
Di dalam istana, Mali tentu saja tidak memegang kendali atas istana. Tidak bisa memerintah dan menindas sesukanya, walaupun dia seorang istri dari pangeran tapi dia tidak di beri hak untuk itu.
Pensri terlihat duduk di depan Mali yang tengah menangis, mata nya sembab, hidung nya merah tomat sehingga isak terdengar perih.
"Aku akan mencoba membantu berbicara dengan, Aat! Tenangkan lah dahulu pikiran mu, redakan emosi. Aku pikir Aat salah paham terhadap mu dan juga Jeno"
Dari dulu Pensri begitu, dia seperti orang bodoh dan polos, namun kenyataan nya tidak seperti yang terlihat. Kini dia memiliki suami baru dan sangat menghargai nya, untuk itu dia tidak ingin terlalu mencampuri urusan istana.
Hiks !!
Hiks !!
Hikss !!
Mali terus menangis tidak henti-henti nya. "Sudah-sudah—" Pensri menepuk-nepuk punggung Mali.
"Eum! Terimakasih, Sri. Kau satu-satu nya orang istana yang baik dan memahami ku" Ucap Mali. Butiran air mata nya menggantung di ujung buku mata dan sebagian mengalir membasahi pelipis.
"Aku cari Aat dulu! Kau istirahat lah!" Pensri pun meninggalkan Mali di gazebo istana belakang.
Tentu saja, tentu tangis Mali bohong. Tatapan nya berubah dengan kemarahan sesekali menyeka air mata. "Kau harus mendukung ku, Pensri! Tch tch wanita polos" Ujar nya jahat, dia benar-benar tidak tulus. Hanya bisa memanfaatkan keadaan dan memanfaatkan ikatan.
...**...
"Aat, bagaimana kabar mu?"
Derap langkah high hills terdengar teratur. "Kau ada masalah dengan, Mali?" Lanjut Pensri duduk berhadapan dengan Aat.
"Jika kau ingin membahas dia, mungkin lebih baik kau urus pekerjaan yang lain.Kak!" Ketus Aat tanpa menyapa tatapan mata dari Pensri.
Huffhh
Pensri merubah gaya duduk nya dengan menumpu kaki kirinya di atas kaki kanan dan menatap Aat lama, dia merasa memang masalah nya tidak seringan itu. Dia tahu Aat bagaimana, jadi sikap yang ini sangat membuat nya penasaran.
"Kau menatapku seperti itu apa masih percaya dengan yang di dongengkan oleh, Mali? Seharusnya kau bisa menilai nya.Kak!" Ucap Aat kilas menoleh pada Pensri.
"Kau pikir aku bodoh, Aat?!" Desis Pensri. "Hanya alasan itu untuk bisa aku pergi dari Mali tadi! Berwajah dua di hadapan orang banyak wajah tidak apa, bukan?" Pensri turun dari duduk nya, melipat kedua kaki nya sehingga dapat menggapai wajah Aat yang terus fokus pada laptop di atas meja pendek nya.
"Salut pada mu kak !"
"Aku pikir kau termakan oleh ucapan nya! Sekilas memang terlihat seperti itu, kau bahkan bisa mengiyakan apa yang dia minta, membuat aku curiga!"
Laptop Aat tutup dan menumpu kedua lengan nya di atas kedua paha seraya dia satukan dengan erat. Badan condong ke depan, dengan kacamata bening masih bertengger.
"Masa? Hahaha berarti aku sehebat itu?! Wow!!" Ujar Pensri dengan gelak tawa nya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Kenyataan nya, Pensri adalah orang yang sudah di jadikan tempat curahan hati Aat. Apapun yang terjadi, Aat selalu bilang pada Pensri. Alasan nya dia kakak sepupu dan hanya dia yang paling memahami dirinya.
"Aku menyuruh mu tes DNA pada Pim ! Aku tidak salah melihat, Pim tidak ada mirip-mirip nya dengan mu, tidak satupun yang kau miliki ada pada putri mu." Hela Pensri merasa jengkel dengan penolakan Aat.
"Dia putri ku, tidak bisa di ganggu gugat! Aku tidak mau kak. Bagaimana apa yang aku takut kan menjadi kenyataan! Aku tidak akan bisa menerima itu!" Tatapan Aat meneduh, dia menunduk dengan telinga dan mata memerah.
"Terus saja seperti ini, terus saja Aat! Keras kepala sekali kau ini! Ya sudah jangan merengek lagi pada ku jika saja saran ku tidak pernah kau dengar!"
Pensri beranjak berdiri dengan kesal. Pasti saja, setiap respon Aat seperti itu membuat nya naik darah.
"Pikirkan baik-baik, Aat!" Ucap Pensri berjalan ke arah Aat yang dan menepuk pundak sesekali mengusap lembut pucuk kepala nya.
Kesan nya sekarang mereka masih muda, padahal usia mereka sudah kepala empat, tapi tetap saja Aat adalah bungsu di keluarga istana.
...**...
Pihak keluarga dari Mali silih berdatangan, kerabat pun tanpa di undang ikut datang ke istana. Anggota mentri yang menjabat pun ikut datang.
"Pangeran, kau harus ke Aula!" Karl melapor.
"Ada apa?" Tanya Asnee yang tengah menatap ke arah jendela dengan pandangan jauh.
Tidak menunggu lama, Asnee pun pergi dan di tengah perjalanan ke aula berpapasan dengan Rayya juga Lexi yang ternyata belum kembali.
"Tiba-tiba mereka datang! Jika bukan untuk demo lalu pasti ada sangkut paut nya dengan pertengkaran paman Aat!"
"Cih bisa-bisa nya mengambil langkah ceroboh seperti ini!" Lanjut Asnee tidak habis pikir.
"Kita yang harus memegang kendali sekarang, As! Jika dia main-main hari ini maka kita akan menyerang dan menyelesaikan nya juga" Sahut Rayya.
"Tidak jadi main-main berarti kalau itu terjadi?" Terka Asnee namum terdengar tengah meledek Rayya.
Rayya dalam langkah nya, melirik Asnee dengan sudut mata nya yang tajam. "Berisik! Kapan juga aku mengatakan itu?!" Elak nya, mendelik tajam dan melangkah lebih dulu.
"Aku salah kah?" Ujar Asnee. Lexi tak merespon, hanya melebarkan kelopak mata nya sehingga kedua alis nya terangkat.
...**...
Di dalam aula baru kemarin ramai, kini telah ramai kembali. Mungkin bukan ramai, tapi terdengar gaduh bahkan sekarang tidak hanya pria yang ada di sana, namun wanita pun termasuk nenek suri juga ibu suri ada di sana.
"Baiklah, kalian tenang! Saya di sini masih belum paham apa yang terjadi sampai semua pejabat kanan masuk secara tiba-tiba" Suara Aaron yang menggema dan bulat serta sedikit berat pun akhirnya menghentikan ocehan mereka yang terdengar tidak jelas. Hanya saja di sedikit mengerti keluhan apa yang tengah di protes kan.
Asnee masuk begitupun dengan Rayya berdampingan. Tentu saja orang-orang pejabat itu memperhatikan, bukan karena apa, namun ini mungkin baru pertama kembali mereka melihat Pangeran juga tuan Putri dari dekat.
__ADS_1
Setelah memberi salam, Asnee dan juga Rayya pun berdiri di sisi yang sama dengan kakek juga nenek mereka.
"Bukan kah mereka itu keluarga dari bibi Mali? Aku lihat hampir semua nya saudara bibi Mali. Ada apa?" Tanya Asnee pada sang kakek.
"Entah! Kakek pun tidak tahu" Sahut nya.
"Ampun Raja tapi saya sangat tersinggung dengan Pangeran Aat"
"Lihatlah wajah keponakan saya! Ini tindakan kekerasan, dia bahkan tidak pernah mendapatkan pukulan sampai membekas seperti ini!"
"Pangeran Aat menuduh istri nya selingkuh, bahkan menuduh istrinya bekerjasama dengan pengkhianat istana dan negara! Ini sangat tidak bisa kami terima_"
"Mali tidak pernah tersinggung akan apa yang di katakan oleh suami nya, dia sangat baik dan penyabar! Bahkan dia sangat mematuhi kata suami nya_"
"Tapi apa ini? Kenapa pangeran Ast membalas kebaikan Mali dengan kekerasaan! Di tambah kenapa harus menuduh nya selingkuh bahan menyudutkan nya"
Suara pria tua yang tengah berlutut di hadapan Aaron itu sangat jeli dalam bicara, cara meminta ampun nya pun bahkan menggetarkan hati.
Mali masih menangis, dia di gandeng oleh adik dari ibu nya sesekali terlihat di tenangkan dengan di usap punggung nya.
Aaron pun sesekali menatap keberadaan Mali.
"Mali tunjukkan luka memar mu" Tambah nya lagi dan akhirnya Mali pun berdiri di depan Aaron.
Pensri yang baru saja muncul seketika kaget, dia aneh kenapa memar di wajah Mali semakin parah dan banyak? Bukankah tadi pagi tidak separah itu!
Jika Aat memukul nya kembali adalah hal yang mustahil, pasal nya tadi dia bersama dengan Aat, setelah itu Aat tidak berada di istana sampai sekarang.
Hiks !!
Hiks !!
Hiks !!
"Maaf kan saya, saya yang salah!" Ujar Mali dengan bibir bergetar. "Saya tidak tahan dengan tuduhan suami saya sehingga dia lepas kendali! Saya yang salah"
Di buat keadaan tertekan agar saat ini Aat memang terlihat salah.
"Kau sudah mengobati luka mu? Bengkak nya sangat parah, takut akan infeksi di dalam!" Ucap Aaron perhatian.
"Sudah kami obati" Timpal bibi dari Mali dengan sinis.
Anggota kerajaan tidak ada yang bicara. Entah apa niat dari kegaduhan ini, tapi penyelesaian secara kekeluargaan adalah solusi yang tepat.
Sepertinya ada maksud lain dari drama yang akan panjang ini.
__ADS_1