The Future King

The Future King
Eps 61


__ADS_3

"Tulis nama anda di sini" Ucap Rayya. Di atas meja sudah tersedia kertas dan ballpoint untuk pendataan.


Giliran Daniza sekarang, Rayya tidak melepas tatapan nya dari wajah itu, wajah yang enak di pandang dengan kedua mata yang tegas namun sayup.


"Niza?" Ucap Rayya kala tinta hitam tercoret di atas kertas. Daniza sejenak menatap Rayya dan kembali menunduk.


"Tulis nama lengkap anda, nona! Sertakan identitas, seperti kartu tanda pengenal dan sebagai nya" Tutur Rayya masih tidak melepas tatapan nya pada Daniza. Gerak-gerik dari Daniza pun tidak luput dari mata Rayya, bagaimanapun Rayya sedikit demi sedikit tahu psikologi.


Ada ketakutan dari pancaran mata Daniza, getaran pada tangan nya walau tipis Rayya pun melihat nya.


"Baik lah isi yang perlu di isi saja! Jika yang memang tidak perlu di sertakan juga tidak apa"


Hanya pada Daniza Rayya mengatakan itu, pelayan senior dan beberapa asisten rumah tangga di sekitar nya pun jadi saling tatap. Kenapa dengan putri mereka? Aneh rasanya jika ada membedakan!, namun mereka hanya diam, tidak berani bertanya.


Beberapa keahlian di tes hari itu juga, semua nya melakukan serangkaian tes sesuai dengan peraturan dan juri utama adalah Rayya.


Selama tiga jam calon pelayan itu di tes sampai akhir nya hanya tersisa sepuluh orang dari lima puluh dan Daniza adalah salah satu nya.


"Untuk tes selanjutnya adalah memasak! Masak apapun yang kalian bisa, kami akan menilai nya dari rasa dan kerapihan" Ucap Rayya setelah beberapa tes dilakukan seperti bersih-bersih melipat baju, memasang spray dan lain-lain.


Daniza terdiam, dia sangat bingung apa yang harus di masak, kemampuan bahasa Thailand pun tidak begitu fasih. Sedari tadi dia hanya menangkap kesimpulan dari apa yang ucapkan oleh Rayya.


"Bibi Yu biasanya masak apa? Aku tidak pernah bertanya pada dia! Tapi dia selalu makan apa yang di masak di istana," Hati Daniza terus bergumam. Dulu ada kepala pelayan asli Thailand yang dekat dengan nya di istana, tapi dia tidak pernah melihat bibi Yu memakan-makanan khas negara nya.


"Ada yang tidak anda mengerti, nona?" Suara Rayya menyadarkan lamunan nya. Daniza mengedarkan pandangan nya dan ternyata semua anggota sudah bersiap di tempat mereka.


"Maaf putri, sa—ya hanya...." Daniza bukan gugup tapi lebih ke berfikir cara menyampaikan bahasa Thailand nya seperti apa.


Kedua alis Rayya tentu tipis-tipis menaut karena kecurigaan nya sedari tadi. "Oke nona! Katakan, apa ada yang tidak anda mengerti?" Sekali lagi Rayya bertanya, namun memakai bahasa inggris dan reflek saat itu juga Daniza merespon nya.


"Saya melamun putri, maaf!" Jawab Daniza dengan logat nya. Baru saja beberapa langkah, Daniza menghentikan langkah nya.


Rayya yang berada di belakang masih memperhatikan Daniza, kedua tangan pun melipat.


"Bagaimana ini?" Gumam Daniza berbalik badan dengan gemetar. Tatapan Rayya membuat nya was-was sedari tadi, dia berpikir jika anggota kerajaan semua nya sama, sama-sama sombong dan meninggi termasuk Rayya. Sikap Rayya saat ini pasti hanyalah kedok saja, Daniza menilai nya seperti itu. Seperti nya dari pengalaman juga dia berpikir seperti itu.


"Kenapa?" Tukas Rayya. Daniza hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkah nya.

__ADS_1


Daniza sesekali melirik Rayya, dia merasa aneh dengan sikap satu putri kerajaan ini. Dirinya sepertinya sudah ketahuan, tapi kenapa tidak ada teguran dari tuan putri itu.


Rayya membisik pada salah satu kepala pelayan dan Daniza pun melihat nya.


"Bagaimana ini?" Batin Daniza terus bergumam resah. Sembari memasak dengan bahan seadanya dia terus berusaha, memperhatikan cara orang-orang di memasak. Tentu saja dia ahli dalam meniru, belajar pun cepat tanggap, tapi kalau memasak entahlah!.


...**...


Dalam ruangan, Rayya terlihat masih berbincang di balik telpon nya. "As, tadi kaka bertemu dengan Karl! Dia mengatakan kau meminta menyelidiki seseorang. Apakah dia ada menyinggung mu?" Pertanyaan dari Rayya membuat Asnee mengutuk Karl yang selalu saja bocor pada Kakak nya.


"Uuh? Oh tidak kak, aku hanya ingin tahu saja informasi mengenai dia!" Kilah Asnee dengan menahan kesal pada Karl. Sedangkan Karl masih nyaman saja berlenggang ke luar istana dengan mobilnya.


"Baiklah kaka tutup telpon nya ya! Kaka masih melakukan perekrutan pelayan di istana, kamu di sana baik-baik ya! Kalau ada apa-apa itu bilang, jangan diam saja!" Ucap Rayya


"Eum!" Angguk Asnee di seberang sana.


tok


tok


tok


"Kau urus acara sampai selesai, kalau ada apa-apa akan ada bodyguard saya di sana" Ucap Rayya pada kepala pelayan.


Kini hanya Rayya dan Daniza di dalam ruangan. "Silahkan duduk nona" Rayya mempersilahkan Daniza, tapi sang pemilik nama hanya diam dengan banyak pikiran di otak nya.


Brughh


"Maaf putri, saya tidak berani!" Daniza berlutut di hadapan Rayya, dia memohon dengan mengatupkan kedua tangan nya.


"Tidak berani? Apakah saya terlalu kasar kepada anda, nona?Oh, saya pikir lantai lebih nyaman daripada sofa, bukan?!"


Kata-kata Rayya tentu sangat di mengerti oleh Daniza." Maaf Putri, saya tidak bermaksud menghina anda! Ta—pi sa—ya"


Belum juga Daniza selesai berbicara, perkataan Rayya seakan menjebak nya." Menghina? Jika di ingat, tidak ada anda mengatakan sesuatu sedari tadi!" Rayya pintar berkata-kata, dia tahu Daniza pintar.


Dari sekian banyak nya calon anggota pelayan yang datang, hanya Daniza yang membuat Rayya penasaran, karena dari cara berjalan, dari sikap terutama logat bahasa yang masih tergagap dan wajah bukan seperti dari rumpun negara nya, walau ada sedikit dari mimik Thailand.

__ADS_1


Usia nya pun masih muda, seusia dengan Asnee. Untuk itu Rayya penasaran. Entah musuh atau kawan, Rayya hanya bisa waspada.


"Duduk lah!" Rayya kembali menyuruh Daniza duduk setelah dirinya kini duduk anggun di atas sofa ruang pribadi nya. Dengan berat hati dan ragu, Daniza perlahan beranjak berdiri dan duduk di sofa tunggal, berhadapan dengan Rayya.


Rayya masih memperhatikan. "Tidak perlu takut, nona! Saya hanya akan bertanya pada anda dan anda cukup menjawab dengan jujur" Tutur Rayya. Daniza memberanikan dirinya menatap Rayya.


"Cantik" Satu kata membisik dalam hati Daniza. Perlahan senyum Rayya pun melebar menambah pujian yang terus membisik dalam hati Daniza.


"Siapa nama lengkap anda?" Tanya Rayya tanpa basa-basi.


Tarikan nafas dari hidung Daniza terdengar keras membuat Rayya semakin penasaran. "Daniza Evelyn" Jawabnya dengan seketika menundukkan tatapan nya.


"Daniza Evelyn?" Ulang Rayya seraya mengangguk, nama itu sepertinya tidak asing dalam kepala nya. "Baiklah ! Katakan, apakah kamu asli dari negara ini? Sepertinya dari perangai anda seperti bukan dari rumpun Thailand"


Daniza terdiam, dia bingung harus menjawab apa. "Saya tinggal bersama bibi saya di sini, nama nya bibi Yu! Dia tinggal di kota Fariha, tidak jauh dari istana"


Sebisa mungkin dia menjawab, namun sebenarnya apa yang dia jawab adalah kenyataan nya tap tidak untuk tinggal, dia berbohong. Dulu bibi Yu memberitahu tempat tinggal nya.


Rayya kembali mengangguk. "Baiklah, sudah cukup sampai di sini saja" Rayya beranjak berdiri membuat Daniza kebingungan. Apakah hanya ini yang ingin putri itu tahu? Sepertinya tidak mungkin. Daniza tahu betul orang-orang istana seperti sebelum-sebelum nya.


"Jika begitu saya permisi, putri!" Pamit Daniza masih menyatukan kedua tangan nya karena takut dan gugup. Rayya hanya mengangguk.


Daniza hampir meraih gagang pintu, namun Rayya kembali menghentikannya dengan ucapan yang membuat nya membeku.


"Apa nyaman memakai lensa mata itu, nona? Langkah rapih dengan cara bicara bangsawan, bentuk tubuh dan cara duduk!"


"Apakah sampai di sana tidak membuat saya penasaran dengan anda?"


"Katakan jika anda tidak sedang menyamar di sini! Sekali saja kesalahan dan rencana anda terbongkar maka anda tidak akan selamat"


"Hukum kerajaan berbeda-beda, bisa jadi peraturan kerajaan di sini lebih kejam dari kerajaan yang lain"


Mulut Rayya sangat-sangat tidak di sangka, jika dia terus seperti ini maka musuh akan mundur sebelum berperang. Taktik dari orangtuanya sudah langsung di pakai. Bisa juga dengan mulut nya membuat Asnee akan selalu mengikuti perkataan nya, untuk saja Rayya ini bijak, bisa membedakan apa yang harus di lakukan dan apa yang tidak.


Brughh


Daniza kembali berlutut meminta ampun, dia tidak segan mendaratkan kening nya di atas lantai meminta ampun.

__ADS_1


"Ampuni saya putri, saya hanya mencari pekerjaan di sini! Ampuni saya" Tapi aneh nya, tidak ada air mata dari kedua mata Daniza membuat Rayya semakin memiliki kecurigaan terhadap Daniza.


Perekrutan calon pelayan sudah selesai dan sembilan anggota lulus dengan poisi yang di dapatkan, harus nya sepuluh dengan Daniza, tapi sekarang Daniza masih di ruangan Rayya.


__ADS_2