
Dinding yang tinggi nampak roboh di bagian belakang gerbang dan itu sangat dekat dengan hutan, jika di lihat dari atas tempat itu sangatlah luas sampai menjorok ke tepi hutan.
Ahan berusaha memanjat, dia pun menyingkap jas hitam nya dan mengulum lengan baju agar lebih leluasa.
Jleng
Kaki pun mendarat di dalam, Ahan berusaha hati-hati dan waspada. Setelah berjalan cukup dalam ternyata perlahan telinganya mendengar keramaian.
"Pasar?" Kening Ahan Mengkerut mendapati sebuah pasar di tempat yang kini dia pijak. Ahan terus berjalan di antara keramaian, mengedarkan tatapan nya da melihat-lihat barang dagangan seolah-olah hendak membeli, padahal dia hanya memperlihatkan jika dia bukan seorang mata-mata.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan masih terdengar dan aneh nya semua orang yang ada di sana nampak biasa saja, seolah tidak ada mendengar suara apapun.
"Aneh" Gumam Ahan.
Derap langkah cepat semakin terdengar, terlihat orang yang mengejar Daniza semakin bertambah. Ahan terus memperhatikan dengan seksama.
"Tuan ada apa dengan mereka?" Tanya Ahan namun orang yang di tanya malah menatap nya tajam dan malah kembali menawarkan barang nya dengan suara lebih lantang.
Entah itu sebuah kode atau apa, tapi semua penjual di sana seketika menatap Ahan tajam.
"Ekhemm" Deham seseorang.
Ahan yang berdiri di depan langsung mematung kala sebuah belati menempel di leher nya.
"Siapa kau? Bisa tunjukkan plakat masuk ke sini?" Suara orang itu masih bersahabat dan suasana pasar itu kembali seperti semual layaknya pasar biasa.
Ahan mengangkat kedua tangan nya seraya membalikkan badan perlahan dan.
Brukk
Krakk
Ahan membanting pria bertubuh besar itu seketika.
"Arrgghhhh" Teriakan kesakitan mengundang rekan nya datang dan Ahan kini di kepung oleh lima orang.
Perkelahian pun terjadi, Ahan terus memberi mereka pukulan yang mematikan dengan gaya tubuh masih tegap tanpa harus bersusah payah.
"Yaaakk" Teriak mereka marah.
Dugh
Bughh
Duagh
Buk
Brakk
__ADS_1
Plak
Kreaakk
Ahan terus memberi mereka pukulan begitupun sebalik nya. Darah mengalir dari sudut bibir Ahan dan dari kulit alis sudah terlihat darah mengalir.
Ahan menekan alis nya dan sedikit mengerang karena rasa pusing menjalar ke kepala.
"Ashiaal" Umpat Ahan, dia pun menyerang dengan membabi buta.
Tubuh mereka tersungkur saling tubruk dan terpelanting menubruk meja pedagang.
"Habisi orang itu" Teriak salah satu pria berbadan besar pada rekan-rekan nya yang lain.
Mata Ahan semakin tajam, dia benar-benar baru tahu jika pasar gelap ini sesuai namanya. Tidak ada nyawa yang berharga di banding harta, semua nya bisa saling membunuh dan tidak peduli siapa yang mereka bunuh.
Ahan berlari, dia tidak mungkin terlalu mencolok karena akan mengundang semua orang. "Dia di mana sekarang?" Gumam Ahan semakin khawatir pada Daniza.
Ahan terus berlari, dia bukan tidak bisa menghadapi orang-orang itu, tapi jika terus dilanjutkan takutnya nyawa Daniza pun akan ikut terancam.
Brakk
Krieett
Ahan pun ikut masuk ke dalam gubuk yang area itu sangat sepi, di sekeliling nya pun terdapat beberapa gubuk yang berdiri bersampingan.
Bughh
Ahan mendudukkan tubuh nya sedikit keras, menormalkan tatapan nya karena membayang dan sedikit pusing. "Ashhiit"
Daniza masih diam di sudut gubuk dan terus merapal kan doa, kini jantung sudah sedikit berdetak normal tidak seperti tadi.
Pletek
Krusuk
Ahan terperanjat kaget, dia seketika kembali waspada dengan suara di ruangan sempit yang ada di samping nya. Perlahan dia berdiri dan melangkah hati-hati.
"Siapa di sana?" Seru Ahan.
Daniza yang masih berjongkok menegang, namun suara itu merasa dia kenali tapi mana mungkin. Batin nya terus bergumam dan terus waspada karena suara langkah semakin mendekat.
"Siapa di sana?" Suara Ahan kembali menyeru.
Daniza mengintip di balik papan, matanya menyipit untuk memperjelas penglihatan nya.
Dari ujung kaki sampai akhirnya dia tahu jika orang itu memang orang yang dia kenali.
Suara grusukan semakin terdengar. "Siapa di sana?" Ahan pun mengeluarkan senjata api nya yang ternyata sudah terselip di celana belakang nya dan di tutupi jas.
Hampir Ahan menarik pelatuk, Daniza mengangkat kedua tangan nya sembari berlutut karena kaki sudah kebas untuk di gerakkan.
"Niza" Seru Ahan, dia kembali menyelipkan senjata api nya dan membantu Daniza berdiri.
Ahan tidak bicara, dia memperhatikan setiap sudut wajah Daniza dan Daniza pun demikian.
__ADS_1
"Nakal" Hanya itu kata yang ke luar dari mulut Ahan seraya kerutan di antara alis tidak luput terlihat.
Air mata Daniza menggenang, kedua tangan mengepal dan akhirnya dia pun menangis.
"Tenang lah" Ahan menyeka air mata Daniza, wajah yang sudah memucat dan dingin semakin terasa di kulit telapak tangan Ahan.
Ternyata gadis tangguh di depan nya kini terlihat lemah.
"Aku menemukan nya" Tatapan Daniza masih tidak lepas dari mata Ahan.
"Tenanglah" Ahan terus mengatakan itu seolah dia audah tahu apa maksud dari Daniza.
"Aku menemukan nya. Mata Paman Endra ada di sana!"
Ahan menarik Daniza ke dalam pelukan nya, tubuh yang bergetar serasa menyesakkan dada.
"Semua nya akan baik-baik saja" Ucap Ahan menenangkan.
"Sekarang kita ke luar dahulu dari sini, untuk urusan yang lain nya bisa di lakukan nanti!" Lanjut nya bicara.
Daniza pun tidak banyak tanya, kepala nya penuh dengan orang-orang itu. Orang-orang yang menjual mata sang Paman membuat nya tidak bisa berpikir jernih.
Keadaan yang menyudutkan nya, membuat skill pertahanan yang dia bangun tidak berguna kala di hadapkan dengan keluarganya.
Darah mengering di telapak kaki. "Kemarilah!" Ahan mencoba menggendong Daniza ke atas punggung nya.
"Maaf merepotkan, mu!"
Ahan tidak menanggapi, dia langsung membawa Daniza ke atas punggung nya.
Kembali Ahan berusaha hati-hati agar bisa ke luar dengan lancar. Terlihat orang-orang yang mengejar Ahan juga Daniza masih berkeliaran di sekitar.
"Mereka yang mengejar mu?" Tanya Daniza terlihat semakin resah karena semakin banyak orang yang mengejar maka besar kemungkinan dirinya juga Ahan akan tertangkap dengan mudah.
"Kita kembali lewat belakang" Ucap Ahan terus berhati-hati dan akhirnya dia sampai di tebing yang tadi dia lewati.
"Lewat sini?" Tanya Daniza saat kaki nya menapaki tanah.
"Injak pundak saya sekarang. Ayo cepat!" Titah Ahan. "Berhati-hatilah!" Seru nya kembali.
Daniza pung mengikuti perintah Ahan dan saat dirinya sudah melewati tebing, suara teriakan seseorang terdengar keras.
Daniza masih menahan tangan nya di atas sehingga masih bisa melihat Ahan dan orang-orang yang semakin mendekat.
"Cepat, kau pergilah!" Teriak Ahan mengkode dengan gerakan tangan nya.
"Tidak tidak, kau bagaimana? Cepat naik" Daniza menolak dan keukeuh.
"Cepat Daniza" Mata Ahan menajam. "Saya akan kembali dengan selamat. Jadi pergilah lebih dulu dan percayakan semuanya!" Ahan meyakinkan.
Dor
Suara peringatan sudah membumbung ke langit. Ahan pun mengeluarkan senjata tajam nya
"Cepat Daniza Evelyn" Tekan Ahan kembali. Daniza pun dengan berat hati meninggalkan Ahan dan menyeret kaki nya menjauhi pasar itu.
__ADS_1