
Menerima semua yang telah terjadi memanglah harus di lakukan oleh seorang calon Raja. Asnee tengah berada di posisi yang memang sangat di perhatikan oleh semua mata saat ini.
Hari di mana pertunangan sang raja kini di ganti menjadi hari pernikahan, semua nya sudah di diskusikan dengan matang oleh kedua belah pihak.
Berita pun tersebar hingga ke beberapa negara tetangga yang juga para pejabat di sana di undang untuk acara pernikahan sang Pangeran.
"Paman"
Dari arah luar rumah Eiji, Iswara berteriak dengan nada yang begitu sumringah.
Reflek saat itu juga, Eiji yang hendak melahap buah mangga yang tengah di kupas oleh Rea-ibu sambung nya terhenti seketika
"Ada apa dengan nya?" Ujar Rea, dia menghentikan aktifitas nya juga karena penasaran dengan teriakan dari Iswara.
"Jangan lari-lari, saya sudah bilang berkali-kali. Kau ini kenapa suka sekali menentang nya?!"
Benar, dari arah pintu Iswara berteriak dengan kedua kaki terus berlari. Dia mengabaikan seruan dari Eiji, sedangkan Rea yang berada di belakang Eiji nampak kaget dengan teriakan kecil dari putra sambung nya itu, karena ini kali pertama dirinya mendengar Eiji berteriak sejak dirinya menikah dengan Brayn.
"Paman, besok kita ke Thailand. Benar kan? Berarti aku sudah sembuh? Soalnya Niza mau menikah sama Asnee, itu berarti aku akan tinggal di sana dengan mereka. Niza sudah berjanji pada ku waktu itu!"
Eiji mendengarkan, mengulas senyum tipis nya pada Iswara.
"Benar, besok kita semua akan ke sana—"
Ucapan Eiji belum selesai, tapi Iswara menukas nya dengan begitu senang dan antusias.
"Benarkah? Yeaayy akhirnya aku dan Niza akan tinggal bersama!"
Benar-benar seperti anak kecil, Iswara berjingkrak senang di depan Eiji.
Dari belakang, semburat senyum nyata terpatri dari kedua sudut bibit Rea saat memperhatikan tingkah Iswara yang begitu polos di depan Eiji.
"Tapi akan ada pemulihan lanjutan dari dokter Alice selama satu minggu ke depan dan itu harus kau lakukan!" Ucap Eiji, mode serius nya timbul lagi sampai Rea kembali mendilak dan tidak lagi antusias dengan adegan selanjutnya.
"Ih aku sudah sembuh. Pemulihan apa yang Paman maksud? Orang Tuan David aja bilang tidak ada lagi pemeriksaan!"
Eiji menyipitkan mata dan mengerutkan kening. "Kau tidak ada bilang bertemu dengan Uncle David, pada saya!" Seru Eiji semakin menyelidik seakan ucapan nya meminta sebuah jawaban yang pasti.
"Kemarin, kan! Aku udah bilang. Tanya aja mama Rea" Tunjuk Iswara pada Rea yang kini sudah kembali duduk dan mengupas buah mangga, namun Eiji tidak membalikkan badan nya.
__ADS_1
"Iya ih bener, mana ada aku bohong! Jujur salah,.bohong salah! Padahal aku sudah bilang kemarin saat Paman di kantor!"
Suara Iswara merengek, dia tidak suka jika Eiji marah pada nya. Benar-benar seperti anak kecil jika di hadapan Eiji.
Eiji masih menatap Iswara lekat, tatapan nya benar-benar ingin sekali rasanya di cakar.
"Ma—"
Dengan hentakan kaki kanan nya, Iswara memilih mengadu pada Rea. Walaupun usia Rea tidak beda jauh dengan Eiji tapi tetap saja sekarang Rea adalah ibu sambung nya dan Rea memutuskan jika sekarang Iswara pun sudah di anggap sebagi putri nya.
"Dia khawatir pada mu. Jangan di anggap serius!" Ucap Rea seraya menyodorkan buah mangga yang sudah di potong pada Iswara.
"Ya lagian kan biasa nya juga seperti itu. Tuan David sedang ada di rumah nyonya Ruby dan itu tidak lama juga! Dokter Alice juga ada di sana kemarin!"
"Paman sibuk, jadi mana bisa aku ganggu? Toh kemarin Tuan Brayn yang ngantar ke sana. Tanya saja!"
Sepanjang mengunyah, Iswara terus menggerutu membuat Eiji berdecak pinggang.
"Kau ini terlihat seperti Paman nya kalau terus bersikap seperti itu. Ji!"
Brayn pulang masih lengkap dengan stelan kantor nya, namun sekarang di tambah dengan kacamata bening bertengger di atas hidung nya.
Rea berhamburan menghampiri Brayn yang selalu saja terlihat sexy di mata nya.
"Saya pulang"
Bisik Brayn dan mengecup pipi kanan Rea susah payah karena tinggi Rea yang begitu jauh dengan dirinya.
"Tuan" Sapa Iswara. Brayn pun mengulas senyum tipis atas sapaan Iswara, tidak seperti pada Rea.
"Tumben pulang cepat? Bukan kah ada rapat dewan direksi? Para pemegang saham pun ramai berdatangan ke kantor. Apa sudah selesai?"
Layaknya adat Indo, Eiji mengecup tangan Brayn seperti yang biasa di lakukan Raka, adik dari Rea di Indo. Iswara pun sudah tidak aneh dengan adegan itu.
"Sudah selesai" Ucap Brayn mengeratkan rangkulan nya pada Rea, memberi isyarat jika dirinya sangat lelah hari ini.
"Kalian sudah, jangan terus bertengkar. Mama dan Papa ke atas dulu!" Ucap Rea menepuk berulang lengan Eiji, sesekali menatap Iswara.
"Aku?" Tunjuk Iswara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Kini hanya Eiji dan Iswara di bawah. Eiji kembali membalikkan badan nya pada Iswara.
"Ayo"
Eiji menarik tangan Iswara.
"Kita mau ke mana?" Tanya Iswara sedikit mengguncang lengan nya agar terlepas.
"Ke mansion mommy"
Mobil Eiji pun melesat begitu saja dari tempat parkir sampai-sampai pekerja di sana menggelengkan kepala mereka bersamaan.
...**...
"Paman Aat belum sembuh, apa yakin kita akan mengadakan pernikahan tanpa dia?"
Daniza bukan ingin membatalkan pernikahan, namun dia merasa ada yang kurang jika salah satu dari anggota kerajaan tidak hadir.
"Kata siapa dia tidak ikut? Dia akan hadir di pernikahan kita dan Kak Sean sudah mengkonfirmasi itu!"
"Untuk sekarang kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, semua nya sudah di atur dan ada di dalam kendali kita. Tapi mungkin hanya saja Simon mu itu dan Ahan belum juga kembali! Apa ada kabar tentang mereka? Sudah lama mereka belum kembali!"
Daniza melirik Asnee yang berada di samping nya. "Mereka di tugaskan oleh mommy mu, coba tanya mereka!"
Asnee yang mendengar intonasi Daniza yang lumayan ketus malah mengulas senyum lembut nya. "Aku heran kenapa semua wanita yang berada di sekitar diri ini memiliki kesabaran setipis tissue?"
Pucuk kepala Daniza menjadi sasaran Asnee saat ini, namun Niza tidak terganggu sama sekali.
"Kenapa tidak di tanyain sendiri? Mungkin akan tahu kenapa mereka di tugaskan ke Canada, negeri yang sangat jauh dari sini itu!" Ucap Asnee.
Padahal dirinya sudah tahu hal apa yang membuat Simon dan Ahan di tugaskan ke Canada, hanya saja dia tidak mengatakan nya karena takut jika Calon Istri nya itu berpikir yang tidak-tidak. Akan sangat susah lagi menyakinkan gadis independent seperti Daniza.
"Kenapa harus aku?" Cehcar Niza. Dia tidak berani bertanya pada keluarga angkat Asnee, karena merasa dirinya tidak sedekat itu.
"Tapi aku tahu harus bertanya pada siapa!" Daniza beranjak berdiri dengan cepat sampai tangan Asnee yang hendak menaham nya tidak sempat.
"Cantik" Gumam Asnee masih menatap kepergian Daniza.
...***...
__ADS_1