
Di perjalanan pulang, Asnee di kuasai oleh lamunan nya. Di samping mencari informasi mengenai Lukya, dia pun tertarik dengan cerita dari kalung yang dia miliki sekarang.
"Itu artinya masih ada orang tersisa dari kerajaan itu!" Seru Asnee dalam batin nya mengingat di mana dia mendapatkan kalung nya yang sekarang.
"Irlandia! Negara itu memang penuh misteri" Lanjutnya bergumam.
Sampai di rumah, Si kembar yang tadinya bersama Asnee sudah kembali lebih dulu karena panggilan dari kakak nya dan hanya membiarkan Asnee pergi sendiri ke rumah tuan Corner dengan dua mafioso menjaga nya.
"Pa, ada acara apa?" Aaron yang sudah siap dengan jas hitam nya, terlihat hendak pulang ke Thailand harus di undur karena acara doa yang mendadak.
"Raja, saya sudah mengatur ulang penerbangan! Pihak klien dari Jepang pun di tangani oleh Pangeran Aat di rumah biru!" Lapor sang Ajudan.
"Baik" Sahut Aaron. Ajudan itu pun kembali bergegas undur diri.
"Pa!" Ucap Asnee kembali.
"Ayo" Aaron hanya menepuk pundak Asnee. Sampai di ruang keluarga, Semua orang sudah rapi dengan baju mereka, perempuan di sana pun mengenakan kerudung tipis di kepala mereka.
Seorang pendeta, Asnee melihat dua pendeta di sana. Rumah singgah itu bukan sembarang rumah singgah, orang-orang cukup nyaman untuk duduk berdekatan.
"Asnee kemari" Nara menarik lembut tangan putra sulung nya itu.
"Ma, ada ritual apa?" Tanya Nara dengan nada rendah.
"Mendoakan orang yang meninggal agar tenang di sana" Sahut Nara kembali. Asnee tidak lanjut bertanya, dia hanya diam dan memperhatikan ke depan.
Photo dari i-Pad dan bunga bertaburan di sisinya menandakan jika mereka adalah orang yang sedang di doakan.
Daniza berada di paling belakang di apit oleh Lexi dan juga Ahan, untuk itu dia tidak terlalu melihat photo orang yang tengah di doakan.
Pendeta terus merapal kan doa-doa suci, semua nya mendengarkan dan menunduk. Lexi sesekali melirik Daniza yang ikut terlarut dalam doa nya.
Isak perlahan terdengar. Ahan merasa tubuh Daniza bergetar kecil. "Kau baik-baik saja?" Guncang Ahan pada lengan Daniza.
"Uuh? Oh iya aku baik-baik saja." Sahut Daniza sedikit menyeka air mata nya.
"Kenapa?" Tanya Lexi pelan hanya dengan gerakan bibir nya pada Ahan. Ahan hanya menaikkan kedua bahunya tidak tahu.
Suasana hening dan sakral, Asnee pun ikut berdoa walau dia pun sendiri tidak tahu siapa gerangan yang tengah dia doakan.
Selama satu jam lamanya, mereka semua terhanyut dalam rapalan doa suci sampai akhirnya nafas berat dari sang pendeta mengakhiri doa itu.
"Kepala ku sakit" Sedikit memundurkan kedua kaki nya ke belakang punggung Nara. Asnee menempelkan kepalanya di pundak sang mama.
Nara melirik ke samping dan menggapai kepala putranya.
__ADS_1
"Istirahat dulu ya, besok kan harus kembali ke Sekolah! Kami juga akan kembali ke rumah begitupun kakak mu!"
"Nanti dua minggu lagi, kami akan ke sini menghadiri upacara wisuda kamu!" Ucap Nara seraya mengelus kepala Asnee dalam berdiri nya.
"Iya" Sahut nya memeluk Nara dari belakang. Perhatian kecil itu menjadi daya tarik mereka yang ada di sana, sampai-sampai tidak ada yang tidak menoleh.
"Kenapa?" Tanya mereka bersamaan. Nara melebarkan kelopak mata nya.
"Lagi manja!" Ceplos nya sedikit terkekeh geli.
Semuanya masih berdiri, Ruby dan Edward terlihat berbincang dengan Pendeta. Dari sela berdiri mereka, mata Daniza memicing, dia penasaran dengan potret orang di depan.
"Terimakasih sudah bersedia memenuhi undangan kami! Mari kami antar sampai ke depan!" Ucap Edward. Dua pendeta itu nampak masih muda, berjalan ke luar beriringan dengan Edward juga yang lain nya.
Daniza semakin mendekat ke arah i-pad yang masih menyala di depan.
"Niza" Panggil Ahan, Daniza menoleh tapi dia masih penasaran, untuk itu Ahan pun ikut di belakang Daniza.
Orang-orang masih di luar, di dalam hanya ada Daniza dan juga Ahan.
Depph..
Tak..
trang..
trang...
Suara barang jatuh, terdengar nyaring di telinga. Semuanya langsung kembali ke dalam berurutan.
"Ada apa ini?"
Barang di atas meja sudah tergeletak di bawah, Daniza pun bersimpuh di atas lantai dengan tangis dingin nya. Ahan pun ikut berjongkok menenangkan Daniza.
"Niza" Rayya berlari, dia pun langsung berjongkok dan memeluk Daniza dengan erat. "Ada apa? Kau terluka? Mana perlihatkan pada ku, mana?!" Sembari mengusap punggung Daniza, Rayya terus bertanya.
"Hiks... hiks.. Hiks" Tangis Daniza akhirnya terdengar. Rayya menatap Ahan tajam.
"Apa?" Sarkas nya saat Rayya masih menatap nya tajam.
"Kau membuat nya menangis lagi?" Cehcar Rayya.
Ruby terutama, dia tidak bertanya karena sepertinya sudah tahu alasan nya. Mungkin tidak hanya Ruby, antek-antek yang lain pun sudah tahu alasan Daniza nangis kejer seperti itu.
"Kenapa dengan gadis itu?" Tanya Asnee. Sean yang berada tidak jauh darinya hanya menaikkan pundak nya. Bukan tidak tahu, tapi dia hanya sedang malas menjawab.
__ADS_1
Semua keluarga pun duduk, Daniza masih diam dengan isak nya di temani oleh Rayya.
"Daniza Evelyn?"
Teug...
Jantung Daniza seketika berhenti, suhu tubuh nya langsung panas dan getaran pun sedikit terasa saking kaget nya. Ada yang memanggil lama lengkap nya. Dia terus berpikir keras, siapa sebenarnya mereka.
"Betul dengan Daniza Evelyn, putri dari Keira?" Lanjut Ruby.
Asnee terdiam sejenak, tapi langsung fokus mendengarkan. Dia mengingat nama itu, tidak asing di kepalanya. Rayya yang tidak tahu apa-apa hanya ikut mendengarkan, namun dia pun yakin di awal pertemuan dengan Daniza, dia sudah merasa jika gadis itu bukan lah gadis biasa, buktinya sekarang mommy nya tahu.
"Nyonya.. " Daniza hendak menyangkal.
Ruby masih menatap begitupun dengan yang lain nya, ekspresi mereka yang tidak tertolong, karena terlihat tidak ramah di mata Daniza, padahal mereka memang seperti itu.
"Kami tidak akan bertanya kenapa kau bisa selamat dari pembantaian itu, tapi kami hanya ingin tahu dan memastikan jika kau memang anak itu! Bisa?" Nada dan intonasi bicara Ruby langsung rendah dan lembut.
Daniza masih belum berani, kejadian-kejadian itu masih membelenggu kepala nya. Tangan kecil itu mengepal di atas paha. Sekarang dia merasa sedang di interogasi dan berada di dalam bahaya, dia tidak tahu apa yang mereka inginkan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Daniza bergejolak, kepalan tangan nya semakin rapat.
Nafas nya sesekali dia atur agar tetap tenang. Perlahan dagu ya terangkat dan membalas tatapan Ruby dan semua orang yang masih menatap nya.
"Maaf nyonya, jika saya mengatakan kalau saya tidak mengenal nama yang anda sebut itu, apakah anda akan percaya? Saya tadi tidak sengaja memecahkan barang berharga di sana dan saya siap menanggung akibat nya, tapi untuk pertanyaan itu saya tidak dapat menjawab nya karena saya memang tidak mengerti apa yang hendak anda tahu mengenai saya!"
Tutur Daniza dengan berani nya. Tapi tatapan mereka semakin tajam akan ucapan dari Daniza.
"Jadi alasan kamu menangis..."
"Tidak ada alasan! Semua orang memiliki privasi dan alasan saya menangis adalah privasi saya. Maaf jika saya lancang dan tidak sopan!" Daniza menautkan kedua tangan nya dengan sopan. Walaupun sebenarnya dia ketakutan, tapi bisa dia tutupi dengan kata-kata nya.
"Begitu kah?" Timpal Nara.
Tidak hanya Ruby, tapi juga Nara. Mereka berdua bertutur dengan singkat tapi membuat Daniza berpikir keras dan akhirnya menjawab dengan sangat panjang. Sepertinya dia tertekan.
"Benar nyonya!" Sahut Daniza kembali.
"Jika begitu, tatap mata saya saat berbicara! Saya tidak suka jika lawan bicara saya melihat ke bawah!" Nara mendekat dan mengangkat kembali dagu Daniza.
"Tidak kah kau ingin membalas dendam pada mereka yang melenyapkan kedua orang tua mu. Daniza?" Seru Nara menatap dalam mata Daniza. Rahang Daniza mengeras, mata nya memerah dan otot-otot nya tegang. Jantung pun berdebar kencang.
Asnee, dia meminta melihat photo yang mereka doa kan pada kakak kembar nya.
"Ini?" Mulut Asnee kelu, bibir pun membeku. Dia mengenal photo di depan nya itu.
__ADS_1