
...***...
Pasar yang ramai semakin ramai saat beberapa mobil hitam berhenti di sana.
Keributan pun terdengar, semua orang berdiri dan menunduk saat wajah sang Putri Yodrak turun dari mobil.
"Salam, Putri" Ucap mereka. Wajah tegang namun tercampur kagum pun muncul dari orang-orang yang ada di pasar.
Pergerakan sang putri tidak ada yang mencegah, para pengawal nya pun menyebar ke seluruh sudut. Informasi dari Karl membuat Rayya dan para pengawal nya berhati-hati.
Rayya hanya akan datang menjemput Ahan yang di informasikan jika dia tengah dalam perkelahian hebat.
"Putri, tidak ada yang mencurigakan di sekitar tebing dan tidak ada suara perkelahian di tempat yang di sebutkan tuan Karl!" Lapor salah satu pengawal nya.
Daerah itu memiliki aturan, Rayya tidak suka jika harus menyinggung mereka tanpa sebab yang cukup kuat. Biarlah dia mencari informasi terlebih dahulu.
"Ujung tebing bagian utara, sudah?!" Tanya Rayya.
"Sudah, Putri!" Sahut mereka menundukkan dagu mereka bersamaan.
"Kalian tunggu di sini dan yang lain nya ikut saya!." Ucap Rayya menunjuk sebagian bawahan nya untuk ikut bersama nya menuju gerbang kokoh yang menjulang tinggi.
Dughh
"Putri" Seru para pengawal saat tubuh Rayya hampir terhempas karena tubrukan seseorang.
"Maaf" Ucap wanita itu dengan kacamata hitam kembali dia benarkan di atas batang hidung nya. Rayya membenarkan berdirinya, memperhatikan wanita itu dari bawah sampai atas.
Topi baseball berwarna bronze di kenakan dengan sangat cocok nya pada wanita itu. Celana pant dengan kaos croptop di lapisi jaket bomber yang di biarkan terbuka, semakin membuat Rayya memperhatikan dandanan nya.
"Tidak masalah. Lain kali berhati-hatilah!" Seru Rayya mengulas senyum nya kemudian kembali melanjutkan langkah nya.
"Tempat ini tidak akan musnah hanya karena anda turun tangan. Putri!" Ujar wanita tadi. Rayya menghentikan langkah nya dan kembali membalikkan badan nya ke arah wanita itu.
"Bisnis di dalam sudah resmi di pasaran gelap, anda hanya perlu mendapatkan plakat jika ingin masuk ke dalam!"
Rayya tidak mengerti maksud dari wanita itu, menurut nya ambigu karena wanita itu tidak tahu sama sekali keperluan apa yang membuat dirinya datang ke tempat itu.
"Maksud anda ini apa, ya? Saya tidak ada urusan dengan anda ataupun dengan bisnis yang ada di dalam! Saya hanya ada perlu saja" Seru Rayya perlahan menatap selidik.
Ujung bibir wanita itu tersungging, dia bergumam dalam hati jika ternyata benar kalau Putri kecil ini pandai berbicara.
"Saya tidak ada maksud apapun, nona! Ini, silahkan!" Wanita itu pun memberikan sebuah plakat yang terbuat dari Ruby dan sedikit besi di tengah nya dengan tanda khusus di ukir di setiap ujung nya.
"Ini?" Heran Rayya.
"Tuan Leo memerintahkan saya untuk menyerahkan ini pada anda. Nona!" Tunduk nya menurunkan pandangan.
"Leo? Paman Leo maksud anda kah?"
Wanita itu mengangguk cepat. "Kebetulan beliau ada di sini, tapi ada urusan yang harus di selesaikan menjadikan beliau tidak dapat menemui anda dan juga beliau memerintahkan saya untuk mengatakan hal itu!"
"Pasar ini di luar kemampuan anda, untuk itu jangan terlalu terikat lebih jauh. Tapi jika mengharuskan anda terikat jauh maka untuk itu beliau pun memberikan plakat itu untuk anda"
Tutur wanita itu dengan mengingat perkataan tuan nya untuk di sampaikan pada sang keponakan tersayang.
__ADS_1
Rayya tidak bergerak, dia memegang erat plakat itu seraya memperhatikan kepergian wanita itu.
"Kita kembali" Ucap Rayya setelah banyak pertimbangan.
Tut
Tut
Tut
Kontak Ahan tidak tersambung, Rayya terus menghubungi nya dengan mobil melaju menuju istana.
"Kemana dia?" Gumam Rayya. Resah dan gundah menyelimuti kepala.
Sedangkan di Istana, tempat kediaman Asnee terlihat dokter tengah mengecek kondisi Daniza. Kaki pun sudah di balut dengan perban.
"Bagaimana kondisi dia, dok?" Asnee bertanya, kening nya masih mengkerut sesekali melihat ke arah Daniza yang tengah terbaring.
"Tidak ada yang serius. Kondisi nya baik-baik saja, kelelahan dalam keadaan perut kosong akan berakibat menurunnya kesadaran dan itu bukan masalah besar jika di tangani lebih awal"
"Pasien jangan dahulu melakukan pekerjaan berat, apalagi membiarkan perut nya kosong. Jika terlalu sering melakukan itu maka akan berakibat pada magh yang kronis dan itu akan menjadi masalah besar"
Dokter itu dengan teliti dan detail. Asnee pun mendengarkan sampai selesai
"Pangeran apa yang terjadi?"
Langkah cepat pun masuk ke dalam kamar Asnee, terlihat Aaron dan Rataporn-sang nenek tergopoh-gopoh.
"Ada apa dengan nya?"
Asnee memberi salam sopan begitupun pada Nenek Rataporn.
"Putri Rayya pun tidak berada di tempat tinggal nya. Tadi beberapa pengawal pun ikut bersamanya! Sebarnya ada apa ini?" Nenek Rataporn khawatir, dia sama sekali tidak ingin ada masalah yang menimpa kedua cucu nya.
"Asnee tidak tahu Kak Rayya kemana, Nek!" Seru Asnee tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Bu, ayo kita ke luar dulu. Biarkan dia istirahat!" Ajak Aaron. Rataporn pun tidak bisa apa-apa saat Aaron mengajak nya ke luar.
Ruang kamar Asnee kembali sunyi, hanya dirinya dan juga Daniza yang berada di dalam.
"Kau mencari apa ke tempat itu, sebenarnya?!" Asnee mengusap pucuk kepala Daniza sesekali menepuk di sela hembusan nafas.
Hari semakin menggelap, Rayya pun telah kembali ke istana dan kini berdiri di depan kasur yang dimana di sana terbaring Daniza.
"Pria itu belum juga kembali?" Asnee bertanya, dia memperhatikan ruangan nya karena tidak mendapati Ahan di samping kakak nya karena biasanya mereka selalu berdampingan.
"Belum"
"Orang yang dia cari sudah kembali, tapi malah giliran dia yang menghilang!" Lanjut Rayya berdiri di sebrang kasur Asnee. Asnee pun mengingat perkelahian tadi dan Ahan menyuruhnya pergi.
Rayya kembali ke istana nya, berjalan masuk tanpa pengawalan.
Berdiam lama di dalam kamar sesekali melihat ke arah Jendela. Rayya pun mondar-mandir dengan terus mencoba menghubungi Ahan, namun tetap tidak ada jawaban.
"Kemana dia?" Seluruh raganya tidak bisa diam, resah dan khawatir menyatu menjadi satu.
__ADS_1
Tok
Tok
tok
Pintu kamar Rayya di ketuk oleh seseorang, Rayya malah waspada karena mengingat jika dia baru pulang dari pasar gelap yang ternyata terdapat di negaranya.
"Putri" Salam pelayan itu.
"Tuan Ahan telah kembali"
Belum juga pelayan itu mengatakan sesuatu lebih detail, Rayya segera ke luar, dia yakin jika Ahan ada di tempat istirahat nya.
Melangkah lebih cepat dan akhirnya sampai di kediaman Ahan.
Brakk
Dengan tidak ada nya kelembutan, Rayya mendorong pintu kamar itu dengan semangat.
"Baby?"
Ahan baru ke luar dari kamar mandi, dengan kimono membalut tubuhnya.
"Sayang kau—"
Bughh
Rayya berlari dan berhamburan memeluk tubuh Ahan
"Shhhh" desis Ahan saat pinggangnya yang luka di tekan.
"Kau kemana saja?" Rayya tidak melepas pelukan nya pada Ahan
"Tolong pakaikan perban"
Bagian beberapa titik tubuh nya terluka, tapi kini Ahan malah membawa Rayya ke dalam pangkuan nya. Kulit perut nya sakit, ngilu di gusi jika orang tahu jika darah segar kembali ke luar.
"Aku bantu"
Ahan sudah duduk di ujung kasur dan Rayya membantu membalut luka itu dengan perban tanpa merasa takut dan jijik.
"Ssshh" Ringis ahan pelan, mencengkram pinggang Rayya yang masih berdiri di depan nya. Pipi Ahan pun nampak membiru begitupun di ujung bibir nya.
Ahan hanya memperlihatkan luka ringan pada Rayya, untuk luka parah nya di tutupi kimono. Wajah Ahan semakin pucat begitupun dengan bibir yang perlahan mengering.
"Kau demam"
Rayya hendak membawa kompres-an saat tangan nya menyentuh kening Ahan yang panas.
"Tidak perlu" Tahan Ahan perlahan menarik Rayya dan memeluk nya. Rayya pun dengan cekatan membaringkan Ahan dan ternyata dirinya ikut naik ke atas kasur berada satu selimut.
"Kau bisa tidur dalam posisi seperti ini?" Tanya Rayya saat menarik pelan kepala Ahan ke depan dadanya sesekali mengelus rambut nya.
Ahan hanya mengangguk. Luka nya masih terbuka, terasa perih dan panas tapi dia berusaha untuk menutupinya, dia hanya bisa diam dahulu untuk malam ini. Saking tidak ingin membuat Rayya khawatir, Ahan sampai bisa menahan sakit akibat luka di tubuh nya.
__ADS_1