Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 65


__ADS_3

Setelah suasana semakin gelap, Nadia akhirnya menyalakan lampu teras yang sejak tadi ia biarkan mati. Nadia juga sudah memastikan jika Vidi sudah benar-benar pergi setelah mengintip lewat celah gorden.


Nadia sangat takut dengan kehadiran Vidi, takut laki-laki itu berlaku macam-macam saat tidak ada siapa pun di tempat ini selain mereka. Meskipun Vidi orang yang baik, tetapi tetap saja kekhawatiran itu selalu muncul setiap kali Chandra tidak ada di rumah. Nadia takut orang-orang menyalah artikan sikapnya terhadap Vidi yang memang sudah diketahui sebagai mantan kekasihnya yang bahkan hampir menikah.


Nadia memijat pelipisnya, semalaman tidak tidur dan tadi menangis, juga marah pada Vidi ternyata membuat kepalanya sakit sekali. Ditambah lagi Nadia juga belum memakan apa pun setelah sarapan. Gadis itu kemudian menuju dapur dan segera memasak nasi di rice cooker, kalau dibiarkan tidak memasak nasi sekarang maka bisa berbahaya karena waktu pemadaman bergilir akan dilakukan setiap pukul delapan malam.


Tok tok tok


Nadia mendengar suara ketukan pintu, ia dengan panik segera membawa teflon baru dan menuju ke pintu depan.


"Siapa?" tanya Nadia pelan dan waspada, langkah kakinya ia buat tegas menuju pintu agar ia bisa ancang-ancang jika ada orang jahat yang bertamu dengan niat buruk.


Tok tok tok


Daripada menjawab, tamu itu malah kembali mengetuk pintu.


Nadia menarik napasnya dalam-dalam dan membuka kunci hati-hati. Lalu menarik hendel pintu. Saat setengah pintu mulai terbuka dari luar karena sedikit dorongan, Nadia mengacungkan teflonnya bersiap untuk memukul.


Hap!


Tangan Nadia ditahan dengan lembut oleh seseorang. Nadia mendongak dan menemukan Chandra tersenyum ke arahnya.


"Ini saya ...," ucapnya dengan nada lembut.


"Ih, kirain maling!" bentak Nadia dengan merengek. Nadia lalu menjatuhkan teflonnya sembarangan dan berhambur ke dalam pelukan suaminya.


Chandra tertawa kecil dan juga sedikit heran dengan sikap Nadia yang tidak seperti biasanya. Namun, pria itu membalas pelukan Nadia tak kalah erat.


Nadia agak terisak dalam dekapan Chandra, membuat Chandra khawatir.


"Ada apa? Kamu ... nangis?" Chandra mengangkat wajah Nadia dengan hati-hati untuk menghadap ke arahnya. Nadia mendongak dan kedua mata kesukaan suaminya itu basah.


Chandra menghapus air mata itu dengan sebelah tangannya.


"Kenapa?"


"Nggak tahu ...," jawab Nadia pelan, lalu kembali menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Chandra. Chandra terkekeh mendapati ekspresi menggemaskan itu.


"Ada yang jahat? Kamu sampai bawa-bawa teflon begini."


Nadia tidak mengerti kenapa saat melihat dan bertemu Chandra malam ini ia tiba-tiba saja menangis, seperti sudah lama bertemu padahal jelas-jelas saat sarapan mereka masih menghabiskan waktu bersama.


"Sudah, jangan nangis ... nanti orang-orang mengira saya yang bikin kamu nangis."


"Memang kamu kok, yang bikin saya nangis!" Nadia melepas pelukannya dari tubuh Chandra.

__ADS_1


Chandra makin kebingungan, dan rasa takut mulai muncul dalam diri pria itu. Apa yang membuat Nadia menangis? Apa itu ada hubungannya dengan Nellie?


"Saya?" Tunjuk Chandra pada dirinya sendiri.


"Iya! Bikin kangen terus sih, jadi orang," ujar Nadia dengan nada manja, gadis itu kembali menabrakkan tubuhnya pada tubuh Chandra yang menjulang di hadapannya. Chandra tertawa senang sekali, dan Nadia berusaha menyembunyikan kegelisahannya karena pertemuannya dengan Vidi.


Dalam hati, Chandra sangat bersyukur karena kekhawatirannya justru sama sekali tidak terjadi untuk sementara waktu. Chandra juga tahu jika suatu hari Nadia akan mengetahui hubungan masa lalunya bersama Nellie, dan sebelum waktu itu tiba, Chandra menjelaskannya pada Nadia dengan sangat baik tanpa perlu membuat istrinya itu merasa dibohongi. Toh, Chandra sudah tidak memiliki perasaan apa pun pada mantan kekasihnya itu.


"Nad, saya belum mandi ... memangnya tidak bau?" tanya Chandra pada Nadia.


Nadia menggelengkan kepalanya dan masih bertahan sejak lima menit lalu memeluk suaminya. "Enggak, saya suka badan kamu setiap pulang kerja. Wangi kok."


"Ada yang mau saya berikan sama kamu." Beritahu Chandra dengan nada ceria, hal itu membuat Nadia penasaran.


Setelah lepas dari tawanan Nadia akhirnya pria itu membawa sesuatu dari luar, kucing yang ada dalam keranjang itu tampak tidak bersuara sama sekali ketika Chandra membawanya masuk ke dalam rumah.


Nadia yang menunggu di kursi pun tersenyum amat lebar, wajahnya terlihat sangat takjub seperti anak kecil yang mendapatkan mainan berupa boneka baru dari ayahnya. Kucing menggemaskan berwarna keabuan tampak Chandra keluarkan dari dalam keranjang.


"Waaaah, lucu banget! Kamu dapat ini dari mana?" jerit Nadia dengan takjub, tangannya tak kuasa menahan rasa gemas ingin segera membawa kucing kecil itu ke dalam pangkuan.


Chandra sudah menduga kalau Nadia pasti akan sangat senang dengan kehadiran kucing kecil ini. "Dari seorang teman yang berdagang di Bali."


Chandra menyerahkan kucing itu pada Nadia, kucingnya sejak tadi diam saja dan tidak bersuara. Sepertinya Nadia dan kucing itu sudah cukup akrab meskipun baru pertama kali dipertemukan, hari ini membuat Chandra merasa puas dengan idenya sendiri untuk memberikan Nadia hadiah berupa kucing.


Nadia memangku kucing itu dan sesekali mencium puncak kepalanya, memperlakukan kucing seperti bayi kecil yang lucu.


"Bagus kalau kamu suka. Nah, mulai hari ini selagi saya bekerja diluar, kamu ada teman."


Nadia mendongak dengan bibir mengerucut. "Memangnya ... kamu mau pergi kerja lagi? Nggak akan pulang?"


"Bukan begitu. Selagi kamu nunggu saya, kamu bisa bermain dengan kucing. Menurut penelitian, kucing bisa menyerap energi negatif seseorang yang memeluknya."


Nadia tersenyum kecil. "Hehe, baik banget sih."


"Harus, saya kan suaminya Nadia Adriana. Artis yang sangat cantik dan baik."


"Ih, apaan sih." Nadia menyembunyikan wajahnya yang bersemburat merah dari pandangan Chandra, tetapi tidak berhasil karena suaminya itu berada sangat dekat dengannya.


"Oh iya, keadaan Nellie gimana? Sudah baikan ... keluarganya udah dihubungi?"


Pertanyaan yang sudah dapat dipastikan akan muncul, dan Chandra sudah mempersiapkan jawabannya sejak tadi.


"Kondisinya sekarang sudah membaik. Nellie sudah tidak memiliki keluarga lain atau kerabat."


Wajah Nellie berubah menjadi sedih lagi, kerapuhannya kembali ia tunjukkan di hadapan Chandra. Hal itu membuat Chandra semakin tidak tega untuk menceritakan hal sebenarnya antara dirinya dan Nellie di masa lalu.

__ADS_1


"Ya ampun, kasihan Nellie ... terus?"


"Ia juga tidak apa-apa, ia sudah diberikan perawatan dan pelayanan sesuai prosedur. Saya juga bisa pulang karena bu bidan dan bu perawat sudah bersedia menggantikan saya sebagai walinya. Kamu tidak perlu kuatir." Chandra mengusap lembut wajah istrinya itu, guna menghilangkan kekhawatiran yang sering muncul pada diri Nadia.


"Chandra, kamu kasihan nggak sama Nellie?"


"Hah?"


Nadia tersenyum kecut. "Kalau saya jadi Nellie, mungkin saya nggak akan kuat menjalani hidup. Kehilangan semua orang, bahkan orang yang paling penting dalam hidupnya juga harus pergi."


Pandangan Chandra berubah nanar, memperhatikan ekspresi Nadia yang membuatnya lemah sebagai seorang pria. Raut wajah itu, ekspresi manja yang membuatnya tidak bisa meninggalkan walau sekejap.


"Kamu janji ya, kalaupun saya keras kepala, kamu nggak akan tinggalin saya?"


"Hm, mana mungkin saya tinggalkan kamu. Sekalipun kamu kepala batu."


Nadia mematikan lampu darurat yang semula digunakan sebagai penerangan di dalam kamar mereka, gadis itu juga membawa kucing yang belum ia namai ke atas tempat tidur. Nadia menaruh kucing kecil itu di antara dirinya dan Chandra.


"Kalau kucingnya pipis gimana, ya?" tanya Nadia polos mengundang tawa kecil suaminya yang berusaha untuk memejamkan mata.


"Memangnya, kucing seperti bayi?"


"Hehe ... nggak tahu juga sih, tapi biasanya kucing begitu ... suka pipis sembarangan.


Makanya, papa sama nenek paling anti ada binatang peliharaan di dalam rumah." "Ya sudah, kucingnya simpan saja di keranjangnya, atau simpan di sofa."


Nadia melihat pada sorot mata kucing itu, lucu dan menggemaskan.


"Ih, nggak tega. Kasihan," gumam Nadia seraya menjatuhkan kecupan dan pelukan pada kucing kecil itu. Chandra kembali mengulum senyum saat memperhatikannya.


"Hihi ... gemesh banget si miauw lucu banget," kikik Nadia pada kucing dalam dekapannya.


"Nad ...," panggil Chandra lembut.


"Hm?"


"Saya menantikan hari di mana kamu memeluk bayi kita seperti ini." Nadia menatap suaminya dengan senyum.


"Kok, tiba-tiba bahas bayi?" tanya Nadia sambil menahan tawanya. Chandra tampak salah tingkah di tempatnya berbaring saat ini. Nadia meraih tangan suaminya, dan menjatuhkan kecupan mesra di sana dalam-dalam.


"Mau?"


"Mau apa?" tanya Nadia linglung.


Chandra tertawa kecil, lalu tanpa menunggu lama pria itu menyingkirkan kucing dalam dekapan Nadia hati-hati sehingga ranjang itu hanya milik mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa beri aku gift, yoleobun.


__ADS_2