The Future King

The Future King
Eps 60


__ADS_3

Beberapa hari menjalani aktifitas, begitupun hubungan Asnee dan juga Yaya tidak seperti pertama kembali. Luke, dia terus membuntuti Yaya kemanapun pergi terkecuali saat di asrama.


"Karl, cari tahu tentang keluarga Lukyanova di Thailand! Berkas nya segera kirim" Titah Asnee dari balik telpon nya. Karl tentu langsung bertindak atas apa yang di perintahkan.


Menjelang malam, Asnee kembali terdiam di ambang jendela asrama nya. Tiada hari selain di asrama, dia dan kedua teman nya tentu sangat mematuhi peraturan namun hanya dia yang jarang sekali ikut main ke luar di saat libur sekolah.


"Hey lihat apa yang kita bawa untuk mu!" Seru Kevin, meletakkan satu box bertuliskan Pizza di atas nya dan satu kap minuman yang sepertinya masih hangat, karena ada sedikit kepulan asap ke luar dari sana.


Tentu dengan senang hati Asnee duduk dan meraih apa yang ke dua teman nya bawa. "Masih hangat! Kalian membeli nya di mana?" Tanya Asnee seraya membuka box sesekali melirik kedua teman nya bergantian.


"Aku rasa tidak mungkin penjual Pizza berada dekat dengan Asrama. Kan!" Sembari melahap, Asnee masih saja bercakap karena memang itu tidak mungkin, karena apa, karena letak Asrama mereka jauh dari penjual Pizza.


Semburat senyum lebar terpatri dari ke dua sudut bibir nya."Ya memang siapa yang mengatakan jika ada penjual Pizza di sekitar asrama? Jangan salah paham, As! Itu yang membuat nya salah satu penjual di kantin Asrama"


"Tadi kami habis dari sana dan ternyata untuk seminggu ke depan akan ada makanan luar yang di buat dan di jadikan cemilan di Asrama"


Penjelasan Robert menghentikan kunyahan Asnee."Begitu kah?" Sahut Asnee heran.


Memang sangat aneh karena selama dia berada di Asrama hanya makanan sehat yang di sajikan dan sekarang mau kelulusan malah ada makanan luar yang di buat.


"Tidak tahu lah! Ya kalau ada kita makan saja. Iya kan Vin?!" Ujar Robert.


"Iya As! Kau ini apa-apa selalu curiga, selalu aneh! Kalau gini bukan adanya Pizza yang aneh, tapi kau yang aneh!" Kevin menyeru, dia tidak habis pikir dengan otak teman nya itu. Cerdas boleh tapi jangan polos juga.


...**...


"Sakit, Luke!" Ringisan Yaya terdengar menyakitkan. Kedua pipi Yaya di cengkram kuat. Sorot mata Luke tak dapat di gambarkan, dia seolah-olah tengah di kuasai oleh hasrat memiliki.

__ADS_1


"Aku sudah bersabar dengan sikap mu, aku pun tidak mempermasalahkan kedekatan mu dengan si Asnee itu! Tapi sekarang sabar ku sudah habis"


"Dengar Lukya! Jika aku memberitahu apa yang terjadi di antara kita pada Asnee, kau tahu apa yang akan terjadi.Bukan?!" Luke dengan kasar dan emosi mengancam Yaya.


Tubuh gadis itu bergetar hebat, nafas pun tercekat-cekat karena ancaman hebat dari Luke.


Sebenarnya entah apa yang terjadi, tapi sepertinya Yaya menyembunyikan sesuatu yang mengerikan di dalam nya.


"Kau berani? Silahkan! Silahkan jika memang kau berani mengatakan nya!"


"Dengar Luke, di sini kita saling menguntungkan! Apa yang kita buat sudah di perjelas dalam perjanjian! Tidak ada yang akan ada di rugikan di sini"


"Kau mendapat sesuatu yang kau inginkan dan aku pun begitu! Jadi bukan kah jika aku hancur maka kau juga akan ikut hancur?"


"Aku tidak peduli siap kau, mau itu keluarga bangsawan maupun keluarga pengusaha terpandang! Aku tidak takut sama sekali, karena aku pun memiliki bukti yang akan menghancurkan mu kelak"


Ancaman dari Yaya pun tidak tanggung-tanggung, cengkraman dari tangan Luke pun perlahan melonggar dan Yaya tentu segera melepaskan diri dari pria itu.


...**...


Sementara itu di istana sudah pagi hari, setiap enam bulan sekali akan ada perekrutan untuk pelayan di istana dan hari ini adalah waktu nya.


Rayya yang tidak diperbolehkan lagi kembali ke Asrama terpaksa tinggal. Ya, ada bodyguard khusus yang di tempatkan di sisi Rayya sekaligus sebagai asisten dan sekretaris nya, karena Raya mulai terjun ke perusahaan bersama dengan ayah nya.


"Putri, semua nya sudah siap" Lapor pria muda bertubuh proporsional, dengan rambut di sugar rapih di bagian kiri nya dan di bagian kanan di biarkan rambut nya menutupi kening.


Setelah kedatangan pria itu, semua penghuni istana menyangka jika dia adalah calon dari putri mereka, tapi ternyata dugaan mereka salah.

__ADS_1


Hanya sebagai majikan dan bawahan, tapi jika orang yang pandai melihat akan mengatakan jika mereka sangat serasi dari setiap sudut.


Raya menatap kilas pria itu dengan bulu mata yang memang sangatlah cantik."Baik lah! Kau cek semua keperluan yang akan di berikan pada calon pelayan istana, tidak ada kekurangan dan kesalahan sedikit pun" Ucapan Rayya tentu terdengar seperti perintah bagi nya. Tidak tinggal diam, pria itu pun kembali ke luar.


"Tidak ada pertanyaan?" Bingung Rayya, dia dari awal bekerja sama sekali tidak banyak bicara. Apa yang di katakan Rayya tidak ada yang tidak dia mengerti, sekalipun perintah Rayya tidak jelas. "Paman Lexi mendapatkan pria itu dari mana" Rayya tentu bingung.


Pernah malam itu dia mencoba mencari tahu identitas dari bodyguard baru nya, tapi sayang, sama sekali tidak ada informasi mengenainya, seakan-akan dia hidup tanpa identitas.


Ada sekiranya lima puluh calon pekerja untuk istana, dua puluh lima laki-laki dan dua puluh lima untuk perempuan.


Perekrutan kali ini menjadi tanggung jawab Rayya, sesuai perintah dari Aaron.


Biasa nya akan ada Pensri dan juga Mali, namun mereka terutama Mali sudah bukan lagi bagian dari istana. Aat menggugat cerai istri nya itu dengan alasan yang sangat memalukan bagi kerajaan.


Keadaan Aat masih belum membaik, Pim pun di kirim ke asrama khusus di luar kota.


"Rayya kau sudah mempersiapkan semua nya? Maaf, paman tidak bisa membantu untuk perekrutan tahun ini!" Kebetulan Aat terlihat di sekitar perekrutan, sepertinya tengah memantau acara. Rayya yang baru saja datang hanya memberikan sapaan manis untuk paman tercinta.


"Apa keponakan cantik mu ini sangat tidak bisa di andalkan. Paman?!" Rayya malah menggoda sang Paman dengan manja nya, tidak malu dengan orang-orang yang sudah berbaris rapih tidak jauh di hadapan mereka.


"Kau ini bisa saja, ya! Baik lah paman ada urusan di luar, mungkin beberapa hari ini tidak akan pulang dan tidak akan membantu mu!" Menepuk sekali pundak dari Rayya dan kemudian Aat pun berlalu pergi.


Rayya tahu keadaan paman nya dan dia tahu bagaimana hari yang di lewati nya, untuk itu dia harus bisa menyeimbangkan keadaan istana sebelum semua nya kembali normal seperti semula.


Tidak jauh dari pandangan, di antara mereka ada satu gadis yang tatapan nya tidak biasa. Dari sudut mata, dia menelaah sekitar dengan apik nya. Rambut di belah dua dikepang rapih serta bola mata yang sepertinya memakai lensa berwarna brown, dagu pun tipis-tipis terbelah dan yang bisa mengenali pasti akan kaget.


Ya, dia Daniza Evelyn yang tengah mengikuti seleksi sebagai pelayan di istana. Dia pun tidak menyangka akan sampai di istana, dia pikir akan di jadikan budak di rumah-rumah para makelar dan petinggi jahat.

__ADS_1


Tapi dia tidak berpikir ini adalah keberuntungan, karena dia tahu proses hidup nya pasti tidak akan mudah.


"Wara, mari berusaha untuk bertahan" Gumam nya dalam hati. Tanpa dia sadari, Rayya yang tengah duduk di depan meja pendataan terus memperhatikan Daniza dengan tatapan yang tidak biasa.


__ADS_2