
Pagi dengan hawa dingin, masih terlihat sedikit kepulan asap yang berasal dari puingpuing bangunan yang terbakar. Nadia melangkahkan kedua kakinya ke tempat tersebut dan berusaha mencari barang-barang di asrama milik Nellie yang mungkin masih bisa terpakai.
Nadia juga sudah menelepon papa dan neneknya, dan keluarga Chandra yang benarbenar terkejut dengan peristiwa kebakaran yang terjadi. Mereka lebih mencemaskan Nadia dibandingkan Chandra. Akan tetapi, Nadia justru mencemaskan keadaan suaminya yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana. Semalam, Nadia tidak sempat memperhatikan suaminya dengan baik karena pencahayaan yang rendah juga suasana yang kacau. Namun, Nadia bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa naas kemarin.
Langkah Nadia berhenti tepat di depan kamar Nellie yang separuhnya sudah terbakar, sedangkan bagian atap sudah benar-benar hancur lebur. Nadia memasuki kamar tersebut dan menemukan cermin tempat berdandan masih utuh dan berada pada tempatnya. Nadia melihat sebuah pas foto milik Nellie dengan seseorang di atas meja, foto itu sangat kotor dan berdebu.
"Apa jangan-jangan, foto mantannya itu ya?" gumam Nadia dengan senyum kecil di bibirnya. Nadia hendak mengambil pas foto tersebut dan melihat siapa pria yang sampai saat ini membuat Nellie terus menangisi kepergiannya. Apa mungkin Chandra mengenalnya? Kan, Nellie bilang kalau mantannya itu berhasil ia temui saat dipindah tugaskan ke Flores.
"Nadia ... ayo pergi, mobilnya sudah siap." Beritahu Johnny dari luar.
Nadia mengurungkan niatnya dan segera saja keluar untuk pergi menuju rumah sakit. Nadia harus buru-buru pergi karena tidak akan ada lagi kendaraan yang akan mengantarkannya jika ia terlambat. Sebenarnya masih ada satu mobil lagi, mobil milik Vidi yang tidak akan mungkin Nadia pakai untuk menemui Chandra.
•••
Nadia membawa satu tas berisi pakaian ganti untuk Chandra dan juga Nellie, sementara Johnny membawakan rantang berisi bubur dan buah-buahan yang sudah Nadia siapkan sejak subuh. Mereka dengan santai memasuki rumah sakit dan tentunya langsung mencari kamar di mana Nellie dirawat.
Nellie baru saja membuka matanya ketika Nadia datang untuk menjenguk. Senyuman Nadia sangat ceria menyapa Nellie pagi itu, Nellie melambaikan tangannya dengan susah payah pada Nadia.
__ADS_1
"Nellie ... gimana?" tanya Nadia seraya duduk di sisi tempat tidur.
Nellie tersenyum kecil. "Baik, Nad ... masih agak sedikit peri sih, di bagian luka bakarnya," ujar Nellie sambil meringis kecil.
Nadia merasa nyeri dengan perban yang menutupi sebagian besar tangan dan kaki
Nellie.
"Oh, saya bawain kamu baju ganti. Tapi saya nggak tahu ini cocok sama kamu atau enggak.
Soalnya, ini pakaian saya," ucap Nadia sambil menaruh tas berisi pakaian miliknya ke dalam lemari kecil. Sebelumnya Nadia sudah memberikan pakaian ganti milik Chandra pada Johnny.
"Ck, nggak masalah kok. Saya semalam panik banget Nell, katanya kamu orang terakhir yang masih ada di dalam rumah. Kamu pasti shock berat, ya?"
Nellie malah mengulum senyum, membuat Nadia mengerutkan dahinya.
"Saya sudah biasa Nad, berada dalam kondisi seperti itu. Memang sih, semalam cukup membuat saya hampir saja tidak bisa terselamatkan," jawab Nellie dengan wajahnya yang tenang, seolah kejadian semalam bukan hal apa-apa.
__ADS_1
"Wow, kamu persis banget kayak suami saya. Nggak kenal takut!" seru Nadia dengan nada mengomel.
Nellie tertawa dibuatnya. "Ya, risiko kalau menikah dengan orang militer veteran.
Mereka tidak punya rasa takut. Tanggung jawab mereka sangat besar Nad. Kamu beruntung!"
Ah, mendengar Nellie memuji keberuntungannya, Nadia semakin merindukan suaminya yang sudah hampir sepuluh jam menghilang dari pandangan.
"Nad, ayo ke kantin." Johnny tiba-tiba muncul di ruangan tersebut, di mana Nadia dan Nellie sedang mengobrol di sana.
Johnny tersenyum ke arah Nellie, dan Nellie membalasnya dengan anggukan kecil. Sebenarnya sudah beberapa kali Nellie bertemu dengan Johnny di puskesmas dan berpapasan beberapa kali pula di kantor dinas TNI-AD. Akan tetapi, mengapa baru kali ini Nellie tahu kalau Johnny itu suaminya Nadia.
"Kok ke kantin? Ada apa di kantin?" tanya Nadia pada Johnny.
Johnny tersenyum kecil. "Ada yang nunggu tuh, di sana."
Nadia mengulum senyumnya dan pamit pada Nellie dengan raut wajah bahagia. "Nell, saya ke kantin dulu ya. Nanti saya ke sini lagi buat temani kamu."
__ADS_1
Bersambung ....