The Future King

The Future King
Eps 110


__ADS_3

Belum juga dua mobil yang masuk dengan rem mendadak, kini suara mobil bergemuruh kembali terdengar.


Ckitttt


Mobil dengan berbagai merek terkenal dan hanya di jual dua di dunia masuk ke dalam area istana, terparkir satu persatu dengan pas dan jarak yang sepertinya sudah di ukur.


"Ayo ayo cepat" Satu mobil satu keluarga, semua nya datang dengan berbagai fashion terkenal.


Semua mata pun tertuju pada mereka dan terakhir satu mobil blue glossy yang juga salah satu mobil limited edition.


"Baby" Cegah Edward saat Ruby hendak membuka pintu mobil. Ruby pun mengulas senyum dengan keromatisan kecil yang di berikan Edward. Ternyata, Zevan yang berada di belakang terus memperlihatkan wajah suram nya.


Klek...


"Mari Ratuku" Ucap Edward mengulurkan tangan nya dengan sangat lembut, tidak lupa senyum khas King Mafia yang sangat mempesona walau usia sudah tidak muda lagi.


"Mom, Dad ayo cepat" Shane sedikit berteriak.


"Iya ih, kalian lamaa! Kalau mau bermesraan mending sewa hotel saja sana!" Rengut Zevan sambil berlalu pergi ke arah Shane.


"Hahah anak satu ini kenapa? Sedari di perjalanan terus saja cemberut" Ucap Ruby.


"Biarlah" Sahut Edward.


Keluarga itu beriringan masuk, si kembar dengan keluarga nya di mana Ezra, Aarav dan Annelis di tuntun di antara kedua orang tua mereka. Keluarga Smith yang tidak terlihat di sana, entah datang atau tidak tapi tiga keluarga besar sudah nampak batang hidung nya.


"Uncle" Annelis berteriak di sela keramaian. Pegangan dari orang tua nya lepas.


Semua mata tertuju pada anak kecil yang tengah berlari, di ikuti oleh Ezra di belakang, untuk Aarav mungkin sudah terbayang, dia hanya berjalan layak nya orang dewasa saat ini.


"Kau tidak ikut berlari, sayang?" Goda Xavera.


"Memalukan!" Seru Aarav berjalan lebih cepat mendahului kedua orang tua nya.


Sikap Aarav bahkan lebih dingin dari kedua orang tua nya, bahkan dingin nya Edward dulu kalah sama Aarav. Edward yang simpel, Sean yang tidak mau ribet masih tidak ada apa-apa nya jika di sandingkan dengan Aarav.


"Sabar kak"


Bahkan Shane dan Shabila tidak terlewat selalu meledek Sean yang nampak pasrah.


Bisik-bisik orang kalau banyak mulut tentu saja terdengar, hampir dari mereka yang ada di dalam penasaran. Kamera pun jadi tertuju pada mereka, wajah-wajah asing yang pastinya bukan rumpun Thailand.


"Anne"


Dengan mudah, Asnee membawa Annelis ke dalam pangkuan nya tanpa mempedulikan baju dan pangkat yang terangkai di permukaan baju.

__ADS_1


Heboh, semua nya nampak heboh dengan adegan itu.


Cuppp


Cupp


"Selamat Ulang Tahun. Tuan Kecil" Bahkan Annelis memanggil sebutan Asnee di dalam keluarga mafia dengan meninggalkan beberapa kecupan di kening juga pipi.


"Aku aku belum" Ezra melompat-lompat berusaha menggapai wajah Asnee. Asnee pun berjongkok dengan melipat satu lutut nya ke lantai.


"Selamat ulang tahun, Tuan Kecil" Ucap Ezra menyentuh pipi Asnee dengan tangan mungil nya.


"Terima kasih" Asnee menarik mereka ke dalam pelukan namun tentu saja mata mereka sudah tertuju pada makanan di atas meja.


"Ez ada puding" Anne minta di lepas dan dengan secepat kilat mereka berdua berlari ke arah makanan.


"As"


"Kakak"


"Mommy, Dad, Uncle"


Senyum senang, senyum lepas yang tidak di tahan lagi terlepas begitu saja.


"Kenapa baru datang?" Ucap Asnee memberi salam sopan adat Thai.


"Apa kau bilang?" Regina yang berada di belakang sudah menatap nyalang.


"Eh sayang" Ucap Shane meminta ampun.


"Selamat ulang tahun"


Ucapan dari mereka satu persatu terucap.


"Mana hadiah nya?" Kedua telapak tangan Asnee seketika terbuka. Dia berani meminta sekarang.


"Asnee" Tegur Aaron yang tidak tahu kapan sudah berada di belakangnya.


Ruby mendekat membenarkan baju Asnee agar terlihat kembali rapih.


"Dia tidak akan memperburuk sikap nya hanya karena meminta sesuatu dari kita. Raja!" Tutur Ruby.


"Saya tidak bermaksud ke sana. Nyonya!" Sangkal nya.


Semua keluarga kerajaan juga keluarga mafia berbaur dengan dekat.

__ADS_1


"As, kit tidak melihat mama mu. Dia di mana?" Tanya Ruby, karena dia tidak melihat Nara di sekitar acara.


"Asnee mengunci mama di dalam kamar,, sebelum dia mengganti gaun dengan yang baru, Asnee akan kunci di sana sampai acara selesai" Ucap Asnee nampak wajah nya kesal.


"Sepertinya mama mu bukan orang yang bisa di kurung, As!"


Dagu Shane menunjuk Nara dengan Leyka yang tengah berjalan beriringan dan ternyata Nara sudah mengganti gaun nya.


"Hay sayang" Nara memang banyak tingkah kalau sudah di hadapan Asnee.


"Mam kau sudah tidak menganggap Zevan ada kah?!" Rangkulan tangan Leyka terlepas kala Zevan memisahkan dengan kesal.


"Eh bujang bungsu mama sudah datang?" Ujar Nara meluk Zevan sayang.


"Lepas Ah!" Cebik Zevan kembali pergi dan menghampiri Annelis juga Ezra yang sedang duduk di kursi melahap puding.


...**...


Kado ulang tahun sangat menumpuk, amplop pun bukan main-main isinya.


"Astaga itu centurion card?


Untuk mereka yang menjadi tamu undangan bukanlah hal aneh dengan black Card, namun untuk kali ini kartu kredit yang hanya beberapa orang di dunia punya di berikan kepada sang Pangeran. Tamu undangan semakin penasaran siapa gerangan rombongan itu.


David tidak tanggung, dia langsung memberikan hadiah yang 17thn lalu sudah di siapkan.


Gemuruh orang-orang di dalam acara juga para reporter langsung berbisik-bisik.


"Ajib, apa-apaan mereka? Dahsyat gila, sudah pastilah Asnee akan kaya sejak dini tanpa mengeluarkan tenaga" Ekspresi Robert sangat terkejut, cekalan pada pundak Kevin pun semakin terasa.


"Iri? Cemburu? Sana minta sama papa mu" Kevin mendorong Robert yang ternyata membebani tubuh nya sebagai penahan.


"Aisshh" Protes Robert hampir tersandung.


Sedangkan Daniza dan juga Ahan nampak masih di tempat yang sama, di ujung meja paling akhir.


"Memangnya apa hebat nya kartu itu?" Tanya Daniza, Ahan masih diam karena dirinya pun terkejut dengan hadiah besar seperti itu. Hanya sebuah kartu kecil namun manfaat dan fungsi nya sangat luar biasa, kartu itu pun bisa menjadi akses yang akan memudahkan penelusuran sesuatu.


Daniza tidak lagi bertanya, dia tahu pasti Ahan mendengar pertanyaan dirinya namun sekarang Ahan sedang fokus dengan berita yang datang mendadak itu.


Hadiah itu baru satu, belum dari yang lain nya, mereka pasti akan jantungan saat mendengar nya.


"As, boleh kakak pegang?" Belum juga di izinkan, Rayya merebut kartu itu dengan cepat.


"Waahhh aku mau dong, Uncle!" Tidak tanggung, Rayya pun meminta. Aat dan Aaron kembali mendekat, merapat pada Rayya.

__ADS_1


"Anak mu kaya kak" Bisik Aat pada Aaron.


__ADS_2