The Future King

The Future King
Eps 36


__ADS_3

Keesokan harinya, tempat di mana Gallery berada.


Bangunan itu dari berdiri kokoh berwarna putih serta di penuhi jendela kaca besar kini tidak enak di pandang, semua nya sudah hancur dilalap si jago merah.


Mobil kilap hitam terparkir dengan decitan rem beraturan.


Karl ke luar terlebih dahulu dan membuka pintu belakang dengan hormat.


Kaki jenjang Asnee terlebih dahulu terlihat, sepatu ket yang dia pakai pun seakan tidak mencerminkan jika dia adalah seorang pangeran, namun stelan nya sangat rapih dan mempesona sehingga semua orang tidak akan berani mengkritik nya.


Alih-alih memakai jas dan kemeja, dia memilih pakaian santai untuk berada di luar istana.


"Pangeran" Sapa petugas yang masih menyelidiki penyebab dari kebakaran. Mereka silih bergilir ke luar masuk memeriksa sesuai dengan bagian nya.


Asnee juga Karl pun masuk ke dalam, tatapan nya sedikit pun tidak terlewat, setiap inchi bangunan digerayangi oleh tatapan tajam nya.


"Hati-hati" Ucap Karl melindungi Asnee dari sebongkah kayu yang hampir membuat Asnee tersandung.


Semua penyelidik ke luar satu persatu menyisakan Asnee dan juga Karl di dalam. Dari arah jarak jauh pun seseorang memperhatikan Asnee dengan hati-hati.


Kraakkk


Asnee kembali menarik tangan nya dari dinding yang sudah tidak kokoh. Dalam ingatan nya dinding itulah yang membuat nya penasaran dan Karl pun membenarkan hal itu.


"Karl bantu dorong dinding ini"


Posisi nya dinding itu terhalang, jika dia menggeser atau mendorong nya semua tiang dan juga beberapa kayu akan ambruk bersamaan.


"Ukhuu,,,ukhuu"


Asnee terbatuk, debu di sekitar berterbangan memenuhi ruangan. Asnee mengibaskan berulang di depan hidung nya.


Karl melirik Asnee, Asnee pun mengangguk saat semua penghalang di sana telah di singkirkan.


Karl mendorong dinding itu dengan satu tangan nya dan ternyata benar, dinding itu semakin di dorong semakin terbuka.


Asnee tidak membiarkan dinding itu terbuka lebar, hanya bisa seukuran badan nya saja agar tidak terlalu mencurigakan. Saat masuk, ternyata tempat itu langsung menggunakan tangga ke bawah, jika tidak teliti mungkin Asnee akan langsung terjatuh menggelinding.


Karl berjaga-jaga di luar sesuai perintah dari Asnee karena kemungkinan besar akan ada orang yang mengintai nya. Sampai hal kecil sekalipun Asnee memperhatikan membuat Karl tidak segan untuk melaksanakan tugas nya.

__ADS_1


Karl pun tahu siapa yang mendidik Pangeran nya menjadi pria yang sangat awas dan juga teliti, untuk itu tidak perlu di ragukan lagi dan di pertanyakan.


Ruangan kosong hampa, lorong menuju bawah sangat kotor dan berdebu, pijakan pun tidak kokoh membuat Asnee hati-hati dalam melangkah.


Suara ketukan kecil pun menggema di seisi ruangan, pengap dan juga gelap.


Asnee pun mengeluarkan handphone nya lalu menyalakan senter guna membantu mempercepat langkah nya. Semakin bawah semakin tinggi dari satu balok tangga ke balok yang lain.


"Tempat apa ini ?" Gumam Asnee, pandangan nya sama sekali tidak bisa menangkap apapun sesaat setelah sampai di lantai bawah.


Hanya ada dinding kosong yang tertangkap oleh flash handphone Asnee, setiap sudut di periksa dan itu tidak ada yang aneh.


"Sejak kapan ibu suri memiliki ruang bawah tanah seperti ini ?" Asnee kembali bergumam, dia berbicara dengan dirinya sendiri diliputi rasa penasaran dan juga kebingungan.


Karl masih berjaga, dinding dari kaca itu sudah retak dan bolong. Karl merasa sedari tadi ada yang memperhatikan dari luar membuat nya lebih berhati-hati.


"Pangeran"


Karl sedikit terkejut, dia menoleh dan langsung menghampiri tuan nya.


"Karl amankan barang bukti ini" Asnee dengan hati-hati memberikan anting tunggal yang sudah tidak utuh dan permata di tengah nya pun sudah pecah.


Kedua mata Asnee menatap Karl yang tidak biasa nya, dia paham akan ke resahan nya.


Karl kembali terkejut akan ketajaman Asnee.


"Kau terlalu serius, Karl ! Bersikaplah biasa, jangan terlalu memperlihatkan keingintahuan mu itu, bersikap sedikit bodoh juga tidak apa. Mereka akan terkelabuhi tanpa di minta. Cukup aku saja dengan mimik wajah seperti ini karena mereka sudah terbiasa dengan perangai ku"


Asnee menepuk pundak Karl berulang, Karl terlihat memang selalu serius, entah karena dirinya entah juga karena keadaan tapi hal itu tidak baik juga untuk dirinya kelak.


"Baik, Pangeran!" Seru nya perlahan mengambil alih bukti dari tangan Asnee.


"Tolong berikan pada kak Rayya, tidak akan ada yang curiga jika semua bukti di simpan pada nya" Lanjut Asnee mengeluarkan handphone nya kembali dan menghubungi seseorang.


Karl pun mengikuti, sepanjang perjalanan Karl tidak hentinya memikirkan maksud dari tuan nya itu.


Kenapa putri Rayya ikut terlibat ?


bukankah dia tidak suka ?

__ADS_1


ah entahlah!!


Menurut Karl putri Rayya tidak mungkin akan terlibat karena lembut dan anggun nya membuat orang tidak akan percaya.


Tapi entahlah, dia adalah kakak kandung tuan nya, tidak mungkin juga tidak membantu masalah adik nya.


"Pangeran ada beberapa laporan berdatangan tadi malam dan semuanya sangat tidak menyenangkan" Lapor Karl dalam menyetir nya.


Asnee menghentikan jari nya di atas layar bening dan melirik Karl kilas.


"Perdagangan manusia semakin merajalela tahun ini, mereka masuk melalui pelabuhan dan menurut informasi operasi itu sudah hampir selesai" Ucap nya.


Asnee terdiam, dia sesekali memijit kening nya.


"Biar ini menjadi urusan aparat dan militer, jika laporan belum spesifik dan konkrit kita akan diam ! Untuk saat ini menyelesaikan masalah internal lebih penting, satu persatu harus segera di laksanakan. Karl"


"Dan kau, hubungi pihak mereka agar bergerak cepat ! Sepertinya keamanan mereka di pantau orang di belakang nya"


Karl mengangguk mengerti, dia pikir memang benar masuk nya mereka dengan aman pasti ada orang kuat di belakang nya. Tapi selama hal itu tidak merusak keseimbangan dan merugikan istana maka tuannya akan membiarkan pihak pihak berwajib menanganinya. Karl mengerti, memang tuan nya sangat apik dalam bertindak.


...**...


Jeno masih berada di istana bersama beberapa mentri yang berkunjung dalam rapat penting. Mali setiap menit berada di sisi Aat namun setiap kali Aat lengah tatapan Mali akan berpindah pada Jeno.


Asnee yang sudah kembali berada di istana melihat itu dari jauh, mereka di sekitar tidak akan ada yang memperhatikan momen itu karena mereka sedang saling menjilat satu sama lain demi kekuasaan berikut nya.


"Karl siapa dia?" Tanya Asnee pada kepercayaan nya. Asnee asing dengan wajah orang-orang di ruangan itu. Bukan nya apa tapi memang lah Asnee sudah tak berada di istana untuk waktu yang lama.


"Tuan Jeno, dia guru pribadi nona Pim dan putra dari mentri keuangan negara juga bisa di bilang teman akrab tuan Aat, pangeran!" Karl menunjuk wajah-wajah mereka dengan tatapan nya dan Asnee paham.


"Sejak kapan dia masuk istana?" Otak Asnee mulai kritis kembali.


"Sudah lama sekitar tiga tahun berjalan" Ucap Karl.


"Dan aku tidak tahu sama sekali dengan wajah orang ini ? Teman akrab paman ? Ssshh tapi paman tidak pernah terlihat bersama dengan nya dan mentri keuangan adalah mentri kanan yang secara aturan dia memiliki beberapa hak paten tapi kenapa bisa begitu saja membiarkan putra nya bekerja hanya sebagai guru kerajaan ?"


Karl hanya mendengarkan gumam an dari bibir tuan nya dan menurutnya masuk akal juga.


"Tidak haus akan kekuasaan atau kah dia mengincar kekuasaan tertinggi ?"

__ADS_1


"Siapa yang tahu bukan ?" Smirk melengkung tajam dari salah satu sudut bibir Asnee.


Karl mengangguk dan membelalakan matanya nya saat menangkap kilatan binar kejam dari mata sang tuan


__ADS_2