
Keluarga sedang menikmati sarapan pagi dengan tenang sebelum semua orang kembali disibukkan dengan aktivitas mereka di luar rumah hari ini. Ibu yang sudah bersiap dengan pakaian rapinya, tengah menyajikan secangkir kopi susu untuk ayah dan juga jus mangga untuk Joy, sedangkan nenek menikmati sarapan di ruang tengah sembari menyaksikan berita para artis di TV.
Biasanya, nenek menunggu berita Nadia muncul di televisi karena nenek merupakan fans berat cucu menantunya itu. Namun, belakangan ini, nenek sudah lama tidak melihat lagi berita Nadia di TV dikarenakan Nadia tinggal jauh di Flores untuk ikut tugas bersama suaminya.
"Nek, ini obat herbalnya udah mendidih," beritahu Joy pada neneknya.
"Iya nanti, tunggu dingin. Masih panas kok!" balas nenek ketus.
Mendengar penolakan nenek terhadap Joy yang cukup jutek seisi meja makan dibuat terkekeh.
"Nenek jadi ketus banget sama aku loh," ungkap Joy pada ayah dan ibu.
Papa hanya mengulum senyum. "Kamunya sih, nenek tuh katanya pengen lihat kamu ada yang apelin. Udah waktunya nikah kamu tuh," beritahu ayah dengan nada menggoda.
Sementara ibu hanya bisa tertawa kecil.
Joy cemberut. "Gara-gara kakak sih, masih belum kasih cicit. Jadinya nenek ngebawelin aku juga."
Ibu yang semula tersenyum kini terdiam, dan merasakan lagi perasaan tidak karuan tiap membahas Chandra di saat tenang saat ini. Ibu sempat berpikir jika hubungan Chandra dengan Nadia tidak begitu harmonis, entahlah. Ibu berpikir seperti ini juga bukan tanpa sebab, melainkan karena pengaruh tetangga dan juga teman-teman seumurannya yang selalu mengomentari Nadia yang merupakan seorang selebriti. Awalnya, ibu tidak pernah terpengaruh, tetapi lama kelamaan ia mulai memikirkan apa kata orang.
"Breaking news! Seorang reporter berita seleb mengungkapkan sikap temperamental suami Nadia Adriana, yang diduga menolak diwawancarai sampai merusak dan melakukan kekerasan fisik terhadap reporter yang meminta wawancara eksklusif!" "Berikut laporannya."
Jeng! Jeng! Jeng!
Nenek yang sedang duduk menonton TV tiba-tiba saja tidak bisa bernapas dengan lega, saat deretan foto kerusakan dua kamera milik reporter satu handphone hancur yang diduga dirusak oleh Chandra.
Joy, ibu, dan ayah mendengar berita itu segera menuju ruang menonton dan menyaksikan berita tersebut dengan kebingungan yang sangat besar.
"Nggak mungkin kakak kayak gini!" pekik Joy dengan kepala menggeleng kuat-kuat.
Ibu memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit, sementara ayah masih mendengarkan berita dengan saksama.
Kemudian tayangan berita seleb itu pun menayangkan wajah si reporter yang tampak terluka di bagian pelipis, kepalanya bahkan di pasang perban. Hal tersebut membuat satu keluarga shock barat dengan berita yang tiba-tiba saja muncul di awal minggu ini.
Joy tidak bisa duduk dengan tenang karena pemberitaan pagi itu sangat mengejutkan, ibu yang memiliki riwayat asma mendadak harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Papa dan Joy bahkan membolos masuk kerja, dan nenek dengan terpaksa harus mengungsi dulu ke rumah bibi. Pekarangan rumah keluarga Chandra kini sudah dipenuhi banyak orang dari para pemburu berita yang sudah termakan headline news pagi. Mungkin keadaan serupa juga dialami oleh papa dan neneknya Nadia.
Joy juga tidak bisa menghubungi Nadia dan kakaknya yang masih berada di Flores, sinyal buruk di sana membuat Joy semakin memberanikan diri mencari tahu asal mula berita yang menyudutkan kakaknya itu lewat internet.
Joy menghela napasnya, saat satu persatu komentar yang ia baca justru semakin membuat image kakaknya memburuk.
"Udah ketebak, endingnya kayak gini. Wkwkwk."
"Nadia salah pilih suami."
"Duh, cowok berseragam tuh emang sok superior. Kalau nggak sok ganteng ya, sok
__ADS_1
jago."
"Sombong banget, mentang-mentang berseragam. Najis."
"Kebelet jadi artis nih, orang."
"Ditunggu dijadiin FTV hidayah."
"Paling pengen viral. Ujung-ujungnya bikin video klarifikasi terus tenar, diundang ke banyak acara. Basi!"
"Menjijikkan."
"Gila nggak, sih, orang pengen wawancara doang sampai dibikin babak belur? Situ sehat om Jenderal?"
"Pangkat tinggi paling hasil nyogok. Awokwokkwok."
"Nadia menuju janda."
"Kok bisa sih? Kasihan Nadia punya suami arogan+temperamen."
"Ini nikahnya setingan nggak, sih? Masih nggak percaya Nadia nikah sama manusia macam setan."
Joy menelan ludahnya dengan kasar, ia langsung menutup handphone-nya dan berusaha untuk menenangkan diri. Setelah membaca semua komentar berisi kebencian yang ditunjukkan untuk Chandra tentu saja Joy tidak sanggup untuk melakukannya. Ia segera menyusul papa masuk ke ruang perawatan ibunya. Sudah hampir setengah jam ibu melakukan pemeriksaan bersama dokter.
"Bu, itu pasti cuma fitnah. Kakak nggak mungkin kayak gitu."
Ibu berusaha menghentikan tangisannya. "Ibu percaya sama kakak kamu, tapi semuanya mungkin nggak bakal kayak gini. Kalau dia nggak menikahi Nadia!" ujar ibu dengan begitu marah.
"Sudahlah, Bu. Jangan menyalahkan siapa pun, tidak semua keadaan bisa kita kendalikan. Ibu sabar dulu, jangan terpancing berita," ucap ayah menenangkan.
***
"Komandan! Ada telepon darurat dari pusat untuk Anda." Ong yang sedang dinas di kantor mengabarkan pada Chandra yang pada saat itu tengah melakukan kegiatan harian bersama anggota.
Baru saja Chandra hendak istirahat untuk makan siang, dia justru mendapat panggilan dadakan seperti ini.
"Perihal apa?" tanya Chandra dengan tenang. Tidak biasanya pusat langsung menghubunginya seperti ini, apalagi telepon darurat yang biasanya berhubungan dengan hal yang sangat mendesak.
"Tidak tahu Komandan. Saya hanya diminta untuk menyampaikan agar Komandan segera menghubungi kembali ke pusat," jawab Ong dengan raut sedih. Ong tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Sebelum mendapat telepon dari pusat, Ong justru terlebih dahulu tahu dari sebuah portal berita online yang dibacanya tadi pagi.
Chandra pergi begitu saja tanpa bertanya lebih lanjut pada Ong, dia ingin segera mengetahui hal darurat apa yang dimaksud oleh pusat yang akan disampaikan padanya.
***
Nadia masih menunggu suaminya pulang sore itu, ia sudah selesai memasak lebih awal berkat bantuan bu bidan yang sejak siang ini menghabiskan waktu di rumahnya. Ditemani si kucing kecil Nadjen, Nadia kini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil bermain dengan kucing lucu ini.
__ADS_1
Tiba-tiba saja saat Nadia asik bermain, Chandra pulang dan terburu-buru memasuki kamar mereka. Nadia bahkan belum sempat menyapa saat suaminya langsung menyiapkan sebuah koper yang dia ambil dari atas lemari.
"Loh, kamu sudah pulang?" tanya Nadia antusias.
Chandra tersenyum kecil, dan membuka koper milik Nadia cepat. Nadia mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa? Kamu kenapa siapin koper?" tanya Nadia khawatir.
Chandra membawa Nadia untuk kembali duduk di atas tempat tidur dan menggenggam erat tangan istrinya itu, sambil menatapnya penuh perhatian.
"Kenapa?" ulang Nadia tak mengerti.
"Ibu saya sakit, dan sejak pagi ia sudah dilarikan ke rumah sakit," ujar Chandra lembut. Nadia sangat terkejut, ia tidak bisa menutupi rasa kagetnya itu. Namun, Chandra buru-buru mengalihkan perhatian Nadia dengan senyumnya.
"Kamu tenang dulu. Ingat, kamu istri saya sekarang. Kamu harus tenang dan kuat! Saya mau kamu mengikuti keinginan saya," pinta Chandra.
Nadia mengangguk kecil meski air mata mulai keluar dari sudut matanya. Chandra menangkup kedua pipi Nadia dan masih tersenyum tanpa niat membuat Nadia kebingungan.
"Nadia, saya mau kamu pulang ke Bandung. Merawat ibu dan tinggal di sana sementara waktu. Sebab, tugas saya di Flores masih harus berlangsung enam bulan ke depan tanpa cuti."
"Terus ... kamu, si sini sama siapa?"
Chandra terkekeh. "Saya bersama dengan rekan di sini seperti biasanya. Saya terpaksa mengirim kamu pulang ke Bandung."
"Ibu sakit apa?"
"Asma, tapi beliau akan cepat pulih kalau kamu yang merawatnya. Saya percaya sama kamu."
Nadia tidak kuasa menahan tangisannya, ia langsung berhambur pada pelukan Chandra yang pada saat itu terasa begitu hangat dibandingkan biasanya. Kedua mata Chandra tampak berkaca-kaca, dia juga tidak menyangka bahwa hal buruk akan menimpa rumah tangganya yang diakibatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Chandra mengelus lembut punggung Nadia dan beberapa kali menjatuhkan kecupan di samping wajah istrinya.
"Saya tidak bis mengantar kamu ke bandara. Sebentar lagi, Ardi akan menjemput kamu dan mengantar kamu."
Nadia melepas pelukan suaminya dan menatap Chandra nanar. "Kenapa?"
"Ada sesuatu yang harus saya urus di sini."
"Chan, ada sesuatu, ya?!" tanya Nadia dengan nada memaksa, kedua tangan Nadia pun dengan erat mencengkeram lengan Chandra yang tertutupi seragam dikenakannya.
"Tidak ada," jawab Chandra tenang."
Namun, baru kali ini Nadia melihat kedua mata Chandra menyiratkan kesedihan, tampak pula bulir bening berada di seputar kedua mata indah suaminya. Nadia kembali terisak, dan dengan hati-hati Nadia mengusap air mata Chandra menggunakan kedua ibu jarinya.
"Saya pasti akan merawat ibu, kamu jangan sedih."
Chandra mengangguk dan memaksakan senyumannya. "Hm, saya percaya sama kamu."
__ADS_1