
Nellie menatap nanar pada tumpukan pakaian milik Nadia, yang sempat ia pinjam selama ia menjalani perawatan intens di rumah sakit sepekan lalu. Kemudian, gadis itu mengambil jaket yang tersimpan di tumpukan paling atas, jaket itu adalah milik Chandra, dengan lambang garuda dan TNI-AD beserta bendera merah putih republik Indonesia. Ada sebuah nama yang ditulis dengan bordir di bagian dada kanan, menandakan sebuah kepemilikan. Nellie membelai nama itu, menangisinya beberapa hari hingga matanya membengkak seperti sekarang.
Pertemuannya dengan Nadia tadi siang membuat Nellie amat terpukul, rasa sakit hatinya membuncah saat melihat wajah ceria nan polos Nadia menyapanya tanpa dosa. Nellie seperti dipermainkan oleh kenyataan yang tak pernah memihaknya.
Nellie memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Chandra yang masih tersimpan dalam serat-serat benang pakaian tersebut.
Suara langkah kaki yang tenang menyita perhatian Nellie saat tangan asik berkutat dengan kesedihan, karena tidak mau diketahui orang lain, Nellie segera menyembunyikan jaket yang ada dalam pelukannya ke belakang, ketika langkah kaki itu berhenti tepat satu meter di depan Nellie. Gadis itu mendongak, dan menemukan seorang pasien rehabilitasi yang tengah ia tangani. Pasien itu adalah Vidi, wajahnya masih amat kuyu dan pucat, belum ada tanda-tanda kesembuhan yang ia tunjukkan karena minimnya perawatan obat yang dia terima di Flores.
"Itu, baju-bajunya Nadia, kenapa bisa ada di sini?" tegur Vidi saat melihat pakaian Nadia berada di ruang dokter.
Nellie terkekeh, gadis itu menegakkan tubuhnya dan menghadap Vidi yang tampak begitu antusias saat melihat pakaian mantan kekasihnya.
"Dia meminjamkan pakaiannya kepada saya. Rupanya kamu masih mengingat pakaian Nadia, ya?"
"Hm, gimana gue bisa lupa? Gue pacaran dengannya selama enam tahun. Sampai tahu luar dalemnya."
"Oh iya, Dokter bisa kasih gue obat lagi, nggak?"
Nellie tidak mau terlalu dekat dengan Vidi, ia khawatir nasibnya akan sama seperti Vidi.
"Kamu itu sudah ketergantungan obat berapa tahun sebenarnya?"
Vidi mengusap wajahnya dengan gusar. "Tiga tahun," jawabnya dengan singkat.
__ADS_1
Nellie manggut-manggut. "Jadi kalian putus karena, kamu pemakai?"
Vidi mendesah pelan. "Belum ada kata putus di antara kita. Nadia yang sudah tahu kalau gue pemakai, dan tiba-tiba polisi nangkep gue yang lagi kobam di rumah. Nggak tahu kenapa, Nadia justru milih nikahin cowok lain tanpa ngasih kejelasan sama hubungan kita."
***
Setelah makan malam, kondisi tubuh Nadia justru menjadi buruk, suhu tubuhnya terasa agak panas dan badannya diliputi nyeri di bagian pinggang dan pundak. Ia juga hanya mencicipi sedikit makanan ketika makan malam, hal ini membuat Chandra cukup khawatir dengan keadaan Nadia. Kalau Nadia sakit, maka dia harus membawa istrinya itu untuk diperiksa ke dokter, sedangkan satu-satunya dokter di tempat mereka saat ini hanyalah Nellie. Kondisi yang sangat buruk, bukan alternatif bagus untuk dilakukan.
Chandra menunggu di dapur ketika Nadia berada di dalam kamar mandi, Nadia juga mengeluhkan mual dan saat ini ia sedang memuntahkan makan malamnya di dalam sana.
Saat Nadia keluar, Chandra langsung menyambutnya dengan segelas susu hangat. "Bagaimana?"
Nadia tersenyum kecut, ia mengusap mulutnya yang basah dan duduk di kursi. "Saya pikir saya hamil. Ternyata, saya datang bulan."
Nadia menerima gelas berisi susu itu dan meminumnya sedikit.
"Sayang, saya boleh minta tolong, nggak?"
"Hm, minta tolong apa?"
Nadia menggigit bibir bawahnya. "Pembalut saya habis ...."
"Eh? Pembalut? Saya punya kain kasa dan kapas di kotak P3K. Mau saya ambilkan?"
__ADS_1
Nadia terkikik, tetapi selanjutnya ia meringis karena rasa sakit luar biasa kembali menyerang pinggang bawahnya. Chandra kembali panik saat melihat raut wajah istrinya tampak amat kesakitan.
"Bukan, bukan pembalut luka seperti itu, tapi pembalut untuk menstruasi. Kamu tahu bentuknya, nggak?"
Chandra dengan polos menggelengkan kepala, jangankan mengetahui bentuknya, mendengar namanya pun baru kali ini.
Nadia kembali mengulum senyum, Chandra menggenggam erat tangannya yang amat dingin karena menahan nyeri menstruasi.
"Wajar sih, kalau kamu nggak tahu, tapi kamu mau beliin bukan? Pembalut itu dijual di apotek atau di minimarket yang ada di pasar."
Sial, Chandra mana bisa membeli benda seperti itu? Dia itu amat sangat tidak paham dengan benda-benda keperluan perempuan begini.
"Baik, saya belikan sekarang. Tapi kalau kamu sudah menggunakan pembalut, apa kamu akan sembuh?"
"Hehe ... enggak, itu cuman untuk menahan pendarahannya saja."
"Jadi kamu berdarah? Kamu pendarahan? Kalau begitu, kita ke bidan sekarang," ujar Chandra histeris.
Nadia tertawa kecil melihat ekspresi panik suaminya, gadis itu buru-buru menolak dan bersikap tenang agar Chandra tidak terprovokasi.
"Iya, coba kamu tanya ke Johnny tentang menstruasi. Biasanya saya tidak mengalami nyeri seperti ini sih, ini pertama kalinya saya nyeri menstruasi."
Saran Nadia dengan lembut. Ya, siapa tahu Chandra ada inisiatif berguru pada Johnny yang merupakan seorang tentara lulusan pendidikan biologi, setidaknya Johnny tahu banyak tentang sistem reproduksi pria dan wanita.
__ADS_1
"Kalau begitu saya berangkat sekarang untuk membelikan kamu pembalut. Saya akan mengajak Johnny sekalian."