Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 10


__ADS_3

Nadia menatap cermin besar di hadapannya berulang kali, ia baru berganti pakaian dengan daster pembelian Chandra seminggu lalu dari pasar. Nadia sangat menyukai daster pilihan suaminya, sampai ia akan memakainya satu persatu untuk tidur.


Chandra memasuki kamar, pria itu mengusap wajahnya menggunakan handuk dan tersenyum geli melihat Nadia yang tengah lengak-lengok seperti model.


"Kamu cantik sekali," puji Chandra seraya melingkarkan kedua lengan panjangnya pada pinggang Nadia. Keduanya beradu tatap lewat cermin besar.


Nadia cemberut. "Aku gendut, ya? Berat badannya sekarang 66 kilo."


"Memangnya kalau gendut sudah tidak cantik?"


Nadia tersenyum. "Enggak gitu, jadi aneh aja. Nanti bisa kurus lagi nggak, ya?"


"Mau gendut atau kurus, yang terpenting itu kamu sehat, hm?"


Nadia merasakan pelukan hangat suaminya, Nadia mengusap lengan Chandra yang melingkari tubuhnya itu mesra. Ia membalik tubuhnya hingga ia bisa berhadapan dengan Chandra untuk menatap wajahnya sebelum tidur.


"Ada apa?" tanya Chandra heran.


"Kalau gendut, tapi nggak sehat, gimana?"


Chandra tertawa mendengar pertanyaan itu. "Ya, diobati. Saya nggak bakal diam saja kalau kamu sakit."


"Hihi, kamu kok jadi makin uwu sih Jenderal." Nadia menjawil dagu suaminya.


"'Kan saya punya kamu sama bayi. Kalau saya terus seperti robot, nanti bayi takut."


Nadia merebahkan tubuhnya di sisi Chandra, suaminya membaca buku karya John Gray yang berjudul "Men Are From Mars, Women Are From Venus". Buku itu bercerita tentang hubungan dua makhluk hidup bernama pria dan wanita, di mana mereka terbentuk dari dua hal yang bertolak belakang, tetapi mesti dipersatukan dalam ikatan pernikahan.


"Kamu nggak pusing baca buku terus?"


"Hm? Tidak. Saya suka karya John Gray yang ini," jawab Chandra tanpa mengalihkan konsentrasinya dari buku.


"Ceritanya tentang apaan?" Nadia menggeser tubuhnya dan menyelipkan kepalanya di antara lengan Chandra dan menjadikan dada bidang suaminya itu sebagai bantal. Chandra menurunkan bukunya agar Nadia ikut membaca.


"Tentang saya sama kamu," jawab Chandra.


"Ih, serius?"


"Serius ... ini judulnya, coba kamu baca."


Nadia bergumam membaca judul buku di halaman paling utama yang Chandra tunjukkan padanya.


"Ngomong-ngomong, kamu keberatan nggak sih kalau aku manja? Terus sekarang juga jadi males. Nggak pernah masak, banyak maunya juga," keluh Nadia pada suaminya.


"Kata nenek, kamu sukanya sama perempuan yang mandiri."

__ADS_1


Chandra tersenyum. "Kenapa tiba-tiba bahas ini sih, Ibu?"


"Penasaran, 'kan hormon ibu hamil aneh-aneh," elak Nadia pada suaminya.


"Emm, bagaimana menjelaskannya ... saya 'kan sudah ijab kabul ... saya terima nikahnya, kawinnya, bawelnya, cerewetnya, manjanya, malesnya, cantiknya, kurusnya, gendutnya, Nadia Adriana dengan maskawin tersebut, tunai!"


"Hihi, apaan sih." Dipikulnya pelan perut Chandra. Suaminya tertawa kecil mendapatkan perlakuan seperti itu pada Nadia.


"Sudah pukul sembilan malam. Kamu belum ngantuk, Sayang?" Baru saja Chandra bertanya demikian, Nadia sudah terlelap dalam pelukannya. Chandra dengan hati-hati menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan Nadia malam itu.


"Kasihan Sayangku ... seharian bawa bayi ke mana-mana." Chandra menjatuhkan ciuman di pipi Nadia dan membelai pipi kemerahan wanita itu dengan lembut sebelum dia menyusul Nadia untuk terlelap di sisinya.


***


Pagi yang masih gelap, Chandra sudah memanaskan mesin mobil di halaman rumah. Nadia cukup kebingungan dengan suaminya yang juga menyiapkan beberapa perlengkapan untuk dibawa serta olehnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Nadia dengan wajah semakin bingung, Chandra membantunya untuk duduk di samping kemudi dan memasangkan seatbelt.


"Ke Bandung, Sayang," jawab Chandra dengan senyum tipis.


"Ke Bandung? Mendadak, sepagi ini. Ada apa?!" desak Nadia dengan khawatir, kalau hanya pergi ke Bandung mengapa harus mendadak dan berangkat pukul empat subuh.


"Ini masih jam empat pagi," tambah Nadia pada Chandra.


Chandra duduk dan bersiap mengemudikan mobil untuk bertolak ke Bandara saat itu juga.


"Enggak!"


"Kenapa kita ke Bandung?!"


Pikiran Nadia sudah buruk, memikirkan keluarga yang ada di sana, kepada ayah dan ibu, neneknya dan nenek mertua, juga papa yang sudah dua hari ini tidak menelepon. Joy juga sepertinya sibuk bekerja.


"Keluarga baik-baik saja, 'kan?!" tanya Nadia.


Chandra menghela napasnya dengan kasar, pria itu menarik tangan Nadia dan menggenggamnya erat.


"Nenek saya sakit, beliau mau bertemu dengan kamu. Jadi, kita ambil penerbangan pertama ke Bandung sekarang juga."


Nadia merasakan seputaran wajahnya memanas hebat dan jantungnya bergemuruh tak menentu ketika Chandra mengabarkan hal tersebut padanya. Kedua mata Nadia mengedip hingga bulir bening mengalir tanpa izin.


"Nenek?"


Chandra memaksakan senyumnya, berusaha menenangkan Nadia meskipun dirinya sendiri dilanda kekhawatiran yang sangat besar. "Kamu tenang saja, nenek sudah melewati masa kritisnya dan sekarang sedang istirahat."


"Hiks ... nenek ...."

__ADS_1


Nadia memegangi perutnya, terasa sedikit menegang ketika kabar tentang nenek yang sakit baru ia ketahui sekarang. Memang aneh, perasaan Nadia yang tak menentu sejak dua hari lalu, obrolannya dengan Joy di telepon juga terasa lebih singkat dari biasanya. Sepertinya Joy menyembunyikan kesehatan nenek yang memburuk agar Nadia tidak panik. Chandra juga pasti melakukan hal yang sama.


"Maaf, saya tidak bisa mengatakan keadaan nenek sama kamu."


"Saya dan bayi membutuhkan kamu," ujar Chandra menenangkan. Nadia menangis terisak di sisinya, menolak untuk disentuh oleh Chandra. Pasti Nadia masih shock, dan Chandra memaklumi itu meskipun dirinya sangat cemas dengan Nadia.


"Kita berhenti dulu di sini, kamu harus minum." Chandra menghentikan mobilnya perlahan ke pinggir jalanan.


"Enggak! Saya nggak apa-apa ... hiks ... kita harus cepat ...."


***


Nenek Merry adalah fans Nadia ketika gadis itu masih sangat remaja dan pertama tampil di layar kaca sebagai penyanyi. Nenek Merry juga tidak menyangka bahwa Nadia akan menjadi cucu menantunya ketika sudah dewasa. Nenek Merry juga adalah sosok yang selalu mendukung Nadia di waktu kapan pun. Figur nenek adalah yang paling Nadia kenang dalam hidupnya.


Nadia memasuki ruang ICU di mana nenek sedang dirawat, air mata tidak berhenti mengalir di pipinya yang sembab. Chandra merangkul bahu Nadia dengan erat, tubuh istrinya gemetar sejak sepasang kakinya memasuki rumah sakit.


Nenek tersenyum, alat bantu pernapasan sedikit menghalangi wajah nenek yang pucat pasi.


"Nenek ...," sapa Nadia dengan suara serak.


"Neng ...," balas nenek dengan senyumnya yang begitu indah.


"Nek, ini saya sama Nadia."


Chandra mendudukkan Nadia di kursi untuk berhadapan dengan nenek. Nadia menggenggam erat tangan nenek yang terasa dingin pagi itu. Nadia mencium punggung tangan nenek dengan tangis yang masih tidak bisa dibendung.


"Jenderal sebentar lagi jadi Papa."


"Iya, Nek. Saya sebentar lagi jadi papa. Nadia jadi Mama."


Senyum di wajah nenek perlahan pudar ketika mendengar suara bariton milik cucunya terdengar terbata-bata.


Chandra pun tidak kuasa menahan rasa sedih yang terasa begitu menyesakkan dadanya.


"Nenek akan punya cicit," tambah Chandra dengan wajah dibuat setegar mungkin.


Susah payah nenek meraih wajah Nadia, dan membelainya dengan lembut. Nadia hanya dapat bungkam, daripada bicara tetapi tak kuasa menahan tangis yang tercekat di dalam dada.


BERSAMBUNG ....


Tadi ada yang minta double up 🤭


Gimana-gimana? Tanggapan kalian pada Chandra kali ini?


Oiya, jangan lupa mampir di karyaku yang satunya, hehe .... (promosi)

__ADS_1



__ADS_2