
Pagi dini hari, dalam tidurnya yang tidak nyenyak di dalam barak, samar-samar Chandra mendengar suara teriakan seorang wanita meminta tolong. Kedua mata Chandra terbuka perlahan saat suara teriakan itu terdengar semakin lama semakin jelas. Chandra menyibak selimut yang dikenakannya dan segera bangkit sambil mengenakan jaket miliknya yang tersimpan di samping tempat tidur.
Chandra mendengar teriakan itu bercampur dengan tangisan si wanita yang begitu kencang. Chandra berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari menuju sumber suara yang kini justru seperti ada yang menahan teriakannya.
"**** up!" bentak seorang pria bertubuh kekar berseragam tentara USA pada seorang wanita yang berada dalam tindihannya, dua pria lain berseragam serupa tampak menjaga perilaku pelecehan itu di samping sebuah bangunan tak terpakai.
Wanita itu ditampar sangat keras oleh pria yang menindihnya.
Chandra yang sampai di lokasi kejadian pun sangat terkejut, karena marah, Chandra pun menghampiri tentara bejat itu sambil tendangan kuat di punggungnya.
Tentara itu tersungkur ke tanah tanpa sempat bereaksi apa pun, dua temannya yang tidak menyadari kedatangan Chandra pun amat terkejut ketika seseorang memergoki perbuatan mereka.
Chandra melirik ke arah wanita yang hampir saja menjadi korban, wanita itu ketakutan dan bersembunyi di balik tembok dengan menutup hampir seluruh wajahnya menggunakan telapak tangan, pakaian wanita itu juga sudah koyak di beberapa bagian.
"Brengsek!" umpat Chandra dengan mata berkilat marah ke arah tiga orang tentara yang berperilaku bajingan tersebut.
Pria yang tersungkur ke tanah itu mendecih, dan meludah dengan raut bengis. Dia menghampiri Chandra seolah menantang.
Tanpa menunggu apa yang akan diucapkan tentara tersebut, Chandra kembali memberikan pukulan kuat pada wajah pria bule itu, tepat pada bagian bawah hidungnya hingga pria itu terhuyung dan mendapatkan patah tulang di bagian hidung.
Melihat temannya berdarah, dua kawannya tidak terima dan hendak menghajar Chandra dengan melayangkan pukulan dan tendangan, tetapi Chandra berhasil menangkisnya dan balas memberikan tendangan tak kalah kuat dari yang pertama.
Ketiga orang tersebut ambruk di atas tanah, Chandra menghajarnya hingga mereka babak belur dan berdarah-darah di bagian wajah. Wajah mereka bahkan tidak dapat dikenali karena mendapatkan luka cukup parah.
"Stop ...!" Wanita itu berteriak dengan suaranya yang serak. Chandra yang masih bersemangat meninju pun berhenti memukul, dan melirik ke arah korban dengan perasaan kacau balau.
"They are, drunk."
__ADS_1
"Are you okay?" tanya Chandra pada wanita itu, dia bernapas lega saat korban itu baik-baik saja, bahkan menghentikan tindakan Chandra yang hampir saja membunuh tiga orang bejat dengan tinju.
Wanita itu mengangguk kecil. Chandra melepas jaketnya dan menghampirinya dengan perlahan karena Chandra tahu wanita itu pasti masih shock dan bisa saja mengalami trauma karena hampir mendapatkan pelecehan dari tiga orang pria sekaligus.
Tapi.
Brak!
Brugh!
Chandra jatuh terhuyung ke atas tanah dengan darah mengalir deras dari sisi kanan kepalanya.
***
Nadia yang tertidur pulas setelah ditemani nenek di kamar pun merasakan sentuhan kecil yang menggelitik lehernya. Nadia tersenyum kecil saat tangannya berhasil menangkap makhluk mungil yang kini ada di sisi tubuhnya.
Nadia membuka kedua matanya dan seketika sangat terkejut saat ia juga mendapati Chandra tengah memangku Nadjen. Nadia melirik ke sekitar, ini bukan kamarnya dengan Chandra yang ada di Bandung. Ini kamar mereka yang ada di Flores.
Nadia tersenyum, ia melihat seluruh isi ruangan, rak-rak buku yang rapi, rak pakaian mereka yang kecil, dan empat koper di sudut ruangan milik Nadia, bahkan ada walkie talkie juga di meja dekat tempat tidur. Tidak salah lagi, ini adalah Flores dan segera kesederhanaannya.
Chandra tersenyum ke arahnya, dan menaruh Nadjen ke atas tempat tidur.
"Kok tumben di sini nggak mati lampu?" tanya Nadia heran.
"Mungkin ... layanan listriknya sedang berbaik hati."
Nadia terkikik, ia mendekat ke arah Chandra dan memeluk suaminya itu erat. "Kok saya kangen banget ya, sama kamu."
__ADS_1
Chandra mengelus rambut panjang Nadia dengan perlahan dan lembut, sesekali menjatuhkan kecupan pula di puncak kepala Nadia. Nadia memejamkan matanya menikmati pelukan itu.
"Hari ini, kamu jangan kerja dulu, ya? Temani saya di rumah."
"Hari ini kan Minggu."
"Oh iya?! Asik, hehe. Kalau gitu, kita pacaran seharian, kamu mau nggak?"
Chandra tertawa kecil, suaranya membuat Nadia sangat betah berada dekat suaminya itu. "Hm, boleh."
"Ciuman juga!"
"Hahaha, iya."
"Hmm, pelukan juga, yang lama banget ...."
"Iya, saya turuti semua yang kamu mau."
Nadia tidak bisa menahan dirinya selain membuat pelukan itu semakin erat. Nadia juga berulang kali membelai punggung suaminya itu hingga telapak tangannya menghangat.
Namun, pelukan Chandra melonggar pada Nadia sehingga Nadia mendongak untuk bertanya kenapa Chandra melakukan hal itu. Saat Nadia membuka mata, Chandra pun hilang dari pandangannya, kucing mereka juga tidak ada di atas tempat tidur, lemari berubah menjadi jendela yang luas, dan kumpulan koper berubah menjadi pemandangan yang kosong.
Nadia mengusap wajahnya kasar, ia membuka matanya saat melihat kamar sederhananya berubah menjadi kamar mewah yang modern. Nadia menghela napasnya, ternyata ia berada di Bandung, di dalam kamar yang sepi dan begitu dingin malam itu.
Nadia memeluk lututnya, menatap pada jendela yang menampilkan langit malam. Ia tidak bisa membedakan, mana mimpi dan kenyataan. Rasa rindu membuatnya seperti ini.
Bersambung ....
__ADS_1
Apa yang akan terjadi pada Chandra?