
•••
"Wow, di sini indah banget." Nadia melonggokkan kepalanya keluar jendela, selama perjalanan menuju kota. Bibir gadis itu tidak hentinya bersorak senang dan mengagumi keindahan alam Flores yang sangat langka.
Meskipun gersang di siang hari dan jalanannya masih belum rapi seperti di pulau Jawa, ternyata Flores memiliki keindahan alam yang unik, mataharinya membuat hamparan bukit-bukit kecil tampak seperti oase. Ada lautan juga yang bisa dilihat dari jauh sekian kilometer karena jarangnya pepohonan.
"Beda banget sama di Bandung, kalau di Bandung kebanyakan kios, hehe." kekeh Nadia. Setelah agak bosan, gadis itu kembali duduk rapi di sisi Chandra yang mengemudikan mobilnya.
"Kita mau jalan-jalan, ke mana?" tanya Nadia penasaran.
Chandra agak berpikir. "Hm, untuk saat ini saya akan mengajak kamu ke pasar yang ada di pusat kota Flores. Tidak terlalu kota, tapi tempat itu cukup menyediakan banyak barang yang sekiranya diperlukan untuk peralatan rumah tangga."
"Wow, serius?"
"Iya, saya tahu. Kamu suka belanja, 'kan? Di sana tidak ada mall. Tapi ada pasar. Kita belanja di pasar tidak, apa-apa?"
Nadia langsung bertepuk tangan dan tersenyum girang. "Ih, nggak masalah. Yang namanya belanja mau di mana pun pasti bikin senang. Makasih sudah ajakin jalan-jalan. Nanti kalau libur lagi, kita jalan-jalan, ya?"
Mereka tiba di tempat yang Chandra sebut sebagai pusat kota Flores. Karena Flores adalah kepulauan terpencil di Indonesia maka akan sangat wajar sekali apabila tempat tersebut memiliki banyak keterbatasan. Tidak seperti pusat kota yang bisa kalian bayangkan pada umumnya yang memiliki gedung tinggi atau jajaran swalayan di kiri dan kanan jalan. Di sana hanya ada satu tempat yang disebut pasar, yang menjual segala bentuk dagangan untuk keperluan pokok manusia.
Nadia melirik ke sana kemari, dia tidak menemukan apapun yang dicarinya setelah berjalan dari tempat parkir menuju kebagian pasar, Chandra di sisinya sedikit bingung juga harus mengajak Nadia pergi ke mana. Selama ia berada di Flores, pria itu hanya berbelanja 2 kali itu pun membeli beras dan sayuran.
Nadia cemberut dan menoleh ke arah Chandra, pria itu tampak kebingungan sekarang.
"Ada yang mau kamu beli?" tanya Chandra pelan.
Nadia terkikik dan menggelengkan kepalanya. "Enggak ada, aku nggak tahu mau beli di sini."
"Hm, di ujung sana ada kios ikan segar. Biasanya ikannya masih hidup. Mau lihat?"
"Wah, beneran?" Nadia pun kembali semangat, Chandra menuntunnya untuk berjalan menuju area kios ikan yang dimaksud.
Sesampainya di sana, Nadia bis melihat banyak jenis ikan dari ukuran terkecil sampai terbesar. Gadis itu seperti memasuki area seaworld bersama dengan Chandra yang terus memperhatikan kehebohannya.
__ADS_1
"Itu, itu ikan apa?" tanya Nadia sambil menunjuk ikan berkulit silver, ukurannya sangat besar dan tampak menggelepar di atas meja.
"Hm, sepertinya itu ikan cakalang. Nelayan di sini menangkapnya saat subuh, dan langsung dijual pagi-pagi di pasar."
Nadia manggut-manggut. "Hebat ya, Nelayan Flores. Padahal peralatannya terbatas, enggak kayak nelayan luar negri yang pakai mesin bahkan kamera di bawah laut."
Chandra tersenyum dengan ucapan Nadia. "Ya, bukan hanya karena hebat para nelayannya, tetapi juga hal ini menunjukkan betapa kayanya alam Indonesia. Maka dari itu, kita harus menjaga titipan alam ini dengan sangat baik," jelas Chandra yang membuat Nadia tersenyum, bahkan Nadia baru kembali sadar kalau dia sedang jalan-jalan dengan seorang komandan TNI AD.
"Kamu mau makan ikan?" tanya Chandra karena Nadia mendekati penjual ikan yang ada di sana.
"Mau lihat aja, hehe." Nadia nyengir yang entah kenapa menular pada Chandra.
Dua orang itu kemudian melihat penjual mempersiapkan sebuah ikan besar dan pisau besar yang fungsinya untuk memotong-motong ikan segar itu. Nadia menatap ngeri ke arah pisau dan ikan, terlihat ikan yang semula menggelepar kini tampak meminta tolong dengan tatapan matanya yang tidak pernah berpaling dari Nadia.
CLAG!
"AH!" Nadia menjerit saat ikan tersebut mulai diolah oleh penjualnya. Chandra dengan sigap menarik wajah Nadia untuk berpaling dari tempat pemotongan ikan tersebut.
Nadia tampak pucat, dan Chandra berada di sisinya khawatir. "Kasihan ikannya," gumam Nadia pada Chandra, mengadu bahwa ia ketakutan setelah melihat secara langsung pemotongan ikan.
Nadia mengangguk. "Kamu pernah tembak orang, nggak? Atau hajar orang gitu pas di tempat perang?" tanya Nadia seperti anak kecil.
Chandra tertawa mendengar celoteh Nadia. "Hm, pernah. Namun, itu untuk pertahanan diri. Bukan karena saya sengaja."
"Terus, orang yang kamu tembak meninggal?"
"Saya hanya menjalankan protokol pekerjaan saya." Chandra tersenyum kecut, Nadia mengusap lengan suaminya dengan lembut, membuat Chandra mendongak ke arah Nadia.
"Enggak apa-apa kok. Yang kamu tembak 'kan orang jahat," balas Nadia dengan lembut, pemilihan kata-kata Nadia yang seperti anak kecil membuat Chandra dengan gemas mencubit sebelah pipi Nadia dengan pelan, gadis itu terkekeh.
"Saya lucu, ya?" tanya Nadia spontan tanpa melepas senyumannya.
Chandra mengangguk. "Hm, maka dari itu, saya sangat ingin mencubit pipi kamu. Tidak marah, 'kan?"
__ADS_1
"Nggak, kamu bisa mencubit pipi saya selagi kamu mau. Tapi jangan keras-keras, nanti saya nangis, hehe."
•••
Sore menjelang malam, Nadia disibukkan dengan pulpen dan sebuah buku catatan yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ya, gadis itu selain menjalankan tugasnya sebagai istri seorang prajurit, ia juga tengah menulis lirik lagu yang masih belum tuntas meskipun ia telah dikejar deadline oleh fans yang memintanya untuk segera merilis lagu baru. Di hari libur yang sebenarnya sama saja bagi Nadia, ia cukup mendapatkan banyak inspirasi setelah Chandra mengajaknya keliling Flores dan mengunjungi pasar.
Nadia tidak hentinya tersenyum saat ingatan bersama Chandra terulang kembali di dalam pikirannya, sampai ia tidak menyadari jika seseorang tengah memperhatikannya sejak tadi.
"Selamat sore," sapa orang itu saat kedua kakinya sudah berada di teras rumah dinas Chandra.
Nadia terkejut bukan main, gadis itu bengong saat menoleh ke sumber suara yang menyapa padanya.
"Eh, selamat sore juga," balas Nadia dengan ramah dan sungkan. Nadia segera menaruh buku catatan dan pulpennya ke atas meja dan menghadap tamu wanita di hadapannya.
"Eh, ada perlu apa, ya?" tanya Nadia bingung. Nadia juga memperhatikan wanita di hadapannya mengenakan setelan dokter dengan koper kecil yang ia bawa.
Wanita itu tersenyum kecil, wajahnya cantik dan kulitnya putih mulus. Mengulurkan tangannya pada Nadia.
"Perkenalkan, saya dokter yang bertugas mulai besok. Kalau Anda memiliki keluhan kesehatan, Anda tidak perlu sungkan untuk menemui saya di puskesmas."
"Oh, dokter. Saya Nadia. Saya penduduk baru di sini, menemani suami dinas. Maaf, saya sedikit bingung karena ini pertama kalinya untuk saya."
Mereka bersalaman. "Saya Nellie."
"Silahkan duduk." Nadia menggeser kursinya dan Nellie duduk dikursi tersebut, dua wanita itu pun muulai berbincang ringan tentang Flores dan asal-usul satu sama lain. Obrolan padat itu hanya berlangsung selama 10 menit. Nellie datang untuk membagikan obat malaria yang diberikan oleh pemerintah pusat untuk penduduk setempat, termasuk untuk para tentara yang bertugas di sana.
"Saya nggak menyangka bisa bertemu dengan teman sebaya di sini," ujar Nadia dengan tatapan kagumnya pada sosok Nellie, seorang dokter muda, cantik, berani lagi.
Sementara Nellie pun merasakan hal yang sama terhadap Nadia, Nadia yang cantik, masih muda, dan sudah menikah.
"Ya, kapan-kapan. Kita harus mengobrol, saya punya banyak cemilan di rumah saya. Kamu harus berkunjung, ya!" ujar Nellie semangat. Tidak seperti profesinya yang serius, Nellie juga ternyata enak juga diajak berbincang seperti barusan.
"Hmm, pasti! Jadi, kita temanan, ya? Ah sayangnya, di sini sinyalnya jelek, saya nggak bisa chat kamu via whatsapp atau sms," keluh Nadia polos.
__ADS_1
Nellie tersenyum kecil. "Hmm, begitulah. Ya sudah, saya pamit. Jangan lupa ya, tuang obat malarianya ke bak mandi."
"Iya, terima kasih dokter Nellie!"