The Future King

The Future King
Eps 181


__ADS_3

Sedangkan di dalam Jet, Asnee dan juga Daniza sudah duduk bersebelahan dan benar saja hanya ada petugas saja di sana.


"Katakan saja kalau ada yang mau di tanyakan" Ucap Asnee karena merasa di tatap oleh Daniza.


"Heeuumm tidak ada, sayang" Niza menyenderkan kepalanya ke lengan Asnee sesaat sebelum membuang nafas.


"Kedepannya kalau ada apa-apa bicara. Saya tidak akan selalu mengerti akan kode dan sikap kamu!"


Dengan lembut Asnee menepuk pucuk kepala Niza yang bersandar di pundak nya sekarang.


"Eum" Angguknya.


Sepanjang perjalanan, mereka tidak berhenti berbincang. Asnee pun semakin terbuka dengan Daniza sampai sang istri merasa gemas ternyata Asnee begitu bawel.


...**...


Sedangkan Di dalam rumah pribadi Brayn. Eiji dan Iswara nampak seperti tersangka yang tengah di interogasi oleh keamanan.


Brayn dan Rea duduk berhadapan dengan Eiji juga Iswara.


"Katakan saja pah ada apa? Tumben juga jam segini kalian masih ada di rumah!" Ucap Eiji sedikit malas dengan ketegangan yang tumbuh begitu saja dari beberapa menit lalu.


"Kau juga sama. kan?!" Delik Rea membalas ucapan Eiji.


"Iya paman, biasanya jam segini sudah di kantor kan? Jangan malas-malas paman, ada Wara yang harus paman beri jajan!"


Ucap Iswara asal-asalan tapi membuat ketiga orang dewasa di sana melohok.


"Iya tuh Ji, kau jangan malas-malas. Iya kan Ra?" Timpal Rea dengan senyum tengil nya


Eiji hanya menaikkan satu alis nya merespon timpalan dari Rea. Brayn pun ikut merespon dengan menaikkan satu alis nya.


"Nona, apa kau masih tertarik dengan suasana sekolah?" Tanya Brayn tiba-tiba. Wara membenarkan duduk nya dengan rapih, antusias dengan pertanyaan dari Brayn.


"Sekolah kerajaan?" Sahut Iswara.


"Bukan, sekolah biasa saja! Kalau mau Paman bisa merekomendasikan sekolah yang bagus untuk mu. Bagaimana? Kebetulan saudara Paman pun memiliki perguruan tinggi yang bagus, nanti Paman rekomendasikan kamu untuk melanjutkan pendidikan di sana!" Tutur Brayan.

__ADS_1


"Pa—" Tukas Eiji, namun ucapan Iswara membuat mereka tersenyum.


"Mau mau tapi Wara tidak punya uang! Adanya kalung peninggalan Papa. Uang Kak Niza waktu lalu sudah habis jadi Wara sudah tidak punya uang!"


"Kalau Wara jual, Wara tidak punya apapun lagi! Apa Wara kerja aja ya Paman?! Apa perusahaan Paman ada loker? Jadi office girl juga tidak apa, Wara mau bekerja"


Ucapan Wara semakin melebarkan senyum mereka, sampai tiga orang di sana tidak bisa menukas karena ucapan Wara begitu rapat sehingga tidak memberikan kesempatan mereka untuk berbicara.


"Masalah biaya bisa di bicarakan nanti! Besok Paman ajak melihat perguruan tinggi nya, kalau kamu cocok akan Paman daftarkan langsung!"


Sekarang malah Brayn yang antusias, dia seperti menghadapi putri nya sendiri. Lembut dan nampak luwes tidak seperti Brayn yang dingin dan tidak banyak bicara.


"Papa serius?" Eiji masih belum percaya. Rea pun demikian, karena dari awal Wara datang, Suami nya itu tidak pernah tertarik dengan cerita atau apapun yang di lakukan Iswara.


"Apa Papa terlihat sedang bercanda, boy?" Seru Brayn.


"Sayang" Ucap Rea.


"Kalian anak dan ibu sama saja! Apa kalian begitu tidak percaya?" Seru Brayn.


"Issh bukan begitu" Rea menarik cepat lengan Brayn.


"Paman yang antar, biar sekalian langsung berangkat!" Sahutan dari Brayn sangat cepat sehingga Eiji tidak bisa memotong.


"Siap"


"Yasudah naik, istirahatlah lebih cepat!"


Iswara malah nurut-nurut aja. Dia berlari kecil seperti anak-anak yang tengah berbahagia.


"Apa yang papa rencanakan? Jangan melibatkan gadis itu, Eiji tidak suka!"


"Siapa juga? Orang sedang berusaha dekat dengan calon menantu saja. Apa salah?!" Ketus Brayan seraya berdiri dan pergi.


Seketika, Rea dan Eiji langsung saling lempar tatap akan ucapan Brayn.


...**...

__ADS_1


Satu minggu berlalu, Asnee juga Daniza pun bersiap untuk kembali ke istana. Liburan di pulau terpencil hadiah dari mommy Ruby memang patut di acungi jempol.


"Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi kan, sayang?!" Wajah segar Daniza dengan rambut terurai indah.


"Apapun untuk mu_"


Dengan tidak canggung lagi, Asnee mengecup bibir ranum milik Daniza.


Sedangkan di istana tengah sibuk persiapan untuk pengangkatan Raja baru dan hal itu sudah menjadi keputusan serta persetujuan dari semua pihak. Undangan dan untuk kesaksian Raja Baru pun sudah di persiapkan.


Penyambutan raja baru akan dilakukan secara terbuka, publik pun bebas untuk masuk ke area istana.


Rayya dan juga Ahan, serta Simon nampak berada di kedutaan dan juga biro aparat internasional untuk melaporkan dan meluruskan masalah yang mengaitkan mereka saat masih menjadi anggota kemiliteran.


"Akhirnya_"


Suara Simon sedikit tinggi dengan kebahagiaan yang nampak muncul dari kesedihan. Walaupun dia seperti mengabaikan masalah itu, namun sebenarnya hati kecil itu menjerit ingin sekali memangsa orang-orang penting yang menjadikan nya tumbal untuk kepentingan mereka.


"Kalian sudah bebas sekarang. Bukan lagi buronan internasional!" Ucap Rayya ikut senang.


"Terimakasih" Ucap Simon nampak begitu tulus di sela kesenangan nya. Rayya pun membalas dengan lembut.


"Kalian berada di dalam kebenaran, jadi ini bukan sepenuhnya karena saya!" Tutur Rayya.


"Ah hahaha putri ini bisa saja! Han, calon istri mu tuh!" Seru Simon tertawa lepas. Ahan merangkul pinggang Rayya posesif.


...**...


Lain lagi dengan Iswara, dia kini tengah bersiap untuk mendaftar ke perguruan tinggi dan pilihan terakhir dia memutuskan untuk kuliah di universitas yang dulu tempat Eiji dan Julian kuliah di sana.


"Setelah mendaftar, kita tidak akan bisa menghadiri peresmian tahta kakak ipar mu! Kau akan sedikit sibuk untuk pendaftaran musim ini karena akan ada beberapa tes yang harus kau lalui. Bagaimana? Kau tidak keberatan?"


Tutur Eiji.


Iswara nampak diam sejenak.


"Tidak apa. Nanti Wara bisa bicara sama Niza!" Ucap Iswara.

__ADS_1


Iswara mulai memiliki tujuan nya sendiri, tidak lagi merengek ingin menemui Daniza dan Ahan. Tapi kabar Ahan dan Niza tidak boleh terlewat setiap harinya dari telinga Iswara.


__ADS_2