
"Papa mau pegi?"
"Ola sakit ... pipi Ola panyas ...."
Flora berada dalam gendongan papanya yang sudah bersiap untuk pergi, sejak kemarin Flora memang demam karena pertumbuhan gigi gerahamnya, menurut dokter hal itu sudah biasa terjadi pada balita jika dalam masa tumbuh gigi akan mengalami demam karena gusi yang bengkak.
Chandra tidak kuasa menjawab pertanyaan putri kecilnya itu, tangan mungil Ola sejak bangun tidur di pagi hari tidak mau lepas dari kerah kemeja papanya. Flora sangat dekat dengan papanya, sehingga tidak mau dipisahkan apalagi dalam kondisi kurang sehat seperti sekarang.
"Papa ...," gumam Flora dengan lirih, mata bulatnya perlahan terpejam karena Chandra menggendongnya sambil diayun pelan dalam dekapan.
Nadia menghela napasnya ketika ia sudah selesai mempersiapkan perlengkapan Chandra untuk dibawa pergi, Nadia yang baru kali ini akan ditinggalkan suaminya pergi bertugas mendadak jadi melankolis. Koper besar milik Chandra sudah rapi tersimpan di ruang tengah. Nadia mendekati suaminya dan memeluk Chandra dari belakang.
Chandra tersenyum lembut mendapati dekapan hangat sang istri yang sejak semalam tidak mau jauh. "Saya di sana hanya satu Minggu, kamu baik-baik di sini, ya?"
Nadia terisak kecil, lalu berusaha memaksakan senyumannya. "Jangan lupa makan ya kamu, istirahat juga yang cukup," beritahu Nadia, daripada mengkhawatirkan keadaannya bersama Flora, Nadia lebih khawatir dengan keadaan suaminya yang akan menuju lokasi bencana alam berupa banjir bandang yang terjadi di NTT.
"Iya, kamu tidak perlu menghawatirkan saya. Di sana saya hanya ikut sebagai mantan komandan yang pernah bertugas di Flores, tidak akan melakukan hal aneh-aneh."
"Ck, bohong! Kamu itu pasti nanti ikut-ikutan kerja sama tim SAR. Saya nggak percaya kalau nanti di sana kamu duduk manis aja!" omel Nadia dengan bibir manyung sempurna.
Chandra tertawa kecil, dia memang tidak akan tinggal diam di sana, paling tidak Chandra pasti ikut berkontribusi dalam membantu korban untuk membenahi tempat tinggal atau ikut membantu memperbaiki fasilitas umum yang rusak.
__ADS_1
"Nadia Sayang ... Jadi, saya tidak boleh pergi?"
Chandra menatap mata madu istrinya dengan hangat, Nadia melembut dan pada akhirnya ia hanya bisa pasrah harus ditinggalkan suami pergi.
"Boleh ... tapi kok, saya nggak mau tinggalin?" rengek Nadia dengan raut wajah seperti Flora yang merajuk.
Chandra menjatuhkan cubitan lembut di cuping hidung istrinya, Nadia agak meringis, tetapi ia masih betah untuk beradu pandang dengan suami tampannya.
"Sebenarnya kalau memikirkan keadaan kamu dan Flora, saya juga tidak mau pergi, apalagi Flora sedang sakit, dan kamu juga tidak pernah saya tinggalkan sebelumnya. Bersabar sebentar ya. Ini kan musibah, berbelasungkawa kan tidak hanya bersedih atau ikut bersimpati ... kalau ada kesempatan baik ya, saya rasa lebih bagus jika ikut mengulurkan tangan secara langsung."
Nadia tersenyum haru, suaminya memang sangat idaman. Nadia berjinjit dan menjatuhkan kecupan di pipi Chandra.
"Hehe ... sudah," kata Chandra pelan, ia tidak mau kalau Flora kembali terbangun karena mendengar suaranya.
"Saya tidurkan Flora ya."
"Hmmm."
Chandra pun dengan hati-hati menjatuhkan tubuh mungil Flora ke atas tempat tidur, balita yang baru berusia genap 2 tahun itu langsung meringkuk, dan Nadia menyelipkan boneka kesayangan Flora untuk didekap oleh dua tangan mungil Ola.
Chandra mengusap lembut puncak kepala Flora yang ditumbuhi rambut tebal agak ikal itu dengan gemas. Nadia duduk di samping suaminya dan ikut menatap buah cinta mereka dengan pandangan syahdu.
__ADS_1
"Flora mirip sekali dengan kalau sedang tidur."
"Oh iya? Tapi isi wajah Flora itu lebih mirip kamu loh. Matanya Ola bulet, bibirnya kamu banget," terang Nadia pada Chandra.
"Kamu kalau tidur itu lucu, saya selalu cium karena gemas," timpal Chandra dengan wajah dibuat imut ke arah Nadia, Nadia terkikik dan semakin berat untuk mengizinkan sang suami untuk pergi.
"Sayang ...."
"Hmm?"
"Kangen," bisik Nadia dengan manja, Chandra mengangguk. "Sama, saya juga kangen kamu. Padahal belum pergi ... mau ciuman dulu yang lama?"
Bibir Chandra dibuat siap untuk mengecup, tapi Nadia menepuknya pelan. "Nanti pulangnya ya?"
"Siap Bu Jenderal, laksanakan ...!" timpal Chandra sambil berpose hormat ke arah Nadia. Nadia tertawa dengan tingkah suaminya itu.
"Saya pergi sekarang ya, satu jam lagi, nenek sama papa datang ke sini buat temanin kamu."
Chandra membelai kedua sisi wajah Nadia yang cantik, ia pun memberikan kecupan dalam di kening Nadia. Kedua mata Nadia terpejam menikmati sentuhan perpisahan tersebut dengan perasaan sedikit tenang walaupun tidak mau ditinggalkan.
***
__ADS_1