
Charles merasa tidak tenang karena Flora belum juga kembali. Walaupun ia selalu meminta kabar dari Thomas. Charles sangat terkejut saat Thomas memberitahu kepadanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Flora kepada Renatta. Ia seakan tidak percaya dengan hal itu. Namun, ia juga berpikir jika Thomas tidak akan berbohong kepadanya.
Marline dan Frans sudah kembali ke Brooklyn karena Frans memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Begitupun Adam yang harus kembali ke rumah sakit, karena ada jadwal operasi.
Charles terus saja memperhatikan pintu masuk mansion. Ia berharap Flora akan segera kembali.
"Flora!" Charles segera menghampiri Flora yang baru saja masuk ke dalam mansion.
"Kenapa kau lam-" ucapan Charles menggantung. Karena Flora tiba-tiba memeluknya.
"Ada apa, Flo?" Suara Charles melembut seraya mengelus punggung wanita itu.
Flora terisak. Tubuhnya bergetar. Dia takut.
"A-aku me-melukai Renatta. A-aku menya-kitinya. A-"
"Tidak masalah, kau sudah melakukan hal yang seharusnya seorang Ibu lakukan. Tidak apa-apa, Flo!" Potong Charles. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Flora yang bergetar.
"Tapi aku sangat jahat sekali, Charles. Aku melukai temanku sendiri. Dia terluka karena aku!" Tangisan Flora semakin pecah.
__ADS_1
Charles hanya menggelengkan kepalanya. Dan berusaha untuk menenangkan Flora.
la membawa Flora ke kamarnya. Karena kondisi Flora yang masih lemah. Pria itu menggendong Flora. Flora hanya terisak dalam diamnya. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Charles.
"Lebih baik kau istirahat, Flo. Agar kau segera pulih." Charles membaringkan Flora di atas tempat tidur. Sebelum ia ikut berbaring di samping Flora seraya memeluknya.
"Charles, aku lelah," gumam Flora.
"Maka beristirahatlah, Flo. Aku sudah bilang jika kau tidak perlu menemui wanita itu!"
Flora menggelengkan kepalanya. "Aku ingin pulang ke Indonesia."
"Nanti kita akan pergi ke Indonesia jika kau sudah semb-"
Charles terdiam sejenak. Ia memikirkan ucapan Flora.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri, Flo."
Flora menjauhkan tubuhnya dari tubuh Charles. Ia menatap wajah suaminya itu. Dengan matanya yang sembab.
__ADS_1
"Apa kau yakin kehidupan kita akan bahagia, Charles?"
"Apa maksudmu, Flo?"
Flora mengelus dada bidang Charles dengan pola melingkar.
Ia memikirkan keputusannya. Dia takut salah mengambil keputusan. Namun, dia harus melakukannya.
"Aku ingin menyerah, Charles. Menyerah dengan hubungan kita!" lirih Flora. Dengan suara bergetar.
Charles menatap Flora dengan penuh tanda tanya. la merasa jika pendengarannya itu tidak berfungsi dengan baik.
"Katakan sekali lagi, aku tidak mendengar."
"Sudah dari awal aku mengatakan padamu, jika kita membangun suatu hubungan, pasti hidup kita tidak akan tenang. Namun kau selalu mengabaikanku. Dan terbukti saat ini, hingga saat ini kita selalu mengalami masalah. Awalnya aku berusaha untuk kuat, tapi setelah apa yang terjadi dibeberapa hari yang lalu, aku tidak bisa lagi menjadi orang yang harus pura-pura kuat, Charles. Aku benar-benar lelah."
Charles merasa jika ia mengerti dengan alur perkataan Flora. "Kau benar-benar harus istirahat, Flo. Perkataanmu mulai tidak benar!"
Flora hanya terdiam menatap wajah Charles. Lalu ia membalikkan tubuhnya membelakangi Charles. Lagi-lagi ia menangis. Ia memikirkan kehidupannya yang hancur.
__ADS_1
"Jangan memikirkan hal-hal yang negatif. Aku tidak suka itu. Kita akan terus bersama, Flo. Apa pun yang terjadi. Sekalipun seluruh isi di dunia ini membenci kita!"
Bersambung ....