
Terus mencari kesempatan, Mali berencana untuk memberontak. Jeno serta pihak yang tidak setuju atas pengangkatan Raja yang sebentar lagi di laksanakan membuat mereka sudah mempersiapkan semua nya dengan matang.
Restauran di pusat kota, yang di mana salah satu ruangan nya sudah di reservasi atas nama pejabat-pejabat pemangku kepentingan.
Mereka duduk di masing-masing kursi, sekitar ada sembilan orang termasuk Jeno di sana.
Mereka berbincang, kembali mematangkan strategi pemberontakan. Pada awal nya akan mengkudeta Raja atas semua dukungan yang lebih kuat, namun mereka urungkan karena hal ini akan terlalu mencolok.
Semua rakyat tidak akan tinggal diam karena bagaimana pun Raja Aaron adalah Raja yang begitu adil dan bijaksana menurut rakyat, untuk itu mereka memilih cara memberontak dan menjadikan Aat sebagai Raja masa depan.
...**...
Peristiwa kebakaran sudah berlalu beberapa hari, namun efek nya masih membuat istana terguncang di tambah masalah dari luar bisnis.
"Kak pihak hotel ingin bertemu dengan mu mengenai masalah lukisan dan bir yang kita jual ke sana"
Aat duduk tegap, memberi laporan dan berkas yang harus di tandatangani.
"Baiklah kita ke sana setelah menjemput Asnee,"
"Kita ajak juga dia ke sana" Lanjut Aaron penuh maksud dalam ucapan nya.
Kedua bola mata Aat menatap lekat. "Baiklah!" Respon nya mengerti.
Di dalam pesawat yang siap landing, Asnee menatap ke luar jendela dengan tatapan khas nya, kening pun sedikit mengkerut halus. Dia tidak sedang melamun, namun kepulangan nya yang tiba-tiba membuat dia merasa masalah di istana mungkin semakin tidak terkendali.
Penjagaan begitu ketat, kepulangan Asnee ke tanah air sampai pada telinga wartawan dan juga muda-mudi di sana, membuat bandara di penuhi oleh mereka.
Paras tampan Asnee siapa yang tidak tahu, membuat para kaum Hawa menjerit kegirangan dan semangat saat menatap nya.
Aaaaaa
'tampan'
'Pangeran selamat datang'
'Pangeran aku cinta padamu'
' Aaaaaaaa ya ampun sangat sangat tampan'
Jerit kaum hawa tak bisa di bendung dan di tahan membuat penjagaan semakin di perketat.
Asnee berjalan di antara Bodyguard, masker yang dia kenakan ditanggalkan, menyisakan kacamata hitam bertengger di atas nya membuat aura nya semakin tinggi dan terpancar.
'Jaga pangeran'
Ucap bodyguard satu ke yang lain nya. Kelip cahaya kamera silih bersahut mengenai wajah Asnee, seperti paparazi di setiap sudut bandara.
__ADS_1
"Pangeran" Salam pengawal pribadi Aaron seraya membuka pintu mobil belakang.
Asnee menatap lurus ke dalam, tentu saja dia melihat Aaron yang tengah duduk tegap namun kedua mata mengarah pada Asnee.
"Masuklah!" Seru Aaron. Asnee pun masuk.
Mobil kerajaan pun pergi menjauh dari area bandara.
...**...
Bersamaan dengan itu, segerombolan pendatang masuk ke perbatasan melalui kapal di mana kapal itu yang mengangkut Daniza.
Riuh-riuh suara memekik telinga, Daniza tidak tertidur, matanya seakan-akan tidak lelah. Dia beranjak berdiri menuju lubang kecil untuk mengintip.
Ughh
Lenguhan Alda dan teman-teman nya terdengar prau, Daniza menoleh.
"Ayo bangun-bangun!!" Seru Daniza membantu Alda duduk. Mereka semua pun bangun.
'Cepat buka'
Teriak seseorang dari luar, rekatan penutup atap pun terdengar, debu-debu tipis melayang di udara dan jatuh pada mereka yang berada di bawah.
Dua orang turun ke bawah, dua pria kekar dan terlihat satu pria kurus tengah tolak pinggang di atas-ujung tangga.
Burung laut berkicau di sekitaran pelabuhan, ombak pun bergelombang begitu tenang, sayup-sayup terdengar suara laki-laki tertawa namun tidak jelas, suara orang berbincang santai namun terdengar serius.
Mata Daniza dan telinga masih berfungsi dengan bagus nya.
"Alda kemari lah!" Daniza menarik tangan Alda agar tidak terlalu jauh berjalan di dekatnya.
Mereka di jaga ketat sampai di mana langkah mereka terhenti di sebuah ruangan yang sepertinya tempat bekerja orang-orang dermaga.
"Hai cantik"
Daniza terperanjat kaget, dari arah samping tiba-tiba jemari seorang pria menyentuh dagunya.
Tatapan Daniza menajam seakan bola matanya hendak loncat ke luar.
"Hahaha"
Pria itu malah cengengesan, Daniza terus berjalan dengan rombongan sampai di mana pria kekar itu masuk ke dalam ruangan yang berbeda dari yang lain.
Selang beberapa menit pria itu pun ke luar kembali dan memerintahkan bawahan nya untuk membawa semua tahanan ke tempat yang sudah di siapkan sebelum nya.
...**...
__ADS_1
Raja Aaron serta Pangeran Asnee sudah sampai di hotel di mana di adakan pertemuan khusus.
"Asnee ikut papa" Ucap Aaron. Asnee hanya menuruti, dia terlihat malas namun rasa penasaran masih menjalar di dalam tubuh nya.
Pihak hotel sudah berada di tempat, mereka menyambut kedatangan Raja mereka dengan sangat baik, namun hari ini sedikit berbeda karena sekarang mereka adalah rekan bisnis, bukan Raja dengan rakyat nya.
"Silahkan duduk" Ucap pemilik Hotel.
Asnee mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka mengenai kepalsuan dari lukisan yang mereka dapat dari Gallery ibu suri.
Asnee pun beranjak berdiri di sela perbincangan, dia mendekati lukisan yang memang sangat mirip dengan milik ibu suri.
Bola matanya menggerayangi setiap sudut lukisan dari atas sampai bawah dari samping ke samping.
"Maaf, boleh saya tahu dari mana anda tahu jika lukisan ini palsu ?"
Tukas Asnee teliti, karena yang tahu lukisan asli dan palsu hanyalah pemilik nya dan pengamat lukisan yang sudah sangat teruji kemampuan nya.
Pemilik hotel dan juga manajer itu terdiam, Aaron pun sama, mungkin dalam hati nya benar juga kenapa dia tidak bertanya hal itu terlebih dahulu ?.
"Euu itu—" Manajer hotel tergagap, begitupun dengan bos nya.
Asnee berjalan perlahan, dia duduk namun dengan lirikan mata yang tajam serta bertanya-tanya.
"Kerjasama kita tidak hanya satu tahun dua tahun, tapi sudah terjalin sangat lama. Bukan begitu ?!," Seru Asnee. Aaron masih diam tak bersuara, dia memperhatikan putra nya fokus.
"Benar adanya, tuan" Ucap bos hotel itu. "Beberapa minggu lalu kami mengadakan jamuan untuk orang penting dan salah satu nya memperkenalkan furnitur hotel, kebetulan saat itu pengamat seni ikut bergabung—"
"Boleh saya tahu siapa dia ?" Asnee kembali memotong perkataan bos hotel itu, mereka terdiam saling lirik gugup.
Perbincangan di dalam ruang pemilik hotel masih belum selesai, Aat pun sudah terlihat sampai di depan hotel setelah selesai dengan pekerjaan nya.
Bian-Pengawal pribadi Aaron pun terlihat sudah menunggu atasan nya untuk rapat selanjut nya dengan klien di restoran B di dekat pantai.
"Pa, bolehkan untuk masalah ini aku membantu ?" Ucap Asnee. Aaron berhenti melangkah masuk ke dalam mobil setelah beberapa waktu lalu adu argumen dengan pemilik hotel selesai.
Aat pun menepuk pundak Asnee. "Kau yakin ? Sepertinya masalah ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, As!" Seru Aat.
"Papa dan Paman bisa percayakan pada ku" Ucap Asnee mantap.
Aaron dan Aat saling lempar pandang.
"Papa percaya padamu, Aat" Ucap Aaron.
Kedua mobil di depan hotel pun berlalu pergi, Asnee pulang ke istana sedangkan Aaron juga Aat ke tempat klien nya berada.
Bian mengawal Asnee ke istana sesuai perintah. Di dalam mobil tak ada sedikitpun suara terdengar. Bian menatap Asnee dari kaca spion yang menggantung di depan dan terlihat Asnee hanya duduk diam tanpa ekspresi sesekali menoleh ke samping jendela.
__ADS_1