
Markas tahanan untuk mengamankan para pelaku bisnis gelap itu masih di ruang interogasi, Asnee pun nampak telah sampai di sana.
"Pangeran_" Sapa Karl segera menghampiri saat Tuan nya telah sampai di depan.
Asnee mengedarkan pandangan nya, angin dingin di tengah malah menyapu rambut nya sampai terguncang membelah poni.
"Putri Rayya ada di sini" Ucap Karl kembali memberitahu dengan ibu jari menunjuk ke belakang.
"Bersama siapa?Sejak kapan dia di sini?" Sambil berjalan masuk, Asnee pun bertanya tentang kakak nya yang lolos dari pos jaga di Istana.
"Belum lama, sekitar dua puluh lima menit lalu putri sampai!" Seru Karl menjawab pertanyaan Asnee.
"Sudah pandai ternyata gadis ini—" Asnee menggelengkan kepala nya taluk dengan sikap kakak nya yang nakal dan keukeuh itu.
"Lalu apa ada informasi yang kau dapat? Kita perlu tahu Parlemen itu gabung tidak nya. Masalah ini akan mengakar jika pemimpin rakyat tidak selaras dengan sumpah nya!"
Karl mendengarkan dahulu.
"Saya sudah mencari informasi dan tidak ada sangkut paut dengan mereka. Saya rasa bisnis ini kebanyakan anggotanya berasal dari Mafia dan penanggung jawab Rumah Sakit!" Tutur Karl melaporkan.
Asnee mengangguk, dia pun tidak dapat memungkiri jika mafia ada terlibat.
"Kau terus cari informasi dan awasi semua pergerakan dari mentri kanan itu. Jeno, putra nya masih di penjara begitupun dengan bibi Mali, mereka pasti masih bermain-main! Kita hanya berjaga saja, syukur-syukur jika aman. Kan?!"
Perkataan santai dari Asnee menunjukkan jika dirinya pum tidak terlalu terganggu, dia tengah fokus pada masalah satu ini.
"Kak" Panggil Asnee.
"Kau juga di sini. As?!" Seru Rayya melengos dari sisi Ahan yang tengah mendengarkan perkataan dari Tuan Esan.
"Ahan Erickson, Ya!" Seru Tuan Esan, Moza pun melirik Ahan begitupun dengan Leo.
Di kesatuan Unit tertinggi, biasanya para militer dari berbagai negara tahu rekan mereka dan ternyata Tuan Esan pun mengetahui tentang Unit yang dahulu Ahan tempati.
"Unit Alpha dari kesatuan 3501Z Kapten Ahan Erickson yang di beritakan memberontak itu, anda kah orang nya?" Seru Moza.
Ahan hanya diam, pasti dari kalangan mereka dirinya terkenal dengan seorang pemberontak dan pengkhianat terhadap negara.
"Anda sampai di sini bagaimana bisa? Banyak yang memburu dan berlomba untuk membunuh anda, tapi sekarang saya bahkan melihat anda baik-baik saja dan berdiri dengan sehat seperti ini!"
Lanjut Moza menyelidik penuh dengan banyak pertanyaan. Tuan Esan pun demikian.
Leo memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana.
"Raja Keira, dia bekerja untuk mereka." Celetuk Leo.
__ADS_1
"Kau bekerja dengan orang yang tepat. Nak!" Tepuk Moza pada pundak Ahan.
Tidak ingin mengorek lebih dalam persoalan mengenai Ahan, Moza dan juga Leo pun pamit namum saat hendak ke luar dari tempat itu, Leo di hampiri oleh seseorang, sepertinya dia adalah tangan kanan di mafia nya.
"Tuan, kami telah mendapatkan rekaman dan juga bukti transaksi mengenai penjualan itu. Ini silahkan!" Lapor nya seraya memberikan tas kantor berwarna coklat.
"Laptop?" Ucap Leo saat tas itu nampak berat.
"Benar Tuan, kami menyalin nya ke beberapa dokumen dan ada bukti transaksi yang telah kami print dan di salin ke dalam data" Tutur nya dengan begitu jeli.
Moza tidak ikut bicara, dia mendengarkan saja tanpa menimpali.
"Baik lah, Terima kasih" Ucap Leo. "Kau boleh kembali dan istirahatlah!" Lanjut Leo menepuk lengan rekan nya itu berulang, tanda dia bangga kepada nya.
Pria itu nampak senang dan bahagia dengan seruan dari Tuan nya.
"Baik Tuan, jika begitu kami pamit." Ucap nya seraya melangkah mundur dan akhirnya pergi.
"Kau serahkan kepada mereka dahulu sebagai bukti dan kita bisa mengirim pengacara dan mempercayakan nya pada mereka!" Tutur Moza.
Leo kembali masuk.
"Asnee" Panggil Leo. Dia pun menoleh begitupun dengan Rayya dan juga Ahan yang ternyata tengah berbincang.
"Iya, Paman?" Sahut Asnee.
"Saya yang akan mengamankan, nya!" Ucap Ahan. Rayya pun menoleh.
"Tidak tidak, barang ini seharus nya di pegang oleh pengacara orang yang bersangkutan. Sebelum mereka tiba, kita serahkan bukti ini pada Tuan Esan!" Rayya tidak setuju, dia menyanggah dan menolak walau padahal bukan dia yang berhak memutuskan itu.
"Serahkan pada Tuan Esan saja, untuk selanjutnya kita akan melakukan tuntutan dan juga keluhan apapun yang merugikan! Untuk bukti autentik bisa menyusul selama persidangan di lakukan dan Aku yakin pastinya akan ada beberapa sidang untuk ke depan nya." Tutur Rayya.
Tiga pria beda usia itu hanya mengangguk patuh seakan tidak punya nyali untuk memprotes perkataan Rayya.
"Oke oke, Paman akan serahkan pada tuan Esan!" Leo pun beranjak pergi, kembali masuk ke dalam ruangan Panglima yang di mana ternyata di sana terlihat Satra dan juga wakil nya tengah berbincang.
"Silahkan, Panglima ada di dalam." Ucap Satra saat Leo bertanya. Leo pun masuk ke dalam.
Sedangkan Ahan, Rayya dan juga Asnee di ikuti oleh Karl menuju ke luar dengan mobil sudah siap.
"Kakek mau langsung pulang?" Tanya Rayya saat mendapati Moza berdiri dengan beberapa anggota militer tengah berbincang.
Moza pun menghampiri Rayya. "Kakek langsung pulang, sayang." Ucap Moza.
"Okelah kalau begitu. Aku sama Asnee mau mengurus untuk pemakaman besok tapi belum ngurus organ mata itu, jadi harus ke rumah sakit segera!"
__ADS_1
"Kasihan jika di biarkan terlalu lama" Lanjut Rayya.
Moza mengangguk.
"Jam berapa pemakaman nya? Sebelum berangkat Kakek dan Paman mu akan ke sana dulu" Ucap Moza ikut berkabung.
"Han ayo!" Satra berjalan ke luar namun masih dengan seragam nya, kecuali senjata laras panjang yang tidak di bawa.
"Dia—?" Ucap Rayya.
"Kami akan ikut ke Rumah Sakit untuk berjaga-jaga dan saat ini pun kami masih dalam tugas!" Seru Satra.
"Han, kau satu mobil dengan ku. Ayo!" Satra menarik tangan Ahan tidak sabaran, namun seseorang menahan nya.
"Dia satu mobil dengan saya! Memang nya anda ini siapa bisa-bisanya menarik tangan orang yang tidak anda kenal dengan begitu kasar?!".
Alhasil, Satra juga Rayya seakan tengah memperebutkan tubuh Ahan dan orang-orang di sana malah antusias. Bukan nya apa, tapi kini mereka menyaksikan Putri Yodrak yang menggemaskan dan Kapten Satra yang biasa nya dingin dan nampak acuh kini seperti anak kecil yang mempertahankan miliknya.
"Maaf Putri tapi saya ada keperluan dengan pria ini, sekalian saja biar selesai. Bukan begitu kawan?!" Seru Satra masih menarik tangan Ahan.
"Tidak, saya bilang tidak. Apa-apaan anda ini?! Ahan bilang pada nya untuk melepaskan tangan nya!" Decak Rayya terlihat sangat cemburu, padahal Satra ini teman dari Ahan dan Rayya cemburu pada seorang teman Pria kekasih nya, tidak masuk akal sekali.
Ahan tidak bereaksi, dia hanya diam dengan pikiran yang sudah penat dan kesal.
"Lepas" Mata Rayya melotot dan berusaha menepis tangan Satra.
"Tidak" Kekeh Satra malah semakin menjadi.
"Lepas tidak—!"
"Kak astaga, biarkan saja! Ayo kau pergi bersama Aku saja. Malam semakin larut dan kita tidak bisa mengulur waktu lagi!" Asnee merangkul cepat pundak kakak nya dan akhirnya Asnee berhasil membawa sang Kakak masuk ke dalam mobil.
"Ayo"
Ahan bukan nya tidak peduli dengan Rayya, namun situasi sekarang membuat nya harus fokus pada permasalahan, namun di sela ketenangan nya dia pun memikirkan bagaimana cara menyelamatkan dirinya dari kecemburuan dan amukan Rayya nanti.
...***...
Pagi menjelang, anggota kerajaan pun ikut berkabung dan bersiap mengantar pemakaman keluarga Daniza.
Pakaian serba hitam nampak tidak luput di penglihatan. Organ mata pun telah di masukkan ke dalam kotak masing-masing dan sudah siap untuk di hantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.
"Tuan Putri" Salam seorang pelayan yang juga mengenakan dress hitam.
Daniza yang masih berada di kamar pun ke luar dengan wajah yang begitu tegar, walaupun sesak dan sakit.
__ADS_1
"Niza" Ahan semakin mempercepat langkah nya ke arah Daniza. Stelan hitam di lapisi Jas itu lengkap seperti orang yang tengah berkabung.
"Jangan bicara, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun!" Cegah Daniza mengkode dengan tangan nya. Tatapan Daniza kosong, seperti tidak tentu arah.