
Malam semakin larut, Daniza bergumam tiada henti. Air mata mengalir dari sudut matanya seraya mengguncang tubuh, mulut nya memanggil keluarga nya terutama sang Paman.
'Paman'
'Hikss Hikss Paman'
Daniza semakin menangis keras, di bawah alam sadar nya melihat sang paman tanpa kedua bola mata namun ada air mata yang mengalir membasahi pipi.
Tubuh Daniza luruh, bergetar dan kelu. Paman Endra berdiri namun hanya menangis, bibir nya kecut dan pucat.
'Hiks Hiks Hikss Paman'
Daniza terus memanggil sang Paman dengan tangis nya. Asnee yang baru saja kembali kaget dan segera melangkah cepat menghampiri.
"Niza"
"Niza bangun"
Asnee duduk di tepi ranjang, menepuk pelan pipi Daniza dengan segenap kekhawatiran nya.
"Niza bangun"
Asnee semakin gencar membangunkan Daniza yang terus mengigau. "Sayang bangun" Reflek, Asnee memanggil Daniza dengan sebutan lembut begitu mudahnya. Nampak sekali raut kekhawatiran dari kening Asnee.
'Paman'
Suara teriakan dan akhirnya Daniza membuka lebar mata nya, bulu mata nya basah begitupun pipinya di mana Asnee terus menyeka.
Mereka terdiam, Asnee pun hanya menatap dalam mata Daniza.
Daniza bangun dan duduk, dengan cepat memeluk Asnee dengan erat. Hanya isak pelan saja yang kini terdengar, Daniza pun semakin tenang di pelukan Asnee.
Asnee pun membalas pelukan Daniza, malah semakin menarik tubuh ramping itu menempel pada tubuh nya.
"Tenang, tenangkan dirimu!" Seru Asnee mengusap punggung, sesekali belakang kepala Daniza.
'Hiks'
Daniza masih terisak pelan, Asnee pun merasakan jika baju nya basah.
"Istirahatlah kembali, saya akan menemani mu di sini!" Asnee melepas pelukan, menatap wajah Daniza semakin lekat.
"Mau minum?" Asnee menawarkan dengan begitu lembut, Daniza tidak pernah melihat Pangeran Asnee memperlihatkan kelembutan nya seperti sekarang.
Daniza mengangguk, Asnee pun bergeser, meraih gelas yang ada di atas nakas samping ranjang.
"Ini" Asnee pun membantu Daniza menahan gelas. Setelah beberapa tegukan, Daniza pun kembali berbaring, menggenggam lengan Asnee tanpa berniat melepaskan.
"Sini"
Asnee dengan penuh naik ke atas ranjang, duduk selonjoran dengan punggung menyandar di dinding.
Daniza masih menatap lekat dengan genangan air di pelupuk mata nya.
"Kemarilah!" Seru Asnee menarik lembut tangan Daniza dan akhirnya dia tidur dengan posisi di peluk.
Tidak ada lagi suara, Daniza menutup kembali mata nya perlahan. Asnee pun menepuk lengan Niza seraya memeluk nya.
Pandangan Asnee lurus ke sekitar jendela di mana gorden tipis nya berayun terkena angin.
...**...
__ADS_1
Sedangkan di Istana Timur, di mana di sana pun kediaman Ahan berada.
Ahan nampak masih tersadar dan yang tertidur malah Rayya. Posisi nya berbalik, kini Rayya yang berada di pelukan Ahan dengan kepala menempel di dada bidang miliknya.
Tubuh nya semakin panas dan luka di pinggang belakang nya semakin perih. Ahan mencoba menidurkan Rayya perlahan agar tidak terbangun.
Saking lelap nya, Rayya tidak terganggu dan dirinya pun perlahan turun dari tempat tidur.
"Aaahhh" Lengan yang berotot itu menahan ke ujung kursi kayu dan urat di lengan pun semakin terlihat.
Ahan pun melepas kimono nya hati-hati dan ternyata darah sudah merembes, dia berbalik memeriksa ranjang itu dengan kedua mata menyelidik dan benar saja darah segar menodai spray.
"Sssh"
Desisan itu menandakan memang luka nya semakin perih. Luka sayat itu panjang, darah menghitam di area sayatan. Ahan kembali masuk ke kemar mandi seraya membawa kotak obat dengan langkah pelan.
kucuran air semakin terdengar kencang, mungkin pintu kamar mandi di biarkan terbuka, menjadikan suara yang ada di dalam terdengar. Rayya pun terganggu dengan suara itu.
Rayya perlahan beranjak dari kasur, dia tidak langsung ke kamar mandi, dia membalikkan badan nya dan sorot mata pun menajam kala mendapati darah segar begitu banyak menodai spray.
"Apa ini?" Bibir pun kelu. Rayya cepat ke arah kamar mandi, dia membuka perlahan dan mengintip.
Bola mata semakin membulat kala di lantai kamar mandi banyak sekali tetesan darah dan dia baru sadar. Kini kepala nya kembali menoleh pada ranjang sampai kamar mandi ternyata banyak darah berlumur di atas nya.
"Arrghhh" Suara erang begitu dalam namun sedikit tertahan di tenggorokan semakin membuat Rayya membuka pintu lebar.
Ahan tengah berusaha membersihkan luka di sepanjang pinggang yang di mana darah nya terus mengalir. Ahan terus menumpahkan banyak air alkohol pada luka nya dan mengelap dengan kain.
Rayya yang melihatnya pun begitu ngeri, Dirinya seperti melihat penjahat yang tengah berusaha menyembuhkan luka nya sendiri seperti di film-film yang dia tonton.
Jemari Rayya bergetar, dia menghampiri Ahan dengan langkah senyap. Ahan belum sadar dengan kedatangan Rayya walau kaca besar tertempel di depan nya. Ahan tengah berusaha menggapai lukanya sehingga tidak fokus akan kedatangan seseorang.
Rasa dingin menjalar ke setiap sudut tubuh, jemari lentik menyentuh kulit nya dengan sopan. Ahan membuka mata, menatap Rayya dari pantulan kaca, dia pun terdiam saat melihat Rayya tengah fokus menyentuh luka di tubuh nya dan bekas luka lama yang sudah mengering.
Ahan merasa jari jemari Rayya sedikit bergetar.
" Anda tidak takut, atau merasa jijik?" Seru Ahan bertanya namun Rayya tidak bergeming dan masih melihat setiap inchi punggung yang penuh dengan luka.
Hening sesaat. "Lukanya harus di jahit" Ucap Rayya dengan tidak menatap mata Ahan. Mata Ahan mengikuti setiap gerak Rayya tanpa kembali berbicara.
Rayya hendak mempersiapkan jarum dan benang, tangan nya pun sudah di baluti dengan sarung tangan. Ahan hanya memperhatikan wajah Rayya yang perlahan memucat.
"Saya bisa sendiri" Ahan hendak mengambil alih namun Rayya menepis nya dan dengan cepat kembali ke belakang punggung Ahan.
"Tahan lah, ini akan menyakitkan. Tidak ada obat bius untuk mengebaskan nya!"
Ahan terdiam, dia merasa jika Rayya mengerti tentang pengobatan.
Di ujung wastafel panjang, Ahan menahan ke sana dengan erat, dia mengerang kesakitan namun kembali menahan agar tidak berisik.
Celana pendek ketat yang di pakai Ahan kini sudah berlumuran darah dan jika di peras kemungkinan besar akan mengalir darah kental dari sari-sari kain.
Tubuh Ahan atletis, otot-otot nya keras dan urat pun menonjol. Untuk perut nya pun berotot sampai-sampai lemak pun sepertinya akan merasa malu untuk berlindung di sana.
Rayya sedikit kesusahan karena dia menjahit luka dalam posisi berdiri, namun terus di coba sampai akhir nya selesai.
Ujung benang di gunting dan terlihat lumayan rapih untuk seukuran orang yang tidak berprofesi seorang dokter.
"Selesai" Ucap Rayya. Ahan tidak bergerak, semua persendian nya lemah, otot nya pun demikian.
Brukk
__ADS_1
Saking sakit nya, Ahan terkapar lemah di atas lantai. Rayya menanggapi dengan tenang, dia membasuh tangan nya dahulu yang penuh dengan darah dan kembali ke luar hendak membawa handuk dan menyiapkan pakaian ganti untuk Ahan.
"Ayo berdiri perlahan!" Seru Rayya sesaat setelah menyiapkan baju dan kini handuk dia gantung di belakang pintu kamar mandi.
Ahan pun berusaha berdiri, kepala nya terasa pusing hebat, telinga berdenging dan mata kunang-kunang. Sama seperti sebelum nya, namun untuk kali ini ada seseorang yang mengurus luka nya dengan begitu cekatan.
Rayya mengisi bathtub sampai penuh dengan air dingin dan kemudian membantu Ahan masuk ke sana.
Air pun seketika berubah menjadi warna merah kental, Rayya pun kembali membuang air itu. Tiga kali membuang air darah itu dan kini air bening itu tidak berubah warna karena mungkin sudah bersih.
Rayya dengan cekatan memeriksa luka-luka yang lain agar tidak kembali terbuka, Pun membantu Ahan memakai sabun agar tidak tercium bau amis.
Ahan hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan Rayya, kedua manik matanya terus menatap wajah yang begitu tenang namun nampak pucat.
Sampai di mana Rayya pun yang memakaikan baju pada Ahan tanpa segan dan tanpa malu, ****** ***** pun Rayya yang menyiapkan nya.
Ahan tidak bergeming, sampai di mana semua nya selesai.
"Istirahatlah!" Ucap Rayya menyelimuti Ahan dengan baik.
"Saya kembali dulu, jika ada apa-apa hubungi saya saja. Tidak apa!"
Dengan terus merasa tenang, Rayya mengatakan hal itu, namun sebenarnya dia ingin sekali menangis. Tubuh nya pun sebenarnya bergetar namun dirinya menahan dengan baik.
"Baby" Suara Ahan parau, dia menahan tangan Rayya yang hendak pergi.
Kembali Rayya mendengar panggilan lembut itu. Air mata yang dia tahan akhirnya berhamburan ke luar.
'Hiks'
'Hiks'
'Hiks'
Raya terisak tanpa ingin membalikkan badan nya. Ahan masih memegang tangan Rayya yang di mana dia masih berdiri membelakangi dirinya.
"Ada baju tidur di dalam lemari, gantilah dahulu!" Ucap Ahan mengusap tangan Rayya yang masih di pegang dengan ibu jarinya.
Rayya akhirnya membalikkan badan, menyeka air mata dan duduk di ujung ranjang tanpa menepis pegangan tangan Ahan.
"Tidak perlu, saya akan menyuruh pelayan untuk membawakan baju ke sini, sekalian membersihkan kamar mu!" Tutur Rayya, air mata nya menggenang.
Ahan menarik Rayya, memeluk nya dengan erat dan lembut. sudut bibir Rayya berkedut dan akhirnya mengulas senyum walau keadaan nya masih shock.
"Thank, baby!" Bisik Ahan di telinga Rayya. Rayya pun semakin erat memeluk Ahan dengan senyum terulas lebar.
Nampak Rayya ke luar kamar Ahan dan memerintahkan pelayan untuk membawa baju dan juga pelayan bagian bersih-bersih untuk datang.
Sekitar lima menit, mereka pun datang dengan alat pembersih ruangan.
Rayya dan Ahan duduk di atas kasur, namun dua pelayan itu mematung di tempat, mengeratkan pegangan mereka pada alat pembersih kala melihat banyak sekali darah di atas lantai.
Siapa yang tidak akan shock melihat kondisi seperti itu, jika yang tidak kuat melihat darah pastinya akan langsung tidak sadarkan diri.
"Satu di sini dan satu di kamar mandi" Titah Rayya langsung dilaksanakan oleh mereka.
Tidak lama dari kedatangan dua pelayan itu, kembali datang dua pelayan membawa baju ganti untuk tuan putri mereka. Mereka berdua pun shock, mematung di tempat saat melihat darah yang berceceran di atas lantai.
"Letakan di atas meja" Ucap Rayya dan mereka pun langsung menaruh baju itu di atas meja dan segera kembali dengan cepat.
Otak pelayan-pelayan itu melanglang buana, menduga-duga apa yang terjadi sampai banyak darah di dalam kamar.
__ADS_1