Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 75


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Vidi sangat terkejut ketika secara tidak sengaja melihat sosok papa Nadia yang sedang duduk di teras rumah dinas. Niat Vidi yang semula akan berpamitan pada Nadia untuk pulang dulu ke Jakarta pun urung.


"Papanya Nadia kenapa ada di sini, jangan-jangan ... nenek juga ada di sini?" gumam Vidi pada dirinya sendiri. Vidi menghela napasnya, setelah bersyukur karena dia belum turun dari mobil dan menghampiri Nadia, kalau saja Vidi sial pasti dia akan bertemu dengan papa dan neneknya Nadia yang akan mengintimidasinya.


"Aduh Nad, padahal aku kangen... aku mau lihat kamu dulu," tambah Vidi dengan wajah kusutnya.


Atas saran dokter, Vidi pada akhirnya memiliki niat untuk pulang agar melakukan rehabilitasi lebih lanjut di rumah sakit yang lebih besar, gunanya adalah untuk menghilangkan sakau yang belakangan ini semakin parah dan tidak terkendali sampai Vidi selalu pingsan karena demam tiba-tiba yang menyerang tubuhnya. Vidi memang tidak peduli dengan dirinya sendiri, jika saja Nadia masih berstatus sebagai pacarnya, mungkin Vidi akan memiliki semangat untuk sembuh lebih besar. Namun, kini niat Vidi jauh lebih kuat untuk mendapatkan kembali Nadia di sisinya. Ya, walaupun kemungkinannya amat kecil, dan pasti sangat sulit sekali untuk Vidi mewujudkan keinginannya.


Satu malam tanpa Chandra di Flores, Nadia merasa hampa sekali. Pagi ketika membuka mata, Nadia tidak mendapati wajah tampan suaminya tersenyum hangat menyambut paginya.


"Padahal baru semalam," keluh Nadia dengan lembut sembari mengusap tempat tidur yang biasa Chandra tempati, ia kemudian membuka handphone-nya yang tentu tidak memiliki pemberitahuan apa pun karena buruknya jaringan komunikasi yang ada di sini.


Yang Nadia lakukan adalah bermalas-malasan di dalam kamar, sembari membuka galeri pada handphone-nya untuk melihat foto-foto yang tersimpan di sana. Chandra bahkan tidak pernah berfoto menggunakan kamera handphone, pria itu selalu memiliki foto cetak.


"Ah, foto ini!" seru Nadia dengan wajah ceria, Nadia tersenyum amat lebar melihat satu foto dalam galerinya.


Foto itu diambil oleh Chandra di malam penghargaan acara musik yang dihadiri oleh Nadia, hanya foto tangan yang tampak begitu manis, dan terlihat jelas perbedaan yang sangat besar dari kedua tangan tersebut. Tangan kiri Chandra yang besar, dan tangan kanan Nadia yang mungil dengan jemari lentik tampak menggenggam erat kelingking Chandra.


Setelah bernostalgia kecil dengan foto dalam galeri, Nadia memutuskan untuk kembali menemui Nellie pagi itu dan juga mengajak nenek yang rencananya akan Nadia kenalkan pada teman barunya di Flores, sekalian Nadia juga akan membawakan oleh-oleh Bandung untuk orang-orang puskesmas. Saat selesai bersiap, Nadia melirik ke arah meja di mana jaket army milik Chandra yang baru Nellie kembalikan tersimpan di sana.


Nadia mengambil jaket itu dan menghirup aromanya, masih tersimpan wangi Chandra dalam pakaian itu. Nadia tersenyum gemas, dan iseng gadis itu mengenakan jaket kebesaran tersebut pada tubuhnya yang sudah terbalut pakaian kasual.


Namun, Nadia mengerutkan keningnya ketika ia merogoh ke dalam saku jaket sebelah kiri. Ia menemukan selembar kertas yang dilipat rapi di dalam sakunya. Nadia membawa kertas itu ke dalam genggaman, dan memeriksa isinya.


[Mentari senja tersipu malu, bersembunyi menatapku di balik indahnya cakrawala. Kau saksikan angin menyapaku, membelai lembut butiran pasir pesisir.


Hangatmu berubah dingin sesaat kau menghilang dari pandangan, tetapi kuyakin esok pagi di ujung Timur kau akan datang dengan senyuman yang terindah ....]


Selembar surat puitis dengan tulisan tangan rapi dan lembut khas seorang wanita, membuat Nadia tertegun dengan perasaan campur aduk menguasai dirinya. Nadia merasakan tangannya gemetar sesaat setelah membaca surat singaraja itu. Nadia tidak memahami arti dalam surat tersebut, ia hanya dapat menangkap bahwa surat itu berisi harapan-harapan akan kerinduan. Namun, Nadia merasa dunia menelannya ke dalam kegelapan dan kehancuran saat dua nama tertulis berdampingan dengan batasan koma di bagian paling bawah pesan puitis tersebut.


[Temui saya Chandra, Nellie]

__ADS_1


Nadia seketika meremas kertas yang semula terlipat rapi itu ke dalam genggamannya, membuatnya berantakan dan bahkan koyak seperti perasaannya saat ini. Tanpa berpikir panjang, dengan tubuh yang tidak sesuai dengan keinginan hati Nadia pun segera bergegas untuk menemui Nellie yang menuliskan surat yang kini ada dalam genggamannya.


Entahlah, Nadia tidak tahu bagaimana isi hatinya sekarang. Selain sakit teramat sangat, Nadia juga tidak bisa berpikir jernih dengan kobaran api cemburu dalam dadanya. Tidak! Bukan cemburu, Nadia bahkan tidak paham dengan situasi saat ini.


Selama ini ... sial! Kenapa Nadia begitu bodoh dan tidak menyadari semuanya dari awal!


***


Nadia tidak pamit pada nenek dan papa yang pada saat itu berada di ruang tengah, tetapi Nadia tidak memperlihatkan ekspresi apa pun agar tidak membuat orang tuanya panik. Meskipun, Nadia tidak yakin dengan apa yang akan terjadi kelak.


Nellie yang baru saja sesuai memeriksa beberapa pasien rawat inap yang ada di puskesmas sangat terkejut dengan kehadiran Nadia yang menatapnya dingin. Terlihat Nadia mengenakan jaket army milik Chandra membalut tubuhnya.


Nellie tersenyum tipis dan menghilangkan rasa tegangnya berhadapan dengan Nadia. Nellie sudah dapat menebak satu hal, pasti surat itu sudah sampai di tangan Nadia.


"Kita bicara di belakang saja." Ajak Nellie sembari mendahului Nadia untuk pergi ke bagian belakang puskesmas.


Nadia dengan tangguh mengikuti langkah Nellie di belakangnya. Tangan Nadia terkepal membentuk tinju, hal itu setidaknya berguna untuk menahan emosi Nadia yang bisa saja meledak entah karena menangis atau menumpahkan amarah pada Nellie.


Nadia melemparkan kertas yang sudah kusut dari tangannya tepat ke bawah kaki Nellie yang mengenakan sepatu pantofel hitam. Nellie menatap ke bawah kakinya, dan memungut benda itu, lalu tersenyum dipaksakan.


"Chandra sudah menemui saya kemarin siang," balas Nellie dengan tenang.


Nadia mencelos, dan tersenyum miring seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Nellie.


Chandra sudah menemui Nellie terlebih dahulu? Chandra sudah berbohong? Napas Nadia sangat sesak menerima kenyataan pahit ini.


"Kami sudah bicara ...."


"Jadi, mantan pacar yang kamu sesali selama ini adalah Chandra?" balas Nadia getir, meskipun Nadia merasa bahwa lidahnya amat kelu.


Nellie mengangguk, Nadia memejamkan matanya dan air mata pun jatuh dengan deras begitu saja tanpa izin.

__ADS_1


"Saya, sangat ingin bersama Chandra. Saya sangat mencintainya, saya juga masih meyakini kalau dia masih mengharapkan saya untuk kembali. Saya ingin memastikan semua itu, maka dari itu saya memaksakan kantor pusat untuk memberikan izin dinas saya di lokasi yang sama dengan Chandra."


"Diam!" jerit Nadia sambil menutup kedua telinganya. Penjelasan Nellie membuat Nadia sangat muak. Namun, Nellie terlihat tidak bergeming, ia justru semakin bersemangat meluapkan isi hatinya agar Nadia tahu kesepian seperti apa yang menguasai dirinya selama ini setelah kehilangan sosok Chandra.


"Tapi apa?! Dia sudah menikahi kamu?! Tidak bisa dipercaya! Chandra memilih menikahi seorang perempuan yang sama sekali tidak pernah hadir dalam benaknya sekalipun!"


"Nadia, saya dan Chandra sudah mengenal hampir sepuluh tahun. Apa kamu yakin kalau dia sudah melupakan saya? Apa kamu begitu percaya diri kalau dia sudah benar-benar berada dalam pelukan kamu tanpa berpaling pada saya?! Saya yang selalu menemani di masamasa sulitnya!"


"Dan kamu tahu ... saat kebakaran itu ... Chandra memeluk saya, pelukan yang sama seperti dulu saat kami masih saling mencintai."


Deg!


Nadia tertegun, jantungnya seperti berhenti berdetak saat kalimat terakhir Nellie berhasil menyerangnya dengan sempurna.


Nadia menutupi telinganya sekuat tenaga, tangannya gemetar dan kedua kakinya hampir saja tidak bisa menopang lagi tubuhnya yang amat lemas. Nadia nyaris tergeletak begitu saja jika egonya tidak cukup kuat untuk membuatnya bertahan. Semua perkataan Nellie sangat menusuk dan membuat Nadia berpikir di tengah kesedihan dan kebingungan yang menyiksanya.


"Nellie! Berhenti!" seru Nadia susah payah, penuh dengan penekanan.


Nellie bernapas terengah-engah, tetapi ia masih belum puas. Kondisi Nellie pun tidak jauh lebih baik dibandingkan Nadia, gadis itu juga menangis dan susah payah mengeluarkan isi hati dan pikirannya yang mengganjal selama ini.


"Apa perlu saya menceritakan kembali sama kamu, tentang hubungan saya dengan


Chandra di masa lalu?"


Nadia menggelengkan kepalanya, kedua matanya yang indah terlihat begitu kelabu, tidak ada kehidupan selain kesedihan yang mendalam tergambar di sana. Nadia sudah tahu kisah itu, kisah romantis yang sering sekali Nellie ceritakan pada Nadia ketika mereka justru mengagumi orang yang sama.


"Tapi kamu hanya sebatas masa lalu." Nadia mendongak, mengusap air matanya dengan terburu-buru.


Nadia tersenyum miring ke arah Nellie, membuat Nellie tertegun untuk beberapa saat.


"Nellie, saya harap ... kamu terus menerus dihantui oleh rasa menyesal itu. Karena, saya tidak akan bersikap bodoh dengan melepaskan apa yang sudah menjadi milik saya. Saya, tidak seperti kamu!" Suara Nadia mungkin terdengar lemah dan gemetar, tetapi kalimatnya cukup untuk membuat Nellie tidak dapat berkutik di tempatnya berdiri.

__ADS_1


Bersambung...


Nahloh, Nadia udah tahu😂


__ADS_2