara." Flora tersenyum, seraya mengulurkan tangannya.
Satu detik... Dua detik... Pria itu terdiam menatap Flora.
"Charles, La Charles Alamo," sahut Charles, lalu menjabat tangan Flora.
Seperti terdapat sengatan listrik yang berada di dalam tubuh Charles dan Flora ketika mereka saling berjabat tangan. Bahkan sempat membuat Flora sedikit terlonjak, saat pertama kali ia menjabat tangannya. Ini aneh. Benar-benar aneh.
Tatapan Charles melembut pada wanita yang berada di hadapannya. Charles tidak mengalihkan tatapannya dari Flora, barang sedetikpun.
Sedangkan Flora, ia sedang berusaha untuk melepaskan jabatan tangannya. Dia merasa jika jantungnya seperti akan loncat keluar dari tubuhnya jika ia terlalu lama menjabat tangan pria itu.
Sungguh, Flora merasa aneh kepada reaksi tubuhnya ketika bersentuhan dengan tunangan temannya itu. Siapakah dia? Kenapa dirinya sangat mempengaruhi reaksi tubuh Flora?!
Tidak lama kemudian, akhirnya Flora bisa melepaskan tangannya dari genggaman Charles. la segera mengangkat tangannya, dan meneliti telapak tangannya yang tadi bersentuhan dengan Charles. Ia merasa sangat aneh. Bahkan ia mengabaikan perkataan Renatta. Entahlah, ia tidak tahu apa yang diucapkan oleh temannya itu. Saat ini Flora terlalu panik untuk segera melihat kondisi tangannya.
"Hmm... Re, a-aku pulang terlebih dahulu," pamit Flora. Masih dengan keterkejutannya.
"Serius kau tidak mau aku antar?" tanya Renatta meyakinkan. Yang dibalas anggukan oleh Flora, sebelum gadis itu membalikkan tubuhnya untuk segera pergi dari sana. Bahkan ia tidak berpamitan kepada Charles.
"Dari negara mana dia berasal?" tanya Charles, ketika Flora sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Indonesia. kau tahu Anin kan? Mereka satu negara," jawab Renatta, yang diangguki oleh Charles.
"Ayo kita pergi." Renatta masuk terlebih dahulu ke dalam mobil sport milik Charles, sedangkan Charles masih setia menatap punggung Flora yang sudah menjauh.
BERSAMBUNG ...
Ini bakal slow up, karena aku harus namatin Pasutri Gaje dulu baru lancar upnya.
__ADS_1