The Future King

The Future King
Eps 145


__ADS_3

Daniza dan juga Ibu Suri Rataporn masih berada di Gallery perhiasan. Terlihat mereka berdua tengah memilih sebuah cincin dan kalung yang sangat-sangat mewah.


"Ini sangat mewah, baru launching dua hari yang lalu dan hanya di buat dua buah saja!" Ucap pelayan Gallery.


Daniza mengangguk seraya menatap pesona pada kalung yang tengah di pandang oleh Ibu Suri Rataporn.


"Nyonya Tam, apa masih belum sampai?" Tanya Ibu Suri.


"Sudah di bawah, Nyonya" Jawab pelayan yang lain, sepertinya dia adalah manajer di gallery itu.


Tidak lama ketukan dari high hills masuk ke dalam pendengaran.


"Nyonya selamat siang" Sapa wanita yang nampak usia nya berkepala empat, bibir merah merona dengan rambut di gelung sempurna layak nya model rambut anak muda.


Mereka pun berjabat tangan dan kini Ibu Suri dan juga Daniza kembali duduk.


"A'ah ini—?" Tunjuk Nyonya Tam pada Daniza karena baru pertama ini melihat wajah nya.


"Ini calon cucu memantu saya" Ibu Suri memperkenalkan Daniza pada Nyonya Tam dengan begitu antusias nya.


"Begitu! Berarti calon dari Pangeran Asnee?" Seru Nyonya Tam sembari menatap lekat wajah Daniza. Tidak ada yang aneh karena bola mata Daniza di lapisi lensa mata agar tidak terlalu mencolok.


"Cantik" Lanjut nya menyanggah dagu.


Nyonya Tam pun menunjukkan desain baru nya untuk model Cincin, gelang dan juga kalung dan itu sangat mewah, berlian berkilauan. Tidak hanya daru berlian, nampak beberapa perhiasan terbuat dari Ruby.


"Kau suka yang mana?" Ibu Suru benar-benar antusias menunjukkan Perhiasan itu pada Daniza. Nyonya Tam pun ikut menoleh, namun aneh dengan ekspresi Daniza yang nampak canggung.


"Ah ini Ibu Suri maaf, tapi saya tidak memerlukan perhiasan ini!" Seru Daniza menolak dengan cara yang halus. Mimik nya pun terlihat tidak enak.


"Wow hebat!" Reflek Nyonya Tam bertepuk tangan, mulut sedikit condong dan terbuka, kepala pun menggeleng dengan penolakan Daniza. Baru kali ini dia bertemu dengan gadis sepolos Daniza.


"Sssshh anggap saja ini sebagai imbalan karena menemani saya ke sini" Ibu Suri semakin menggeser kotak perhiasan itu ke hadapan Daniza.


"Tidak tidak, saya tidak bisa menerima nya. Ibu Suri!" Tolak Daniza terburu-buru.


"Tidak baik loh nak, menolak pemberian dari orang tua sama saja dengan menghina nya! Dosa loh nanti nya" Ujar Nyonya Tam merasa reaksi dari Daniza sangat langka.


"Benar apa kata Nyonya Tam. Ambil salah satu dari mereka dan saya tidak akan merasa berhutang lagi pada mu!" Ucap Ibu Suri singkat mengedipkan salah satu mata nya pada Nyonya Tam.


Daniza mengedarkan pandangan nya ke beberapa etalase yang ada di sana. "Bolehkah saya melihat yang di sana?" Tunjuk Daniza. Ibu Suri dan Nyonya Tam pun menoleh.


"Etalase itu?" Sedikit tergagap, Nyonya Tam pun berdiri.


"Ikuti dia" Ucap Ibu Suri. Daniza pun mengikuti Nyonya Tam.


"Waahh indah" Seru Daniza memuji kalung sederhana dengan satu Berlian menggantung di tengah nya. Nyonya Tam malah menatap Daniza aneh.


Daniza menoleh. "Apa ada yang salah? Ini terlalu mahal ya?!" Ekspresi Daniza begitu lucu, pasti perhiasan yang dia masuki sangat-sangat mahal.


"Ah? Oh tidak tidak" Sanggah Nyonya Tam.


"Perlihatkan kalung yang itu" Ucap Nyonya tam kembali pada pegawai nya.


"Mengenai barang mana lebih mahal harganya. Tentu tergantung jenis permata, intan atau berlian itu sendiri, seberapa besar karatnya, ukurannya, keunikannya, legalitasnya dan ketenarannya serta usianya. Jadi pasti kau paham apa yang saya maksud kan ini. Bukan?!" Tutur Nyonya Tam.


Sambil memandang kalung sederhana itu, Daniza mengangguk dengan ucapan Nyonya Tam.


"Tapi nona, kalung yang anda pegang ini harga nya paling murah di antara perhiasan yang lain. Anda yakin memilih ini?!" Ucap Nyonya Tam karena dia benar-benar tidak habis pikir dengan nona di depan nya ini. Padahal dia calon menantu dari kerajaan, tapi kenapa begitu sederhana.


"Benarkah? Saya mau yang ini saja" Seperti seorang remaja yang tengah belanja dan saat pembayaran mendapat diskon, ekspresi Daniza sama saja seperti itu.


"Anda yakin?" Mulut Nyonya Tam semakin menganga di buat nya.


'Apa dia sedang berakting menjadi gadis sederhana?' Selidik Nyonya Tam dan menuding dalam hatinya.


Tapi sikap Daniza nampak natural, Nyonya Tam semakin penasaran.


"Ibu Suri, saya memilih kalung ini" Ucap Daniza, meletakan box perhiasan di atas meja yang di mana di sana pun ada Ibu Suri dan Nyonya Tam yang kembali duduk.


"Ini? Ini saja? Kenapa yang ini? Masih banyak perhiasan di sini dan yang ini, yang ini, sama yang ini pun bisa kau pilih" Ucap Ibu Suri.

__ADS_1


"Yang ini saja" Daniza kekeh.


Ibu Suri tersenyum dan menepuk punggung telapak tangan Daniza yang begitu sederhana.


"Baik baik, sesuai keinginan mu!" Ucap Ibu Suri.


Daniza pun duduk di sofa sedangkan Ibu Suri dan Nyonya Tam tengah melakukan pembayaran.


"Nyonya, dia benar calon cucu menantu anda? Wah hebat, benar-benar sederhana tapi cantik dan anggun. Anda bertemu dengan gadis itu di mana? Saya juga mau untuk putra bungsu saya"


Tidak berbisik, namun Nyonya Tam bicara dengan suara rendah pada Ibu Suri.


"Salah jika kau bertanya pada saya nyonya." Ibu Suri melebarkan sudut bibir nya.


"Eum ke-kenapa?" Nyonya Tam sesekali melirik Daniza.


"Tanyakan saja pada Pangeran!" Seru Ibu Suri seraya memberikan kartu pembayaran pada kasir.


Nyonya Tam lemas, mana bisa dia bertanya pada Pangeran sedangkan mendengar isu itu saja dia terduduk lemas apalagi bertanya dan menemuinya.


"Ah nyonya bisa saja!" Tepis Nyonya Tam pada keinginan nya.


Setelah melakukan pembayaran, Ibu Suri dan juga Daniza pun meninggalkan Gallery dengan Daniza menjinjing satu paper bag kecil di tangan nya.


"Semoga Tuhan selalu melindungi mu, nak!" Gumam Nyonya Tam yang kemudian kembali masuk ke Gallery.


...**...


Telunjuk Asnee mengetuk berulang, seakan-akan dia tengah memikirkan sesuatu.


"Aku harap ini kesalahpahaman" Gumam Asnee.


Tok


tok


tok


"Masuk" Ucap Asnee.


Brak


"Yoo Pangeran, apa kau tidak bosan terus berada di ruangan gelap seperti ini?" Siapa lagi jika bukan Robert yang memiliki suara yang nyaris melengking itu.


Kevin pun berjalan di belakang Robert dengan kedua tangan masuk ke dalam saku.


Buku melayang, nyaris mengenai batang hidung Robert, untung Robert menghindar. Kevin yang ada di belakang memungut nya.


"Berisik" Tatapan Asnee nyalang, tajam dan seperti bersiap untuk menikam.


"Wih, santai dong kawan!" Robert malah cengengesan dengan wajah tanpa dosa nya. Kevin pun meletakan kembali buku itu di tempat nya.


"As, berita pagi ini kau benar-benar tidak tahu siapa dalang nya? Aku rasa massa itu turun di waktu yang sangat tahu kapan harus turun! Di tambah sebentar lagi kau akan ada acara pertunangan. Bagaimana kau bisa menyelesaikan nya?" Tanya Kevin, duduk di sofa. Robert pun sama, dia menatap Asnee.


"Sedang dalam penyelidikan lebih lanjut. Mereka harus di bereskan sebelum hari pertunangan!" Tutur Asnee menyandarkan punggung nya di kursi kerja.


"Kami akan membantu dalam keamanan, penyelidikan pun sedang dalam proses! Untuk informasi lebih lanjut akan kita kirim pada mu" Ucap Kevin.


Robert menghela nafas. "Tempo nya sangat di luar dugaan—" Robert kembali melirik Asnee.


"As, kau yakin hanya orang luar yang melakukan ini? Sorry tapi aku pribadi merasa ada yang aneh dengan Kerajaan mu ini!" Lanjut Robert, mengingat kasus yang lalu mengenai guru Jeno dan bibi Mali, sepertinya kecil kemungkinan terlibat. Pasti orang-orang nya masih ada, tapi tidak akan seapik ini.


Asnee reflek menatap Robert. Kevin menatap Asnee dan dia paham dengan ekspresi itu.


"Kalau kau membutuhkan kami, bilang saja dari sekarang!" Ucap Kevin.


Robert melirik Kevin. "Benar As, jangan sungkan!" Timpal Robert.


"Tentu. Tapi tidak untuk sekarang! Aku tidak ingin mengundang banyak mata dan telinga, perlahan dan senyap dahulu saja. Untuk selanjutnya akan aku beri tahu!" Ucap Asnee.


Benar, Asnee bukan tipe orang yang tidak sabaran apalagi mengobrak-abrik lawan di depan umum.

__ADS_1


"Pangeran" Ucap pelayan dari luar pintu. "Nona Daniza sudah sampai di istana" Ucap nya melapor.


Mereka yang ada di dalam mendengarkan.


"Dia masih di sini?" Tanya Robert karena dia sudah lumayan lama tidak melihat Daniza.


"Ya terus kau pikir dia kemana?" Pungkas Kevin saat Asnee hendak bicara. Robert hanya tertawa saja seperti biasa.


Ketukan pintu kembali terdengar. "Tuan" Suara Karl masuk.


"Masuk" Pintu terbuka. Asnee dan Kevin tidak menoleh ke arah Karl dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Woaa ada Niza?" Robert berdiri. Daniza bergeser dari belakang tubuh Karl.


Asnee dan Kevin pun reflek menoleh ke arah kedatangan Karl. Daniza memberi salam pada Robert juga Kevin bergantian.


"Niza, ajak mereka ke gazebo. Nanti saya ke sana setelah urusan selesai" Ucap Asnee dengan kode tangan nya.


Daniza, Robert dan Kevin pun ke luar.


"Bagaimana?" Tanya Asnee.


"Saya tidak bisa masuk, Pangeran!" Karl merasa tidak berguna saat ini.


"Tidak masalah, bisa di coba lain hari" Asnee membalikkan badan nya memunggungi Karl. Karl hanya menunggu instruksi selanjutnya.


"Mereka hanya membidik tahta. Kau juga pasti merasakan itu, bukan. Karl?! Terus pantau pergerakan nya, jangan sampai lengah! Jika hanya posisi yang di bidik, aku akan paham" Ujar Asnee.


"Baik, Pangeran"


...**...


"Mereka ke mana?"


Asnee menghampiri kedua teman nya dan juga Daniza di gazebo, tapi di sana hanya ada Daniza seorang.


"Mereka pamit, tadi terburu-buru katanya ada urusan!" Ucap Daniza.


"Urusan?" Ucap Asnee mengulang, Daniza pun mengangguk.


"Kau membawa apa? Bagaimana tadi, apa tidak ada kendala?" Tanya Asnee. Niza pun membuka paper bag kecil itu.


"Ini kalung dari Ibu Suri dan aku yang memilih nya" Asnee mengambil alih dan membuka nya.


"Ini—?" Kening Asnee mengerut, Daniza pun lebih dulu berucap.


"Barang nya mahal ya? Apa aku kembalikan lagi ya ke toko nya?" Saking takut nya mendapat komentar tidak sedap dari Asnee, Daniza bicara dengan cepat.


Asnee semakin menautkan alis, karena harga kalung yang sekarang dia pegang belum seperempatnya dengan harga jam yang kini dirinya pakai.


"Pakai saja, untuk apa di kembalikan lagi?!" Seru Asnee melepas kalung itu dari box nya. "Sini" Asnee bergeser ke belakang Daniza dan membantu memakaikan.


"Cantik" Puji Asnee.


"Benarkah?" Daniza menyelidik mencari kebohongan pada sorot mata Asnee. "Kau berbohong" bibir mengerut membentuk love, pipi sedikit menggembung merengut menatap Asnee.


Kedua alis Asnee naik, senyum nya tipis, dia ingin sekali menggigit Daniza yang begitu lucu. Jari jemari Asnee pun terasa gatal.


"Ya terserah, sana lihat saja di cermin!" Seru Asnee membuat Daniza semakin cemberut, sorot mata tanpa beban itu pun begitu menenangkan.


'Huffhh'


Daniza meniup rambut pendek tipis nya yang menutupi kening dengan kesal.


"Cantik."


Dengan senyum lebar, Asnee menarik tangan Daniza sehingga kini dia memeluk nya saat hendak Niza melangkah pergi.


"Emang cantik"


Daniza mulai berani, dia perlahan mulai terbuka dan tenang saat berhadapan dengan Asnee. Senyum Asnee pun perlahan melebar, dia mengelus kepala belakang milik Daniza berulang.

__ADS_1


__ADS_2