The Future King

The Future King
Eps 123


__ADS_3

...**...


Daniza masih terbaring, mata nya pun masih terpejam. Posisi tidur nya terlihat nyaman sehingga suara kecil tidak membuat nya terbangun.


"Karl, tolong jaga dia. Saya harus ke Universitas hari ini! Jika ada apa-apa kabari saya" Ucap Asnee pada Karl. Karl pun mengangguk paham.


"Baik, Pangeran"


Asnee pun berangkat dengan mobil nya. Karl pun di panggil ke istana besar.


"Salam. Raja!" Sapa Karl menunduk sopan.


"Sejak kapan, nona Daniza di izinkan tidur dengan leluasa di kamar pribadi Pangeran?" Aaron bertanya pada Karl, dia nampak tidak senang dengan apa yang di lakukan Asnee. Dia pun baru tahu lengkap nya dari pelayan yang bekerja di sana.


"Ampun Raja, saya kurang mengetahui!" Karl memang mengatakan yang sebenarnya, dia tidak tahu urusan pribadi Pangeran walaupun dirinya sangat dekat.


"Katakan yang sejujur nya, Karl!" Tegas Aaron.


Issue yang beredar akan sangat tidak menyenangkan dengan kabar mereka yang tidur berdua tanpa diikat dalam pernikahan. Kerajaan sangat menjunjung tinggi kehormatan dan semua nya harus mengikuti aturan.


"Oh ayolah kak, jangan terlalu ketat pada Asnee!" Seru Aat yang baru saja datang dan mendengar sebagian ucapan dari Aaron.


"Karl, kau kembali lah" Ucap Aat memerintah.


"Baik, Pangeran! Jika begitu saya pamit undur diri" Tutur Karl berjalan mundur dua langkah dan kemudian berbalik lalu berlalu pergi.


"Kau sudah mendapat informasi nya?" Tanya Aaron beranjak berdiri.


"Sudah kak" Angguk Aat mantap. Aaron pun ikut mengangguk.


"Ada yang dia katakan?" Lanjut Aaron bertanya.


"Tuan Leo mengatakan untuk tidak khawatir, Kak. Dia mengatakan tidak ada niatan untuk menyangkut pautkan dengan kerajaan. Plakat itu di berikan supaya apa yang dilakukan Rayya tidak di curigai!"


"Semua keanggotaan akan tahu hanya dari melihat plakat itu! Ternyata Plakat keanggotaan Pasar Gelap berbeda-beda sesuai tingkatan nya dan aku pikir dari ketenangan Tuan Leo , sepertinya dia memiliki pengaruh besar di sana dan hal itu akan membuat Rayya aman!"


Aat terus mengatakan apa yang dia tangkap dari pembicaraan nya dengan Leo yang hari ini pun masih berada di rumah keluarga besar Jeffrey.


"Tadi pun ada tuan Moza di sana" Ucap Aat. Aaron tergugah karena siapa yang tidak tahu dengan tuan Moza Jeffrey, sang Jendral yang pangkatnya tidak pernah turun dan di segani.


"Bagaimana reaksi dia saat kalian berbincang?" Tanya Aaron penasaran.


"Tidak ada yang aneh. Dia hanya mendengarkan saja tanpa terkejut sedikitpun!" Seru Aat. Aaron semakin memijit kening nya. Selama ini dia di kelilingi orang-orang tenang namun sekali nya ada masalah ngegas nya sampai merobohkan gedung.


Sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, Aaron malas jika bertanya mengenai hal di luar konteks kerajaan.


...***...


"Sayang, kau kemana saja sih?!"


'Woo'


Kevin dan Asnee geli saat Robert sudah bertingkah gemulai. Mereka pun menghindar terutama Asnee yang tidak suka jika dirinya di sentuh-sentuh.

__ADS_1


"Ayo dong bantu teman kalian ini agar bisa mendapatkan hati Jane si cantik jelita!"


Ucapan Robert terdengar gila, serasa ingin muntah saat ini juga. "Dih, masa penggoda wanita minta bantuan hanya untuk urusan itu? Dasar payah!" Ujar Kevin menepuk kepala Robert dengan buku yang sudah di gulung.


"Yak yak yak, jangan begitulah! Serius ini." Seru Robert.


"Eh, Bert. Kita sudah kasih tahu ya, nanti kalau ujung nya sakit hati jangan merengek!" Ucap Kevin.


"Iya tahu!" Ujar Robert.


"Tahu atau sekedar tahu? Kalau sudah sepenuhnya menaruh hati akan sangat menyakitkan, jadi jangan bertanya pada siapapun tentang rasa, karena hanya dirimu yang tahu. Jika berhasil maka akan bersukacita tapi jika gagal maka akan berduka cita dan itu hanya dirimu yang merasakan dan paham kenapa semua terjadi, karena kamu sendiri juga yang memulai" Tutur Asnee panjang lebar tidak biasanya, dari sekian lama berteman, mungkin part ini Asnee berbicara begitu panjang.


"Wiiihhh ajaran siapa Tuh?!" Seru Robert namun terkesan meledek juga.


"Keluarga Mafia"


Robert dan Kevin menohok dengan pernyataan Asnee.


"Tch Tch pantas saja, mereka keluarga badas tali romantis hahahah" Robert tertawa terbahak, karena memang fakta nya seperti itu.


"Eh As, aku yakin kalau kau menyakiti wanita tanpa perasaan sepertinya kau akan mati di tangan keluarga mu sendiri!" Kevin pun ikut angkat bicara.


Daniza gadis baik pasti saja keluarga mafia itu akan menyayangi nya, sikap mereka begitu kentara saat menyayangi seseorang dan dirinya pun merasakan hal saka saat berkunjung waktu lalu.


"Kau tahu bagaimana aku, Vin!" Ujar Asnee.


Karena Kevin tahu, jadi dia mengatakan itu agar Asnee lebih bisa dewasa dalam urusan cinta.


"Jangan berpikir macam-macam, aku pasti akan menjaganya dengan baik!" Asnee menepuk pundak Kevin, dirinya pun tahu jika Kevin sangat menyukai Daniza.


"Hush hush, sudah sudah. Ayo kita bermain barbie yuk dari pada berebut gadis kan?!" Robert menarik tangan kedua teman nya melingkar seperti tengah menyeret dua karung besar.


Jane pun kini terlihat batang hidung nya, dia tengah di kerumuni banyak mahasiswa di depan Mading.


"Permisi permisi" Robert membelah kerumunan sesaat setelah melepaskan kedua tangan teman nya yang kini mereka pergi ke arah yang berbeda.


"Sayang kau sedang apa?" Robert dengan sengaja merangkul pundak Jane. Jane pun berkali-kali menepis namun Robert tidak mau kalah, dia berusaha menunjukkan jika Jane sudah ada yang punya.


"Kau ini apa-apaan, sih?!" Jane menarik tangan Robert menjauhi kerumunan para mahasiswa.


"Aku? Aku hanya sedang menyelamatkan tuan putri dari kumpulan laki-laki brengsek seperti mereka!" Bukan Robert namanya kalau tidak asal bersuara.


"Bisa tidak jangan menyebalkan? Aku sedang berinteraksi dengan mereka. Sudah susah payah, kau dengan mudah nya menghancurkan usaha ku!" Jane tidak terima, dia mencebik kesal dan meninggalkan Robert dengan kemarahan memuncak.


...**...


Asnee kembali ke istana setelah selesai dengan mata kuliah nya, langsung menuju ke kediaman nya.


"Pangeran" Sapa Karl.


Asnee menghentikan langkah nya dan menoleh ke belakang di mana Karl datang.


"Nona Daniza sudah kembali ke kamarnya! Ibu Suri tadi ke kamar dan membantu nona Daniza pindah!" Lapor Karl.

__ADS_1


Kening Asnee mengerut dan semakin mengerut kala mendengar laporan dari Karl.


"Atas izin siapa dia ke luar dari kediaman saya?" Tajam Asnee. Karl terdiam, dia tidak dapat mengatakan apapun saat ini.


Di kamar Daniza terlihat Ibu Suri Rataporn tengah membantu menyiapkan makan untuk cucu menantunya.


"Ini minum lah. Jamu ini baik untuk usus dan lambung mu!" Ibu Suri Rataporn dengan lembut membantu Daniza.


Kondisi Daniza membaik, terlihat jika dia saat ini sudah bisa duduk sendiri, wajah nya pun sudah tidak pucat lagi.


"Kalau kamu di sini, saya leluasa keluar masuk. Kalau di kamar Asnee kurang berani! Kau juga tahu kalau anak itu tidak suka jika sembarang orang masuk kecuali orang yang memang dia izinkan!"


Ternyata Ibu Suri Rataporn memiliki tujuan nya sendiri, di tambah kekhawatiran putra sulung nya akan kedekatan Niza dan Asnee sebelum menikah, membuat nya memiliki dukungan penuh.


Ibu Suri Rataporn berusaha untuk dekat dengan cucu menantunya, karena dia merasakan tidak terlalu dekat dengan mertua dan juga nenek dari suami nya dulu. Hal itu tidak ingin terulang, di tambah Asnee sudah tidak memiliki ibu.


Asnee dan Karl mendengar ucapan Ibu Suri, kemarahan yang hendak meluap kini tenggelam lagi. Asnee masuk diikuti Karl.


"Nek" Panggil Asnee.


Ibu Suri Rataporn kaget, dia segera berdiri saat membantu Daniza minum obat. Sepertinya takut Asnee marah. Daniza menatap Asnee memperingati dan Asnee pun membalas dengan mengedipkan kedua mata nya.


"Kau sudah pulang lagi?" Ucapnya dengan mimik yang sedikit hati-hati dan tubuh nya pun nampak siaga.


"Sudah nek, baru saja tiba" Asnee mengulas senyum nya seraya menghampiri. "Nenek kembali saja, biar Asnee yang menjaga dia! Maaf merepotkan, nenek!" Ucap Asnee seraya meraih tangan sang nenek lalau mengelusnya.


"Kau yang lelah, nenek bisa menjaga calon cucu menantu! Mandi saja dahulu, kau pasti belum makan juga. Kan?!" Tutur Ibu Suri Rataporn perlahan rileks saat reaksi Asnee tidak seperti yang dibayangkan.


"Bukan begitu?!" Serunya menoleh pada Daniza. Wajah Daniza berseri.


"Iya sayang, kau mandi dulu saja. Aku ada nenek di sini!" Sahut Daniza lembut. Asnee ingin sekali berteriak saat Daniza memanggil nya dengan sebutan sayang. Jantung nya serasa ingin meledak saat ini juga, entah kenapa dia begitu senang mendengar nya.


Karl pun yang masih berada di antara mereka tersipu malu. pipinya perlahan memerah.


Ibu Suri Rataporn pun merasa keromantisan cucu dan cucu menantunya itu tipis, tapi bisa membuat orang di sekitar nya tersipu malu.


"Kalau begitu Asnee bersih-bersih dulu" Ucap nya diam sejenak mengalihkan tatapan nya pada Daniza. Asnee melangkah mendekat dan.


Cup


Entah kenapa dia ingin sekali mengecup kening Daniza. Ibu Suri Rataporn begitupun dengan Karl, mereka berdua mematung di tempat.


"Setelah mandi, makan lah dulu!" Ucap Daniza. Dia nampak sudah tidak canggung lagi. Bukan nya tidak sopan dan tidak beretika tapi mereka nampak sudah di dalam perjodohan yang sempurna.


'Ekehm'


Deham ibu suri seakan tengah menetralkan jantung nya. Keromantisan yang sangat membuat dirinya iri, kenapa terpampang nyata di depan mata, tapi dirinya bersyukur.


Kemungkinan hubungan seperti itu jika dalam kerajaan terbilang langka. Kerajaan-kerajaan yang lain sangat sibuk dengan tahta, sepertinya dugaan itu tidak akan melesat. Untuk kerajaan Yodrak nampak nya terbilang tentram dan jauh dari keributan akan perebutan tahta raja.


Daniza pun di tinggalkan sediri saat ibu suri kembali ke kediaman. Asnee pun tengah bersih-bersih di kediaman nya.


Daniza kembali duduk, menyandar di dinding ranjang.

__ADS_1


"Rumah Sakit Lovina" Gumam Daniza. "Aku harus mencari tahu, tapi bagaimana mengatakan nya pada Asnee?" Lanjutnya bergumam. Isi hati dan kepala sudah penuh dengan kejadian kemarin dan dia harus memberitahu Asnee.


Membantu atau tidak, dia harus bicara karena alamat itu pun dia dapat dari ruangan Asnee.


__ADS_2