The Future King

The Future King
Eps 100


__ADS_3

"Besok kita akan menghadiri Upacara Peringatan ke-50 MIliter  di dekat pelabuhan. Orang-orang penting akan datang! Kamu akan ikut bersama dengan Paman-mu" Aaron berbicara dengan sebuah map yang terbuat dari bahan beludru. Asnee pun mengambilnya seraya menatap kilas perangai dari ayah nya itu.


"Kak Rayya ikut?" Tanya Asnee kembali mmebenarkan cara duduknya.


"Putri Rayaa ikut, untuk itu Paman Aat pun ikut bersama kita!" Tutur Aaron.


Asnee terdiam sejenak, dia mengingat hal yang ingin dirundingkan dengan papa nya selaku Raja. "Pah, ada informasi yang sampai ke telinga Asnee kalau antek-antek dari bibi Mali dan guru Jeno masih berkeliaran dan pastinya mereka masih merencanakan ulang sesuatu yang gagal! Papa sudah medapatkan informasi nya?" Tanya Asnee.


Aaron tersenyum, berpikir kenapa putra nya itu sangat tanggap dan kritis, beda jauh dengan dirinya dulu di usia Asnee saat ini. "Tidak perlu khawatir, Pangeran! Di sini kamu hanya perlu fokus menyiapkan pidatomu nanti!"


"Papa tahu itu seperti banyak tantangan dan tanggung jawab, semuanya penting dan sulit untuk menjadi seorang pemimpin! Ketahuilah, masih banyak orang yang mendukung mu dan menginginkan yang terbaik!" Lanjut Aaron berbicara pada Asnee yang nampak masih menyelidiki orang-orang yang haus akn kekuasaan itu.


"Baik, akan aku persiapkan!" Ujar Asnee


Ayah dan anak itu seperti satu cermin yang sama namun beda sisi. Mereka tahu kapan waktunya saling tidak suka satu sama lain, kapan menjadi orang yang bertanggung jawab dan profesional, namun nyatanya mereka saling bergantung satu sama lain.


Acara upacara yang akan di adakan besok membuat semua orang sibuk, terutama anggota kerajaan yang mengharuskan menghadiri acara tersebut.


Kreaat


Asnee kembali ke kamar nya, hari mulai menggelap dan badan nya terasa lelah. Handphone pun dia rogoh dari dalam saku celana nya dan ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kevin.


"Ada apa dia?" Gumam Asnee seraya kembali menekan tombol off di handphone nya.


Suara dengkuran kecil terdengar samar, Asnee langsung menuju ruangan di balik pembatas kamar yang tidak lain adalah ruangan kerja nya.

__ADS_1


Tidak membangunkan, Asnee menatap lekat wajah tentram milik Daniza namun anehnya buliran keringat muncul di keningnya.


Di luar, Ahan baru saja kembali dari tempat istirahat Daniza dan kebetulan Rayya pun hendak kembali ke istana nya di timur. "Dari tempat Daniza?" Tanya Rayya, Ahan mengangguk.


"Benar, Putri!" Jawab Ahan.


"Ada?" Tanya Rayya kembali namu dengan sorot mata sedikit tidak suka.


"Dia masih bersama dengan Pangeran, putri!" Jawab Ahan begitu lugasnya


Rayya tidak mejawab, dia kembali melanjutkan langkah nya dan hampir melewati Ahan. "Saya hanya sekedar megecek nya saja, tidak lebih!"


Rayya pun terdiam sejenak, Ahan pun masih memperhatikan punggung ramping milik Rayya, karena dia mulai paham sikap aneh dari tuan putri nya itu.


"Saya tidak bertanya dan tidak ingin tahu!" Seru Rayya acuh seakan memang tidak ingin tahu dan tidak ingin dengar.


"Selamat beristirahat, putri!" Tidak memperpanjang pembicaraan yang ujunng nya dia pun tahu akan ada perdebatan walaupuun kecil. Rayya mebalikkan badan nya kasar, dada nya bergemuruh kala hanya punggung Ahan saja yang terlihat dan semakin jauh dari pandangan.


Ruangan Asnee terasa semakin senyap, ruangan masih terlihat terang benderang dan Asnee pun terilah tengah duduk di sofa tunggal sembari membuka kembali map yang tadi di berikan oleh papa-nya.


"Euuuuaahhhh" Daniza menggeliat panjang, belum sadar dia tengah tidur di sofa dekat dengan Asnee.


Memperhatikan, Asnee masih terlihat tenang dan anteng dengan kesibukan nya.


Mata perlahan terbuka, Daniza memperjelas pandangan nya dan tanpa aba, urat mata pun meregang seakan tengan melihat hal yang menyeramkan.

__ADS_1


"Pangeran?" Daniza terlonjak kaget sampai dia dengan kasar berdiri begitu saja. Dia mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut ruangan sesekali meneguk salivan nya dan mengecek tubuh nya sendiri. Tidak ada yang kurang membuat nya perlahan tenang.


"Tidak ada yang berkurang dari tubuh mu dan saya sama sekali tidak tertarik!" Seru Asnee meluruskan tatapan nya pada Daniza yang masih berdiri dan sedikit tegang. Perangai Daniza tercampur aduk setelah mendengar ucapan dari Asnee yang sepertinya membuat dirinya sedikit tersinggung.


"Maaf Pangeran, saya tertidur di sofa anda dan tidak menyadari keberadaan anda! Besok saya akan membersihkan sofa ini takutnya akan ada virus yang saya bawa di tempat anda. Untuk saat ini saya permisi terlebih dahulu karena pasti putri Rayya sudah kembali dari perkebunan!" Sindiran Daniza tidak tanggung-tanggung, dia nampak sangat kesal namun tidak di perlihatkan.


Asnee pun tidak senang mendengarnya, perkataan Daniza sangat sarkas menurutnya."Tidak perlu!" Seru Asnee.


Daniza kembali membalas sorot tatapan Asnee.


"Bersiaplah besok, kau akan ikut ke acara Upacara Militer dan pastinya kau akan berguna disana!" Tutur Asnee berucap dengan kata yang seakan meremehkan Daniza.


"Baik, Pangeran!"


Walaupun dengan cebikan bibir, Daniza pun menuruti semua perintah majikan nya, setidak suka apapun dirinya padanya.


Kedua insan yang saling sindir itu nampak konyol, Daniza entah lupa atau apa, tapi dia terlihat sedikit berani sekarang, mungkin juga tadinya terbiasa di perlakukan manja oleh Rayya dan juga Ahan, namun sekarang dia bekerja dengan balok es yang sepertinya sangat sulit untuk mencairdan akhirnya bukan di umpamakn dengan balok es lagi, tapi dengan sebongkah batu.


Lain hal nya di Irlandia, Shane yang memang tinggal di sana dan tidak bolak balk dari negra satu ke negara lain nya seperti kedua saudaranya membuat dia mengetahui semua situasi dari segala sisi, terlebih dirinya menyandang gelar sebagai pemimpin tertinggi setelah mommy nya.


"Masih belum mendapat informasi mengenai gadis itu, tapi kita sudah menempatkan mafioso divisi intai di setiap sudut negara ini!" Kenzie dan Lucky yang nampak tak surut oleh usia masih nampak sama namun kerutan di wajah tak luput terlihat.


Shane mengusap kening nya dengan telunjuk sesekali  mengetuk kursi dengan jemari tangan yang lain."Mommy ikut mencari tapi aku khawatir dengan nya! Paman, kerahkan yang lain nya di sekitar mommy dan juga daddy"


"Rabu besok Sean dan Shabila akan ikut mencari informasi begitupun dengan bawahan kak Nara. Aku ingin dia secepat nya di temukan! Sangat merepotkan jika tujuan momm dan mama tidak terpenuhi, mereka akan tidak segan terus mencarinya" Tutur Shane kembali.

__ADS_1


Dia bukan tidak peduli, namun dia lebih peduli pada keselamatan orang-orang nya ketimbang gadis yang sama sekali tidak dia kenal, walaupun atas kemanusiaan namun keputusan Shane kadang kala tidak dapat di rubah walau oleh kedua saudara kembar nya jika sudah bulat.


Islandia, Daniza juga Iswara berasal dari negara itu di mana sangat dekat dengan tempat tinggal Ruby, yaitu di Irladia, petunjuk terakhir mereka berada tidak jauh di dekat pelabuhan dan sekarang titik utama di sana sudah di periksa, bahkan orang-orang di curigai pun sudah di amankan.


__ADS_2