The Future King

The Future King
Eps 171


__ADS_3

"Raja"


Salam hormat Daniza, sesaat setelah di jemput oleh Asnee dan juga yang lain nya.


Aaron membalikkan badan nya di dalam ruang kerja.


"Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Aaron namun mereka tidak duduk sama sekali.


Ulasan senyum terpatri sopan. "Saya baik-baik saja. Raja!" Sahut Daniza. Asnee berdiri di samping dengan telapak tangan berada di pinggang belakang Daniza.


Sorot mata Aaron menatap putra dan calon menantunya. "Terimakasih sudah tetap berada di sampingnya!" Ucap Aaron.


"Pah" Tukas Asnee. Daniza mengusap lengan Asnee lembut.


Aaron kembali tersenyum dengan sikap Daniza dan sekarang dia semakin yakin jika gadis di samping putra nya adalah jodoh yang di kirim semesta.


"Kalau begitu kembali istirahatlah dan pelayan akan menjemput kalian untuk makan malam nanti!" Seru Aaron.


Tidak menyahuti apapun lagi, Niza dan juga Asnee pun pergi.


"As" Panggil Kevin, Robert pun ada di sana. Ternyata mereka belum pergi dan nampak Karl juga Bian ada di sekitar mereka.


Daniza menyapa dengan gerakan kepala nya, gandengan pada lengan Asnee tidak dia lepas sama sekali dan hal itu menjadi salah satu perhatian mereka.


"Thanks and sorry, kalian kembali terlibat dengan masalah di sini—"


Belum Asnee selesai bicara, Kevin menepuk pundak nya.


"Kita teman dan sudah seharus nya juga seorang calon abdi negara membantu keluarga kerajaan!" Ucap Kevin.


"Benar, As! Kau sungkan terus, kita asing kalau kau bersikap kaya begini!" Celetuk Robert.


Mereka tertawa kecil dengan gurauan Robert, begitupun dengan Daniza, Ajudan Bian dan Karl di sana.


...**...


Percikan air terdengar jelas, kucuran menimpa benda pun beruntun terdengar. Asnee tengah membersihkan dirinya sekarang.


'Huffhh'


Di kamar tepatnya di samping ranjang, Daniza duduk dengan baju ganti Asnee di pahanya.


"Apakah semua nya sudah berakhir?" Gumam Daniza seraya menatap pintu kamar mandi, kening nya sesekali mengkerut.


Beranjak berdiri dan meletakan baju ganti Asnee ke atas tempat tidur dan dirinya duduk di sofa hendak mengupas buah apel untuk dia santap.

__ADS_1


Klekk


Asnee pun ke luar, handuk grey nya melilit di pinggang dan membiarkan tubuh atletis nya terekspos.


Sembari melangkah ke arah tempat tidur, Asnee memperhatikan Daniza dengan senyum tipis di kedua sudut bibir nya. Sepertinya Daniza tidak sadar akan dirinya yang sudah selesai mandi.


"Apakah tuan putri ku begitu kelaparan?"


"Arghh"


Bisikan Asnee di belakang telinga Daniza membuat nya menjerit kaget. Sigap, Asnee mengambil alih pisau kecil itu karena hampir mengiris telunjuk Daniza.


"Kau—"


Niza menengadahkan kepala nya, Wajah Asnee berada di atas dan sekarang mereka saling tatap begitu dekat.


Cup


Kecupan singkat pada bibir Niza membuat dirinya membeku. Asnee si pelaku malah berjalan memutari sofa dan kini duduk mepet di samping Daniza.


"Lehermu akan sakit jika terus dalam posisi seperti ini!" Asnee membenarkan kepala Daniza dengan lembut sesekali mengusap pelipis dan rahang Niza oleh ibu jari.


Niza belum bereaksi, dia masih kaget, otak nya Blank akan sikap Asnee yang semakin lembut.


Manik mata Daniza mengarah pada kening Asnee, Asnee pun memperhatikan.


Mata terpejam, Asnee merasakan usapan lembut dari telapak jari Daniza dan rasanya sangat nyaman.


"Semua nya sudah berakhir dan aku tetap berada di samping mu. Apa itu sepadan?"


Kedua mata Asnee seketika terbuka. "Apa yang kau maksud sepadan. Niza?!" Kedua alis Asnee kembali hampir menaut.


Niza mengulas senyum. "Sepadan dengan posisi yang harus aku tempati nanti, apakah pantas, apakah tidak! Bagaimanapun aku akan tetap di samping mu, walaupun jika suatu saat kau membuang ku, aku akan berusaha untuk tetap berada di posisi ku!"


"Pria sedekat ini dengan ku, itu berarti dia milik ku!"


Seru Daniza. Dia seakan-akan lupa dengan ketakutan nya beberapa bulan lalu dan juga kebimbangan nya. Dia memutuskan bersama dengan Pria dengan luka hati yang belum sembuh, tapi sekarang setelah melalui banyak peristiwa, dia yakin memantapkan hati nya pada Asnee.


'Huffhh'


Seperti mengaduh pada sang ibu, Asnee memeluk Daniza dengan meletakan kepalanya di pundak sang gadis.


"Kau juga milik ku!" Seru Asnee memejamkan mata nya kembali. Daniza mengelus lembut kepala Asnee seperti tengah menenangkan.


"Dan maaf! Nyawa mu kembali terancam setelah berada di samping ku!" Tutur Asnee mengeratkan pelukan nya.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku tahu kau akan datang menolong ku!" Ucap Daniza. Matanya sudah berembun, dia ingin sekali menangis namun sebelum air mata nya jatuh dia sudah lebih awal menyeka nya.


"Bagaimana jika aku tidak datang?" Ucap Asnee.


Daniza diam sejenak, tidak langsung menjawab. "Tidak. Aku yakin kau akan datang!" Yakin Daniza.


"Kau terlalu percaya diri"


Asnee menarik tubuh nya dan kini menatap wajah Daniza yang tengah mengulas senyum dengan tatapan mata yang begitu menyejukkan.


"Karena aku milik mu!"


Kedua tangan Daniza menyentuh pipi Asnee sesekali dia guncang. Senyum Asnee semakin melebar dan kerutan di samping mata semakin terlihat saking lebar nya.


"Bagaimana dengan Simon?" Celetuk Asnee saat dia kembali jatuh ke pelukan Niza.


"Ada apa dengan dia?" Daniza mungkin sedikit tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Asnee. Kembali pelukan mereka terlepas.


"Ssshh langsung saja, jangan mengkode aku dengan pertanyaan seperti itu! Aku tidak mengerti!" Ujar Daniza.


"Kalian begitu dekat. Kadang terlihat seperti sepasang suami istri, terkadang seperti seorang kekasih kadang pula seperti ayah dan putri nya dan kadang pula seperti atasan dan majikan. Di lain hari terkadang kalian seperti seorang sahabat kadang pula seperti adik dan kakak! Niza, apa kalian sedekat itu?"


Seru Asnee nampak begitu cerewet hari ini.


"Eum—!" Niza mengangguk. Tangan Asnee mengelus Pipi dan rahang Daniza dalam posisi duduk berhadapan nya.


"Simon segala nya untuk ku. Dia tidak akan ada penggantinya terlepas dia siapa dan apa hubungan nya! Dia tempat aku untuk pulang baik setelah papa dan mama pergi maupun untuk ke depan nya!" Tutur Daniza, suara nya perlahan terdengar berat, air mata pun perlahan menggenang.


Telapak tangan Asnee tidak lepas dari pipi Daniza. "Lalu sekarang? Ada aku di samping mu!" Tukas Asnee. Niza semakin menatap lurus mata Asnee.


"Seperti yang kau katakan tadi."


"Keberadaan Simon berbeda dengan mu! Kau masih ada keluarga bahkan keluarga angkat. Lalu aku? Aku hanya punya Simon di dunia ini!"


"Dan Iswara, mereka keluarga aku yang masih ada dan mungkin di tambah Ahan di samping Wara!" Niza menatap dalam mata Asnee..


Seraya mengusap dahi Niza, Asnee mengangguk mengerti."Jadi ini alasan nya sedari kemarin kau terus menginginkan Simon kembali?" Seru Asnee.


"Eum!" Angguk Niza.


'Heeeuu'


Asnee menarik Niza ke dalam pelukan nya. "Kau sudah sangat menderita" Ucap Asnee. Niza mengeratkan pelukan nya.


"Tenanglah! Sekarang ada aku. Ada kami!" Tutur Asnee.

__ADS_1


...***...


__ADS_2