The Future King

The Future King
Eps 96


__ADS_3

Karl bingung, dia yang tengah berdiri menangkap keberadaan Tuan nya di belakang Daniza nampak aneh. Langkah tuan nya semakin cepat kedua mata Karl melihat itu saat dia mengikuti Daniza dari belakang.


Rambut basah begitupun baju. Tunggu! Karl semakin memperjelas tatapan nya.


"Bukan kah jaket itu—"


Belum juga gumam an nya usai, suara tuan nya terdengar sampai di gendang telinga.


"Karl, bukan jas mu!" Pinta Asnee sedikit mengeraskan suara nya.


"Silahkan, Pangeran!" Karl memberikan jas hitam nya dan Asnee pun langsung memberikan pada Daniza.


"Ganti pakai jas ini!"


Daniza tidak menyahut, dia hanya mengambil jas itu dan langsung memakainya setelah membuka jaket.


"Kita akan langsung kembali, atau masih akan di sini?" Tanya Karl memegang pintu mobil yang sudah terbuka.


Asnee terdiam sejenak, sesekali mengalihkan tatapan nya pada Daniza yang tengah mengibas-ibas kan rambut nya di samping lain mobil yang mereka kendarai.


"Di dekat sini ada toko baju wanita, apa perlu saya bawa nona Daniza ke sana? Baju nya masih basah, sepertinya tidak akan kering dakan waktu singkat!" Tutur Karl tanpa mengalihkan pandangan nya dari Asnee.


Asnee mengangguk. "Ini" Black Card dia berikan pada Karl.


Karl hanya terpaku, dia tidak mengambil card itu. "Hanya menghabiskan beberapa lembar uang tunai saja Pangeran. Jadi tidak memerlukan Card seperti ini!" Ujar nya dengan tatapan memelas, menolak dengan halus. Hatinya merasa apakah harus membayar satu stel baju dengan Card seperti ini? Pangeran nya sangat berlebihan pikir nya.


Tentu saja, Black Card memiliki limit transaksi terendah dan untuk belanja satu stel baju pasti tidak bisa, kecuali harga satu stel baju menghabiskan segepok uang tunai, itu baru bisa di gunakan.


"Bawa dia!" Ucap Asnee.


"Baik. Pangeran!"


Asnee kembali ke dalam, dia masih tidak puas dengan jawaban Jane tadi.


"As!" Panggil Robert. Kevin, dia tengah mengintrogasi Jane sedari tadi setelah adik sepupunya itu mengganti baju yang dia bawa sebagai cadangan di mobil.


"Kak Asnee lihat lah, Kak Kevin masih memarahiku sedari tadi!" Jane berlari ke arah Asnee, Mengalungkan tangan nya pada lengan Asnee begitu manja nya.


"Jane, kau itu sudah besar! Jangan terus bertingkah konyol. Kakak tahu pasti kau yang duluan tadi dan dia tidak mungkin membalasnya jika kau tidak keterlaluan!" Kevin merasa Jane masih perlu di didik dengan benar, bibinya

__ADS_1


pasti sangat memanjakan putri nya.


"Siapa bilang ? Banyak kok saksi tadi, kalau kakak ngga percaya tanya saja mereka satu persatu!" Jane masih tidak terima.


Asnee melepas paksa rangkulan Jane. "Jane kau harus tahu jika perempuan yang tadi adalah orang ku, kau tidak berhak membuat masalah dengan nya! Baik. Untuk kali ini aku tidak akan mempermasalahkan apa yang terjadi, tapi jika terulang lagi maka jangan salahkan aku jika menghukum mu!"


"Kenapa semua nya menyalahkan aku?!" Jane marah, dia tidak terima kenapa mereka membela gadis itu.


"Siapa dia? Hanya pelayan saja kenapa harus di perlakukan istimewa. Berlebihan sekali!"


"Jane" Sentak Kevin.


Jane terkejut, tidak biasanya kakak sepupunya itu meninggikan suara. "Sudah. Ok!" Lanjut nya.


"Kev"


Robert mengehentikan pertikaian, dia menghampiri Jane yang sudah berkaca-kaca. Asnee tidak banyak bicara, dia hanya duduk dan mengalihkan tatapan.


"Sudah lama kita tidak berkumpul. Ayolah jangan pada marah-marah!" Rangkul Robert pada pundak Jane.


"Bukan aku yang duluan" Cebik Jane.


"Iya iya sudah. Hari ini kita senang-senang dulu! As, pertandingan kita belum selesai" Kepalan tangan Robert mendorong dada kanan Asnee.


Karl dan Daniza pun telah kembali, baju nya pun sudah dia ganti. Baju overall berwarna coklat tua di paduka dengan kaos rainbow cream putih ketat sehingga terlihat lekukan dadanya nya. Tidak lupa topi berwarna cream pun dia pakai, cuacanya panas, sekalian saja dia beli.


"Mari saya antar ke dalam" Ucap Karl dengan kode tangan nya. Daniza mengangguk patuh saja.


Arena pacuan, nampak Asnee tengah menunggangi kuda di ikuti oleh Robert dan Kevin, sepertinya mereka tengah berlomba. Tidak jauh dari mereka, terlihat Jane pun tengah menunggangi kuda namun bukan di arena lomba.


"Dia Jane Maltiew, adik sepupu dari tuan Kevin!" Ucap Karl karena Daniza seakan tengah mengamati gadis itu dengan seksama.


Senyum Smirk perlahan terlukis dari sudut bibir Daniza namun sangat tipis sehingga Karl tidak akan menyadarinya.


"Anda tidak bertanya?"


Karl heran, Daniza hanya diam saja menatap tanpa bertanya. Entah lah, dirinya tidak mengerti. Dia terbilang ramah, namun tidak terlalu kepo dengan orang-orang sekitar nya.


"Untuk apa, Tuan? Terlalu penasaran dengan seseorang menurut ku tidak baik, hanya cukup tahu saja sudah membuat saya bertanya-tanya, apalagi mengetahui lebih jauh tentangnya!" Tutur Daniza.

__ADS_1


"Kenapa, apa menurut anda saya ini aneh?" Ujar Daniza melembutkan ekspresi nya. Karl yang biasanya tidak banyak bicara, untuk sekarang sangat tertarik dengan gadis di depan nya.


"Anda gadis pertama yang terlihat tidak tertarik dengan kehidupan seseorang! Kehidupan Pangeran saja anda tidak penasaran, apalagi kehidupan mereka terutama nona Jane!" Seru Karl berbicara di belakang Daniza dengan merapatkan kedua tangan nya menggantung.


Daniza menoleh kembali.


"Karena itu lebih baik dan lebih aman untuk gadis seperti saya, Tuan!" Sahut Daniza.


"Hei—"


Atensi dua orang yang tengah bertukar suara menoleh pada asal suara.


Pandangan tidak di perjelas pun mereka tahu siapa yang memanggil. Robert pun nampak menghentikan Jane dengan menahan pundak nya.


"Jane astaga apa yang ingin kau lakukan?" Cegah Robert, namun Jane tetap berjalan lebih dekat pada Daniza.


"Tidak apa, Tuan!" Ucap Daniza.


Jane mengulurkan tangan nya. "Aku minta maaf" Ucap Jane, dia tahu Asnee dan Kevin tengah memperhatikan nya untuk itu dia berinisiatif sendiri. Tidak apa sedikit menurunkan gengsi nya yang penting Asnee tetap menyukai nya.


"Astaga" Robert mengelus dada.


"Minta maaf untuk apa?" Tanya Daniza setelah melepas jabat tangan Jane, tatapan Daniza tidak lepas dia tahu jika Jane tengah berpura-pura meminta maaf.


"Untuk kejadian yang tadi. Aku sungguh minta!" Ucap nya bersungguh-sungguh namun Daniza tetap curiga.


"Tidak masalah" Seru Daniza melukis senyum nya sampai kedua ujung mata mengerut.


"Benarkah?" Senang Jane, dia menarik tangan Daniza dengan kedua tangan nya, kedua kaki nya berjingkrak seperti anak kecil.


"Kalau begitu, temani aku menunggang kuda! Ayo!" Tarik nya pada lengan Daniza.


"Jane kau jangan sembarangan, kau tanya dulu dia bisa atau tidak! Kalau ada apa-apa celaka nanti, ah!" Tegur Robert. Jane menepis tangan Robert kasar.


"Kita hanya main-main saja. Iya kan ?!"


"Oh iya, panggil aku Jane! Siapa nama nu?" Lanjut Jane


"Daniza. Panggil saja Niza!" Ucap Daniza ramah.

__ADS_1


"Ok Niza, ayo kita bermain!" Tarik Jane pada tangan Daniza.


E


__ADS_2