Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 8


__ADS_3

"Imbalan? Imbalan apa?" Flora terlihat bingung.


"Karena aku telah membantumu untuk mengeringkan rambut, sekarang aku minta imbalan." Charles tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Flora.


Sial, ternyata pria itu memiliki maksud dibalik sikapnya tadi.


"Hey, aku tidak memintamu untuk mengeringkan rambutku, kau sendir—" ucapan Flora terpotong karena dengan cepat Charles menghujani leher jenjang Flora dengan ciuman, yang membuat wanita itu mengerang.


Flora menggigit bibir bawahnya dan menggerakkan kepalanya karena ia merasa geli oleh kumis dan jambang milik Charles yang menyapu kulit lehernya.


"Charles berhentilah, aku ingin berganti pakaian."


Charles menghentikan aktivitasnya, ia menatap lekat Flora. Lalu tersenyum miring ketika ia memikirkan suatu hal yang jahil.


"Charles!" teriak Flora ketika secara tiba-tiba Charles meremas dada Flora.


"Seperti dugaanku, kau tidak memakai apapun dibalik kain ini!" ujar Charles dengan seringaian diwajahnya.


Bastard!


"Minggirlah, Charles!" bentak Flora seraya menahan tangan Charles.


"Kau pilih mana, aku akan membiarkanmu pergi untuk memakai pakaianmu dan bercinta denganku. Atau kau tidak perlu mengganti pakaianmu dan biarkan aku tidur denganmu di sini. Hanya tidur." Charles tersenyum jahil.


Dia benar-benar pria berengsek! Flora tidak pernah berpikir jika dirinya akan bertemu dengan pria sepertinya.


"Apa kau gila? Tidak ada pilihan yang menguntungkan bagiku!" teriak Flora kesal karena Charles sangat licik.


"Aku tidak peduli, kau harus memilih salah satu dari dua pilihan itu. Jika kau bangkit dari tempat tidur ini berarti kau memilih pilihan pertama."


Flora tercengang mendengar perkataan Charles. Lagi-lagi ia kalah oleh pria itu.


Flora terdiam beberapa menit.


"Baiklah aku tidak berganti pakaian, tapi kau harus janji hanya tidur. Tidak macam-macam!" Peringat Flora penuh penekanan, yang disambut oleh senyuman lebar dari Charles.


"Baiklah." Charles menjatuhkan tubuhnya di samping kiri Flora dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


"Kau sangat menggemaskan, Flo. Good night." Charles terkekeh sebelum mengecup kening Flora dan memejamkan matanya.


Sedangkan fokus Flora teralihkan kepada suara detak jantung Charles yang cepat hingga terdengar oleh telinganya yang menempel di dada bidang pria itu. Detak jantungnya sama cepat seperti miliknya.


Hingga mata Flora terasa berat dan menjadi gelap, ia tertidur di dalam pelukan pria itu.


***


Flora terlihat nyenyak dalam tidurnya, sedangkan Charles sudah rapi dengan pakaian kantor.


Charles menghampiri Flora, dan duduk di tepi ranjang menatap wanitanya yang sedang terlelap. Charles tersenyum lebar, dia merasa sangat bahagia ketika ia membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah wajah Flora, hal itu membuat Charles semakin menginginkan untuk dapat memiliki wanita itu seutuhnya.


Charles membelai pipi mulus Flora, ia memberikan kecupan-kecupan kecil pada wajah gadis yang masih terlelap itu.

__ADS_1


"Flo, bangunlah." Charles masih memberi kecupan pada wajah Flora.


Namun, gadis itu masih saja terlelap dalam tidurnya.


"Flora, bangun." Charles menggigit pipi kiri Flora sedikit keras hingga membuat Flora menggerakkan tubuhnya karena risih.


Terlihat wanita itu mengerjapkan matanya.


"Hmmm," gumam Flora dengan suara serak yang membuat gadis itu terlihat seksi.


"Flo, aku harus pergi ke kantor karena ada meeting penting pagi ini. Oleh karena itu aku membangunkanmu, maaf telah mengganggu tidurmu."


Flora mengusap matanya yang masih belum terbuka sepenuhnya, ia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab perkataan Charles.


"Nanti kau ke kampus diantar oleh Thomas. Jika ada apa-apa hubungi aku,” ujar Charles mengusap lembut pipi Flora.


"Tidak, aku bisa pergi ke kampus sendiri."


"Tidak ada protes dan penolakan," kata Charles.


Flora mendengkus kesal, karena ia merasa percuma jika melawan pria itu yang keras kepala.


"Aku sudah membawakanmu sarapan yang aku simpan di atas nakas. Maaf aku tidak bisa menemanimu sarapan. Aku harus segera pergi." Charles mengecup mesra kening Flora sebelum keluar dari kamarnya.


Sedangkan Flora enggan untuk bangun, ia masih merasa mengantuk. Oleh karena itu ia memilih untuk melanjutkan tidurnya kembali.


***


"Hallo, good morning Mrs.Andrea," sapa Flora.


"Hai, good morning Flora. Silakan duduk," balas Monica Andrea.


"Okay Flora, saya akan langsung kepada intinya, alasan kamu yang harus menemui saya. Di sini saya sangat menyesal dengan apa yang terjadi, saya ikut prihatin," ucap Monica sedih.


"Ada apa Mrs?" tanya Flora penasaran.


"I'm sorry, kau tidak bisa lagi menggunakan fasilitas asrama kampus, dikarenakan beasiswamu telah dicabut," ujar Monica yang membuat Flora membulatkan kedua matanya.


"Apa?! Kenapa bisa seperti itu Mrs? Bukankah saya selalu mengikuti syarat dan ketentuan untuk mempertahankan beasiswa saya? Selain itu nilai saya normal, tidak ada masalah sama sekali," sahut Flora tidak terima.


Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa jika ia kehilangan beasiswa itu, karena Flora tidak akan mampu untuk membiayai kuliah tersebut. Ia pun tidak ingin meminta biaya kepada kedua orang tuanya.


"Begini Flora, kau tidak memiliki kesalahan apa pun. Namun pihak yayasan yang memang sedang melakukan pengurangan kuota, dan ini terpilih secara random yang sialnya pilihan itu jatuh kepada kau, Flo," jelas Monica kecewa.


"Lalu saya harus bagaimana Mrs? Saya tidak bisa membiayai kuliah saya jika saya kehilangan beasiswa itu.“


"Saya janji padamu Flora, jika terdapat slot kosong pada salah satu yayasan penyumbang beasiswa, akan saya masukan kamu ke dalamnya."


"Saya benar-benar minta maaf Flora, untuk saat ini saya tidak bisa melakukan apa-apa, karena pihak Muse Scholarship Fund sudah memutuskan hal tersebut," lanjut Monica.


"Muse?" tanya Flora.

__ADS_1


"Ya, MSF adalah yayasan pemberi beasiswa yang bertanggung jawab atas kamu satu tahun ini. Pengganti yayasan sebelumnya," kata Monica.


Flora termenung, dia bingung harus bagaimana. Di mana dia akan tinggal? Bagaimana ia membiayai kuliahnya? Kenapa hal ini bisa terjadi secara mendadak.


"Mrs, saya mohon jika masih ada kesempatan tolong saya untuk mempertahan kan beasiswa itu," kata Flora memohon sambil menggenggam erat tangan Monica.


"Tentu Flora, kau tidak perlu khawatir. Saya pasti akan membantumu jika saya bisa, namun untuk saat ini maafkan saya yang belum bisa melakukan apa-apa untukmu.“ Monica mengelus punggung tangan Flora.


"Iya Mrs. Tidak apa-apa." Flora menundukkan kepalanya.


"Terpaksa kamu harus meninggalkan asrama, pihak kampus memberimu waktu 2 hari untuk pindahan." Flora hanya mengangguk, ia pun pamit kepada Monica sebelum keluar dari ruangan itu.


***


Flora duduk di bangku taman kampus. Tidak sadar air matanya turun. Rasanya sakit jika ia harus berjuang sendirian seperti ini, jauh dari keluarga, rasanya ia ingin pulang ke indonesia. Namun, ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya, dan kalaupun ia pulang pasti ia tidak diizinkan lagi kuliah oleh papanya di luar negeri. Ia harus bisa menyelesaikan studinya, Flora yakin ia pasti bisa.


Yang ia pikirkan saat ini adalah di mana ia akan tinggal. Ia tidak ingin tinggal di tempat Charles, pria itu pasti akan bertindak seenaknya terhadap dirinya. Flora tidak ingin menghancurkan hubungan temannya.


Flora sudah memutuskan ia akan pergi dari tempat Charles dan akan mencari tempat tinggal untuknya, gadis itu bangkit dari duduknya dan pergi ke parkiran kampus dimana Thomas supir yang diperintahkan Charles masih menunggunya di sana.


***


Flora sedang mengemas barang dan pakaiannya, ia harus keluar dari tempat ini sebelum Charles pulang dari kantornya. Ia tidak mau berurusan dengan pria itu.


Flora keluar dari kamarnya dengan membawa koper dan tas miliknya, sesampainya diambang pintu keluar, dia dicegah oleh 2 pengawal Charles.


"Nona, Anda mau kemana?" tanya pengawal yang terlihat masih muda.


"Saya mau pergi dari sini."


"Tidak bisa nona, Mr. Alamo tidak akan mengizinkan Anda keluar dari tempat ini," larang Pria yang sudah berumur kisaran kepala tiga.


"Dia tidak memiliki hak untuk melarang saya, termasuk kalian. Biarkan saya pergi dari sini." Flora melangkahkan kakinya melewati kedua pengawal itu. Namun, lagi-lagi ia dicegah.


"Maaf Nona, Anda benar-benar tidak bisa keluar dari sini tanpa persetujuan dari tuan Charles."


"Sial! Kenapa kalian sangat menyebalkan, hah?!" teriak Flora menghempaskan tas beserta kopernya ke lantai. Dia membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan barang-barang miliknya yang berserakan di lantai.


Ia tidak menyangka jika Charles akan menjaganya seketat ini, memangnya dia siapa hingga berani bertindak seenaknya seperti ini. Flora benar-benar kesal kepada pria itu.


Flora frustrasi, kenapa semuanya menjadi seperti ini. Rasanya semakin sulit baginya, kenapa ia harus berurusan dengan pria brengsek itu yang seenaknya mengatur hidupnya.


Flora tidak bisa kabur dari penthouse ini. Tidak lucu bukan jika ia harus melompat dari jendela lantai paling atas ini?!


Brrakkkk!


Flora yang sedang duduk di sofa panjang dekat jendela yang sedang melihat pemandangan malam di luar sana tiba-tiba terkesiap mendengar suara keras bantingan pintu kamar.


"Charles," gumam Flora dengan mengerutkan keningnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2