
"Karl, kita ke Perusahaan X" Titah Asnee menutup pintu mobil dan membuka benda pipih di tangan nya. Karl mengangguk paham.
Asnee pun sampai di depan perusahaan arsitektur terbaik di negara nya. Asnee masuk ke dalam di ikuti oleh Karl di belakang.
Asnee telah berganti pakaian, dia tidak terlalu memperlihatkan perangi seorang pangeran saat ini. Alasan utama nya tentu saja agar tidak menghambat pekerjaan nya.
Karl berbicara dengan resepsionis dan tidak lama setelah itu mereka di persilahkan untuk menunggu di ruang tunggu perusahaan.
Menunggu beberapa menit, seorang pria tinggi berbadan kurus tapi berotot berjalan menghampiri tamu yang hendak menemui nya.
"Selamat siang, tuan! Ada yang bisa saya bantu?"
Asnee menoleh, memperhatikan wajah nya dengan seksama namun sedetik kemudian tersadar.
Asnee berdiri berbalik sopan. "Selamat siang" Ucap Asnee mengulurkan tangan nya dan di balas oleh pak Kiet-putra dari pak arsitektur yang tadi Asnee temui.
"Apa saya mengenal anda? Rasanya wajah ini pernah saya lihat, tapi entah di mana!" Ujar nya mengusap-usap dagu dengan jari telunjuk sendiri. Asnee mengulas senyum sehingga kulit di sudut mata nya ikut mengkerut dan nyata nya dia ingin segera bertanya mengenai masalah pembangunan itu.
"Mungkin perasaan anda saja, tuan!" Ucap Asnee.
"Jadi, apa ada yang bisa saya bantu. Tuan? Jika ada yang mencari saya tidak mungkin jika bukan berurusan dengan perancangan bangunan, bukan ?!" Ujar nya tak bernada sombong. Asnee pun bisa menilai lawan bicara nya walau tidak seksama.
Tangan merogoh saku, Asnee pun mengeluarkan selembar photo yang juga sama dia berikan ayah pria itu. Kiet, menatap Asnee sekilas dan fokus pada orang yang ada di photo itu.
"Anda siapa?" Selidik nya seketika menatap Asnee kembali.
Kedua tangan Asnee menyatu dengan selah jari jemari berkaitan."Orang bilang anak berbakti akan selalu di lindungi oleh orangtuanya dan ternyata itu benar bukan, Tuan Kiet?!" Perkataan Asnee terdengar ambigu, Kiet tidak mengerti apa yang di maksud oleh tamu di depan nya.
"Maksud anda—?" Jeda Kiet menerka namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Dan tentu saja kau sangat berbakti kepada ayah mu dan kau tidak segan mengatakan apapun yang berhubungan dengan kebenaran"
Ah, kata-kata Asnee benar-benar tidak di mengerti namun padahal ungkapan Asnee memang dari dalam hatinya dan lagi Asnee memang seperti tengah menyindir nya.
__ADS_1
"Ah hahaha—"
"Jadi bisa langsung pada intinya?" Ujar Kiet merapatkan kembali mulutnya setelah tertawa canggung. Sunggingan bibir Asnee pun terpaut.
"Saya di sini bukan untuk berbisnis mengenai pekerjaan mu, tapi jika kau butuh sesuatu, aku akan membantumu dengan senang hati!"
"Kau temui ayah mu untuk lebih jelas nya, dia akan menjelaskan nya mewakili diriku!" Lanjut Asnee tidak lebar.
Kiet reflek berekspresi heran, dia tidak mengerti siapa orang di depan nya ini. Apa dia orang gila? Jika benar, mana ada orang gila berpakaian trendi dan rapih. Kiet menepis pikiran nya.
Kebenaran nya adalah Kiet orang yang santai, dari sorot mata nya pun sudah terlihat jika dia adalah orang yang tidak suka membesar-besarkan sesuatu, terlebih masalah yang membelenggunya.
"Kau bercanda?! Kenapa jadi ayah ku? Kenapa dengan dia ? Lagi pula anda ini siapa?" Ujar Kiet masih santai, dia melonggarkan dasi nya perlahan.
Asnee berdiri, kembali mengulurkan tangan nya. Kiet menengadah menatap Asnee dan tangan yang terulur bergantian.
"Asnee, putra dari Raja Aaron" Ucap Asnee santai.
"Tuan" Ucap Asnee kembali.
"Uuh?" Respon Kiet mendadak pilu dan bernada rendah.
Asnee pun membantu Kiet berdiri tegap namun terlihat lutut Kiet seakan tidak bisa lagi menumpu tubuh nya sehingga dia sempoyongan.
Jakun Kiet naik turun seperti susah menelan ludah nya sendiri. Sorot mata pun menjadi kosong.
Karl yang melihat dari luar pun ingin sekali tertawa, tapi wajah dingin nya sangat tidak mendukung. Karl pun menerima panggilan saat handphone di dalam saku celana nya bergetar.
Asnee melepas Kiet, dia pun pamit undur diri dengan sopan. Percakapan mereka tidak seberapa dan terlihat seperti pertemuan canda, namun di balik itu Asnee mencoba meretas perusahaan itu karena apa yang menjadi bukti harus tetap lengkap dan sesuai dengan logika.
Mobil hitam itu pun kembali melesat pergi dari area perusahaan. Kiet masih terpaku, tertegun tegap namun bola mata mengikuti kepergian mobil hitam yang di tumpangi sang pangeran.
...**...
__ADS_1
Aula perjamuan istana kembali ramai kembali, perdana mentri dan jajaran nya pun ada di sana, dari sisi lain ada mentri pertahanan serta jajaran nya. Orang-orang politik dan pebisnis pun ada di sana entah ada jamuan apalagi di istana, dari dia datang sampai hari ini, di istana selalu ramai.
"Pangeran silahkan mengganti pakaian anda terlebih dahulu! Raja sedang menunggu anda di dalam" Kepala pelayan dari istana timur tempat dirinya tinggal menghampiri dengan napas terengah-engah.
Langkah Asnee pun semakin lebar, dia menanggalkan jaket nya dan Karl mengambil alih.
Tidak menelan waktu lama, pintu aula kembali terbuka dan mengumumkan jika Sang Pangeran telah tiba.
Orang-orang di dalam menoleh, memfokuskan tatapan mereka ke arah pintu. Anggota kerajaan pun ada di sana termasuk Mali juga Jeno yang tadi tengah berbincang bersama dengan Aat.
Senyum palsu pun beredar, Asnee menampilkan gaya itu saat ini. Pandangan nya tajam penuh memberi salam dengan sedikit menundukkan pandangan nya di setiap langkah sampai akhir nya kaki itu pun terhenti di depan sang Raja.
Asnee memberi salam pada Raja. Saat ini tidak ada ayah dan anak melainkan Raja dan Pangeran.
Perdana Mentri menghampiri.
"Salam, pangeran" Ucap nya. Beberapa dari mereka pun silih menghampiri dan menyapa Raja mereka. Tentu saja ada yang berpura-pura suka ada juga yang memang menyukai Asnee.
"Setelah ini ada rapat, kau akan ikut dengan papa" Ucap Aaron. Asnee hanya mengangguk mengerti.
"Pa,—" Tukas Asnee. Aaron mengikuti tatapan nya ke arah kiri.
"Apa?" Aaron tidak mengerti, di kiri sana ada Mali dan juga Jeno serta Aat tengah berbincang.
"Apa seorang guru istana juga harus mengikuti perjamuan resmi istana? Tidak masuk akal sekali" Ujar nya pelan namun sangat tajam. Aaron tidak berkomentar, dia hanya menatap selidik saja dan itu pun bukan pada arah tatapan Asnee melainkan pada putra nya sendiri.
"Pangeran, mari bergabung dengan kami" Ucap perdana mentri di mana di sana pun terlihat ayah dari Kevin dan juga Robert berdiri. Asnee dengan senang hati bergabung.
Aat pun kini berdiri di samping Aaron. "Bagaimana perkembangan putri mu, Aat?"
Gadis kecil yang cantik memakai gaun selutut tengah duduk di meja bersama dengan Raja terdahulu. Ya, dia Ananada dan juga istri nya.
Aat tidak menjawab, dia hanya menatap putrinya dengan berbagai tatapan, Aaron pun melihat itu.
__ADS_1