Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 11


__ADS_3

Charles terpaksa harus mengikuti perintah Frans untuk ikut makan malam dengan keluarga Renatta.


Charles tidak tahu jika sang Ayah sudah merencanakan ini semua, dia merasa kesal kepada Frans. Karena pria itu selalu mengatur kehidupan Charles, sedangkan Charles bukanlah tipe orang yang suka diatur. Namun, dia lebih suka mengatur orang lain. Aneh, kan?


Tidak ada yang berbicara satu orang pun di meja makan tersebut. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu, mereka semua sangat menikmati hidangan yang sudah disiapkan dengan begitu mewah.


Beberapa menit kemudian mereka semua sudah menyelesaikan dinner-nya. Dan mulailah pembicaraan-pembicaraan yang serius di aantara kedua keluarga itu.


"Charles, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Arland Douglash, ayah Renatta.


"Baik." Charles tersenyum menatap pria paruh baya itu.


"Aku dengar besok kau akan ke Dubai, sepertinya anakku akan sangat merindukanmu, Charles," kekeh Arland menggoda Renatta yang duduk di seberangnya, bersebelahan dengan Charles.


"Oleh karena itu, sebelum Charles berangkat ke Dubai lebih baiknya kalian berdua menghabiskan malam ini untuk bersama," sahut Frans dengan senyumannya.


Sedangkan Renatta terlihat salah tingkah dengan wajah yang memerah seperti tomat karena terus menerus digoda oleh Arland dan Frans.


Berbeda dengan Charles yang menanggapi ucapan mereka dengan dingin.


"Benar kata Ayahmu Charles, bukankah kita harus menghabiskan malam ini bersama sebelum kau pergi?" bisik Renatta dengan suara menggoda. Lagi-lagi Charles hanya menjawab dengan sebuah dehaman.


Renatta terkekeh melihat ekspresi Charles. Jika ia bisa melupakan kuliahnya, rasanya ia ingin sekali untuk ikut bersama Charles ke Dubai. Ia tidak ingin berjauhan dengan tunangannya itu.


"Maaf, saya tidak bisa terlalu lama di sini. karena masih banyak yang harus saya persiapkan untuk keberangkatan saya besok," ucapan Charles membuat semua orang fokus kepadanya.


"Kita belum banyak bicara Charles," kata Arland.


"Charles, biarkan semua itu di urus oleh Ken, kau tidak perlu memikirkan itu semua." Frans menatap anaknya.

__ADS_1


"Iya Charles, tetaplah di sini. Mommy masih merindukanmu. Sering-seringlah pulang ke sini Charles, atau kau sudah melupakan aku?" tanya Marline yang terlihat sedih.


Baiklah, Charles tidak bisa menolak permintaan sang Ibu tercinta, dia tidak ingin Ibunya bersedih.


Charles menghela napasnya. "Baiklah Mom, aku tetap di sini." Charles tersenyum manis kepada Marline.


***


Charles sedang serius dengan pertemuannya bersama para kolega bisnisnya. Mereka sedang membahas tentang pembangunan anak perusahaan yang direncanakan akan dibangun di Dubai dan dibeberapa negara lainnya.


"Saya akan menanamkan saham saya di semua negara tersebut, maka sedikit apa pun informasi yang berkaitan dengan pembangunan ini maka beritahukan kepada saya. Saya tidak ingin terdapat kesalahan sekecil apa pun dalam proyek ini," ucap Charles serius.


"Tentu Mr.Alamo, kami pastikan tidak ada kesalahan dalam pembangunan proyek ini," kata salah satu kolega Charles.


"Baiklah kalian bisa survey terlebih dahulu ke lokasi-lokasi tersebut, dan laporkan kepada saya tentang kondisi di sana," perintah Charles yang diangguki oleh beberapa koleganya.


"Mr.Alamo, selain masalah pembangunan ini Anda harus memperhatikan juga anak perusahan RoD Magazine yang beberapa bulan ini mengalami penurunan," sela Tobais Scott Direktur RoD Magazine.


"Maafkan saya Sir, awalnya saya hanya mengikuti perintah Mr. Frans yang mengatakan jika ia akan turun langsung untuk menyelesaikan masalah RoD Magazine ini. Namun hingga saat ini, saya masih belum melihat pergerakan yang dibuat oleh Mr. Frans. Sudah beberapa kali kami melakukan suatu cara agar ROD bisa seperti dulu kala, namun hal itu selalu gagal. Kita selalu kalah oleh D'Magazine."


"D'Magazine? Apa itu milik Arland Douglash?" tanya Charles penasaran.


"Tepat sekali, Sir. Beberapa bulan ini D'Magazine memang selalu berada di puncak."


Charles memijat pelipisnya, kenapa ia bisa tidak tahu dengan masalah perusahaannya sendiri.


"Mulai detik ini, jika terdapat sesuatu dalam perusahaan maka beritahu saya. Jangan hanya memberitahu Ayah saya. Di sini, saya sangat memiliki hak untuk mengetahui keadaan perusahaan, ini juga demi kalian sendiri. Kalian mengerti?" sentak Charles.


Semua orang di ruangan tersebut menatap takut kepada Charles. Mereka sangat tahu jika Charles adalah orang yang perfeksionis, dan ia juga sangat mengedepankan kemerdekaan para kolega bisnis beserta bawahannya.

__ADS_1


"Mr.Tobais, nanti ketika saya pulang ke New York saya akan mengadakan pertemuan penting dengan semua penanggung jawab RoD, Anda bisa mengaturnya bukan?" sambung Charles.


"Tentu Sir. Dengan senang hati, saya akan mengatur semuanya."


***


"Pengaruh Charles terhadap Renatta memang sangat besar. Baru sehari ditinggal oleh Charles, dia sudah bertingkah seperti beberapa tahun tidak pernah bertemu dengannya!" oceh Anin.


Flora yang sedang bersiap untuk berangkat kerja pun terkekeh. Ia tahu jika Charles sedang berada di Dubai, oleh karena itu ia merasa tenang karena tidak bisa bertemu dengannya.


"Itu karena dia sangat mencintainya, Nin. Hal itu tentu saja bisa membuat orang yang normal tiba-tiba menjadi sedikit gila." Flora sedang mempoles sedikit wajah cantiknya dengan makeup.


"By the way berbicara tentang cinta, apa kabar denganmu, Flo? kau masih setia dengan kesendirianmu?" goda Anin.


"Sebelum bertanya hal itu kepadaku, tanya terlebih dahulu pada dirimu sendiri. Memangnya kau sudah memiliki kekasih, hah?" Flora mengalihkan fokusnya pada Anin yang sedang tersenyum jahil kepadanya.


"Setidaknya aku memiliki banyak pria yang sedang dekat denganku. Sudahlah Flo, buka hatimu. Coba kau lihat, di luar sana banyak pria yang mendambakanmu."


"Aku sudah selesai. Aku pergi dulu ya. Bye!" Alih Flora lalu berpamitan kepada Anin sebelum keluar dari kamar.


"What the fuc-, kau mengabaikan aku lagi?!" teriak Anin kesal.


***


"Tidak ada? Apa kau yakin?" Charles mengernyit, ia sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.


"Iya Sir, kami sudah mencarinya bahkan saya bertanya kepada orang-orang sekitar rumahnya. Dan jawaban mereka sama, bahwa Flora tidak ada di Indonesia."


Charles merasa frustrasi karena sudah 3 hari ia di Dubai, tetapi ia masih belum menerima kabar baik tentang Flora. Pria itu benar-benar tersiksa karena sudah satu minggu ini ia tidak bertemu dengannya.

__ADS_1


"Tetap cari dia!" Charles mengakhiri panggilannya dan melempar ponsel itu ke tempat tidurnya.


"Kau di mana? Kau benar-benar telah mendominasi diriku Flora," gumam Charles yang sedang berdiri di jendela menatap pemandangan malam hari di luar sana.


__ADS_2