The Future King

The Future King
Eps 84


__ADS_3

"Ayah bagaimana bisa orang-orang itu mengenali kalung milik mu?" Di sela langkah nya masuk ke dalam lobi Rumah Sakit, Daniza menggigit kuku jari nya berkali-kali, menandakan jika dia tengah resah.


Mengingat kalung nya pun telah dia jual, dia merasa bersalah saat ini, tapi jika dia tidak menjual kalung nya saat itu, Wara-adik sepupunya tidak akan membawa uang sepeserpun saat pergi.


"Wara, kau harus baik-baik saja. Aku mohon!" Bibir nya bergetar hebat, sampai di mana dia tiba di depan ruang rawat Asnee sebelum nya.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya perawat yang kebetulan ada di sana.


"Sus maaf, apa suster melihat sebuah kalung yang jatuh di sini? Atau tidak mungkin sebelum nya pihak perawat di sini menyimpan kalung milik pasien bernama Asnee?" Ucap Daniza.


Satu perawat masuk. "Pasien tidak membawa apapun selain kartu kesiswaan dan juga handphone nya! Kami tidak melihat kalung yang anda maksud, nona!" Pungkas nya membantu menjawab.


Kedua suster itu pun pamit ke luar, sedangkan Daniza masih di dalam. "Kalung, dimana kamu?!" Batin Daniza bergumam, mencari ke sana ke mari tapi tidak menemukannya.


"Tidak ada" Ucapnya kembali. Daniza pun hendak ke luar, tapi sudut mata nya menangkap kilapan cahaya yang memantul dari selipan brangkar.


Kalung berwarna perak itu menyita mata Daniza. Perlahan, dia menarik kalung itu, sejenak tidak sadar tapi lama kelamaan dia semakin memicingkan mata. Kalung perak dengan gantelan elang membuat jantung nya seketika berdebar, bibir nya kelu, nafas nya tercekat.


"Kalung ini kenapa bisa ada di sini?"


"Kau menemukan nya?"


Daniza hendak berbalik, tapi kaki nya tersandung oleh kaki kiri nya. Ruby bertanya saat keadaan Daniza masih kaget.


"Hati-hati" Edward cekatan, dia menahan tubuh Daniza agar tidak membentur besi di ujung brangkar.


"Coba saya lihat!" Seru Ruby, mengambil alih kalung itu. "Kau menemukan nya di mana?" Ruby kembali bertanya namun masih terlihat seperti orang yang masih penasaran.


"Di samping ini, nyonya!" Jawab Daniza menunjuk selipan yang ada di brangkar.


"Baik lah! Sekarang kita pulang lagi. Coba hubungi Rayya, katakan jika kalung Asnee sudah ketemu!" Ucap Edward menjaga jarak dari Daniza.


Ruby pun menghubungi Rayya. Daniza masih tegang, jantung nya pun belum aman.


"Ini! Kau yang menemukan kalung ini dan kau juga yang harus memberikan nya pada Asnee" Ruby mengulurkan tangan nya, menarik tangan Daniza yang mengepal dan bergetar sedikit.


"Kau mengerti, nona?!" Ucap Ruby kembali.


Daniza mengangguk paham, wajah nya semakin pucat, dia masih tidak bisa mengkontrol kekagetan nya saat ini.


"Baby, ayo!" Edward merangkul posesif pinggang Ruby. Aura pemimpin mereka tidak pernah surut dari dulu, membuat Daniza merindukan kedua orang tua nya saat melihat keakraban suami istri itu.


"Ayah, Ibu, lindungi aku" Daniza menggenggam kalung itu di dada, menundukkan kepalanya dan berdoa.


Aaron sebagai orang tua, dia sibuk berurusan dengan Asrama yang di tinggali Asnee, begitupun dengan ayah dari Kevin juga Robert. Posisi mereka aman, baik di sekolah maupun Asrama, saat di periksa tidak ada prihal melenceng selama pendidikan.


"Raja, kami akan kembali lebih dulu! Urusan sidang tuntutan pidana sudah kami ajukan ke pengadilan, selebihnya kami serahkan ke pihak kepolisian!" Ucap sang Jendral.


Aaron mengangguk paham. "Dari pihak kami pun sudah mengajukan, saya sendiri pun sudah, tinggal menunggu sidang! Tapi untuk sidang yang satu akan di lakukan seminggu lagi dan saya akan menemani pangeran di sini, jadi kalian tidak perlu khawatir. Robert dan Kevin akan saya pantau bersamaan!" Tutur Aaron.

__ADS_1


Ayah Kevin juga Robert pun berterimakasih karena begitu peduli pada putra mereka.


"Terimakasih, Raja!" Ucap mereka.


"Tidak perlu sungkan, Robert dan Kevin teman Asnee, jadi kami sudah menganggap nya putra kami!" Pungkas Aaron.


"Sekali lagi terimakasih. Raja!" Ucap mereka.


Semua keluarga sudah berkumpul kembali, namun tidak untuk Asnee yang masih berada di kamar sendiri. Ruby pun baru tiba diikuti oleh Edward.


"Tidak salah saya menyuruh mu mencari kalung itu. Niza!" Dengan senyum lembut nya, Rayya berdiri menghampiri.


Nara, Leyka, Si kembar, Eiji dan juga Julian duduk di kursi yang terpisah, ada yang di atas sofa ada di atas kursi bar dan lail-lain.


Dari belakang, Ahan pun berdiri tidak jauh dari Daniza.


"Ini putri" Daniza hendak menyerahkan kalung itu tapi Rayya menolak.


"Eum eum" Seraya mengacungkan telunjuk nya di depan dada dan mengguncang ke kanan dan ke kiri. "Kau berikan saja pada Asnee sendiri, dia sedang merajuk pada ku. Terimakasih!" Tangan jenjang Rayya menepuk berulang pucuk kepala Daniza, sampai pemilik kepala sedikit menghindar tapi masih tetap kena.


"Tapi, putri—" Baru juga mau menolak, tatapan Rayya sudah melebar, menggerayangi setiap sudut mata nya.


"Baik! Kalau begitu saya permisi"


Daniza hanya bisa pasrah, aura dari orang-orang di sana sangat menekan nya, membuat dia tidak memiliki pilihan lain selain nurut.


"Hahahaha jangan gitu, aku jadi malu" Ujar nya menyembunyikan kepalanya di dada Edward yang masih berdiri.


Ahan kembali kebingungan, sebenarnya mereka keluarga seperti apa? Tuan Lexi tidak ada mengatakan apapun kecuali perintah nya untuk menjaga Rayya sang putri dari kerajaan. Kenyataannya pula, ternyata putri kerajaan yang dia jaga tidak seperti di film-film dan di dongeng-dongeng. Putri yang dia jaga berbeda dari yang lain.


...**...


Tok


tok


tok


Punggung telapak tangan Daniza berulang kali mengetuk pintu kamar, namun masih tidak terdengar sahutan dari dalam.


Tok


tok


tok


Daniza kembali mengetuk dan akhir nya terdengar suara sahutan. "Masuk" Ucap Asnee.


Kreeaat

__ADS_1


perlahan pintu itu terbuka dan Daniza pun masuk dengan sedikit waspada. "Pangeran" Panggil Daniza.


Asnee yang masih di posisi telungkup langsung terbangun, dia mungkin sesaat berpikir jika yang mengetuk pintu itu salah satu keluarga nya.


"Di mana majikan kau yang tengil itu?" Asnee duduk menekan kedua tangan nya di ujung kasur dan menggapai mata Daniza.


"Uuh? Oh itu, tuan Putri ada di depan! Saya hanya di perintahkan memberikan kalung ini pada anda!" Ujar Daniza, memperlihatkan kalung perak itu pada Asnee.


"Oh! Thanks, kau boleh ke luar lagi!" Tidak banyak bicara, kini kalung perak itu berada di tangan Asnee dan dia kembali mengalungkan nya di leher.


Daniza masih terpaku di tempat, dia memperhatikan kalung milik nya yang kini sudah menjadi milik orang lain.


Masih merasa ada orang, Asnee kembali menatap lurus ke atas. "Ada lagi?" Seru Asnee karena Daniza masih terdiam.


"Tidak Pangeran. Jika begitu saya permisi!" Sadar nya, membalikkan badan dan beringsut undur diri.


"Kau ini milikku, tidak ada yang bisa mengambil nya dan aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil kalung ini!" Klaim nya final.


Sedangkan di depan pintu. Daniza menyandarkan punggung nya di sana, mendongakkan dagu ke atas. Wajah itu nampak tak berserat, seakan tidak ada darah mengalir ke sana. Tatapan nya membeku namun menyiratkan kesedihan.


"Dia memang putra Keira. Honey!" Ucap Ruby pelan Edward menyetujui itu.


Dari samping sangat jelas terlihat kemiripan wajah dari Raja Keira. "Dev ikut mencari! Andrew menunggu di pelabuhan tempat Keira tinggal dulu! Ini akan membutuhkan waktu yang lama. Baby!"


"David sampai tidak percaya Endra sudah memiliki anak! Nikah di usia tua biasanya sangat sulit, tapi istri Endra dan Keira melahirkan anak-anak yang cantik!" Lanjut Edward tidak habis pikir.


...**...


Di dalam penjara, Yaya meringkuk di sudut ruang sel dengan seragam berwarna coklat tua.


"Heh bangun!" Tendang nya pada punggung Yaya. Perempuan berambut panjang dengan seragam yang sama terus menendang punggung Yaya.


"Siram dia!" Titah nya pada anggota yang lain.


Byur


Byurr


tidak tanggung, air satu ember di siramkan pada tubuh letih milik Yaya.


"Aaaaaaa" Teriak Yaya, beringsut duduk.


...**...


Menurut kalian mereka cocok ngga, sebagai Asnee dan Daniza?



__ADS_1


__ADS_2