
"Charles, lepaskan!" Flora memberontak ketika Charles semakin erat memeluk pinggangnya.
"Ssssst, jangan banyak bergerak. Nanti kau bisa membangunkan yang ada di bawah sana," bisik Charles tepat di telinga Flora sehingga ia bisa merasakan embusan napas hangat pria itu.
"Kau gila, Charles! Lepaskan aku!" teriak Flora yang saat ini tidak terlalu banyak bergerak karena benar apa yang dikatakan Charles, Flora merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
"Tidak, diamlah! kita nikmati waktu kita sebelum sarapan kita datang." Charles membenamkan wajahnya di ceruk leher Flora.
Pria ini benar-benar gila. Dengan sangat beraninya dia melakukan hal tersebut kepada Flora. Kini Flora merasa semakin takut. Untuk pertama kalinya ia menemukan pria yang seperti ini.
"Charles, apa kau lupa jika aku adalah teman kekasihmu? Oh tidak, maksudku tunanganmu," ujar Flora.
"Ya, aku tahu semua tentangmu." Charles masih setia membenamkan wajahnya di ceruk leher Flora, menghirup secara dalam aroma tubuh wanita itu.
"Lalu kenapa kau bersikap seperti ini?“ Tubuh Flora menegang, menahan gelenyar aneh saat embusan napas Charles menyentuh kulit lehernya.
Charles menjauhkan wajahnya dari leher Flora, dan menatap secara intens gadis yang ada di pangkuannya.
"I want you!" lirih Charles, tetapi tegas.
Flora hanya bisa membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar, mulut Flora terbuka saking terkejutnya.
Ketika Charles mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Flora, wanita itu tiba-tiba menahannya.
"Stop, Charles! Apa kau mabuk? Apa yang kau katakan?" tanya Flora meyakinkan.
"I want you, Flora." Charles menatap lekat wanita di pangkuannya.
"Kau tunangan Renatta, Charles. Apa kau gil—"
"Aku akan memutuskan pertunanganku jika kau minta!" sahut Charles memotong perkataan Flora.
Flora membulatkan matanya, lagi-lagi ia dibuat terkejut oleh ucapan pria itu.
Sebelum Flora membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba perhatiannya teralihkan kepada suara ketukan pintu asramanya. Di saat Flora akan bangkit dari pangkuan Charles, pria itu segera menahannya.
"Charles, aku harus membuka pintu."
__ADS_1
"Mungkin itu Ken assistantku. Biar aku saja yang membuka pintu," pinta Charles.
"No, biar aku saja." Flora secara kasar melepaskan pelukan Charles. Ia bangkit dari pangkuan pria itu, tetapi lagi-lagi tangan Flora ditahan oleh Charles.
"Apa lagi?" tanya Flora kesal.
"Pakailah celanamu! Aku tidak mau assistantku melihat kaki indahmu." Flora mengerutkan keningnya, karena merasa aneh.
"Pakai atau aku yang buka pintu?" sambung Charles.
Entah bagaimana Flora segera mengikuti permintaan Charles, ia melangkahkan kakinya ke lemari kecil dan membawa celana bahan panjang miliknya. Setelah selesai memakainya Flora berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut.
Senyuman yang ia perlihatkan untuk menyambut assistant Charles itu tiba-tiba secara perlahan menghilang ketika ia tahu jika seseorang itu bukanlah assistant Charles.
"Mor-gan," ucap Flora lirih.
"Flora, Apa kabar?"
"Flora, apakah itu Ken?"teriak Charles yang berada di dalam asrama.
Dengan spontan Flora menyambar kunci yang tergantung di pintunya, lalu menutup pintu itu serta mengunci Charles dari luar. Flora takut jika Morgan melihat Charles, karena dipastikan Morgan mengetahui jika Charles itu adalah tunangannya Renatta.
"No, dia temanku. Sejak kapan kau kembali ke New York?" tanya Flora.
"Kemarin. Tiba-tiba aku ingin bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu Flora," ucap Morgan sebelum memeluk erat tubuh Flora.
"****, Flora! Kenapa kau mengunciku?!"teriak Charles di dalam sana dengan menggedor pintu dengan keras.
"Morgan, bisakah kau pergi dari sini?“ Flora melepaskan pelukan Morgan dari tubuhnya.
"Kau mengusirku?“
"Anggap saja iya," jawab Flora dingin.
"Apa kau masih belum bisa memaafkan aku, Flo?" tanya Morgan sedih.
"Aku sudah memaafkanmu, Morgan. Itu sudah berlalu," jelas Flora.
__ADS_1
"Permisi, apa Anda Nona Flora?" tanya sosok pria berumur kisaran akhir tiga puluhan.
"Iya, saya sendiri. Anda siapa ya?" tanya Flora.
"Saya Ken, ini pesanan tuan Charles Nona." Ken mengulurkan sebuah paper bag kecil kepada Flora.
"Oh iya, terimakasih Mr.Ken," balas Flora menerima bingkisan itu.
Pria itu menunduk hormat sebelum meninggalkan Flora dan Morgan.
"Charles siapa?" tanya Morgan.
"Kau tidak perlu tahu, lebih baik sekarang kau pergi dari sini Morgan. Aku masih banyak urusan."
Morgan terlihat sangat sedih dan bersalah kepada Flora, tetapi hal itu sangat wajar dilakukan oleh Flora kepadanya. Oleh karena itu terpaksa Morgan pergi meninggalkan wanita itu, tetapi ia akan tetap berusaha untuk mendapatkan Flora kembali.
Setelah Morgan pergi, tidak terasa air mata begitu lancangnya merembes di kedua pipi Flora, wanita itu menyandarkan tubuhnya di pintu luar kamar asramanya. Benar-benar sakit rasanya, ternyata rasa sakit itu masih ada di lubuk hati yang paling dalam dari diri Flora.
"Flora, buka pintunya!" teriak Charles sambil menggedor-gedor pintu asrama.
Flora pun kembali kepada kesadarannya, ia menghapus air mata yang berlinang di pipinya dan membuka kunci pintu kamar. Charles pun membuka pintu dan bergegas masuk.
"Apa yang pria itu katakan kepadamu?" Charles menangkup wajah Flora yang ia ketahui bahwa wanita itu sudah menangis.
"Pulanglah Charles, aku ingin sendiri." Flora tidak berani menatap mata Charles, Flora menebak bahwa saat ini Charles sedang menahan amarahnya, terdengar dari suaranya yang berat. Walaupun Flora tidak tahu apa yang telah membuat Charles begitu marah saat ini.
"Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu di sini," ucap Charles tegas.
Flora sudah tidak peduli dengan perkataan Charles, karena saat ini dirinya merasa lemas dan tatapan Flora terlihat kosong. Apa aku akan kembali menjadi sosok yang menyedihkan seperti waktu itu?
Air mata pun lolos kembali dari matanya, Charles yang melihatnya pun segera memeluk erat wanita itu.
Berengsek, Morgan!
Charles mengetahui bahwa pria yang sedang mengobrol di luar dengan Flora itu adalah Morgan, dia mengetahui itu dari Ken yang mengiriminya pesan sesaat setelah memberikan sarapan kepada Flora.
Charles tahu jika Morgan adalah mantan kekasih Flora yang telah membuat wanita itu hancur sehancur-hancurnya. Ia mengetahui itu di saat Charles menyuruh Ken untuk mencari tahu semua informasi tentang Flora termasuk tentang masalah asmaranya. Dan Charles pun mengetahui hal yang sangat mengejutkan saat mendapatkan informasi tentang masalalu wanita itu.
__ADS_1
Bersambung ....
Flora itu seperti ibunya Nadia yang lemah lembut, tetapi kebaikannya seperti bapaknya Chandra yang tak terhingga.