Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 17


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Langit New York terlihat indah di sore yang cerah ini. Flora yang baru saja selesai bekerja ia berniat untuk pergi ke apartment Anin untuk ikut membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum bersiap untuk pergi berkuliah yang tentunya akan diantar oleh Thomas yang benar-benar menunggunya. Flora tidak ingin jika harus pulang ke penthouse lelaki licik itu.


Setelah berpamitan kepada teman kerjanya, Flora melangkahkan kaki keluar dari restaurant. Namun, lengannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang yang sontak membuat Flora menoleh ke arah orang tersebut.


la membulatkan matanya dengan sempurna. Ada apa lagi ini, kenapa pria ini harus muncul lagi di hadapannya.


"Ikut denganku!" pinta pria itu.


"Kenapa kau masih di sini? Lepas. Aku ingin pergi!" kata Flora dengan tenang, mencoba untuk melepaskan cengkeraman di lengannya. Namun, pria itu semakin kuat mencengkeram lengan Flora yang membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Aku bilang, ikut denganku." Pria itu menarik tangan Flora. Dan hal itu diketahui oleh Thomas yang sedang menatap Flora dari arah parkiran mobil. Thomas berlari mengejar Flora, tetapi pria itu sudah membawa Flora pergi dengan mobilnya.


Thomas segera berlari kembali ke arah mobilnya untuk mengejar Flora.


"Morgan, apa yang kau lakukan?!" teriak Flora kesal sudah berada di dalam mobil sport milik Morgan. Mantan kekasihnya.


"Diamlah Sayang, aku akan membawamu ke tempatku." Morgan menatap Flora dengan lembut.


"Aku harus bersiap-siap untuk kuliah, kenapa kau sangat memaksaku?" oceh Flora.


Morgan tidak menjawab ucapan Flora, ia hanya tersenyum mendengarkan ocehan wanita yang masih dia cintai itu.


Flora berdecak kesal karena Morgan terus diam tidak berbicara atau menyahutnya.


Morgan membawa Flora ke apartment-nya walaupun ia harus memaksa dengan keras agar Flora dapat masuk ke dalam apartment-nya.


"Aku ingin pergi Morgan!"


Sedangkan Morgan hanya menatap intens wanita di hadapannya. Pria itu melangkahkan kakinya secara perlahan untuk mendekati Flora. Namun, Flora berusaha menghindari Morgan.


Sehingga Morgan menarik dengan kencang tangan Flora dan merapatkan tubuh wanita itu ke tembok.


"Sialan! Apa yang kau lakukan? Lepass!" Flora memberontak dengan memukul dada bidang milik Morgan.


"Aku merindukanmu Sayang, sangat, kau tidak boleh pergi lagi dariku. Akan kubuat kau menjadi milikku seutuhnya!" bisik Morgan yang membuat bulu kuduk Flora meremang.


Morgan semakin merapatkan tubuhnya dengan Flora, ia mencium aroma tubuh Flora yang sangat segar dan menenangkan. Pria itu membenamkan wajahnya ke ceruk leher Flora dan memberikan beberapa kecupan di sana.


"Kembalilah padaku Sayang, aku berjanji akan menikah denganmu. Bukankah itu adalah impian kita berdua?" lirih Morgan di sela-sela ciumannya pada leher jenjang milik Flora.


Flora menggeliat, ia merasa geli karena Morgan terus menerus mencium lehernya. la mencoba untuk mendorong tubuh Morgan, tetapi ia tidak bisa karena tenaganya kalah kuat.


"Hentikan Morgan, aku mohon!" pinta Flora. Namun, Morgan mengabaikan itu semua, pria itu semakin bergairah. Dia memberikan banyak tanda pada leher Flora.

__ADS_1


"Morgan STOP-empphh ...."


Morgan mencium bibir Flora dengan kasar, ia sangat merindukan wanitanya. Dia tidak ingin kehilangan Flora, dia akan melakukan apa pun untuk bisa membuat Flora kembali padanya. Sudah cukup selama ini dia memberi waktu kepada Flora untuk menjaga jarak darinya. Untuk sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan Flora pergi darinya lagi.


Morgan terus menerus mencium bibir Flora, ia menghisap bibir tipis Flora dengan sangat kuat. Bahkan ia tidak segan-segan menggigit bibir ranum itu dengan sekuat tenaga yang membuat Flora meringis kesakitan dan spontan membuka mulutnya memberi jalan kepada Morgan untuk mengeksplor mulutnya. Flora yakin jika bibirnya saat ini terluka, karena ia bisa merasakan rasa asin di sela-sela cumbuan Morgan kepadanya.


Tangis Flora pecah. Kenapa hidupnya harus seperti ini, dipertemukan dengan pria-pria yang memperlakukannya seperti ******. Flora tidak henti-hentinya memberontak, tetapi dia tetap gagal untuk lepas dari Morgan.


Braaakkkk ...!


Morgan melepaskan pagutannya ketika ia mendengar suara pintu apartment-nya didobrak oleh seseorang.


Thomas.


Flora menjatuhkan tubuhnya pada lantai, ia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar merasa hina.


"Siapa kau?" teriak Morgan pada Thomas.


"Berengsek kau Morgan," lirih Flora dengan air mata yang terus merembes di kedua pipinya.


Thomas melangkahkan kakinya mendekat kepada Flora. Namun, Morgan mencegahnya dan tanpa aba-aba Morgan menghajar Thomas. Hal itu membuat Flora semakin ketakutan melihat perkelahian yang ada di hadapannya.


Thomas tidak kalah diam, ia menghajar Morgan habis-habisan karena telah berani menyentuh milik tuannya.


Flora saat ini sudah berada di luar apartment, dia sedang menunggu Taxi. Namun, tidak ada satu pun taxi yang lewat, sedangkan langit sudah mulai gelap.


Tiba-tiba terdapat satu mobil yang berhenti di hadapan Flora. Wanita itu sangat terkejut melihat seseorang yang keluar dari mobil mewah itu.


"Sedang apa kau di sini? Ke mana Thomas?"


Flora melangkah mundur untuk menghindari Charles, ia benar-benar takut kepada pria itu.


Sedangkan Charles melihat keanehan pada diri Flora, ia melihat Flora yang sangat berantakan dengan wajah yang dipenuhi air mata ditambah rambutnya berantakan.


"Flora, aku tanya ke mana Thomas?" Charles terus melangkahkan kakinya untuk mendekati Flora yang terus menjauhinya. Hingga Charles tersadar ia melihat darah segar di bibir bawah milik wanita itu, Charles segera menarik tangan Flora agar wanita itu mendekat kepadanya.


"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Flora memberontak.


Charles mengetatkan rahangnya, terlihat jelas bibir Flora bengkak dan ia bisa melihat bekas gigitan pada bibir wanitanya.


"Siapa yang telah melakukan ini?" tanya Charles menahan amarah.


Charles tidak sabar dengan sikap Flora yang terus terdiam tidak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Siapa, Flora?!" bentak Charles. Namun, lagi-lagi Flora tidak menjawab.


Saat Charles akan membuka mulutnya kembali, matanya mendapati bercak merah pada leher Flora. Charles menyingkirkan rambut wanita itu, dan saat ini ia bisa melihat sangat jelas terdapat banyak tanda merah di leher wanitanya.


Berengsek! Siapa yang telah berani menyentuh gadisnya?! Charles terlihat sangat murka, karena ia tahu jika itu bukanlah tanda yang dibuat olehnya. Karena tanda itu terlihat masih sangat baru.


Charles menarik Flora untuk masuk ke dalam mobil. Awalnya Flora tidak mau, tapi Charles membentaknya sehingga membuat Flora patuh.


Di dalam mobil Charles mengambil ponsel di sakunya dan mengetik sesuatu.


"Berengsek! Di mana kau?" bentak Charles.


"Kembali ke penthouse sekarang juga!" perintah Charles berteriak sebelum menutup panggilannya.


***


Charles menggandeng tangan Flora memasuki penthousenya, mereka melihat di dalam sana sudah terdapat Thomas dengan wajah sedikit memar dan terluka di daerah pelipisnya.


Tanpa aba-aba Charles menendang perut Thomas sehingga membuat pria itu tersungkur ke lantai. Semua orang di sana pun terlihat kaget melihat tuannya yang seperti itu. Termasuk Flora yang membulatkan kedua matanya.


Charles menghampiri Thomas yang masih tersungkur di lantai, ia menarik kerah jas pria itu agar berdiri.


"Siapa yang telah berani menyentuh gadisku, hah? Siapa?!" sentak Charles dibarengi oleh pukulan keras kepada Thomas yang membuat pria itu tersungkur kembali ke lantai.


Ketika Charles akan menghajar Thomas kembali, Flora segera mencegahnya.


"Stop, Charles!" teriak Flora menahan Charles.


"Dia yang telah membantuku, kumohon hentikan," kata Flora sambil terisak.


"Rose, bawa Flora ke kamarnya!" perintah Charles yang langsung diangguki oleh Rose.


Flora dibawa oleh Rose untuk ke kamarnya, walaupun berkali-kali Flora menoleh ke arah Charles yang sedang marah.


"Jelaskan. Siapa pria itu?" tanya Charles menatap Thomas.


Thomas bangkit dari lantai, dia berdiri berhadapan dengan Charles.


"Morgan, Tuan. Saya sempat mendengar nona Flora menyebut nama pria itu," jawab Thomas.


Charles mengepalkan kedua tangannya, wajahnya terlihat merah padam. Terlebih di saat Thomas menjelaskan dari awal kejadian, sampai ketika ia melihat Flora yang sedang dicumbu habis-habisan oleh Morgan.


"Sialan kau Morgan, tidak akan aku membiarkan kau hidup dengan tenang!" gumam Charles dengan amarah yang sudah berkobar.

__ADS_1


__ADS_2