
Asnee membalikkan tubuh Daniza dan langsung menyembunyikan nya di dada. Tubuh Daniza bergetar, Asnee pun merasakan cengkraman kuat di baju nya.
'Hiks'
'Hiks'
'Hiks'
'Hiks'
Daniza menangis, namun hanya terdengar oleh Asnee. Mata Asnee pun tidak lepas dari organ-organ yang terpisah dan di susun berdasarkan model. Semua nya ada di sana dengan kotak kaca yang membuat nya semakin terlihat.
"Tangkap mereka" Titah menggema dari Panglima Militer. Tuan Esan pun geram, bisa-bisa nya dirinya ter kelabui oleh seorang bawahan yang pangkat nya jauh darinya.
Kevin pun ikut andil. Tuan Nan terutama Tuan Vans dan antek nya langsung di sergap dan di tekuk agar menapaki lantai.
Senjata laras panjang lengkap menjadi alat tekan untuk polisi Militer.
"Kau—"
Daniza menatap nyalang, dia lepas dari pelukan Asnee begitu saja dan Asnee tidak bisa menahan nya sama sekali.
Salah satu anggota dari polisi militer itu menahan Daniza, tapi dia kini malah terpental menubruk teman nya yang lain.
Brakk
Kreukk
'Aahhh sss'
Ringisan terdengar, dia meringis menekan pinggang nya erat.
"Yaak bangun, kau berat. Bodoh!" Teman nya yang berada di bawah mengguncang, tangan nya memukul keras sehingga dia beranjak masih memegang pinggang.
Asnee menghampiri, namun saat hendak menggapai lengan Daniza, ada Ahan yang mencegah nya.
"Biarkan!" Seru nya. Asnee menoleh pada Ahan.
"Maaf tuan, saya akan ikut ke tempat tahanan. Ada urusan dengan nya yang belum selesai!" Ucap Ahan pada Tuan Esan seraya mata nya menatap Tuan Vans.
Brakk
Tangan dan kaki Daniza entah terbuat dari apa, tapi orang-orang yang dia pukul dan dia tendang pasti langsung terpelanting.
Dan kini tubuh Tuan Vans kembali terbentur pada tembok. Daniza masih bisa berpikir dalam kemarahan nya, sehingga organ yang ada di dalam tidak terkena amukan nya dan aman.
Daniza terus mengamuk, namun dia tidak kuasa saat melihat mata ketiga orang yang di cintai nya.
"Iswaraaaa"
Daniza berteriak. Air mata nya begitu panas, dada nya sesak dengan jantung terus berdetak tidak karuan.
__ADS_1
"Kau harus matii—"
Bletak..
Daniza terus menyerang Tuan Vans dan juga Tuan Nan yang sudan di borgol.
Tidak ada yang menghentikan nya, sekalipun seorang Panglima dan juga Pangeran. Mereka kemungkinan baru melihat mata merah padam dengan amukan menekan.
"Nona, nona..." Dengan badan tertutup semua perlengkapan tempur, wajah tertutup masker dan senjata laras panjang tergantung di pundak.
Satra, dia datang setelah mengamankan pembeli dari pelelangan dan mengamankan orang-orang di luar, melihat Daniza mengamuk dan tidak ada yang meredakan, dia segera mendekat.
"Simon akan kecewa jika anda tidak bisa mengendalikan amarah ini!" Seru Satra lembut berbisik di belakang kepala Daniza.
Lirikan mata Daniza yang semulavmerah bening menjadi merah padam tapi tidak membuat Satra mundur. "Tenanglah! Kami akan menghukum mereka dengan setimpal!" Lanjut Satra.
Namun di luar dugaan.
BBrughhh
Daniza pun menyerang Satra, dengan Satra tidak melawan sama sekali.
"Niza Niza. Stop! Tenang lah!" Asnee pun akhirnya kembali menarik tangan Daniza.
Kevin dan Tuan Esan mematung di tempat. Mereka menyaksikan keberingasan seorang gadis muda tanpa senjata di tangan dengan begitu sadis nya.
"Daniza" Gumam Kevin.
Tuan Esan memerintah Satra untuk membawa pelaku ke markas. Satra pun kembali berdiri namun mendapat ejekan dari tatapan Ahan.
"Sial" Umpat Satra membalas tatapan sinis dari Ahan.
Ruang Laboratorium itu kini di jaga ketat dan di amankan. Rumah Sakit Lovina begitu ramai sampai langit menggelap. Banyak orang penasaran sampai di mana banyak yang mengambil rekaman tentang kejadian itu.
"Siapa kalian sebenarnya?"
Daniza sedikit tenang, namun baju Ahan menjadi sasaran saat ini. "Kenapa orang itu menyebut nama dia? Siapa kalian sebenarnyaa?!" Daniza berteriak histeris mengguncang baju Ahan dengan sangat kasar.
Wajah Daniza merah padam begitupun mata nya, air mata yang mengalir dari hangat menjadi panas begitupun dengan nafas nya.
Ahan memeluk Daniza erat walau gadis itu terus memukul tubuh nya. Kaki Daniza pun aktif menendang tulang kering Ahan.
'Heukss'
'Heukss'
Tangis meraung, menggema di dalam labolatorium menyakiti hati. Anak mana yang tidak akan hancur kala melihat itu.
"Wara Hiks,, Hiks,, Hiks,," Daniza terus memanggil nama Iswara dalam tangis nya. Hati nya begitu sakit saat mengingat keluarga yang di cintai nya.
"Simon tolong aku"
__ADS_1
Deug
Hati Asnee berhenti berdetak, Dia mendengar calon istrinya menyebut nama pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Asnee bertanya-tanya, siapa Simon itu. Kenapa Daniza sampai meminta pertolongan nya, bukan kepada nya?.
"Tenanglah!" Ahan memeluk Daniza erat, mengelus kepala nya sembari menatap tiga pasang mata yang semakin membuatnya marah.
'Tuan, Nyonya, Paman, dengan nyawa dan darah saya. Baik ada maupun tidak ada, baik sakit maupun sehat, baik dekat maupun jauh. Saya Ahan Erickson hanya akan melindungi semua keturunan Kerajaan Keira dan akan patuh hanya pada Keturunan Keira'
'Dan sekarang, saya kembali menemukan mereka dengan Simon dan Satra menjadi perisai untuk keselamatan kedua masa depan Keira'
Jantung Ahan berdegup kencang, darah nya mendidih kala mengingat sumpah itu.
Dari awal kedatangan Ahan ke kerajaan, pantas saja Lexi mendapat penolakan waktu itu, ternyata Ahan hanya bisa patuh kepada Raja Keira dan anggota keluarga nya, namun ada beberapa sebab Ahan menuruti permintaan Lexi.
Seakan Tuhan menyertai, Ahan menemukan Daniza di dalam kerajaan dengan pura-pura tidak kenal dan ternyata perlahan dia mengetahui kenapa Daniza bisa sampai berada di sana.
"Jaga dia" Ahan melepas pelukan nya dan kini Asnee berhadapan dengan Daniza.
Ahan melirik. "Jaga dia, jika anda tidak dapat menjaganya maka saya lebih mampu merawat nya!" Ahan menepuk pundak Asnee.
Lirikan sudut mata Asnee semakin tidak terbaca, untuk itu cengkraman di pundak Asnee semakin kuat.
"Untuk itu jangan pernah mempermainkannya!" Bisik Ahan di telinga Asnee.
Asnee pun menepis tangan Ahan, Ahan pun pergi mengikuti Tuan Esan.
"Karl" Asnee menghubungi Karl yang berada di lobi rumah sakit.
"Saya, Pangeran" Sahut Karl dari seberang sana.
"Ikuti Ahan dan kau cari tahu rekan-rekan tuan Vans, mereka semua ada hubungan nya dengan antek-antek calon Parlemen tahun ini"
"Baik, Pangeran" Karl pun menutup panggilan nya saat dia melihat Ahan berjalan di belakang Tuan Esan.
"Saya akan ikut dengan anda" Ucap Karl.
"Ok!" Jawab Ahan singkat.
Sedangkan Asnee membawa Daniza ke tempat sejuk, di area rumah sakit yang terlihat tidak ramai.
"Kemarilah" Dengan lembut, Asnee menarik pelan tangan Daniza.
Air mata Daniza kembali menetes, menatap mata Asnee dengan penuh luka dan juga dendam.
"Semua nya akan baik-baik saja" Ucap Asnee kembali, mengelus punggung Daniza berulang. Dia tadinya ingin bertanya siapa Simon tapi di urungkan karena keadaan tidak memungkinkan.
Hatinya sangat sakit, dia tidak menduga akan merasakan hal seperti ini. Asnee pun nampak berpikir keras, apakah dia sudah jatuh cinta pada Daniza? Asnee terus memikirkan itu seraya mendekap Daniza.
...***...
__ADS_1