
Hari-hari berlalu dengan sangat lambat setelah Nadia mengetahui sesuatu tentang Nellie dan mantan kekasihnya. Flores kini terasa semakin panas, musim hujan di tempat ini pun tidak dapat membantu mengembalikan semangat Nadia yang biasanya membuncah setiap turunnya hujan.
Sudah dua hari sejak kepergian Chandra bertugas di Karake untuk mengomando latihan perang khusus prajurit, tetapi Nadia tidak lagi bertanya kabar atau kembali menghubungi suaminya itu. Begitu pun Chandra, pasti pria itu sibuk dengan jadwal kerjanya si sana yang padat. Atau mungkin jaringan telepon yang semakin memburuk sehingga keduanya tidak dapat berkomunikasi.
Pagi menjelang siang, Nadia kembali pada aktivitasnya untuk menjadi guru bantu di sebuah sekolah yang ada di desa. Tentu Nadia tidak sendirian, ia ditemani oleh Johnny dan Yuta yang selalu bertugas untuk menjadi guru bantu di samping tugas utama mereka sebagai tentara aktif perbatasan. Sebenarnya, Nadia sengaja pergi dari rumah agar tidak terus menerus mengingat Chandra. Dan juga menghindari pertanyaan dari nenek dan papa yang pasti akan khawatir melihat sikapnya yang berubah sejak Chandra pergi. Nadia tidak mau membuat orang tuanya khawatir seperti itu.
Nadia keluar dari dalam ruang kelas yang masih belum selesai direnovasi, lalu duduk di teras luar dengan wajah pucat dan masam. Gadis itu menghela napasnya, bahkan tidak menyadari kalau sejak tadi sikapnya sudah diperhatikan oleh Johnny yang sudah lebih dulu berada di luar.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Johnny dengan cepat seraya menghampiri Nadia dengan senyum tipis di bibirnya.
Nadia terhenyak, dan tertawa dipaksakan saat dirinya terkejut oleh sikap Johnny.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Nadia pelan.
Johnny manggut-manggut. "Oh iya, apa kamu sudah tahu? Komandan akan pulang besok. Saya dapat kabar dari anggota di Karake, kalau tugas pergantian yang semula ditanggung komandan. Sudah ada yang hendel"
Nadia melirik ke arah Johnny, entahlah ia harus senang atau sedih. Nadia ingin menghindari Chandra sampai perasaannya benar-benar pulih, sehingga mereka tidak perlu berdebat jika bertemu nanti. Nadia lalu tidak menanggapi lagi informasi yang diberikan Johnny lagi padanya. Wajah Nadia kembali tidak bersemangat, sangat berbeda dengan ia yang biasanya bersikap ceria dan banyak bercerita pada siapa saja yang mengajaknya mengobrol.
"Apa kamu sakit, Nad?" tanya Johnny lagi.
Nadia tertegun, ia hampir saja menangis saat Johnny bertanya demikian. Mengapa pertanyaan itu tepat sekali sehingga membuat Nadia kembali bersedih.
"Enggak, kok. Enggak. Saya, baik-baik saja," balas Nadia dengan suara agak tersendat.
__ADS_1
Saat Johnny hendak menyanggah ucapan Nadia. Tiba-tiba saja Ong, Dio, Alif, Danil, dan Yuta muncul di area sekolah. Kelima pemuda berseragam tentara rapi itu tampak membawa masing-masing jinjingan di tangannya. Ong berada di garda terdepan bersama Yuta yang membawa sebuah box termos berukuran cukup besar. Johnny tertawa kecil melihat rekanrekannya itu seperti kelompok siswa yang akan piknik.
"Hei, hei, lihat nih kita bawa apaan," kata Ong dengan ceria, dia menyapa Nadia dengan senyum jenakanya sembari menurunkan jinjingan di tangannya ke atas bangku teras.
Nadia susah payah tersenyum melihat betapa gigihnya rekan-rekan Chandra di saat bekerja begini.
"Tadi kita lewat rumah dinas jenderal. Eh, ada nenek kamu di sana, Nad. Nenek sama papa kamu kasih kita oleh-oleh dari Bandung," papar Danil dengan wajah semringah.
Alif yang kelihatan sudah lapar karena, waktu sudah hampir memasuki jam makan siang sesekali mengintip pada jinjingan yang dibawanya, si bungsu itu memang sangat imut kalau sudah berurusan dengan makanan.
"Ehehe, benar loh kak, Nadia. Ini, Alif malah dikasih lebih banyak sama neneknya kak Nadia ... daging gepuk. Kelihatannya enak."
"Kita disuruh makan di sini, Nad. Oh iya, itu juga Ong bawain es krim buat dessert, sekalian bagiin ke anak-anak," tambah Yuta dengan semangat.
Mendengar pengajuan laporan singkat dari semua tentara yang ada di sana padanya, membuat Nadia merasa terharu. Gadis itu langsung saja membawa jinjingan berisi nasi, dan meminta Johnny untuk mempersiapkan alas agar mereka bisa makan bersama di waktu istirahat.
"Kata nenek, kamu belum makan ya, dari semalam?" tanya Dio dengan serius. Dio baru saja bicara setelah mereka siap untuk makan.
Nadia langsung terdiam, dan semua mata tertuju pada Nadia serta Dio secara bergantian.
"Ish, Bang!" Peringat Ong pada seniornya itu, tidak lupa Ong menambah sedikit pelototan pada Dio.
Sepertinya nenek mulai curiga dengan sikap Nadia, dan menceritakannya pada rekanrekan Chandra.
__ADS_1
"Saya baru mau makan kok, hehe ... saya diet," balas Nadia pada pertanyaan Dio.
"Ayo makan kalau gitu!" ajak Nadia lagi pada semuanya.
"Masakan nenek enak banget loh. Kalau gepuk ini buatan ART yang di Bandung. Udah sama enaknya sama buatan nenek," beritahu Nadia seraya menaruh daging ke atas piring teman-temannya.
Semua orang makan dengan baik seperti permintaan Nadia, Alif yang duduk di samping Nadia pun berinisiatif menaruh sosis goreng di atas piring Nadia yang masih sangat banyak tersisa makanan, Nadia sejak tadi hanya memakannya sedikit.
"Kak, kata komandan aku harus perhatiin kakak soal makan. Kakak suka sosis goreng, 'kan? Hehehe... makan yang banyak Kak, biar sehat, terus cepat hamil deh ... hehe," kata Alif dengan polos.
Kedua mata Nadia seketika berkaca-kaca, tidak kuasa menahan rasa sedih dan haru atas kehadiran orang-orang yang tidak pernah sekalipun Nadia pikirkan akan mengisi hidupnya.
Mendengar ocehan Alif, Ong yang sedang enak makan tertawa kecil. "Hahaha ... lu tahu apa sih, Alif, pake cepat-cepat hamil segala bahasanya ... itu mah mintanya sama ayah dong, 'kan dia yang bekerja di waktu malam."
Nadia terkikik, tetapi air mata turun begitu saja. Ia menangis tanpa peduli bahwa suasana menghibur itu justru membuat perasaannya semakin merasa tak enak.
Sekumpulan orang yang tengah menikmati makan siang itu pun tertawa kecil dengan ucapan Alif dan Ong, kecuali Dio karena dia selalu serius.
"Nih, Nad. Makan sayuran juga, komandan suka bayi perempuan." Johnny menyodorkan semangkuk salad ke arah Nadia.
Nadia mengusap air matanya dan bibirnya justru menyunggingkan senyum yang bercampur isakan kecil.
"Kok kamu nangis, Nad?" tanya Ong khawatir, tetapi sedetik kemudian Ong memasang tampang jahil dan menggoda di wajahnya.
__ADS_1
"Cie-cie ... superstar terharu nih ceritanya sama kita ... switswiw!"
Nadia hanya dapat menutup wajahnya dengan susah payah, orang-orang yang ada di sana mungkin mengira Nadia menangis karena merindukan Chandra. Ya itu benar, tetapi selebihnya ia menangis karena perasaan tak terbendungnya yang amat campur aduk.