
"Bagaimana perbincangan kalian tadi?" Tanya Rayya.
"Tidak ada yang menarik!" Sangkal Asnee, padahal dia memiliki tujuan menemui kakak nya sekarang.
"Pembohong!" Ledek Rayya, cubitan kecil di lengan Asnee mana mungkin menjadi luka. Asnee hanya melebarkan kedua sudut bibir nya sampai kantung mata terlihat menonjol kala menyematkan senyum itu.
"Kak, biarkan dia bekerja untuk ku!" Permintaan yang tidak tanggung dan tanpa basa-basi. Rayya menoleh kasar dari tempat duduk nya dalam kamar. Asnee menyilangkan kaki, duduk di pinggir kasur milik Rayya.
"Oh tidak bisa! Kau cari yang lain saja, dia sudah bekerja untuk ku!" Tolak Rayya, tapi sepertinya dia tengah bermain-main dengan adik nya. Dia pikir enak saja mengambil orang nya begitu saja, bukan kah terakhir kali dia tidak menginginkan nya?
"Aku belikan kuda baru untuk mu, bagaimana?"
Rayya seketika menoleh, dengan ekspresi senang namun tertimbun kepura-puraan. "Cih, kakak mu ini tidak mudah di sogok asal kau tahu itu!" Dalih nya.
Asnee masih tenang, dia sepertinya banyak rencana untuk kakak nya itu. "Satu tiket ke Bali, New Zealand dan sesuai permintaan kakak!"
Benar-benar menggiurkan, tapi sepertinya Rayya masih belum tergoda. "Baiklah, aku harus bagaimana agar kakak menyetujui permintaan ku?" Pasrah nya.
Rayya tersenyum tengil, dia meregangkan sandi-sandi tangan nya seakan-akan bersiap untuk menyerang. Asnee tidak pindah posisi, dia hanya duduk santai di pinggiran kasur.
Dugh
Rayya duduk dengan kasar di samping Asnee. "Kau serius dengan tawaran mu itu?" Rayya benar-benar antusias.
"Selama masih bisa di lakukan, tentu saja!" Jawab nya.
"Okey kalau begitu. Kakak mau keponakan dari mu!" Bisik Rayya.
Kelopak mata Asnee membulat penuh, telinga pun panas dan memerah seketika. "Arghhh kakak apaan sih ah! Permintaan macam apa itu?" Rajuk Asnee membalikkan badan nya ke samping dan menutupi wajah nya dengan bantal.
"Hahahaha bagaimana, sanggup tidak? Ya kalau tidak, tidak ada persetujuan!"
Rayya benar-benar jahil, kini Asnee merasa marah tapi marah nya kalah dengan rasa malu. "Engga, permintaan macam apa itu!" Asnee masih merajuk di bawah bantal.
"Ya sudah! Tidak ada permintaan!" Rayya beranjak berdiri namun berharap Asnee mencegah nya, tapi sayang Asnee tidak kunjung merubah posisi nya.
"Ya sudah, aku cari yang lain saja! Lagian masih banyak orang sepintar dan wawasan nya lebih luas dari pada dia!" Suara rajukan nya masih saja sama, Rayya semakin melebarkan senyum nya.
"Ya sudah sana cari!" Tantang Rayya. Asnee semakin terpojok.
"Ya lagian permintaan kakak aneh! Seharusnya aku yang di beri keponakan lebih dulu. Enak aja minta-minta!" Ujar nya.
__ADS_1
"Aku masih kecil!" Seru nya kembali.
"Hahahaha kau ini masih saja lucu, ulululu sayang nya kakak!" Gemas, Asnee seakan-akan masih seperti anak kecil di mata Rayya, tidak pernah beda masih sama seperti dulu walaupun sekarang tubuh Asnee lebih tinggi dari nya.
"Ish sakit!" Tepis Asnee dengan cebikan bibir nya.
Tujuan hendak berbincang serius, tapi ujung nya dia malah jadi bahan candaan kakak nya, selalu saja seperti itu.
Srakk
Srakk
Gorden di buka bergantian, sinar mentari masuk dari selah tralis. Mata yang tengah tertidur perlahan terbuka, selimut pun Asnee tarik menutupi kepala nya.
"Karl kau tidak mendengar perkataan ku, kemarin?! Jangan terlalu lebar membuka gorden nya!"
Tidak ada jawaban, Asnee masih menutupi badan nya dengan selimut.
"Selamat pagi. Pangeran!" Sapa Daniza sambil mengganti air di dalam gelas di atas nakas.
Kedua mata Asnee perlahan terbuka, telinga pun terganggu dengan suara Karl yang nampak berbeda.
Srak..
"Kau?" Seru Asnee dengan suara Prau nya.
"Selamat pagi" Sapa Daniza, tidak lupa dengan senyum tipis nya. Asnee mengambil alih gelas itu dan langsung meneguk sampai habis
"Di mana Karl?" Tanya Asnee, wajah bangun tidur nya tetap terlihat maskulin namun sedikit kantung mata terlihat menonjol.
"Tadi ada di ruang makan, tapi kalau sekarang kurang tahu!"
Sahut Daniza tapi membuat Asnee memperjelas pendengaran nya.
"Kau bicara santai dengan saya?"
Daniza yang hendak ke luar pun tertegun. Dia baru sadar akan ucapan nya.
"Maaf, Pangeran! Maafkan saya" Daniza merasa bersalah, dia reflek menjawab itu.
"Sudah lah!" Acuh Asnee, beranjak turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. "Sebentar!" Tahan Asnee kembali.
__ADS_1
"Kenapa kau ada di sini? Saya tidak pernah mengizinkan orang asing masuk ke tempat pribadi saya tanpa izin!" Asnee masih tidak mengerti, padahal semalam saat dia meminta pada kakak nya tidak diizinkan, tapi kenapa sekarang ada di dalam kamar nya.
"Panggil Karl kemari!" Lanjut Asnee.
"Baik Pangeran!"
Daniza buru-buru ke luar, dia tidak tahan dengan tatapan dingin dari Asnee. Tatapan yang seakan mengintimidasi namun terkesan dingin itu seakan menguliti seluruh tubuh nya.
"Tuan, anda di panggil Pangeran!" Ucap Daniza menyampaikan. Karl yang tengah santai duduk di balik pintu ke luar, menoleh ke dalam.
"Dia menakuti mu?" Tanya Karl.
Senyuman tipis terpatri dari kedua sudut bibir Daniza, dia rasa memang keputusan putri Rayya memang salah. Dia bertanya-tanya kenapa pagi buta sudah di perintahkan untuk pindah istana? Aneh pikir nya.
Dan pasti putri Rayya pun telah berkompromi dan berkoordinasi dengan Karl selaku ajudan sekaligus tangan kanan nya itu.
"Tidak perlu takut, dia memang seperti itu! Tugas mu saat ini hanya itu dan nanti jika Pangeran memberi pekerjaan yang lain berarti tugas mu double!"
"Apa?" Suara Daniza hampir tersedak.
Karl berbicara tanpa melihat sanggup tidak nya Daniza, tapi dia yakin Daniza bisa sesuai perkataan Putri Rayya.
Sarapan pagi tentu anggota kerajaan berkumpul di istana besar, semua nya sudah berada di meja makan tinggal menunggu Asnee.
"Selamat pagi" Ucap Asnee.
"Pagi" Sahut mereka bersamaan.
Ada yang aneh dengan keluarga nya atau apakah dia yang baru sadar? Masalah nya dia pun baru pulang kembali ke istana, apa mungkin ikatan keluarga nya itu semakin erat sampai-sampai menjawab pun bersamaan.
Tatapan berbeda pun muncul dari keluarga nya. "Ekhem__" Deheman Rayya pun mengakhiri tatapan mereka. Sarapan pagi yang membuat Asnee pertama kalinya tidak nyaman.
Suara dentingan sendok dan garpu pun usai, Asnee segera pamit ke luar di susul oleh Rayya.
"Mau ke mana?" Tahan Rayya, saat Karl membuka pintu mobil untuk Asnee.
"Ke pacuan kuda di rumah Kevin! Tadi dia menelpon dan Robert juga sudah ada di sana!" Ucap Asnee.
"Karl panggil Daniza, biarkan dia ikut!"
"Kak!"
__ADS_1
Mau protes pun tidak bisa, dia merasa permintaan nya semalam malah jadi mala petaka untuk nya.