
Byuurrr !
Byurrr!!
Seember air dalam wadah hitam di siram berkali-kali pada dua supir itu, tidak tanggung, air itu bukanlah air tawar tapi air yang sudah di campur dengan garam.
"Arrrgghh"
Jeritan dan ringisan seketika terdengar memekik, tentu saja, luka mereka terkena cairan seperti itu akan sangat cepat terasa sakit.
"Aarrgggh"
Ringisan terus terdengar mengerikan, namun Rayya dan Ruby santai dengan menyilangkan kaki kanan berada di atas kaki kiri. Rambut terurai menggantung dengan tatapan tajam lurus ke arah dua supir yang masih meringis kesakitan.
"Stop!" Tekan Rayya sampai Ruby yang berada di sebelahnya pun langsung tertarik.
"Berapa bayaran yang kalian terima, heum?"
"Aisshh Aarrghhh" Ringisan menyakitkan, bulu kuduk pun merinding. Ruby yang masih terduduk pun sangat tertarik dengan tontonan di depan nya.
Seorang putri kerajaan yang lemah lembut, ternyata bisa keras dan sadis seperti sekarang.
"Rayya" Tahan Ruby saat Rayya menekan luka-luka di tubuh dua supir itu. Darah ke luar banyak, sangat bau anyir namun menyegarkan mata Rayya. "Rayya" Ruby berdiri, menggapai bahu Rayya.
"Tidak mom, ini belum seberapa! Aku tidak suka mereka tersenyum di atas penderitaan adik ku" Ucap Rayya kembali membuat ringisan dan jeritan menggema di dalam ruangan.
"Buka mulut atau keluarga kalian akan ku bunuh? Jangan mengira kalau aku akan membiarkan kalian mati begitu saja. Oh tidak, tuan! Aku lebih senang kalian mati perlahan dan darah ini sebagai pembuktian jika ucapan ku adalah nyata"
Darah kental merah tidak segan Rayya mengambil nya dan di mainkan seperti layaknya anak kecil tengah bermain air.
Perawakan yang sangat beda jauh, Perawakan Asia dan eropa dengan bentuk wajah pun tidak sama. Wajah pucat milik Rayya malah memancarkan kecantikan tersendiri sampai-sampai Ruby sekilas melihat sosok Nara yang tengah menahan kebengisan nya.
"Nara" Gumam Ruby sedikit menggetarkan hati nya. Ingin membiarkan Rayya terus seperti itu tidak mungkin, untuk itu Ruby pun turun tangan.
"Mommy duduklah!" Ucap Rayya kembali tanpa menoleh ke samping. Ruby mengurungkan, dia kembali berdiri.
Penekanan Rayya sangat menegangkan, dia tidak tanggung membuka perban luka di tubuh mereka sampai daging bagian dalam mereka terlihat, tapi apa, dengan santai nya Rayya malah menekan nya semakin dalam.
Kedua tangan Rayya penuh darah segar. Lucky yang sudah nampak di dalam hendak memberikan saputangan, namun Ruby mengehentikan nya.
"Ampuni kami! Am—m—pun!" Tergagap karena kesakitan, mereka terus meminta ampun.
Tatapan Rayya miring, menggapai kedua mata supir yang masih menunduk. Rayya semakin mendekat, dia merasa mereka hendak mengatakan sesuatu.
"Begitu kah?!" Seru Rayya dengan sunggingan tajam pada salah satu bibir nya.
Kedua kelopak mata Ruby melebar, tidak mengerti apa yang di maksud oleh Rayya. "Haiihhh" Rayya berdiri begitu saja, memutar tubuh nya ke arah Ruby.
__ADS_1
Ruby pun menatap Rayya. "Sudah?" Senyuman dengan banyak arti terulas dari dua sudut Ruby. Rayya bertingkah menjadi pemalu saat ini.
"Sudah mom" Sahut nya mencebikkan bibir, sangat lucu di mata Ruby. "Tangan ku banyak darah mom, apa harus aku membersihkan nya dengan lumpur dulu? Isshh menjijikan"
Kedua tangan di perlihatkan, mengulur ke arah Ruby seperti anak kecil. "Kemarilah!"
Ruby pun membersihkan dengan saputangan yang diberikan oleh Lucky. "Sejak kapan kau sangat suka dengan darah, heum?!"
Memang biasa nya Rayya akan lemas, bisa juga pingsan kalau melihat darah, tapi ini tidak dan itu pencapaian yang mengesankan.
"Sudah jangan di lihat lagi, toh mereka sudah mengetakan yang sebenarnya bukan?"
"Sekarang Mommy yang iri padamu, Rayya!" Seru Ruby masih membersihkan darah di tangan Rayya dengan mengandalkan penerangan seadanya saja.
Kening mengkerut. "Kenapa begitu? Mommy ini sangat sempurna di mata aku, jadi kalau iri aku malah semakin aneh!" Aneh Rayya.
"Iri lah ! Padahal mereka tersiksa tidak seberapa tapi mengaku begitu saja dan itu faktanya! Mungkin musuh mommy harus di tebas dulu leher nya, baru mereka mengaku" Ujar Ruby.
"Lagi pula mengurus mereka adalah tugas kami, Rayya! Intinya sekarang basmi akar nya dan paman tidak akan ikut campur!" Timpal Lucky.
"Kak, bisa kau diam?! Geli sekali aku liatnya!" Seru Ruby. Wajah tua renta mereka memang sudah terlihat tapi kulit nya masih segar, mungkin karena perawatan juga.
Keadaan mencekam tidak hanya di rasakan di rumah itu, tapi juga di bagian negara yang di tinggali keluarga angkat Asnee. di asrama, Yaya tertidur pulas, di ranjang lain pun ada Olive tengah tertidur pulas.
Derap langkah cepat terdengar, gerbang asrama putri memang tidak di kunci namun penjaga keamanan masih terbangun untuk melakukan kontrol.
"Hoaaammm"
Yaya terbangun, dia menggeliat meregangkan otot-otot tubuh nya, sangat terlihat segar dan seakan tidak terjadi apa-apa.
Tok
Tok
Tok
Olive kaget, dia pun langsung terbangun. "Siapa?" Tanya Olive pada Yaya seraya mengecek jam.
"Engga tahu! Coba kau lihat, Liv!" Ucap Yaya.
Krieettt!!
Pintu pun di buka. "Madam? Selamat pagi!" Sapa Olive semakin membuka lebar pintu itu. Kedua mata Olive pun melihat keberadaan seseorang yang tentu saja dia tidak mengenal mereka.
"Pagi, Olive!" Sapa pengurus asrama. "Di mana Lukya? Katakan pada nya, dalam waktu lima menit, dia harus sudah berada di ruangan saya!" Ucap Madam Daisy.
"Baik Madam! Nanti saya sampaikan kepada Yaya!" Olive mengangguk paham.
__ADS_1
Pintu kembali di tutup setelah mereka pergi. "Siapa, Liv?" Tanya Yaya baru saja ke luar dari kamar mandi dengan rambut yang sudah basah.
"Madam Daisy menunggu mu di ruangan nya" Ucap Olive meraih handuk dan melenggang pergi ke kamar mandi.
"Lima menit, Yaya!" Teriak Olive dari kamar mandi.
"Aisshh sial, ada apa dia memanggil di bagi buta seperti ini?!" Buru-buru Yaya bergegas pergi setelah mengeringkan rambut nya.
Tok
tok
tok
"Silahkan masuk" Sahut seseorang dari dalam ruangan.
Ya, Ruby dan juga Rayya tengah duduk membelakangi pintu sehingga Yaya hanya bisa melihat punggung mereka.
"Madam" Sapa Yaya.
"Lukya, ada seseorang yang mencari mu. Duduk lah!" Tutur madam Daisy mempersilahkan Yaya duduk.
Dengan penasaran, Yaya pun duduk dengan sopan. "Maaf, apa kita saling mengenal?" Tanya Yaya.
"Dengan Lukyanova?" Ruby menoleh, menurunkan silangan kaki nya.
"Benar" Sahut Lukya.
"Kami keluarga dari Asnee" Ucap Ruby kembali, namun ekspresi wajah Yaya berubah seketika tegang.
"I—ya saya mengenal Asnee, ada apa ya mencari saya?!"
Alis Rayya dan Ruby langsung terangkat dengan kegagapan Yaya, respon Yaya pun terdengar tidak sopan di telinga.
"Madam, kami ingin berbincang dengan dia, bolehkah kami berbicara empat mata dengan murid anda?!"Izin Rayya.
Yaya mengerutkan kening, dia menoleh pada Rayya. "Putri Yodrak?" Gumam nya
"Baik, saya tinggal dahulu" Ucap madam Daisy.
Beranjak berdiri dan melenggang pergi, pintu kembali tertutup dan madam Daisy sudah tidak terlihat.
Rayya berdiri, melangkah mendekat pada Yaya dan duduk di samping nya. "Berani sekali kau menyentuh adik saya, nona!"
Bisikan dari mulut Rayya menghentakkan hati Yaya.
Duduk tegap, dada busung, tatapan langsung kosong, jantung pun perlahan dagdigdug. Dia tidak dapat berkutik dalam detik itu.
__ADS_1
"Murahan!" Umpat Rayya, reflek Yaya menoleh dengan wajah tegang