The Future King

The Future King
Eps 45


__ADS_3

"Kenapa?"


"Ada yang kamu ketahui, Mali?!"


Bagaimanapun kecurigaan Aat pada istrinya memang tidak bisa di pungkiri. Keberadaan Mali dan juga Pensri di Gallery waktu itu bahkan datang lebih awal dari dirinya dan juga Aaron, membuat kecurigaan semakin bertambah, namun setelah di awasi dengan mata, tidak ada bukti yang spesifik.


Posisi duduk mereka di tegap kan saat Mali ikut berbicara, tidak seperti biasa nya.


"Bibi, kami akan senang jika kau mengetahui sesuatu. Mungkin bisa mempermudah penyelidikan kami!" Singgung Asnee. Ekspresi itu benar-benar membuat Mali ingin sekali mencakar nya terlihat dengan kepalan tangan Mali yang perlahan menegas.


"Apa yang harus saya sampaikan, pangeran?! Setiap hari berada di istana dan sibuk mengurus keperluan istana di tambah mengawasi pembelajaran Pim. Jika pangeran bertanya tentang masalah itu tentu tidak akan saya jawab, karena apa? Karena masalah seperti itu bukan dalam ruang lingkup saya"


Senyum terpaksa melambangkan ketidaksukaan, tapi Asnee sedikit mengerti dengan kode itu.


Mali bergeser pada Aat dan merangkul lengan suami nya itu seakan minta perlindungan. Aat hanya menaikkan satu alis nya dengan tenang.


"Diam jika tidak tahu apapun!" Tekan Aat pelan namun terasa menggentarkan hati Mali. Dia merasa Aat akan melindungi nya seperti sebelum-sebelum nya.


"Lanjutkan, As!" Timpal Aaron. "Tidak boleh ada yang memotong dalam pembicaraan ini" Final Aaron tanpa basa-basi. Bawaan nya tenang dan tidak terbawa emosi dan tidak mempedulikan drama Mali dan Jeno. Aaron seperti sudah tidak bisa percaya siapa-siapa sekarang.


Jeno masih berlutut, dia terlanjur dan hendak berdiri pun malu sekarang, jadi dia tetap dalam posisi seperti itu sampai di mana kedua tangan Asnee merangkul kedua lengan Jeno. "Seorang guru kerajaan sangat tidak pantas berlutut seperti ini!" Ujar Asnee membantu Jeno berdiri, namun setelah itu tidak Asnee hiraukan lagi.


Jeno sadar posisi, dia kembali berdiri di belakang Aat.


"Jadi, menurut mu apakah ada konspirasi di dalam istana. As?!" Selidik Aaron.


Padahal selama ini, dirinya-Aaron dan juga Aat sangat memperhatikan setiap apa yang masuk ke dalam istana atau apapun urusan istana, mereka selalu mengamati, tapi mengapa ini bisa terjadi.


"Sepertinya benar! Jika tidak, mana bisa barang seperti ini dapat begitu mudah masuk ke dalam istana" Tegas Asnee.


Asnee menghadap pada Jeno kembali dan memincingkan matanya. "Tuan, saya tanya sekali lagi pada anda! Apakah benar, anda tidak tahu menahu tentang bukti ini?"

__ADS_1


Semua orang di sana akan langsung tahu jika Asnee manaruh curiga pada guru kerajaan dari penekanan yang terlontar seakan hendak menyalahkan atas tragedi kebakaran gallery waktu lalu.


Jeno tidak dapat membalas tatapan Asnee yang tenang tapi membahayakan, dia sedikit gugup. "Tidak sama sekali, pangeran! Saya tidak tahu akan cairan minyak itu" Jeno pun menyahut dengan tenang, namun deru nafas nya membuat Asnee semakin ingin mencekik nya.


"Asnee sepertinya kau begitu mencurigai guru kerajaan, apakah penyelidikan mu sudah lengkap sampai kau berani seperti ini?!" Aat kembali unjuk gigi.


Dia bukan untuk membela atau pun memberatkan, namun dirinya takut keponakan nya itu tidak cukup bukti. Jika seperti itu, maka pengadilan istana yang akan turun tangan dengan pasal-pasal yang akan di gunakan untuk memberatkan Asnee atas kasus pencemaran nama baik.


Dia pun selama ini bukan diam, tapi sangat susah untuk mencari kejanggalan yang ada di istana walau sekalipun dia adalah raja dan pangeran.


Asnee hanya menyahut dengan senyuman tipis saja.


"Benar pangeran! Kami di sini ingin mendengar yang sebenarnya tapi juga tidak ingin kau menyalahkan orang-orang kepercayaan kerajaan! Di tambah tuan Jeno adalah guru kerajaan selama beberapa tahun ini, juga dia adalah teman dari paman mu. Jadi tidak mungkin jika dia pelakunya"


"Kalaupun dia pelakunya, apa keuntungan yang dia dapat dari membakar Gallery milik ibu suri?" Tukas Mali, dia benar-benar terdengar pintar berbicara dan bersilat lidah sampai Ibu suri juga nenek suri membelalakkan mata mereka tidak menyangka.


Aaron memijit kening nya, dia berdiri dan membelakangi mereka, tangan kanan dia simpan di pinggang.


"Paman, istri mu ini ternyata tidak seperti rumor yang aku dengar. Bukankah dia pemalu dan juga tidak pandai bersosialisasi? Tapi kenapa hari ini beda?!" Seru Asnee memainkan botol kecil di sela jari jemari nya.


Mali jadi salah tingkah, dia seakan tertangkap basah. Wajah nya perlahan memerah disertai dengan jari jemari yang perlahan mengepal setelah melepas gandengan nya pada Aat.


"Sekali lagi saya bertanya. Apakah benar anda tidak tahu menahu soal bukti ini. Tuan?" Tanya Asnee sekali lagi dengan mantap dan juga percaya diri.


"Tidak, pangeran! Saya yakin itu dan saya mengaku tidak pernah sekalipun menyentuh cairan minyak. Jika saya benar pelakunya maka hukum saya sesuai hukum yang berlaku di kerajaan" Ucap Jeno menundukkan pandangan nya dengan yakin.


Terdengar memang meyakinkan, membuat harapan mereka dan keyakinan mereka pupus akan ketenangan Jeno yang sebenarnya dia pun tengah kaget dan gemetar.


Beberapa menit aula hening, mereka tenggelam dalam pikiran mereka sendiri sampai di mana kasim atau juru bicara dari Aaron masuk.


"Raja, pak Betta ingin menemui anda"

__ADS_1


"Beliau bilang ada hal penting tang ingin di sampaikan"


Ucapan Jubir itu membuat penasaran. Asnee tengah menerka-nerka ada apa dia datang kemari di saat yang seperti ini.


Jeno dan Mali terlihat semakin tenang, terutama Jeno karena sang ayah datang tepat waktu.


"Ada urusan apa?" Tanya Aaron.


"Beliau mengatakan tentang kebakaran gallery seperti nya dia mengetahui sesuatu" Sahut nya.


Ketegangan di mulai, terutama Asnee yang seperti tidak mengerti sekarang. Kenapa Pak Betta datang ke istana dalam kondisi membawa berita mengenai kebakaran gallery? Bukankah tidak ada sangkut paut nya dengan jabatan dan pekerjaan nya?. Asnee terus memutar otak.


Pak Betta pun di persilahkan masuk.


Pintu kembali terbuka dan memperlihatkan pak Betta bersama dengan asisten nya masuk.


"Salam Raja" Ucap nya sopan. Asnee masih berdiri, namum dia berdiri di samping Aat.


Lirikan mata Asnee tidak lepas dari Jeno serta Mali.


"Ada apa gerangan pak mentri jauh-jauh datang ke istana?" Sapa Aaron menghampiri tamu dan menerima salam jabat tangan.


"Silahkan duduk" Lanjut nya.


Pak Betta pun duduk di kursi yang sudah tersedia di aula. "Maaf mengganggu, tapi ini sangat penting sekali"


"Beberapa hari lalu putra saya meminta bantuan untuk ikut membantu menyelidiki tentang Gallery ibu suri! Dia mencurigai jika kejadian itu bukan lah karena korsleting daru listrik semata"


"Setelah kejadian itu pun putra saya ternyata diam-diam ikut menyelidiki dan beberapa hari lalu dia menyerahkan bukti ini pada saya"


Bola mata mereka terfokus pada barang bukti yang di perlihatkan dan alangkah terkejut nya mereka semua. Bukan nya apa tapi barang bukti itu benar-benar sama dengan yang di perlihatkan oleh ayah dari Jeno.

__ADS_1


"Ingin bermain-main ternyata" Batin Asnee bergemuruh dan kepalanya sangat berisik sehingga senyum smirk terbit begitu saja dari sudut bibir nya.


__ADS_2