The Future King

The Future King
Eps 128


__ADS_3

Daniza membolak-balik Plakat itu, benda itu nampak aneh di manik mata nya. "Benda apa ini?" Gumam Daniza. Dia tidak mengenalnya, untuk itu menaruhnya kasar di atas ranjang dan dirinya memilih mengganti baju untuk bersiap.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pada pintu terdengar nyaring, Daniza menduga-duga siapa yang datang, soalnya jika Asnee pasti akan langsung masuk tanpa mengetuk.


"Siapa?" Seru Daniza.


"Saya" Sahutan dari luar, suara itu dia mengenal nya.


Daniza merapihkan baju nya lalu mengikat rambut asal. "Masuk!" Ucap Daniza.


Krieeett


Pintu pun terbuka lebar, Ahan pun nampak berdiri tegap dengan celana Chino panjang di padukan dengan kaos polos yang biasa dia pakai jika sedang tidak bertugas.


"Kau mau kemana?" Ahan bertanya lebih dulu saat dirinya melihat Daniza sudah bersiap. "Kau sudah baikan? Obat nya sudah di minum?" Ahan terlalu kentara memperlihatkan kekhawatiran nya, tapi giliran ditanya siapa dirinya, dia malah menghindar.


Daniza beres-beres keperluannya ke dalam tas, mengabaikan kedatangan Ahan. "Aku sudah sembuh. Kau tidak lihat?" Di sela kesibukan nya, Niza sejenak memperlihatkan kesehatan nya dengan merentangkan satu tangan sesaat.


"Yakin? Saya tidak akan melarang kau kemanapun jika memang sudah sembuh!" Seru Ahan.


"Yakin! Masih tidak percaya? Lagipula Asnee yang mengajak ke luar dan oh iya lupa. Ini—!" Daniza memberikan Plakat itu kepada Ahan.


"Itu barang apa? Aku tidak mengenal nya. Apa kau tahu?!" Daniza seakan memang tidak tahu benda apa itu, sampai Ahan menautkan kedua alis nya.


"Niza apa kau sedang bercanda? Jangan main-main dengan saya!" Ahan tidak habis pikir, dia menyelidik mencari kebenaran dari mata Daniza.


"Ini Plakat, Daniza Evelyn. Kau jangan bercanda?!" Sembari memberikan kembali plakat, Ahan kesal. "Sebelum nya pun kau pernah memiliki ini, Niza!"


"Masa. Kapan?" Seolah tengah mencari kesempatan untuk mengetahui siapa Ahan, Daniza pura-pura tidak tahu akan benda itu. Faktanya dia baru sadar tadi pas mengganti baju dan berniat akan menanyakan nya pada Asnee.


"Ah sudah lah!" Ujar Ahan.


Niza kembali kecewa, padahal dia berharap kalau Ahan bisa terpancing dengan keberadaan Plakat itu, tapi nyatanya salah besar.

__ADS_1


"Ish" Decak Daniza. Dia pikir Ahan benar-benar orang yang sangat tertutup.


...**...


Rumah sakit Lovina sedang gempar hari ini, kedatangan Panglima militer sudah tersebar di setiap sudut rumah sakit.


Pihak yang memang memiliki bisnis ilegal, nampak rusuh mengamankan semua barang itu dan menutup rapat ruangan khusus yang ada.


Panglima Militer, bukan hanya itu ternyata polisi militer pun datang dengan seragam lengkap.


Suara sirine dari mobil polisi memecah kedamaian. Semua penghuni rumah sakit, baik pekerja atau pengunjung mengira itu suara ambulance, tapi nyatanya bukan.


"Gledah semua ruangan tempat isolasi donor. Jangan ada yang terlewat" Titah dari Tuan Esan di patuhi oleh bawahan nya.


Bukan tidak mengikuti peraturan, tapi dirinya bertindak karena ini menyangkut nama baik militer sendiri. Beberapa pangkat dari militer yang bersangkutan telah di amankan, tinggal barang bukti yang harus di temukan.


Dua mobil sampai kembali di depan halaman rumah sakit megah. Asnee dan Daniza pun turun di ikuti oleh pengawal nya termasuk Karl di antara mereka.


"Karl, tetap di samping Daniza!" Seru Asnee memerintah saat orang-orang di dalam rumah sakit di amankan oleh beberapa polisi militer agar tetap tenang.


"Hormat" Deru nafas dari orang-orang di dalam seketika terputus sejenak kala menangkap keberadaan Sang Pangeran dari Kerajaan Yodrak.


"As" Dari pintu luar, Kevin pun datang dan memanggil Asnee.


"Kevin. Kau di sini?!" Seru Asnee.


Kevin pun nampak memberi salam pada Daniza dengan tatapan berbeda seperti biasanya.


"Ayo ke dalam" Ajak Kevin selaku putra sulung dari Tuan Esan.


Di ruangan Direktur, Tuan Esan duduk berhadapan dengan seorang pria yang usia nya nampak telah lanjut. "Hahaha saya tidak menyangka akan mengundang seorang pejabat penting negara datang kemari" Ujar nya dengan tawa singkat sembari menuangkan air teh hangat ke dalam gelas pendek berwarna putih susu.


Tuan Esan pun tidak kalah menatap lekat pada sang direktur itu. "Saya pun tidak menyangka akan ada hari di mana melakukan operasi dan menugaskan polisi militer di bawah naungan saya menggeledah Rumah Sakit yang sangat terkenal dengan segala peraturan dan sosial serta dedikasi yang tinggi ini!" Seru Tuan Esan tidak kalah dalam berkata-kata.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Pintu terbuka, ternyata dokter kepercayaan dari pak Direktur masuk. Dia memberi salam dan memberitahu jika ada tamu lain nya yang datang.


"Persilahkan masuk" Ucap nya dengan kode di tangan.


Asnee, Daniza serta Kevin pun masuk dengan langkah sama. "Selamat sore pak Direktur" Sapa Kevin, Asnee pun memberi salam sedangkan Daniza hanya mengatupkan kedua tangan nya di dada.


"Pangeran" Sapa tuan Direktur itu berdiri dan memberi salam sopan terhadap penerus Raja.


Perangai nya nampak satai dan tenang, namun banyak menyembunyikan dosa dan kasus kotor di dalam nya.


"Saya sangat senang dengan kunjungan anda. Tidak pernah sedikit pun akan ada hari di mana anda menginjakkan kaki di rumah sakit ini! Maaf jika membuat anda tidak nyaman!". Tutur nya begitu tersusun rapih dengan kacamata bening dengan frame kotak berwarna silver bertengger di atas hidung nya.


Asnee duduk tegap, dia pun santai menghadapi. "Terimakasih atas sanjungan anda, Tuan!" Seru Asnee.


"Saya selesai mengintrogasi rekan saya di militer. Mereka pun mengakui akan keberadaan bisnis itu—"


"Dan ini rekaman jika anda tidak percaya!" Lanjut Kevin. Tuan Direktur itu menatap lekat wajah Kevin.


"Putra anda sangat cerdas. Panglima!" Seru Tuan Direktur itu masih menatap lekat wajah Kevin.


Berbincang panjang, namun Direktur itu terlalu pandai mengunci mulut nya walau sebagaimana mereka mengorek permasalahan sebenar nya.


"Saya tidak akan memaksa anda membuka suara dan memberitahu siapa saja yang ikut dalam bisnis ini, tapi jika pejabat negara terutama yang berurusan dengan istana saya akan angkat tangan" Tutur Asnee pun dalam keadaan tenang.


Semburat senyum smirk terulas dari Tuan Direktur itu berpikir jika Pangeran di hadapan nya sangat berbahaya.


"Ini"


Daniza pun akhirnya bersuara, dia mengeluarkan Plakat yang diberikan Asnee.


Deug


Jantung Pak Direktur berdegup saat melihat plakat itu, bahkan plakat yang dirinya miliki jauh di bawah level Plakat itu.


"Saya ingin melihat barang itu" Daniza menatap lurus pada Direktur itu. Asnee, Tuan Esan dan juga Kevin seketika menoleh pada Daniza.


Kelopak mata mereka membulat sempurna kala melihat warna mata Daniza merah padam namun nampak bening di setiap sisinya. Isi dari mata itu seakan begitu transparan namum menunjukkan ketajaman sekaligus keindahan.


Kini bukan hanya jantung pak Direktur yang berdegup, namun Asnee, Tuan Esan juga Kevin seketika berdegup, terutama Asnee yang dia pun baru pertama kali melihat warna asli dari mata Daniza.

__ADS_1


__ADS_2