Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 78


__ADS_3

Saat papa dan nenek sedang berada di teras rumah dan bersiap untuk pergi menyusul Nadia ke sekolah, tatapan papa tidak sengaja menemukan sesosok pria yang cukup familier dalam ingatannya. Langkah papa terhenti saat berada di anak tangga menuju halaman rumah, sementara nenek mengikuti arah pandang papa dengan kedua mata memicing.


Pria yang diperhatikan oleh papa dan nenek pun berjalan semakin mendekat, hingga ia berada di halaman rumah dengan wajah tegang campur dengan senyum kaku yang dipaksakan.


"Vidi?" gumam nenek pelan. Sementara papa langsung saja mendekat ke arah Vidi yang dengan berani muncul tiba-tiba di Flores.


"Pah, Nenek ...," sapa Vidi dengan suara agak goyah.


"Ngapain kamu di sini?!" tegur papa tak terima. Kehadiran Vidi sepertinya tidak tepat.


"Saya ... liburan ke sini Pah, Nek."


Nenek menatap Vidi kasihan, tetapi kehadiran Vidi bukan hal yang bagus untuk Nadia apalagi Chandra. Nenek yang memang tidak menyangka dengan sosok Vidi yang sebenarnya tentu merasa kehilangan dengan kepergian Vidi yang tiba-tiba dari hidup Nadia. Sementara papa sudah sangat membenci Vidi karena Vidi sudah mempermalukan Nadia dan keluarga. "Liburan? Apa tidak ada tempat lain?!"


Vidi menunduk, dia kemudian mengusap wajahnya yang sudah tidak terkontrol. Vidi kembali menitikkan air mata pilu tanpa malu di hadapan nenek dan papa.


Vidi menggeleng kecil. "Vidi khawatir sama Nadia. Jadi, Vidi mau ketemu Nadia dulu. Sebelum pulang ke Jakarta."


"Ngapain kamu khawatir sama Nadia? Nadia sudah sangat bahagia dengan suaminya. Saya juga bersyukur karena ia tidak lagi tinggal di Bandung atau Jakarta. Eh, kamu malah berani-beraninya ngikutin sampai ke sini?!" ujar papa ketus. Terlihat sekali kalau papa berusaha untuk membuat mental Vidi jatuh dengan membuat lelaki itu untuk tidak berharap lebih.


Nenek menghampiri Vidi dan tersenyum dipaksakan. "Vidi, kamu ngapain di sini? Nggak baik kamu diam di sini," peringat nenek tak mau kalah dengan papa.


Vidi malah berusaha menghapus air matanya, dan tersenyum dengan pedih menatap ke arah dua orang tua yang selama ini berusaha mendukungnya dalam berkarir dan ikut mempertahankan hubungannya dengan Nadia. Penyesalan semakin besar dalam diri Vidi, sehingga yang dapat Vidi lakukan adalah memohon dan menangisi keadaan.


"Kemarin, Vidi lihat Nadia nangis, Nek. Nadia nangis, nggak tahu kenapa. Vidi nggak bisa tinggalin Nadia kalau ia sedih kayak gitu," ujar Vidi.


Kalimat Vidi tersebut berhasil membuat papa dan nenek kebingungan.


"Jangan ngarang kamu!" elak papa tak terima.


"Sudah sana, pergi!" kata papa seraya mengusir Vidi dari halaman rumah yang semula dilingkupi ketenangan.


***

__ADS_1


Nadia kembali ke rumah dengan keadaan yang sudah lebih baik. Setelah makan dan menikmati es krim bersama anak-anak, setidaknya Nadia bisa melupakan sedikit masalah rumah tangganya. Nadia akan fokus dulu pada keadaan saat ini, dan tidak akan memikirkan apa pun selain dirinya dan kehadiran papa juga nenek.


Saat malam tiba, pemadaman listrik kembali membuat Flores dilingkupi kegelapan yang dingin. Hujan gerimis juga mengguyur tanah dan bunga-bunga yang indah di pulau itu.


Nadia tidak bisa tidur, sehingga ia mencari lilin dan pergi ke ruang tengah untuk merebahkan diri di sofa. Sudah hampir dua malam Nadia tidak terlelap, yang dilakukan oleh Nadia hanya menghadap komputer dan mencoba untuk menulis lirik lagu di tengah kesedihan. Namun, semuanya gagal. Yang Nadia dapatkan hanya rasa lelah dan kondisi mood-nya makin buruk. Nadia akan terlelap sebentar saat menjelang subuh dan pindah ke kamar untuk berpura-pura tidur di samping neneknya.


Chandra baru saja sampai di Flores saat hujan mengguyur deras, pria itu dengan tidak sabar segera melangkahkan kaki memasuki halaman rumahnya yang terlihat gelap gulita. Chandra tersenyum kecil saat menemukan cahaya lilin dari dalam rumah yang berasal dari ruang tengah.


Dia melirik arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Chandra yakin kalau Nadia dan keluarganya sudah tidur. Beruntung, Chandra membawa kunci rumah cadangan sehingga dia tak perlu mengetuk pintu dan mengganggu keluarganya yang sedang beristirahat.


Chandra membuka pintu pelan-pelan, senyumnya semakin terlihat saat dia berhasil menemukan Nadia tengah berbaring di sofa. Wajah cantiknya tidak terlihat jelas karena istrinya itu tidur dalam posisi menyamping membelakanginya.


"Bisa pegal-pegal badan kamu kalau tidur di sofa," komentar Chandra dengan amat pelan. Dia mendekat ke arah Nadia setelah menaruh tas di dekat kursi. Pakaian Chandra sedikit basah begitu juga dengan tangannya yang terasa dingin. Chandra meniup-niup telapak tangannya agar sedikit menghangat sebelum menjatuhkan elusan lembut pada kening Nadia yang tertutup rambut sebagian.


Nadia agak bergerak dalam tidurnya yang tidak nyenyak, ia dapat merasakan sentuhan dingin itu menyentuh wajahnya beberapa kali.


"Sayang, saya pulang," bisik Chandra pada Nadia. Pria itu tidak sabar menunggu reaksi Nadia akan kehadirannya. Chandra hanya dapat terkekeh kecil. "Kamu pasti kelelahan karena seharian ini mengajar di sekolah, ya?"


Masih tidak ada jawaban, Chandra memutuskan untuk berganti pakaian dan beristirahat menyusul Nadia. Hari ini bagi Chandra sangat melelahkan karena dia harus mengomando dan juga melakukan perjalanan jauh yang cukup menguras tenaga. Chandra belum tidur selama dua malam karena cuaca buruk yang mengharuskannya tetap siaga dengan kemungkinan terjadinya bencana alam di wilayah pelatihan. Untuk pulang saja, Chandra menumpang dengan kapal pedagang yang kebetulan selesai melakukan transaksi di Karake.


Tiba-tiba saja, seperti harapan Chandra yang terkabul dengan sendirinya. Nadia terbangun dari tidur, ia membalik tubuhnya ke sisi Chandra dan menemukan suaminya tengah duduk sambil menatapnya. Terdapat binar yang sangat manis di kedua bola mata Chandra yang hitam, pantulan cahaya lilin kecil membuat Nadia semakin merasa merana dengan kenyataan pahit yang tersembunyi di balik hangatnya pelukan Chandra.


Chandra meraih tubuh Nadia ke dalam dekapannya seraya tertawa kecil yang terdengar lepas dan syahdu. Nadia membeku untuk beberapa saat, tidak bisa dipungkiri semarah apa pun dirinya rindu itu sudah lama membuncah dalam diri Nadia. Yang dapat Nadia lakukan adalah membalas pelukan Chandra dengan titik air mata yang membasahi pipinya.


"Saya kangen sekali dengan kamu," beritahu Chandra sambil menghirup aroma tubuh Nadia dengan mata terpejam. Nadia terisak dalam pelukan itu, tidak bisa berkomentar meskipun ia merasakan hal yang sama.


"Kamu pasti capek, ya? Kamu tidur nyenyak di sini. Saya pasti berisik karena membangunkan kamu ... iya, 'kan?" tambah Chandra dengan pelukan yang semakin erat.


"Saya tidak menemukan wangi kamu di mana pun selain di sini, dan saya sangat bahagia bisa memeluk kamu lagi sebelum tidur."


Chandra melepas pelukannya perlahan, dan memandang Nadia yang tidak menunjukkan wajahnya yang cantik. Sejak ia bangun, Nadia memang belum bicara sepatah kata pun.


"Sayang," panggil Chandra lembut, pria itu menangkup kedua pipi Nadia dan membuat Nadia menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Hiks ... hiks ...." Nadia justru terisak-isak saat Chandra berhasil membuatnya tengadah. Meskipun isakan itu sangat pelan, tetapi dapat terdengar jelas karena suasana yang amat senyap mengisi ruangan.


Chandra tidak melakukan apa pun, selain mengusapkan ibu jarinya pada wajah Nadia yang kini memerah padam karena menangis.


Nadia tidak bisa berpikir, juga tidak bisa bicara. Ia tanya bisa menangis sebisa mungkin agar perasaannya dapat sedikit terobati. Sebagai seorang perempuan, tentu air mata adalah solusi yang cukup tepat saat segala hal tidak mungkin diungkapkan di situasi seperti ini. Nadia juga tidak mau menjadi seseorang yang egois dan berusaha memecah pertengkaran di tengah malam seperti sekarang. Itu bukanlah keputusan yang bijak, apalagi Chandra belum tahu apaapa baru saja pulang dari dinas yang melelahkan.


Nadia menghentikan isakannya saat Chandra semakin membunuh jarak di antara mereka. Pria itu masih setia dengan senyum budak cinta yang tergambar semakin jelas di wajah. Nadia perlahan memberanikan diri menatap suaminya itu setelah ia meredakan paksa tangisannya.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Chandra lembut, dia membawa sebelah tangan Nadia dan mengecupnya dalam-dalam tepat pada cincin pernikahan yang sama persis dengan milik Chandra.


Nadia mengangguk kecil, masih tidak bicara.


Chandra tersenyum, merasa gemas dengan sikap Nadia yang rasanya sudah begitu lama sekali tidak Chandra saksikan sedekat ini.


"Hm, kamu tidur lagi kalau begitu."


"Chan ...," panggil Nadia dengan suara serak.


"Ya?" tanya Chandra heran. Nadia tak memanggilnya dengan sebutan sayang seperti kemarin. Apa mimpinya begitu buruk, ya.


"Apa kamu pernah bohong sama saya?"


Chandra cukup terkejut dengan pertanyaan Nadia padanya, tetapi segera ubah ekspresinya menjadi santai.


"Hm ... kenapa kamu tanya hal seperti itu?"


"Pernah atau enggak?" tanya Nadia tegas, Chandra hanya bisa tersenyum kecil menghadapinya.


"Pernah, tapi ... bohong yang saya katakan adalah bohong baik," jawab Chandra dengan berusaha terlihat setenang mungkin. Tanpa Chandra sadari, Nadia justru semakin terluka dengan jawaban itu.


"Nggak ada bohong baik. Semua bohong itu ya, bohong," balas Nadia dingin, ekspresi wajahnya bagi Chandra justru sangat menggemaskan. Meskipun Nadia terlihat marah dan sangar, Chandra masih bisa mendapati bahwa istrinya itu memiliki ekspresi yang layak dipandang berlama-lama seperti sekarang.


"Iya, tidak ada kebohongan yang baik." Chandra memandang Nadia dengan senyuman di bibir.

__ADS_1


Nadia menghindari tatapan itu, tetapi tidak berhasil karena Chandra menyudutkan tubuhnya di sofa.


"Saya sangat menginginkan kamu!" seru Chandra dengan napas yang memburu.


__ADS_2