
Tidak menunggu lama, Lexi pun telah kembali dengan satu map kecil di tangan nya.
"Silahkan nona" Ucapnya sambil menyerahkan map itu. Asnee pun hanya melipat kedua tangan nya, menatap remeh pada Mali.
"Bibi, alih-alih mengetes DNA pada ku dan juga Paman, seharusnya kau harus lebih berhati-hati dengan kisah mu sendiri! Memalukan sekali!" Sekarang Asnee benar-benar tengah mencibir bibinya.
"Paman ini" Raya pun menyerahkan yang dia pegang pada Aat.
Dengan bingung, Aat pun menerima nya dan segera membuka map itu. Semua orang penasaran dengan isi dari map itu.
Aaron ikut mendekat namun belum juga ikut membaca. Kejadian tak terduga pun mengagetkan dirinya.
"Pelacur!" Sentak Aat melempar kertas dan map secara bersamaan ke arah Mali. Tatapan nya membeku tajam, dingin dan menyesakkan.
Dengan gemetar, Mali memungut kertas itu. Semua orang tentu terheran.
"Jaga ucapan anda, Pangeran!" Ucap Paman Mali tidak terima. Namun tidak ada sahutan dari siapapun.
"Kau bisa jelaskan ini, hah?" Kemarahan Aat sudah memuncak, dia sesekali menjambak rambut nya sendiri.
"Aat Aat ini bohong, aku di fitnah!" Mali langsung berlutut, menyentuh kaki Aat dengan perasaan bercampur aduk, bahkan jari jemari pun gemetar hebat.
"Fitnah?"
"Hahaha kalian apakah ingin tahu apa yang di lakukan kesayangan kalian ini di belakang suami nya ? Tch tch aku sendiri malu sebagai perempuan jika sudah menyangkut hal ini!" Ujar Rayya.
"Mumpung semua nya ada di sini, sekalian juga masalah harus selesai! Kasar nya, saya sudah muak dengan hal-hal yang membuat keluarga saya terpojokkan!"
"Dengar kan kenyataan ini ! Mali dan Jeno memang memiliki hubungan gelap di belakang Paman Aat dan saya memiliki bukti-bukti kuat!" Suara Asnee menguasai ruangan.
Pertahanan Aat hampir runtuh, Mali yang masih berlutut pun membeku.
__ADS_1
"Bukan hanya itu, mereka berdua pun bersekongkol dalam pembunuhan! Pembunuhan yang di rencanakan dari awal dan alasan yang kami tangkap sudah jelas!"
Paman dari Mali hendak menyela. "Diam! Anda tidak berhak berkomentar apalagi mencampuri urusan keluarga kerjaan!" Dengan gerakan tangan nya, Asnee sigap menghentikan lebih awal apa yang ingin di katakan oleh pria tua itu.
Hikss !!
Hikss!!
"Kenapa kau sangat kejam sekali , Pangeran! Apa saya ada menyinggung, mu?!" Tidak berani menatap, Mali hanya menangis terisak dengan bodoh nya.
"Tentu saja! Kau banyak sekali menyinggung saya. Mali!" Tekan Asnee. "Terutama pelaku yang kau perintahkan untuk menghabisi nyawa kakak ku!"
Pintu Aula terbuka lebar, pria-pria berseragam aparat masuk dengan senjata lengkap di tubuh nya.
Reflek semua orang ramai menjerit dan kaget, namun tidak dengan keluarga istana. Rayya pun mendekati Pensri yang masih setia berada di aula.
"Salam Raja!"
Aaron masih terdiam dan Asnee juga Rayya pun terdiam, mereka berdua tidak ada yang melaporkan ke polisi tapi kenapa mereka sudah tiba saja di istana?.
"Kami membawa surat perintah penangkapan nyonya Mali"
Polisi itu mengeluarkan satu lembar kertas dan di tuju kan kepada Mali. Aaron pun memeriksa nya dan menoleh pada Aat.
"Anda di tangkap atas kasus pembunuhan berencana dan kasus penyalahgunaan narkoba serta penggelapan dana dan penimbunan uang milik kerajaan"
Pasal yang berlipat-lipat sampai semua orang menjatuhkan rahang mereka. Tidak tahu menahu soal ini , membuat Aaron terlihat lesu dan tidak berdaya di campur tak berguna sebagai seorang pemimpin.
"Tidak-tidak kenapa harus saya?" Sangkal Mali berdiri tidak terima. "Kalian mau saja di bodoh-bodohi oleh anak-anak kecil seperti mereka! Buka mata dan otak kalian!" Sentak nya, sembari menunjuk-nunjuk Asnee juga Raya.
"Sebaiknya anda ikut kami dan menjelaskan dengan detail di kantor polisi! Anda di beri hak untuk memiliki pengacara di sidang nanti" Lanjut sang komandan tanpa ingin meladeni keluhan Mali.
__ADS_1
"Ini tidak benar! Aat tolong aku" Ringis nya sangat menyedihkan. Dengan sarkas nya, Aat menepis lengan Mali dengan kasar sehingga tubuh wanita itu terhuyung.
Tidak berdaya, Mali ketakutan dan gemetar, keluarga nya pun tidak ada yang berbicara saat ini, mereka hanya terdiam dan membeku.
"Apakah bukti—bukti sudah di kantongi oleh pihak kalian?" Aaron penasaran.
"Sudah lengkap, termasuk wanita yang hendak membunuh putri Rayya di Asrama dan pria yang di amankan oleh pangeran Asnee! Kami pun mendapat potongan anting nyonya Mali dan itu bisa di jadikan bukti tambahan atas kebakaran Gallery ibu suri"
Senyum Asnee juga Rayya melebar kala semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Sial!" Umpat Mali dengan penekanan nya.
"Bawa dia" Titah komandan mutlak sehingga anak buah nya langsung mengamakan Mali saat itu juga.
Dughh!!
Lutut yang menyentuh lantai terdengar menyakitkan. Keluarga Mali berlutut di hadapan Aaron dengan menyatukan kedua telapak tangan mereka setelah Mali tidak lagi berada di aula.
Tidak ada tanggapan, Juru bicara Aaron pun membubarkan kerumunan itu dengan paksa dan sekarang menyisakan keluarga kerajaan.
"Aat, sekarang apa yang akan kau lakukan?" Ucap Pensri menepuk pundak Aat. Kenyataan nya sudah terbongkar, Pim memang lah bukan putri kandung nya. Apa yang dia takutkan dengan cepatnya terungkap.
"Jangan ganggu aku! Biarkan aku sendiri dulu" Dengan suara lemah dan tepisan tangan lemas, Aat pun melangkah pergi dari istana.
"Kenapa ada polisi ? Apakah kau sebelum nya melaporkan pada mereka? Lalu bukti-bukti itu kenapa polisi juga memilikinya?" Mata Rayya memincing, menatap Asnee sebegitu curiga nya.
"Bukan aku! Kakak juga tahu dari kemarin sampai saat ini aku selalu di samping mu, begitupun dengan Karl! Aku hanya memberikan berkas tambahan mengenai Jeno"
Seketika mereka menatap Lexi yang tengah berbincang dengan orang lain melalui telpon nya. Lexi merasa ada yang menatapnya sehingga dia menoleh dan memberi senyum hangat.
"Mereka selalu selangkah lebih maju dan tidak sabaran" Seru Asnee.
__ADS_1
"Lah kerja Mafia memang seperti itu, bukan?!" Ujar Rayya