Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 9


__ADS_3

Usia kehamilan yang semakin tua membuat seorang wanita semakin mudah kelelahan, hal itu yang menyebabkan perubahan mood yang bisa 180 derajat berbanding terbalik pada kebiasaannya dengan sebelum masa kehamilan.


Nadia sedang tertidur nyenyak di sofa ketika suaminya tiba dari kerjanya seharian ini. Waktu menunjukkan pukul lima sore, yang artinya tidak baik bagi seseorang untuk tertidur di waktu menjelang maghrib.


"Sayang." Chandra mengelus pipi istrinya. Nadia tidak bergeming dan masih tertidur tanpa bantal.


"Yang ...." Panggil Chandra lagi, kali ini ia menepuk pelan lengan Nadia.


"Hum...." Nadia hanya bergumam, kedua matanya dengan susah payah terbuka.


Melihatnya, Chandra hanya dapat tertawa kecil, "Bangun, nggak baik loh tidur di waktu menjelang maghrib. Nanti kepalanya pusing. Ayo bangun."


"Hari ini badan aku lemas banget, jadi bawaannya ngantuk terus," jelas Nadia malas. Chandra membantu Nadia untuk duduk di atas sofa. Bukannya bangkit, Nadia malah menarik tubuh suaminya itu agar duduk, Nadia memeluk Chandra dengan erat seperti tidak mau dipisahkan.


"Maaf, aku belum siapin apa-apa."


"Tidak apa-apa, saya bisa siapkan semua sendiri. Kamu sudah makan?"


Nadia menggeleng. "Males makan."


"Mau disuapin hehe ...," tambah Nadia sembari mendongak ke arah suaminya.


Chandra tersenyum, pria itu menjatuhkan kecupan di kening Nadia dalam-dalam, Nadia memejamkan matanya kala bibir Chandra menyentuh dahinya lagi kali ini.


"Hari ini kangen banget, kamu jangan mandi dulu, ya? Diam aja di sini," pinta Nadia sama suaminya. Sudah lima belas menit Chandra tidak bergerak dari sofa karena Nadia menguasainya.


"Iya."


"Ini perubahan hormon, jadinya begini. Jangan marah."


"Iya Sayang, saya tidak marah." Beritahu Chandra pada istrinya dengan lembut dan pengertian. Dia tidak mau kejadian seminggu yang lalu terulang, Nadia menangis karena Chandra setelah pulang kerja langsung mandi tanpa memeluknya terlebih dahulu.


"Aku suka banget wangi badan kamu kalau pulang kerja, hihi."


"Haha ... ada-ada saja. Kenapa suka wangi saya kalau pulang kerja? Padahal saya berkeringat karena harus kerja di bawah terik sinar matahari."


"Soalnya ... emm ... nggak tahu, suka aja."


Chandra tertawa melihat ekspresi Nadia yang terlihat kebingungan dengan sikapnya sendiri.


"Ah, mungkin bawaan bayi. Selamat sore bayi, sedang apa di dalam?"

__ADS_1


Chandra beralih pada perut Nadia yang kian hari kian membesar, dielusnya lembut. Usia kandungannya sudah hampir tujuh bulan dan tentu saja hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Chandra, yang artinya pria itu akan segera menjadi seorang papa tidak lama lagi.


"Baik Papa ...." Nadia yang menjawab, suaranya seperti anak kecil membuat Chandra gemas dengan tingkah istrinya.


***


Malam itu anak-anak datang ke rumah karena Jenderal mengadakan acara syukuran kecil-kecilan. Bukan anak-anak anggota TNI yang di komando oleh Chandra, melainkan anak-anak sekolah dasar yang selama ini diajarkan di sekolah oleh Nadia dan TNI yang memiliki dasar ilmu pendidikan guru.


Anak-anak duduk rapi di atas karpet yang digelar di teras rumah dinas, sementara pengisi acara malam itu adalah Jenderal yang memainkan gitar akustik. Hadir juga orang tua anak-anak yang malam itu ikut diundang dalam acara. Semuanya nampak ceria dan tentunya merasa terkejut dengan kemampuan Jenderal dalam memainkan alat musik dan bernyanyi, meskipun suara Jenderal terbilang serak, tetapi cukup merdu untuk ukuran seorang abdinegara.


Nadia duduk di bagian paling depan penonton, ia dan Ong menjadi fans nomor satu Jenderal sambil mengangkat tangannya ke atas dan menggerakkannya ke kiri dan kanan.


Chandra membawakan lagu lawas berjudul More than words milik grup Extreme. Di tengah berlangsungnya acara kecil itu, Nellie yang sudah lama menghilang bak ditelan bumi dari kehidupan Chandra dan Nadia kembali datang. Gadis yang berprofesi sebagai dokter itu membawa bingkisan kecil di tangannya yang ia siapkan sejak jauh-jauh hari hanya untuk Nadia.


Bukan karena ia tidak memiliki niat bertemu atau menyelamati Nadia yang telah mengandung, tetapi Nellie sendiri merasa malu dengan sikapnya dulu pada Nadia yang menganggapnya sahabat dekat.


"Yeay! Tepuk tangan dulu semuanya untuk Jenderal kita!" seru Ong yang menjadi pembawa acara dadakan malam itu.


Anak-anak bertepuk tangan begitu pun para orang tua. Selesai Jenderal bernyanyi, pria itu menghampiri Nadia dan menyerahkan gitar akustik milik istrinya itu.


"Kamu mau main gitar juga?"


Chandra terkikik, pria itu menepuk jidatnya dengan pelan. "Ya ampun, saya lupa."


"Nadia ... Chandra."


Panggilan pelan berhasil mengalihkan perhatian Nadia dan Chandra yang tengah bermesraan menuju sumber suara. Nellie tersenyum kaku pada sepasang suami istri itu.


"Nellie ...," balas Nadia dengan senyum kecil.


Nadia menghampiri Nellie terlebih dahulu dan memeluk tubuh Nellie erat. "Kamu ke mana aja?"


Nellie merengut, gadis itu hendak menangis mendapatkan pertanyaan seperti ini pada Nadia. Nellie tidak kuasa membalas pelukan Nadia karena ia merasa amat bersalah.


"Kamu sehat 'kan Nadia? Gimana kandungan kamu?"


"Baik, Nell. Aku baik-baik aja," jawab Nadia dengan senyum. Nadia sangat khawatir pada Nellie yang selama ini menghilang.


"Ayo kita duduk di sana," ajak Nadia, dan menggiring Nellie untuk duduk di teras atas rumahnya, tepatnya di kursi rotan yang selalu digunakan Nadia untuk menerima tamu.


Chandra mengikuti Nadia dan Nellie, tentunya pria itu mengawal langkah istrinya agar berhati-hati untuk tidak jatuh. Nellie sedikit menyingkir untuk memberikan Chandra ruang agar dapat berdampingan dengan istrinya.

__ADS_1


"Saya pergi ke Singapura, Nad. Ada pertemuan dokter di sana, saya pergi selama dua bulan. Tapi saya masih tidak sanggup untuk menemui kalian," ucap Nellie tak enak.


Chandra menatap mantan kekasihnya itu datar, Nellie belum masih berubah dan selalu memprioritaskan urusan pekerjaan ketimbang pribadi. Gadis itu memang sangat konsisten.


Nadia tersenyum. "Syukurlah ... aku pikir, kamu masih marah karena sikap aku waktu itu, Nell. Aku nggak bisa ke mana-mana karena sekarang hamil besar. Harus lebih hati-hati."


"Enggak kok, Nad. Oh iya, sudah berapa bulan sekarang kandungannya?"


"Mau tujuh bulan, Dokter." Chandra yang menjawabnya, pria itu tersenyum tipis membuat Nellie merasakan sedikit ngilu di hatinya.


Nellie masih tidak menyangka bahwa ia akan menyaksikan Chandra hidup bersama wanita lain selain dirinya. Ah, Nellie buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari Chandra yang tentunya masih belum bisa ia ikhlaskan. Hubungan mereka terbilang cukup lama dan serius waktu dulu. Sehingga tidak mudah bagi Nellie untuk melupakan kenangan-kenangan yang pernah tercipta dengan pria itu.


"Nad, saya nggak bisa lama-lama. Chandra, saya pamit, ya." Nellie mengamit tangan Nadia dengan lembut, dan Nadia menatap heran dengan kepergian Nellie yang sangat cepat.


"Loh, nanti aja Nell. Makan dulu, ya?"


"Enggak, ini sudah terlalu malam, kasihan Perawat sama Bidan di puskesmas. Takutnya ada pasien lagi."


Chandra mengantar Nellie untuk menuju mobil, Nadia yang meminta demikian, walaupun awalnya Chandra dan Nellie menolak, tetapi Nadia agak memaksa suaminya agar mau.


"Selamat, ya. Jenderal, akhirnya kamu akan dikaruniai anak pertama."


Chandra mengangguk. "Makasih, Dokter."


Nellie lumayan gugup, tidak berani menatap Chandra walau sepersekian detik mereka beradu pandang. Sementara Chandra berulang memeriksa Nadia yang kini sedang membagibagikan kue tart dan bingkisan snack untuk anak-anak.


"Kamu pasti sangat mencintai Nadia, ya?"


"Tidak perlu ditanyakan. Saya setiap hari jatuh cinta dengan Nadia."


"Chan ...."


Chandra menoleh, Nellie masuk ke mobil dan duduk di sana dengan nyaman.


"Ya?"


"Terima kasih, kamu sudah hadir dalam hidup saya," ucap Nellie dengan senyum pedih di bibir. Chandra tidak menanggapi itu, Nellie sepertinya hendak menangis kalau-kalau Chandra membalas ucapannya dengan ucapan serupa.


BERSAMBUNG ....


SIAPA NIH NUNGGU Nellie tahu kalau Nadia hamil?

__ADS_1


__ADS_2