
...***...
Di layar televisi, media menunjukkan kondisi Pangeran Aat asli ke media dan Aat palsu yang sudah di penjarakan dan akan di hukum mati besok pagi, begitupun dari keluarga Pak Mentri yang tidak lain adalah Jeno dan juga sang ayah. Untuk anggota keluarga yang lain pun mendapat hukuman penjara.
Negara itu gempar dengan sebuah fakta di dalam kerajaan yang begitu jelas.
Kubu yang berpihak pada kebenaran tentu saja menjadi semakin lega karena semua nya sudah terungkap. Jadi sebetulnya bukan lah Raja dan Pangeran yang serakah, melainkan para pejabat sendiri.
Keamanan di kerajaan semakin di perketat. Nampak sekarang hanya ada Raja Aaron, Asnee, Kevin dan juga Robert di sana.
"Kalian sudah bekerja keras, terimakasih atas bantuan nya, kami sangat lega memiliki calon prajurit seperti kalian!" Seru Aaron menatap Kevin dan juga Robert.
Asnee hanya mengangguk saja, tidak ikut bicara.
Tok
Tok
Tok
Pintu pun terbuka lebar, di sana nampak Ryu berdiri lebih dulu dan Rayya berada di belakang nya di ikuti oleh Karl.
Serempak mereka yang ada di dalam berdiri termasuk Aaron.
"Putri" Ucap mereka. Asnee menghampiri Rayya dan hendak memapah nya namun Rayya sedikit menepis.
"Kakak sudah sembuh, bocah!" Seru nya sedikit memanyunkan bibir.
"Dih!" Tukas Asnee merasa geli. "Siapa juga yang mau? Asnee cuman mau kakak jalan sedikit cepat, sakit mata ku liat jalan kakak yang pincang!" Gurau nya memaksa merangkul sang kakak dan malah sekarang bukan memapah, tapi Asnee merangkul Rayya namun sedikit mengangkat tubuh nya, jadi Rayya tidak berjalan sama sekali.
Robert dan Kevin selalu antusias dengan pertengkaran kecil adik kakak itu.
"Lagian kau masih di sini, As? Tidak menemui Niza kah?" Sembari duduk kasar dan menarik bantal sofa, suara ketus Rayya malah menjadi topik penting bagi mereka.
"Dia tidak mau bertemu dengan ku, kak!" Asnee sedikit menunduk. "Dia terus ingin bertemu dengan Simon!" Seru nya kembali.
Sedikit menoleh. "Kita jemput dia—" Timpal Kevin. Robert pun mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya mereka ke mana? Mommy and Daddy tidak memberitahu lebih lanjut, sepertinya tugas penting!" Pikir Rayya.
"Ajudan Bian akan mengawal kalian. Jemput Daniza, dia pasti sedikit ketakutan kemarin!"
Mereka pun menoleh saat Aaron bersuara.
"Baik"
Kevin dan Robert tentu menjawab bersamaan.
"Kau juga ikut" Tunjuk Aaron pada Asnee.
"Sudah sana, ah! Dia sebenarnya ingin kau berada di samping nya, As!" Dorong Rayya pada Asnee. "Udah lama juga! Masih saja tidak peka!" Umpat Rayya.
Mereka bertiga pun akhirnya berangkat bersama dengan Bian ikut bersama mereka, begitupun dengan Karl.
"Putri"
Ryu pun bersuara. Rayya menanggapi dengan menaikkan kedua alis nya.
"Sebentar sebentar, saya tidak melihat Uncle Dev dan juga Uncle Kenzie. Aku yakin mereka ada di sini malam itu! Saya juga yakin Sniper itu adalah dari mereka!" Seru Rayya.
"Mereka sudah pergi saat kamu tidak sadarkan diri! Sepertinya ada tugas penting saat itu, jadi mereka langsung berangkat!" Tutur Aaron memberi jawaban akan pertanyaan dalam benak Rayya.
"Saya pun hari ini akan pamit" Ryu sedikit membungkukkan dada nya.
Aaron pun berdiri dengan senang hati. "Terimakasih sudah ikut menjaga anak-anak saya!" Aaron mengulurkan tangan nya, dengan rasa hormat tinggi Ryu pun menjabat tangan Aaron.
"Sudah tugas saya, Raja!" Ucap Ryu.
...**...
Rumah singgah Lexi, Daniza masih di sana. Tidak ada informasi apapun yang dia dapat sehingga kesehatan nya lumayan membaik.
"Tuan"
Daniza ke luar dari kamar dan turun ke bawah menemui orang-orang yang tengah berjaga.
__ADS_1
Salah satu dari mereka menghampiri. "Nona" Sahut nya sedikit membungkukkan dada.
Daniza hendak bertanya ke mana tuan mereka pergi, kenapa tidak ada satupun dari mereka kembali ke kediaman, namun belum sempat bertanya karena terlihat Shabila nampak masuk dari pintu masuk.
"Kau sudah baikan, Niza?"
Daniza ikut berjalan menghampiri. "Kak" Sahut Daniza pelan karena dia bingung harus memanggil Shabila dengan sebutan apa.
Shabila hanya mengulas senyum dan pelan menepuk pucuk kepala Daniza.
"Niza"
Dari belakang Shabila, seseorang memanggil namanya dan tentu saja dia tahu suara milik siapa itu
Shabila bergeser, membiarkan Daniza melihat Asnee penuh. Niza mematung, menatap wajah Asnee yang sangat dia rindukan. Mata nya mulai berembun dan perlahan mencair.
"Terimakasih Tuhan"
Asnee memeluk Daniza dengan penuh rasa khawatir dan rasa itu sangat terlihat jelas pada manik mata nya sekarang.
"Maaf"
Suara itu berat, terdengar menyakitkan.
Dengan bibir bergetar, Daniza menyahuti seruan Asnee. "Kenapa baru datang?" Seru Daniza namun hal itu pasti hanya pertanyaan basa basi saja.
Asnee semakin mengeratkan pelukan nya. Isak dari hidung Niza terasa, air mata pun mengalir dan kulit wajah nya putih kini terlihat memerah.
'Ekheemm'
Robert berdehem, padahal dirinya juga Kevin pun sedari tadi ada di sana tapi kenapa di abaikan seolah tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.
"Kalian juga ada di sini?"
Robert tidak mau lagi menyahuti pertanyaan dari Daniza, karena dirinya merasa di abaikan.
"
__ADS_1