
Pertahanan orang-orang sekitar mungkin akan ambruk saat ketiga turunan ABRAHAM itu bersuara, namun kesadaran masih normal sehingga lutut mereka masih bisa menahan badan nya. Ucapan Rayzen seolah menyepelekan uang-uang itu yang padahal sangat berharga untuk seukuran para pengusaha seperti salah satu dari tamu undangan yang datang, tapi bagi ketiga Turunan ABRAHAM itu hadiah yang mereka berikan bukan apa-apa.
Asnee dan yang lain nya pun istirahat karena waktu semakin sore. Revan dan Revin juga Ronald pun menyapa keluarga kerajaan saat semua tamu sudah pamit pulang.
"Doa terbaik dari kami untuk kamu. As!"
"Sudah ber-KTP, berarti usia mu semakin bertambah. Ingat, dewasa itu memang bukan di ukur dari usia tapi dari sikap, Jadi belajar untuk mencoba menjadi dewasa yang lebih baik lagi agar rakyatmu kelak menghargai mu tanpa imbal dan pamrih" Ucap Revan.
Asnee lebih dulu menghentikan para keluarga SMITH itu bicara, dia bukan nya tidak sopan tapi pasti setelah ini akan ada yang memberi kado kembali dan Asnee sudah tidak mau mendengar.
"Uncle, terimakasih atas doa nya. Kalian nikmati jamuan nya ya! Ini Asnee mau ke kamar kecil dulu" Terburu-buru, Asnee hendak pergi tapi sayang, seperti anak itik yang di tarik ekor nya, Revin menarik kerah belakang baju Asnee sehingga dia kembali mundur.
Tidak ada lagi sosok seorang Pangeran jika Asnee sudah berada di antara orang-orang itu.
"Kamu harus menghargai ini, ini dan ini" Revin dengan sedikit bercanda menempelkan tiga hadiah di dada Asnee.
"Aaaaa tidak mau, bolehkah Uncle simpan saja? Atau kasih ke kak Rayya atau kak Fifi gitu? Ini sudah banyak" Asnee menolak seperti anak kecil.
"Ya sudah buang saja!" Timpal Ronald melipat kedua tangan nya. "Eh bujang, terima saja! Mungkin kedepannya hadiah-hadiah dari kami ini akan sangat kau butuhkan, kan?!" Lanjut Ronald.
Padahal masih belum tahu hadiah apa yang keluarga SMITH itu berikan.
"Helikopter"
"Perusahaan keamanan"
"Saham 25% Hotel Delindra yang ada di Amerika"
Wajah-wajah yang sepertinya tidak ada lagi darah yang mengalir di sana, keluarga kerajaan, kedua teman Asnee mematung dengan perkataan Revin.
"25%?" Aat tergagap. Saham senilai itu sangatlah besar untuk seukuran pemegang saham.
"Kami sudah menyelesaikan berkas nya sehingga tidak ada lagi yang harus di urus" Tutur Ronald.
__ADS_1
Tidak terasa, langit pun menggelap tanpa sadar. Keluarga Mafia di jamu dengan sangat baik di istana sampai di sediakan tempat tinggal.
"Saya bantu" Ucap Daniza, melepas pakaian berat yang di pakai Asnee, dia nampak menarik-narik kerah dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Tidak perlu. Kau kembali saja!" Tolak Asnee, dia sama sekali tidak melihat Daniza.
"Jika keberatan dengan hadiah itu, biarlah!" Ucap Daniza sedikit menyenderkan tubuh nya di dinding. Asnee nampak terdiam, seperti nya memang hal itu yang membuat Asnee nampak terlihat sangat lelah.
"Mereka memberikan itu pasti ada alasan nya. Saya melihat jika mereka orang-orang yang banyak berpikir dan memikirkan sesuatu sebelum melakukan apapun!" Ucap Daniza kembali.
Asnee masih terdiam, Daniza hanya memperhatikan. Hembusan nafas terdengar lelah, wajah Asnee menghadap jendela yang gorden nya belum tertutup.
Daniza ke kamar mandi dan tidak lama kembali ke luar.
"Saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda, segeralah bersihkan diri dan istirahat!" Ucap Daniza.
"Kemarilah" Pinta Asnee sejenak menoleh dan kembali memalingkan tatapan nya. Daniza yang hampir menginjak ambang pintu dia urungkan.
Tubuh Daniza pun berdiri di depan Asnee yang masih terduduk di ujung kasur. Tidak ada suara, Daniza pun terlihat canggung dan tidak nyaman.
Daniza diam, dia tidak ingin ikut campur masalah internal keluarga nya.
"Biarkan seperti ini sebentar"
Daniza kaget, dia kini duduk di lahunan Asnee dengan tangan kekar melingkar di pinggangnya.
Dagu Asnee mengait di pundak Daniza, memejamkan matanya di sana.
Bilang nya sebentar, tapi ini hampir lima belas menit Asnee tidak melepaskan pelukan nya.
"Air panas nya mungkin sudah dingin, biar saya hangatkan lagi" Ucap Daniza perlahan menepuk berkala punggung Asnee.
Asnee tidak bergeming, dia sepertinya enggan untuk melepaskan Daniza, entah kenapa dirinya nyaman saat berdekatan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Dia belum ke luar?"
Ahan yang tengah berdiri di ujung halaman, tiba-tiba dari belakang di tepuk Edward. Ahan pun menoleh dan ternyata tidak hanya Edward yang ada di sana, tapi juga David ada di sana.
"Sepertinya anda terus memperhatikan gadis itu. Tuan? Apakah anda tidak tahu jika dia adalah calon istri sang Pangeran?" Nada suara Edward terdengar tidak bersahabat namun tidak ada aura membunuh dari nya.
Ahan tidak menjawab, dia tipis menundukkan dagu nya dengan senyum tipis di kedua sudut bibir nya.
"Adik nya sudah ada bersama kita, kami mungkin bisa mempercayakan dia pada anda" Ucap Edward kembali seakan-akan tengah mengetes Ahan saat ini.
David diam mendengarkan.
"Benarkah? Nona Iswara?" Tentu saja kaget, Ahan seakan percaya tidak percaya.
"Bahkan anda sudah tahu nama dari adik sepupunya gadis itu?" Timpal David. Ahan menoleh, dia tengah mencerna maksud dari ucapan dua orang tua di depan nya.
Ahan terjebak, seperti dengan satu kali lihat mereka tahu siapa dirinya sebenarnya.
"Berhati-hatilah jangan bermain dengan api kalau anda tidak ingin terkena asapnya!" David kembali berbicara.
"Sepertinya ada kesalahan di sini" Ahan mengatupkan kedua tangan nya dan berlalu pergi. Edward dan David saling lempar pandang akan sikap Ahan.
Tidak bertamu lama, langit kembali cerah degan begitu cepat. Keluarga Mafia itu di jamu makan sebelum kembali pulang.
"As, Mama dan Papa akan kembali ke Afrika, di sana masih kekurangan relawan dan tim bedah sangat membutuhkan papamu, jadi jika kami tidak ada kabar maka hubungi rekan mama saja ya! Di sana sinyal sedang tidak stabil dan ini kontak telponnya." Tutur Nara saat mereka telah sarapan pagi bersama.
"Zevan bagaimana? Tidak baik meninggalkan anak di usia perkembangan nya, Mam!" Ucap Asnee.
"Dia akan tinggal di mansion Lucifer terlebih dahulu selama mama di sana."
Perbincangan panjang tidak terasa usai, namun Ruby nampak mendekati Asnee setelah berbincang serius.
"Kado dari mommy akan di kirim besok, sekalian untuk kado pernikahan mu nanti" Ucap Ruby. Mungkin Asnee sudah lelah mendapat kado dari SMITH juga ABRAHAM dan yakin pasti hadiah dari LUCIFER juga JEFFREY akan menyakiti telinga nya.
__ADS_1
"Ok ok, ayo pesawat kalian sudah menunggu di bandara" Rangkul Asnee pada pinggan Ruby, saking tidak ingin mendengar hadiah apa yang akan di berikan keluarga Lucifer pada nya.