The Future King

The Future King
Eps 129


__ADS_3

Milik Iswara lain lagi, Iswara memiliki mata biru laut pekat namum juga bening. Perbedaan itu yang membuat Daniza yakin jika mata di pelelangan yang dia lihat adalah milik Paman nya.


"An-anda?" Direktur itu menunjuk Daniza, dia terduduk lemas dengan keadaan sekarang. Menelan salivan nya pun dia kesusahan.


"Kenapa? Anda kaget melihat bola mata saya ini, Tuan?" Daniza berdiri melangkah perlahan menghampiri Direktur itu.


Kevin, Asnee terutama Tuan Esan serempak menelan salivan nya juga. Mereka berpikir gadis di hadapan nya bukan lah Daniza yang mereka kenal.


"Katakan pada saya di mana kalian menyimpan semua mata keluarga saya!"


Grepp


Tanpa aba dan tidak terlihat gerakan nya, Daniza mencekik Direktur itu sekali gerakan.


"Euukkk Le-pas!" Direktur itu berusaha melepas tangan Daniza, namun aneh nya semakin dia berusaha melepas semakin pula tenaga Daniza menguat.


Direktur itu kini di bawah kungkungan Daniza. Salah satu dokter yang ada di sana hendak membantu namun Asnee lebih dulu berdiri dan menghadang nya.


Prak


Kacamata Silver itu sudah tidak ada harga dirinya, terbanting ke lantai dengan kaca pecah berkeping-keping.


Keadaan di luar ramai, semua orang masih di amankan dengan anggota polisi militer yang terus berjaga ketat.


"Tunjukkan, di mana tempat nya" Tekan Daniza, Suaranya begitu nyalang dan kuat. Direktur itu pun berdiri dengan kaki sedikit gemetar, dia yang tenang langsung terduduk lemas di hadapan gadis muda yang dia pun tahu siapa gadis di depan nya.


"Hubungi semua rekan mu dan lakukan sekarang juga! Undang mereka untuk menuju ke sini." Daniza ternyata sudah menggenggam handphone sang Direktur, entah dari kapan.


Aura mencekam yang sangat hebat, bahkan Panglima Militer pun mengeluarkan keringat dingin nya saat ini.


Sambungan telpon terhubung, ternyata satu klik menghubungkan ke semua pihak terkait.


"Ada masalah di laboratorium. Jika tidak ingin terjadi apapun, maka kalian harus menuju Rumah Sakit sekarang juga!" Ucap Sang Direktur. Ramai suara dari seberang sana berucap.


'Halo'


'Halo'


'Halo'


Sambungan terputus dan Daniza pelakunya. Asnee memperhatikan dengan sedikit memiringkan kepala, dia terus memperhatikan gadis nya yang nampak berbeda, kejutan yang sangat mendebarkan.

__ADS_1


"Jalan" Dorong Daniza pada Direktur itu.


Brakk


Daniza tersungkur, tubuh nya di dorong sekuat tenaga oleh Direktur itu.


'Daniza'


'Niza'


Kaget tentu pasti, Asnee dan Kevin hendak menolong namum entah kapan Daniza sudah berdiri dan.


Bletaakk


Kaki jenjang nya menerjang tulang pelipis sang Direktur.


Brukk


Sekali sentuhan seketika Pria tua itu tumbang, ke atas Sofa dan menubruk nakas akibat tersandung dan itu sakitnya dua kali lipat.


'Oww'


"Maaf, apa yang kalian lakukan pada Direktur kami?" Rombongan dokter yang sepertinya para senior di ruang bedah bergerombol datang dengan seragam putih khas seorang dokter.


"Tidak ada urusan nya dengan kalian!!"


"Eum apa kalian juga ingin saya bertindak kepada kalian juga?" Lanjut Daniza terus berkoar. Padahal yang seharus nya memiliki urusan itu Asnee juga Tuan Esan, tapi yang mendidih malah Daniza.


Direktur itu menahan para rekan nya dengan kode tangan untuk berhenti.


"Tunjukkan!" Daniza mendorong Direktur itu dengan langkah tegas.


Derap langkah cepat dan perlahan terdengar berlarian menuju ruang di mana Panglima mereka berada.


"Pak, Kami menemukan nya dan telah menyegel area yang bersangkutan!" Lapor ketua dari polisi militer itu.


Tuan Esan pun mengangguk paham dan langsung menuju ke sana. Bukan lagi Daniza yang mengamankan Direktur itu, tapi rekan dari militer dan Daniza melenggang pergi ke arah yang tengah di pandu.


Sampai di area yang di tunjukkan, ternyata pekerja yang ada di lab pun berada di luar dan di amankan oleh keamanan.


"Silahkan" Ucap Ketua polisi itu menunjukkan pintu masuk.

__ADS_1


Semua nya sudah di gledah dan area itu yang nampak berbeda dari ruangan lain.


"Kau ada di sini?"


Bagaimana tidak kaget, Asnee bahkan Daniza menunjuk Ahan yang sudah berdiri di area penelitian yang sudah di disinfektan sebelum nya, karena harus benar-benar bersih.


"Niza kau?" Ahan menarik tangan Daniza, dia khawatir dengan mata Daniza yang di perlihatkan ke publik. "Kenapa melepas lensa mata mu. Niza?"


Daniza tidak pernah melihat Ahan sekhawatir ini, pegangan di pergelangan tangan pun mengerat dan Daniza sedikit meringis.


"Maaf maaf" Ucap Ahan sadar.


Setelah di lihat-lihat, tidak ada barang yang di cari, Daniza pun tidak ada melihat mata yang di bicarakan oleh orang-orang itu.


"Hahahaha kalian lihat? Tidak ada mata yang sedari tadi kalian bicarakan. Terutama anda, nona!" Tawa jenaka namun menggelegar puas terdengar mengerikan.


"Jangan macam-macam dengan saya, Tuan!" Tidak kepalang, Daniza kembali membanting tubung Direktur itu.


Ahan melirik Asnee serta ketua dari polisi militer itu bergantian. Tentu akan banyak keanehan kenapa Ahan bisa sampai di Rumah Sakit yang bahkan dia tidak tahu.


Ketua Polisi Militer itu mendekat, berdiri di samping Ahan dengan senjata lengkap. "Putri Daniza masih keren dari dulu" Ucap Ketua Militer itu berdecak kagum, hanya Ahan yang mendengar nya karena suara itu tidak lah keras.


Ahan menoleh sejenak. "Tentu saja! Kau pun tahu alasan dia di bawah perlindungan ku walau beberapa bulan lalu lalai dalam bertugas!" Seru Ahan melipat kedua tangan nya di depan.


"Simon pasti bangga melihat ini!"Ucap Ketua Militer itu penuh dengan kebanggaan tersendiri.


"Sial. Dia belum kembali sampai saat ini! Mati pun harus ada jasad nya. Aku tidak akan rela sampah-sampah itu merenggut nyawa sekaligus membawa jasad nya entah ke mana!" Tatapan Ahan semakin dingin.


"Heh pendek kau—" Ahan sedang berbicara dengan nada rendah, tapi ketua Militer itu tidak menyahuti dan ternyata dia sudah tak lagi di samping dirinya.


"Dasar hantu" Decih Ahan.


Tuan Esan menghampiri, dia masih bicara baik-baik pada Direktur itu, tapi tetap saja tidak berterus terang. Ada ketakutan juga dari sorot mata Direktur itu.


"Satra kau yakin sudah menggeledah semua ruangan ini?" Tanya Tuan Esan. Ya ketua dari polisi militer itu bernama Satra Adulyadej, anak berprestasi dalam angkatan darat dan berusia paling muda di antara rekan-rekan nya.


Tidak hanya di angkatan militer, dia pun paling muda di antara tiga sekawan itu. Simon schaller, Ahan Erickson dan Satra Adulyadej.


Ahan menoleh, dia memperhatikan gerak-gerik Satra. Saat hendak bicara, banyak rombongan sekitar lima orang masuk ke dalam dengan tangan sudah di lengkapi dengan sarung tangan.


"Tuan Nan, ada apa ini?" Tanya salah satu dari mereka seketika.

__ADS_1


__ADS_2