Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 79


__ADS_3

"Saya sangat menginginkan kamu!" seru Chandra dengan napas yang memburu.


Di tengah kemesraan yang dibuat secara cepat oleh Chandra, Nadia tidak bisa menolak keinginan suaminya tersebut. Ia hanyut dalam pandangan yang rasanya sudah lama tak ia nikmati itu. Namun, suara pintu yang terbuka membuat Chandra seketika terjungkal dari atas sofa hingga pria itu jatuh ke lantai dengan posisi duduk.


Nenek dengan polos mengucek kedua matanya, sembari memegangi handphone yang menyalakan senter.


Nadia yang sedang sedih agak terhibur dengan pertunjukan akrobat yang diberikan oleh Chandra. Wajah penuh dengan gairah suaminya berubah menjadi sangat kaku dan dingin seketika.


"Hoamm... loh, kamu sudah pulang?" tanya nenek terkejut saat melihat Chandra ada di ruang tengah bersama Nadia. Nenek kemudian mengenakan kacamata yang dikalungkan di lehernya.


"Hm ... iya, Nek. Saya baru tiba," jawab Chandra kaku.


"Ya ampun, jadi kamu mau tidur di lantai?" tanya nenek lagi penuh perhatian. Chandra hanya mengangguk.


"Nenek tidur lagi saja. Nggak papa, aku di sini temani Chandra," timpal Nadia. Chandra tersenyum ke arah Nadia, seolah memberi kode kalau malam ini sampai besok mereka akan menghabiskan waktu berdua.


"Nenek istirahat saja," tambah Chandra dengan ramah, sembari bangun dan menggiring nenek untuk kembali masuk ke dalam kamar.


Nadia memperhatikan sikap suaminya yang selalu baik pada semua orang, terutama pada orang tuanya, teman dan juga rekan. Pantas saja Nellie tidak bisa move on. Memikirkan hal tersebut membuat Nadia membayangkan sudah sejauh mana hubungan antara Chandra dan Nellie di masa lalu.


Chandra menyalakan lilin di dalam kamar sehingga nenek bisa tidur dengan nyaman tanpa kegelapan lagi. Nenek juga kembali mengenakan selimutnya dan tersenyum ke arah cucu mantunya yang begitu perhatian.


"Chan," panggil nenek dengan lembut. Chandra menoleh ke arah nenek dan mendudukkan tubuh jangkungnya di samping nenek.


"Ada apa, Nek?"


Chandra cukup penasaran dengan obrolan yang akan nenek mulai, tetapi nenek sepertinya urung untuk menceritakannya. Karena waktu sudah menunjukkan dini hari dan Chandra juga baru tiba, rasanya nenek tidak bisa menyita waktu cucu menantunya itu.


"Ambil bantal sama selimut lagi untuk kamu sama Nadia," peringat nenek dengan lembut.


Chandra tersenyum. "Iya, Nenek kembali istirahat saja, kami sudah besar, tidak perlu dikhawatirkan," jawab Chandra dengan lembut membuat nenek sangat percaya dengan tanggung jawab lelaki itu.


Chandra keluar dari dalam kamar yang ditempati nenek, pria itu membawa satu bantal dan selimut tebal untuk alas tidurnya malam ini di atas karpet. Terlihat Nadia sudah lebih dulu kembali merebahkan diri di sofa, posisinya membelakangi Chandra.


Chandra mendekat dan memeluk Nadia dengan posisi duduk di samping sofa, pria itu menyembunyikan wajah lelahnya di punggung Nadia yang harum. Chandra tersenyum sangat lebar di tengah tidurnya malam itu. Tanpa mengetahui bahwa di malam yang dingin dan sunyi itu, Nadia menahan diri untuk tidak mengeluarkan isak tangisnya dengan susah payah.


***


Keluarga kecil itu telah tiba di Labuan Bajo, tepatnya di satu-satunya bandara yang ada di sana. Nenek dan papa sudah bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke Bandung, terlihat Chandra memperlakukan Nadia dengan begitu mesra di hadapan papa dan neneknya. Pria itu tidak melepas rangkulan di pinggang ramping Nadia saat mengantarkan kepulangan papa dan nenek menuju Bandung.


Nadia memeluk papa dan neneknya secara bergantian, pelukan yang lama dan tentu saja tidak dapat Nadia relakan kepergiannya begitu saja. Biar pun Nadia sudah dewasa ia ternyata cukup kekanak-kanakan jika dihadapkan pada perpisahan.


"Nadia pasti bakalan cepat pulang ke Bandung kok, Pah, Nek," beritahu Nadia dengan tangis kecil menghiasi wajahnya yang sedikit pucat.


Nenek tertawa kecil. "Iya, kamu baik-baik di sini. Kalau suami sudah tugas, kalian liburan lagi ke Bandung."


"Kamu jangan manja-manja. Jangan mikirin hal-hal lain juga, urus saja suami sama keluarga di sini. Nadia baik-baik di sini. Papa juga nggak khawatir kamu tinggal di sini. Semua orang di Flores baik dan ramah."

__ADS_1


Nadia mengangguk, melambaikan tangannya dengan lemas mengantarkan nenek dan papa menuju area keberangkatan.


Di dalam mobil menuju pulang ke rumah dinas, Nadia tidak banyak bicara selain memberitahukan Chandra tentang kegiatannya yang dilakukannya bersama rekan-rekannya di sekolah. Sampai, Chandra merasakan hal yang sedikit aneh dari wajah Nadia yang kian lama kian pucat. Pria itu menepikan mobil yang dikendarainya, dan memperhatikan Nadia dengan saksama.


Nadia yang berusaha menghindari perhatian suaminya itu hanya bisa menghela napasnya dan menatap ke arah Chandra dengan ekspresi datar. "Kenapa?"


Chandra meraba dahi Nadia. "Kamu demam?"


Nadia menepisnya lembut. "Enggak, ini efek nggak pakai make up saja," jawab Nadia ketus, berusaha terlihat baik di hadapan Chandra.


"Tapi, badan kamu juga panas ...."


"Enggak kok. Ini demam biasa, efek samping menstruasi."


"Apa perlu ke dokter?"


"Saya nggak suka dokter." Lebih tepatnya Nellie.


Chandra tersenyum kecil. "Saya juga tidak suka dokter, kita punya banyak kesamaan ternyata," timpal Chandra berusaha mencairkan suasana. Tanpa menaruh curiga apa pun pada perubahan sikap Nadia.


Nadia tersenyum kecut, ingin sekali ia mengatakan semuanya sekarang. Namun, Nadia masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan itu.


"Kita cepat pulang saja, saya mau istirahat," beritahu Nadia pada suaminya. Chandra justru menjatuhkan cubitan pelan di pipi kanan Nadia yang suhunya cukup hangat saat itu.


"Iya


...


memperhatikan Nadia tanpa peduli dengan sikap cuek istrinya.


Lagi pula, Chandra sudah cukup banyak belajar dari bu Bidan, kalau seorang perempuan tiba-tiba berubah mood itu adalah hal biasa apalagi ketika menstruasi, perubahan hormon katanya.


Sesampai mereka di rumah, Nadia langsung memasuki kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur. Chandra menuju dapur dan mengambil air dingin dalam kulkas, dia menyiapkan kompres juga menggunakan handuk wajah. Pria itu menyusul Nadia ke kamar dan meraih lengan Nadia dengan hati-hati.


"Ke sini dulu, biar dahi kamu saya kompres," pinta Chandra dengan lembut.


Nadia tidak kuasa menahan tangisnya, gadis itu membalik tubuhnya menghadap Chandra dan air mata sudah membasahi hampir kedua pipinya. Chandra mencelos, terkejut dengan tangisan Nadia yang sudah dua kali dia saksikan hari ini.


"Apa kamu akan seperti ini juga ke Nellie?" tanya Nadia langsung dengan suara getar.


Seketika ekspresi Chandra yang manis dan sendu berubah menegang, pria itu nyaris menjatuhkan air dingin di tangannya ke lantai kalau saja dia kehilangan fokus.


"Kenapa ... kamu nggak bilang sama saya, kalau mantan pacar Nellie itu kamu sendiri!"


"Kenapa, saya mesti tahu hal itu dari sebuah surat yang diam-diam Nellie simpan di saku jaket milik kamu?! Kenapa juga diam-diam kamu menemui ia tanpa sepengetahuan saya?!"


"Dan ...." Nadia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia terlalu lelah untuk menceritakan semua hal yang baru ia ketahui kemarin. Chandra masih diam membatu di hadapannya, tetapi pandangan pria itu tidak pernah lepas dari kerapuhan yang dimiliki Nadia.

__ADS_1


Chandra tidak mengira bahwa mimpi buruk yang selama ini dia halau akan terjadi pula, bahkan lebih buruk dari dugaannya.


"Kenapa ... kamu tega membohongi saya selama ini?!" Nadia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar dan tangisan pedih yang telah lama ia pendam pun pecah di siang hari yang cerah. Chandra meraih tubuh istrinya, membawa Nadia ke dalam dekapan yang besar.


Chandra mengecup ubun-ubun Nadia dan menghirup aromanya dalam-dalam, pria itu juga menitikkan air mata penyesalan atas lambannya penjelasan yang tak pernah dia berikan.


"Saya tidak pernah berniat membohongi kamu."


Nadia berusaha terlepas dalam dekapan itu, tetapi Chandra begitu erat menguasai tubuh kecilnya.


"Lalu kenapa? Kamu begitu baik menjaga rahasia. Apa kamu begitu bahagia bisa kembali bersama dengan calon istri yang gagal kamu nikahi itu?!"


Nadia mendongak, dan menemukan tatapan semanis madu itu masih terarah padanya dengan serius.


Chandra tersenyum, diselingi tetes air mata yang hangat di seputar wajahnya. Begitu sakit hati Nadia melihat senyuman itu. Namun, ada rasa aneh yang gadis itu rasakan pada hatinya, selain sakit entah kenapa Nadia merasa jantungnya berdebar-debar begitu kencang.


"Ini pertama kalinya saya merasakan kamu benar-benar mencintai saya."


Chandra melepas rangkulannya, dan memegang kedua sisi tubuh Nadia dengan lembut.


"Apa maksud kamu?!" tanya Nadia tak mengerti.


Chandra lagi-lagi tersenyum, dia lalu menjatuhkan usapan lembut pada kedua pipi Nadia yang basah. "Saya berjanji pada diri saya sendiri. Bahwa, sebaik apa pun orang yang ada di masa lalu, saya tidak akan pernah menceritakannya pada kamu. Itu semua sudah tidak penting bagi saya. Sama halnya, ketika saya mengetahui orang lain masih mengharapkan kamu, saya berusaha untuk tidak memedulikan itu."


"Nadia, tidak pernah ada satu pun perhatian yang saya berikan pada kamu sebanding apa yang saya berikan pada orang di masa lalu. Kamu adalah masa depan saya, kamu adalah perempuan yang akan mendampingi saya dalam kondisi apa pun, dan kelak akan memberikan bayi-bayi kecil sebagai kesempurnaan hubungan kita."


Chandra tersenyum, lesung pipinya yang dalam langsung menjorok dan elusan pria itu beralih pada kedua pelipis Nadia. Nadia tidak bisa mengingkari bahwa jantungnya berdetak sangat kencang saat kata 'bayi-bayi kecil' keluar dari bibir manis suaminya. Mengapa Nadia harus semakin jatuh cinta saat dirinya begitu kecewa?


"Maafkan saya karena tidak pernah menceritakan hal itu. Dengan kehadiran kamu di sisi saya, itu sudah membuat saya sangat bahagia. Itu cukup untuk saya. Sejak saya memutuskan untuk menemui dan melamar kamu bersama keluarga, saya sudah meyakinkan diri untuk tidak lagi berkaca pada diri saya yang dulu. Di depan mata saya, hanya ada kamu."


"Sekarang, kamu tidur. Biar saya mengompres tubuh kamu. Kamu tidak boleh sakit dan sedih. Saya tidak bisa melihat kamu seperti ini," tambah Chandra dengan menjatuhkan tubuh Nadia ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Nadia tidak menanggapi kalimat suaminya, gadis itu masih memandang dengan sendu dan genangan air mata yang mengaburkan pandangannya.


Chandra mengecup kening istrinya sebelum mengompresnya. "Airnya kurang dingin, saya ambil es batu sebentar," ujar Chandra dengan suaranya yang agak serak. Dua hendak pamit ke dapur, tetapi Nadia menahan lengan besar pria itu.


Nadia tersenyum, menggigit bibir bawahnya, merasa malu karena justru mendapatkan yang begitu manis dari suaminya. Dia seperti anak kecil yang berhasil dibujuk dengan boneka beruang.


"Ada apa? Mau ikut ke dapur?" tanya Chandra jahil.


Nadia terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, diikuti oleh Chandra yang tertawa kecil.


"Chan, saya mau pacaran sama kamu sampai sore. Setelah itu, kita pacaran lagi. Kita cerita banyak hal, biar saya lupa kalau kamu pernah dimiliki orang lain sebelum saya. Biar saya tidak cemburu dengan masa lalu kamu."


Chandra tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata, gemas sekali mendapat kalimat itu meluncur dari bibir kecil istrinya. "Saya akan pacaran sama kamu, setelah ambil es ... tunggu di sini sebentar ya, cantik."


"Saya mau kamu peluk sama selama 24 jam. Bodoh, ya?"


Chandra tertawa kecil. "Iya, memang bodoh, saya juga bodoh. Karena saya akan menuruti permintaan kamu."

__ADS_1


Lalu mereka pun pacaran. Bertukar cerita, dan berusaha untuk meyakini satu sama lain agar tidak terpengaruh dengan orang-orang yang kembali dari masa lalu.


Jangan pelit komen dan lain ke-nya ya!


__ADS_2