
"Bu, siapa dia?"
Ruby menoleh begitupun dengan Ibu itu. Seorang anak laki-laki yang Ruby pun tahu siapa dia.
"Dia tamu ibu, nak! Kau sudah pulang lagi. Tumben?" Seru Ibu itu menghampiri sang anak lalu membantu membawakan tas gendong sekolah nya.
"Nyonya" Sapa anak itu sopan, Ruby pun membalas sapaan nya.
"Bu, aku dapat jam baru dari kak Wara. Lihatlah!" Anak laki-laki itu pun memperlihatkan jam di tangan nya. Kesenangan tersendiri Ruby lihat dari anak itu, namun tidak lama.
"Mana coba kita lihat" Tiga orang remaja yang baru saja datang dengan paksa membuka jam itu.
"Hahahaha hanya jam murah ini kau bisa begitu senang?!" Ledek nya.
"Kembalikan. Itu punya ak, kak!" Teriak nya dengan mata memerah.
Ruby pamit sedari tadi, dia hanya melihat sikap mereka yang sarkas dari kejauhan.
"Sweety bagaimana? Apakah Iswara baik-baik saja selama tinggal bersama mereka?" Tanya David.
"Aman menurut aku, Dev! Tapi untuk seukuran gadis itu aku sangat salut pada nya"
"Yang aku tangkap dari cerita ibu itu sepertinya Iswara berusaha untuk membayar jasa mereka terutama pada Ibu itu"
"Ibu itu membawa Iswara ke rumah hanya karena memberi nya makanan saat di perkebunan tempat dirinya kerja"
"Iswara mengatakan jika dirinya tidak memiliki keluarga dan akhir nya tinggal bersama ibu itu"
"Tapi anak-anak ibu itu sangat suka foya-foya dan mempunyai utang. Tidak ada yang berbesa, mereka semua sama kecuali anak kecil tadi"
Ruby menjelaskan semua cerita yang dia tangkap.
"Dan aku melihat gambar sebuah kalung di depan pintu. Sepertinya kamar itu di tempati Iswara!" Lanjut nya menceritakan.
Edward dan David mendengar dengan seksama.
"Boy, kau masih di Kasino?" Edward berbicara di balik Earphone nya. Ruby dan David memutuskan untuk membawa hari ini juga Iswara ke mansion.
"Masih, dad!" Jawab Sean.
"Bawa gadis itu ke mansion! Paksa jika pun dia menolak" Ucap Edward.
Sean sengaja mengaktifkan pengeras suara agar Shane san Shabila mendengar nya.
"Aku yang tangani" Shabila turun dari kursi duduk nya, lurus pada Iswara yang tengah melayani beberapa klien, namun sayang baru dua langkah, tontonan menarik terjadi kembali.
__ADS_1
Prang
Duagh
Sepertinya nampan itu sudah di khususkan untuk Iswara, nyata nya nampan itu adalah nampan yang sama yang digunakan untuk memukul klien yang berniat melecehkan Iswara.
"Ow ow—"
Shane langsung berdiri, Shabila pun menarik adik kembar nya itu semakin dekat dengan kegaduhan dan seperti biasa, Sean duduk diam namun sedikit smirk terbit dari sudut bibir nya.
Klien yang satu ini malah semangat dengan pukulan Iswara, terlihat beberapa bodyguard dari pria itu mendekat.
"Berani sekali perempuan hina seperti mu melakukan ini!" Pria itu menarik rambut Iswara yang langsung terurai menutupi pundak.
"Arghhhh" Ringis Iswara. "Hahaha pukulan itu belum seberapa dan kau pantas mendapatkan nya. Sialan!" Tukas Iswara, menekan tangan pria itu mencoba untuk melepas.
"Brengsek. Katakan sekali lagi!" Geram pria itu semakin menekan rambt nya.
"Haha, ternyata kau tuli!" Dengan berani, Iswara tertawa sinis.
"Keparat" Rambut Iswara di guncang, ringisan pun terdengar memekik.
"Beri dia pelajaran!"
Badan Iswara terhempas tepat di kaki bodyguard pria itu.
Shane begitupun Shabila hendak menolong Iswara, namun pergerakan mereka terhenti kala suara Sean menerobos masuk telinga mereka yang ada di dalam Kasino.
"Kau lebih suka jarinya dari pada nyawa? Saya sendiri lebih suka nyawa orang tak berguna seperti dirimu. Tuan!"
Sean tanpa terlihat pergerakan nya kini sudah berada di belakang pria tadi dan senjata api kesayangan nya sudah menekan di bawah dagunya.
"Berani sekali kau memerintahkan bawahan bodoh mu memotong jari orang kami!"
Brrrrrrr
Suara Sean saat sedang mode badas, Shane dan Shabila kadang begidik ngeri apalagi pria itu yang sekarang telah di dalam rantaian tangan Sean.
Iswara pun dibantu Shabila berdiri, Shane ikut merangkul.
"Ayo" Ucap Shabila.
Ketegangan terjadi, tidak ada yang beranjak dari tempat mereka.
"Hey, kau jangan berlebihan! Lagi pula dia hanya pelayan saja di sini dan namanya juga pelayan, itu berarti semua pengunjung di sini bebeas melakukan apapun"
__ADS_1
Ucap seorang pria di meja tengah. Tatapan tajam Sean menelisik orang tersebut.
Desisan dari bibir Shabila, dia bergumam tidam enak hati. "Astaga. Seharus nya kau diam paman!" Sembari berjalan, Shabila merasa orang-orang itu tidak akan beruntung jika sudah berhadapan dengan Sean.
"Perlu di beritahu dulu, apa?!" Timpal Shane.
Mereka berdua masih membantu Iswara berjalan. Iswara yang mendengar ucapan mereka nampak penasaran, memang nya akan ada apa setelah ini.
Kesadaran nya menurun, Iswara mulai berjalan lemas dan akhirnya ambruk di pangkuan si kembar.
"Badan nya panas, Shan!" Kaget Shabila. Dia baru sadar badan Iswara panas, dia pikir panas tubuhnya itu karena efek dari bertengkar, tapi sepertinya bukan.
Tatapan banyak rencana dari mata si kembar itu mencurigakan.
"Yes, kita kan jadinya engga perlu maksa dia ikut ke mansion. hahaha!" Tawa Shabila.
"Beruntung sekali kita. Sha!" Kedua alis naik turun, Shane tertawa lebar.
Sean masih sibuk dengan orang-orang tak berempati seperti mereka.
"Tuan tuan, tunggu!" Gavin tergopoh, keadaan kasino sudah mencekam. Keberanian Sean membuat nya ketar-ketir, dia takut pngunjung kasino tidak akan pernah kembali lagi.
Sean menghempaskan pria itu sangat keras sehingga dua orang di depan nya pun ikut terdorong.
Mata Elang Sean mengabaikan keberadaan Gavin dan malah menuju pada pria yang sedari tadi bicara tanpa di saring.
"Kenapa? Apakah anda menginginkan tubuh nya juga?"
"Tch tch tch sangat di sayangkan pria seperti mu berkata seperti tadi! Seharus nya anda berpikir sebelum mengatakan hal menjijikan itu dan pikirkan bagaimana cara kau menyelamatkan putri mu dari perdagangan yang kau lakukan!" Sinis Sean.
Tentu saja, Sean tahu siapa orang-orang di sana. Jika perlu, sepertinya Sean pun tahu rahasia mereka saking senggang nya dirinya.
"Siapa kau sebenarnya?" Gema suara pria itu menjadikan semua orang mengundang tanya dan penasaran.
"Sean Lucifer" Bisik Sean di telinga pria itu.
Deug
Tubuh membeku, sel darah berhenti mengalir, lutut lemas dan dia pun ambruk di kaki Sean.
"Hey hey hey. Apa yang kau lakukan?" Ujar pria yang hendak melecehkan Iswara tadi. Dia menunjuk kasar walaupun sudah Sean hempaskan tubuh nya.
"Tuan, tuan, kita bicarakan ini baik-baik!" Gavin menenangkan pria cabul itu.
Sean menatap dingin. "Dahulukan otak dari pada mulut mu itu!"
__ADS_1
Tidak ada tanggapan lebih lanjut, Sean berlalu pergi keninggalkan kerumunan orang-orang di kasino dan ternyata menjadi daya tarik tersendiri.